Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 120 Obrolan Calon Kakak Dan Adik Ipar


__ADS_3

Malam ini, Lukman berniat menginap di kediaman keluarga Amelia untuk melakukan pendekatan lebih jauh lagi.


Menurut tradisi di kampung ini, hari pernikahan diserahkan kepada pihak mempelai wanita untuk dicari hari baiknya.


Rata-rata mereka menanyakan hal tersebut kepada ustadz sesepuh atau Kiyai yang bisa menghitung weton dari wedalan hari kelahiran kedua mempelai. Hingga didapatnya hari kesepakatan pernikahan.


Rama masih menjaga jarak untuk duduk berdampingan dengan Lukman.


Terlebih setelah tahu kalau Sang Kakak akan menikah lagi dengan seorang bujangan yang usianya hanya setahun lebih muda darinya.


Fikir Rama, Soleh saja yang jelas-jelas usianya jauh di atas dirinya bisa berbuat sekeji dan sehina itu hingga menduakan Sang Kakak yang setia mendampingi selama sepuluh tahun. Apalagi pria yang baru dewasa ini. Begitu kata hatinya.


Tapi demi kebahagiaan Sang Kakak yang baru saja terlepas dari siksaan batin selama menikah dengan Soleh, Rama tak berani menanyakan masalah umur diantara mereka.


Bagi Rama kebahagiaan Amelia di atas segalanya.


Dulu pun ketika Soleh mengatakan langsung ketidaksukaannya ketika Rama ingin menumpang hidup sementara di rumah kontrakan mereka di Jakarta, Rama tidak pernah menceritakan kembali pada Amelia.


Itu Ia rahasiakan bahkan sampai detik ini.


Alasannya adalah menjaga perasaan Sang Kakak yang pastinya akan serba salah nanti jika Ia menceritakan kembali perihal ketidaksukaan Soleh waktu itu.


Tuk.


Rama terkesiap.


Lukman datang menghampirinya yang tengah duduk sendirian di teras rumah orang tuanya di pukul sebelas malam.


Dua cangkir kopi hitam yang Lukman bawa menyebarkan aroma harum kopi menggugah selera.


"Ram..." tegur Lukman sembari menyodorkan secangkir kopi untuk calon adik iparnya itu.


"Untuk saya?" tanya Rama memastikan.


Lukman tersenyum dan mengangguk.


Semoga saja lelaki ini tidak sedang mencari perhatianku di awal saja! Gumam hati kecil Rama.


Pemuda dewasa itu mengucapkan kalimat terima kasih.


Kedua tangannya memegang sisi cangkir. Mengalirkan hawa hangat perlahan ke tubuh Rama.


"Kamu pasti punya banyak pengalaman selama kerja jadi ABK ya, Ram!?"


Lukman mulai mencoba berkomunikasi dengan Rama yang tampak seperti seorang pendiam.


Rama tersenyum.


"Hehehe, justru saya minim pengalaman, Kak! Kami hanyalah nelayan Anak Buah Kapal kecil milik negara asing."


"Negara mana, Ram?"


"Thailand, Kak!"


"Woaaa, bisa bahasa Thailand dong! Keren!"

__ADS_1


"Hehehe, hanya sepatah dua patah kata saja. Selebihnya bahasa isyarat sama bahasa kalbu!"


"Hahaha..."


"Hebatnya bertahan sampai lima tahun. Di perusahaan nelayan yang sama kah, Rama?"


"Saya sempat dua kali ganti juragan di tahun pertama. Maklumlah, masih proses penyesuaian juga. Jadi banyak sedih, nangis sendiri di geladak kapal karena ingat keluarga juga ga betah. Tapi lama-lama jadi terbiasa juga. Senengnya itu kalau sudah terima gaji dalam bentuk dolar. Hehehe... jadi semangat lagi."


Lukman senang sekali berbincang dengan Rama.


Usianya menunjukkan kedewasaan yang matang walaupun masih cukup muda, 28 tahun.


"Apa kamu akan kembali berlayar, Ram?" tanya Lukman setelah merasa kalau obrolan mereka mulai nyambung.


Rama menggeleng pelan.


"Ada penyesalan yang teramat dalam saat mengetahui Bapak tiada tanpa saya tahu keadaannya."


Suara Rama terdengar pelan.


Lukman menepuk-nepuk bahu Rama tanpa berkata.


Tapi dari kode ketukan tepukannya, Lukman memberikan kekuatan pada Rama.


"Kakak beruntung, masih lengkap orang tuanya!" gumamnya membuat Lukman menunduk.


"Ya. Tapi Aku ini adalah manusia yang tidak pandai bersyukur. Hhh... Sering kali membangkang, melawan orang tua karena memiliki pendapat yang berseberangan."


Rama menoleh pada Lukman.


"Tapi, Saya lihat tadi Keluarga Kakak sepertinya sangat solid. Ibu Bapak juga sangat sayang kelihatannya sama Kakak."


Rama semakin bingung mendengar ucapan Lukman.


"Intinya, mereka ingin yang terbaik. Tapi, bagi mereka yang terbaik itu tidak terbaik bagiku. Begitulah anak laki-laki bengal ini. Hehehe... Alhamdulillah Mbak Amel merubah semuanya. Hidupku kini jauh lebih terarah."


"Alhamdulillah..."


"Aku harap, kita juga bisa akrab satu sama lain sebagai saudara ipar, ya Ram!? Sekiranya ada yang kurang berkenan di hati kamu, langsung saja utarakan. Aku lebih suka kita diskusi daripada menyimpan unek-unek di dalam hati."


"Kak..."


"Ya?"


"Apa Kakak benar-benar mencintai Mbak Amel?"


Inilah pertanyaan yang paling ditunggu Lukman.


Akhirnya keluar juga dari benak Rama meluncur lewat bibir.


Lukman tersenyum lega.


"Aku senang, akhirnya kamu menanyakan juga keseriusanku menikahi kakakmu!"


"Hah?!?"

__ADS_1


Tentu saja Rama kaget dan tertegun dengan tatapan mata bingung ke wajah Lukman.


"Itu tandanya kamu benar-benar sayang pada Kakakmu. Dan kamu adalah adik yang sangat peduli dengan kondisi serta kebahagiaannya."


"Pernikahan pertama Mbak Yu' gagal. Sedikit banyak saya juga punya andil karena saat itu saya kurang tegas menanyakan perasaan Bang Soleh pada Mbak Yu'. Dulu saya belum sedewasa ini. Ditambah masih ada Bapak kami yang mengatur dan mengurus semuanya. Saya tidak bisa melangkahi Bapak juga. Sekarang, saya-lah walinya Mbak Yu'. Saya yang akan menjabat tangan Kakak yang akan bersumpah di depan penghulu, wali dan para saksi atas pernikahan yang akan kalian jalani. Setidaknya, Saya akan tenang melihat Mbak Yu' tersenyum manis nantinya."


Grep.


Lukman langsung merangkul Rama.


Ia terharu pada ucapan calon adik iparnya itu.


Rama tak kalah terharunya setelah kaget setengah mati kalau calon suami Kakak kandungnya itu tiba-tiba langsung memeluknya erat.


"Kak..."


"Inilah yang Aku inginkan! Inilah keluarga yang sangat ingin Aku dapatkan. Semua anggota keluarganya peduli dan pastinya saling dukung serta saling support."


"Maaf, saya terkesan meragukan perasaan Kakak."


"Tidak, Ram. Aku senang, Aku sungguh bahagia. Aku memang menunggu sekali ada seseorang yang menanyakanku seperti saat ini. Dan Aku tidak salah memilih calon istri. Semoga rumah tangga kami kedepannya menjadi keluarga yang sakinah, mawadah warahmah."


"Aamiin."


"Aku mencintai Mbak Amel. Sejak pandangan pertama. Sekitar satu tahun lebih, Ram! Saat itu Aku sangat sadar kalau Aku tidak boleh memupuk perasaan itu karena Mbak Amel adalah istri orang. Dosa besar jika Aku menyimpan perasaan itu meskipun tiada orang yang tahu."


Rama sangat serius mendengarkan cerita Lukman.


"Hingga suatu ketika, Aku menyadari kalau rumah tangga mereka terlihat jomplang. Maaf..., bukan Aku ini adalah orang yang berhak menilai. Karena hanya Allah saja yang menilai, manusia tidak bisa dan tidak boleh. Karena bisa jadi keburukan yang dianggap kita di luar, adalah kebaikan seseorang itu sendiri. Hingga,... Aku tanpa sadar telah mengikuti perkembangan rumah tangga Mbak Amel dan Bang Soleh. Panjang ceritanya sampai bisa seperti ini, karena Aku sering main ke rumah kontrakan teman kerjaku yang adalah tetangga Mbak Amel. Sampai suatu ketika, Aku bahkan menjadi saksi atas Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang dilakukan Bang Soleh pada Mbak Amel."


"Apa???"


"Itu ternyata karena Bang Soleh melakukan poligami atas persetujuan Mbak Amel sendiri sebelumnya. Cuma... seiring perjalanan, Mbak Amel memilih mundur dan minta cerai. Aku jadi saksi semuanya."


"Kakak jadi tahu kisah perjalanan rumah tangga mereka? Saya harap, Kakak lebih sayang sama Mbak Yu'. Karena kakak lah yang paling tahu kesedihan Mbak saya. Saya merasa berdosa, selama ini jauh dan kurang peduli dengan saudara-saudara saya sendiri."


"Aku kira tidak juga. Sebab Mbak Amel sering sekali cerita, kalau kamu lah penopang ekonomi keluarga. Kamu selalu kirim uang untuk Emak Bapak dan adik-adik. Begitu Mbak Amel kata."


"Hehehe..., saya jadi malu. Masalah kirim uang, itu adalah kewajiban saya, Kak. Hanya sedikit, sisa biaya hidup sehari-hari. Hehehe..."


Lukman tersenyum sembari mengacungkan dua jempolnya.


"Terima kasih banyak, Kak. Sudah menyayangi Mbak Yu' Saya sebesar ini!"


Lukman kembali terharu.


"Mohon doanya ya, semoga Aku bisa jadi suami yang baik. Suami yang bertanggung jawab kepada istri dan anak-anak jika Allah percayakan."


"Jika tidak? Maksud saya, jika Allah tidak memberikan kalian keturunan, bagaimana?"


"Aku dan Mbak Amel sudah membahasnya. Tidak masalah. Mungkin Allah ingin putra-putri kami menunggu di pintu surga. Aamiin."


"Aamiin..."


Kini Rama bisa tersenyum dengan lebar.

__ADS_1


Ia pastikan kalau malam ini tidurnya akan nyenyak karena beban fikirannya telah terangkat.


BERSAMBUNG


__ADS_2