
"Assalamualaikum..."
Amelia was-was, sore hari rumah orang tuanya kembali kedatangan tamu.
Dia mengintip dari balik kaca jendela. Berharap bukan Soleh lagi yang datang seperti tadi pagi.
Melihat bayangan pantulan yang agak berbeda dari tubuh Soleh, Amelia baru yakin dan membukakan pintu.
Tahlilan Bapaknya akan diadakan di mushola depan rumah sehingga rumahnya sepi kecuali nanti ba'da Maghrib.
"Mas Adam?"
Kaget Amelia mendapati Adam Malik berdiri di depan rumahnya dengan tangan memegang plastik berisi dua kue.
"Amel...!"
Netra mereka saling beradu pandang. Ada benang merah yang menggetarkan kalbu Adam juga Amel. Mereka sama-sama tersipu.
"Koq bisa tahu alamat rumah saya di kampung?"
"Via aplikasi Google map. Hehehe..."
"Ya Allah, canggihnya ya teknologi sekarang. Terus, alamat lengkapnya?"
"Dari Tasya. Katanya pernah mencatat alamat rumah Amel pas diminta bantuan kirim paket ke kampung. Alhamdulillah, nyasar sedikit aja. Selebihnya, aman."
"Duh, saya jadi malu ini. Rumah butut saya disambangi Boss konveksi. Silahkan, Mas, maaf... keadaannya seperti ini. Mas Adam sendirian kemarinya?"
"Sama Pak Toha. Beliau ada di mobil. Parkiran jauh ke sini. Saya tadi tanya-tanya sama warga sekitar. Alhamdulillah ada yang mau mengantarkan."
"Alhamdulillah. Oiya, bisa, Mas lewat jalur kebun. Sebentar, saya minta tolong saudara biar jemput pak Toha. Kasihan menunggu di jalan. Disini bisa ikutan ngopi sekalian."
"Oh, begitu. Ya deh, maaf, jadi bikin repot ya, Mel!"
"Saya yang minta maaf, sudah bikin Boss turun ke kampung saya cuma untuk mengucapkan belasungkawa atas wafatnya Bapak. Terima kasih banyak, Mas!"
"Hehehe..., jangan gitu ah. Saya jadi malu nih!"
Wajah Adam terlihat memerah membuat Amel terpesona untuk beberapa saat.
Tapi segera ditepis karena itu hanya rasa kagum yang tidak pada tempatnya.
Amelia menyadari, siapa dirinya dan siapa pula Adam Malik.
Ibarat bumi dan langit, Ia menganggap perbedaan antara dirinya dengan Boss konveksi itu.
Status boleh sama. Duda dan janda. Tetapi strata juga kasta jauh berbeda.
Seperti halnya tadi pagi, Mia dan Tia yang baru pulang dari kebun mengambil daun pisang terkejut melihat tamu yang duduk di kursi ruang tamu.
Tapi kali ini respon Tia berbeda dari pagi tadi.
Reaksinya bertolak belakang.
"Waah, ada tamu, Yu'!?"
__ADS_1
Adam langsung berdiri dari duduknya ketika melihat Emak dan adiknya Amelia.
"Saya Adam, Bu! Teman kerja Amelia!" sapanya sopan sekali.
Tentu saja membuat Mia kian terpesona oleh wajah rupawan Adam Malik yang bersih dan wangi.
Disambutnya jabatan tangan Adam sambil tersenyum melirik Amelia yang tersipu malu.
"Mas datang dari kota Jakarta? Beneran? Tujuh jam perjalanan dari sana kesini?"
"Lima jam, Mbak! Alhamdulillah Allah perlancar jalannya."
"Alhamdulillah. Duduk, Mas! Maaf ya, kondisi gubuk kami seperti ini." Mia tersenyum sembari mempersilakan Adam untuk duduk kembali.
"Mak, Amel cari Bang Arman dulu ya? Mau minta tolong parkirkan mobil mas Adam di jalan sana." Amelia berdiri sembari berangkat ke luar rumah.
"Ada Bang Alif, Yu'! Biar Bang Alif saja. Oiya, dimana memang Mas Adam parkir mobilnya?"
"Oh iya. Mas bawa mobil apa?"
Adam kikuk menjawabnya.
"Begini saja, tolong cari Pak Toha saja. Ada mobil warna putih yang terparkir tepat di samping depan gapura. Maaf ya Mbak?"
"Oh, Pak Toha ya? Ya udah, biar Suami saya yang panggilkan."
"Terima kasih, Mbak,"
"Tia. Panggil saja saya Tia. Saya adik kandungnya Mbak Yu' Amelia. Hehehe..."
Adam kembali duduk setelah Amel memberinya kode untuk duduk.
"Amel buatkan minum dulu, ya?"
"Biar Emak yang bikinkan. Amel duduk saja temani Mas Adam. Oiya, Mas Adam mau dibikinkan kopi hitam asli kampung sini?"
"Boleh, Bu. Aduh, koq jadi merepotkan begini ya?! Maaf ya Bu!"
"Engga apa-apa koq, baru berkunjung ke sini. Ditambah perjalanan jauh pula, pastinya lelah sekali."
"Oh ini, Bu, saya cuma bawa ini datang jauh-jauh dari Jakarta. Maaf, Bu!"
"Aduuhh, baik sekali Mas Adam ini. Bikin kami sekeluarga jadi makin gak enak. Saya suguhkan kembali, boleh?"
"Hehehe... Kenapa jadi saya yang icip-icip bawaan sendiri, Bu?! Itu untuk tambahan tahlil nanti malam. Saya sudah makan tadi di perjalanan. Maaf bukannya nolak, Bu!"
"Tak apa lah, buat teman ngopi. Hehehe..."
Adam tertawa kecil. Memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi laksana model iklan pasta gigi di televisi.
Amelia melirik Adam diam-diam. Hingga akhirnya mereka saling pandang dan...
"Keluarga kamu ramah sekali. Saya jadi malu dibuatnya. Hehehe..."
"Karena Mas datang tanpa konfirmasi. Emak dan adik jadi bingung juga grogi. Termasuk saya juga."
__ADS_1
Adam kembali tertawa kecil. Memukau penglihatan Amelia yang memiliki sedikit pengharapan lebih khayalkan masa depan.
Brem brem breemmm
Sreeek.
Amelia menoleh.
Lukman baru saja memarkir motornya tepat di teras rumah orangtua Amelia.
"Lukman!? Kamu juga kesini? Apa kalian datang janjian?"
Mata Lukman dan Adam saling bertatapan.
Ada aura persaingan yang semakin terlihat dari bening bola mata keduanya.
Dua pria dengan style yang jauh berbeda. Yang satu dengan gaya slengean, berambut gondrong juga wajah yang ditumbuhi b+lu-b+lu diatas b+bir serta area dagu.
Sementara satunya lagi adalah pria bersih dan klimis dengan gaya layaknya karyawan kantoran rapi wangi.
Tetapi keduanya sama-sama terlihat macho dengan gaya ciri khas masing-masing.
Hanya Amel dengan raut wajah bingung tersenyum ambigu.
"Apa kalian, ada hubungan istimewa?" tanya Adam tanpa sungkan. Membuat Amel membelalakkan mata.
"Hubungan istimewa?" tanya Amel mengulang pertanyaan.
"Andaikan iya, apa Boss akan mundur mendekati Mbak Amel?"
"Aihh?"
Sontak saja Amelia terkejut terkesima. Ia mulai menyadari adanya persaingan diantara mereka.
"Tergantung jawaban Amelia."
Jawaban yang santai yang keluar dari bibir Adam membuat wajah Lukman memerah.
"Lukman?"
"Pak Toha!"
"Lho? Ini Mas yang hadir waktu pemakaman Bapak ya?" sela Alif membuat Lukman tersenyum dan mengangguk.
"Kamu ada di pemakaman Bapak, Man?"
Amelia kembali kaget. Banyak sekali kejutan untuknya hari ini. Hari yang berwarna penuh emosi dan gejolak jiwa rasanya.
Amelia hanya bisa melongo melihat wajah Lukman dan Adam bergantian.
BERSAMBUNG
__ADS_1