Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 183 Kisah Arthur Dan Masa Lalunya


__ADS_3

"Mas...!?!"


Arthur terkejut melihat Inayah yang berdiri di anak tangga paling bawah dengan wajah pucat pasi menatapnya.


"I_inayah! Ini bukan seperti yang kamu bayangkan, Sayang..."


Bianca menangis menoleh ke arah Inayah.


"Gadis kecil...! Kamu kah istrinya Archie? Tidak kusangka ternyata kamu kini seorang pedofilia. Ck, anak dibawah umur juga,"


"Saya sudah berumur 19 tahun sebentar lagi. Sudah cukup umur untuk menikah." Bianca ternganga melihat ketegasan Inayah.


"Saya adalah mantan kekasihnya Archie, Arthur maksudnya. Dan anak ini adalah anak kami. Saya tidak datang untuk menghancurkan hubungan rumah tangga kalian, tapi hanya minta pertanggungjawaban Arthur saja agar mau merawat Arthur kecil karena Saya akan pergi jauh."


Inayah tertegun. Ia menatap Arthur yang membatu dengan wajah tegang.


"Itu..., tidak mungkin! Jangan terpancing oleh ucapan perempuan ini karena semua hanya omong kosong!"


"Untuk pembuktian, mari kita tes DNA!"


Arthur makin tegang karena Bianca terlihat serius ingin mengungkapkan jati diri Arthur Pangestu kepada Arthur Handoko.


"Kakak, mohon maaf jika saya ikut campur dalam urusan ini. Tapi, bisakah Kakak memberikan waktu beberapa hari untuk kami diskusi? Maksimal tiga hari. Kami yang akan menghubungi Kakak setelah ini. Kakak bisa berikan nomor pribadi Kakak pada saya."


Bianca mengangguk. Ia mengambil ponselnya di dalam tas. Lalu memberikan kepada Inayah yang segera men-scan QR nomor pribadi Bianca.


"Aku pamit permisi. Mohon segera disikapi! Jangan sampai kamu lalai dan abaikan tanggung jawab pada anakmu sendiri, Arthur!"


Bianca memberikan kalimat tekanan sebelum keluar dari rumah Arthur di pukul setengah sebelas malam.


.....


"Ada yang mau Mas sampaikan pada Inay?"


Melihat kedewasaan sang istri yang tidak disangka, tentu saja justru semakin membuat Arthur gugup tak berdaya.


"Itu, itu... itu kisah masa lalu yang sudah usai, Inayah. Sumpah, demi Allah. Itu hubungan yang terjadi lima tahun yang lalu!"


"Inayah percaya, Mas Arthur berkata jujur. Tapi sekarang, ada anak laki-laki berumur empat tahun yang membutuhkan pengakuan Mas. Apa Mas akan lepas tangan begitu saja?"


Arthur menelan saliva.


Sungguh rumit hidupnya.


Baru saja merasakan bahagia yang begitu indah, tiba-tiba...


"Inayah pasti membenciku. Iya kan?!?"


"Mas..., Inayah tahu itu hanyalah masa lalu. Tapi mas wajib bertanggung jawab terhadap kisah masa lalu mas yang bukan hal sepele karena ini menyangkut nyawa dan hidup seorang anak manusia! Yang terlahir karena perbuatan kalian di masa lalu! Dan wajib Mas akui keberadaannya, wajib mas nafkahi! Apa Mas akan cuek lepas tangan begitu saja hanya karena kisah cinta itu sudah usai lima tahun yang lalu?"


"Aku tidak siap dengan cerita bohong yang Bianca buat ini, Inayah! Bisa saja Bianca berbohong, karena perempuan itu sudah seringkali berbohong! Dulu dia juga pernah membohongiku bahkan sampai dua kali! Haruskah Aku sekarang ikut pusing memikirkan masalah perempuan itu?"


Inayah termangu. Ternyata Arthur memiliki trauma karena Bianca. Dan tiba-tiba cinta pertamanya itu datang dan membawa kabar berita yang tidak pernah Ia prediksi sebelumnya.


"Cairan sperm+ku terdeteksi kurang baik kualitasnya. Bahkan kemungkinan besar Aku divonis mandul. Tiba-tiba ada seorang perempuan datang mengaku telah memiliki anak dari hubungan gelap kami di masa lalu sementara dia sendiri pada saat itu adalah wanita bersuami. Tidakkah kamu terlalu polos untuk langsung mengakui kalau anak itu adalah darah dagingku?"


Penjelasan Arthur yang cukup tegas membuat Inayah tertegun.

__ADS_1


Shock juga Ia mengingat kembali sepak terjang kebebasan relationship yang pernah suaminya jalani di masa lalu.


Inayah hanya bisa merembes mili.


Jatuh berderai air matanya.


"Inilah Aku, Inayah! Ini diriku. Lengkap dengan masa lalu yang cukup suram dengan percintaannya yang gagal. Tapi Aku tidak bisa mengakui itu begitu saja. Tidak bisa! Bahkan untuk tes-tes DNA, yang jelas-jelas Aku memiliki kesulitan berkembang biak, memiliki anak. Dan harus kamu tahu, Aku memang memilih berhubungan dengan perempuan yang sudah menikah dan punya anak. Karena jikalau nanti seandainya aku menikah dengan perempuan yang seperti itu, Aku tidak akan takut ditodong untuk segera menghamilinya. Karena aku mandul, Inayah!"


Arthur tak kalah sensitifnya dengan Inayah.


Wajah tegangnya berubah pasrah dan dia kalah lebih dulu dari Inayah dengan paling pertama pergi meninggalkan diskusi yang serius ini.


"Mas! Mas!?!"


Kenapa dia melarikan diri dari diskusi ini? Harusnya Aku! Harusnya Aku yang pergi dan dia berlari mengejar lalu memohon maaf serta pengertianku!


Inayah duduk termenung di atas sofa ruang tamu.


Melamun dengan wajah bingung dan fikiran berkecamuk.


Sementara Arthur, berteriak keras mengeluarkan kekesalan dan penyesalannya karena terlalu frontal menyikapi tekanan Bianca yang bisa jadi hanya sandiwara.


Tapi seandainya saja anak itu memang benar anakku? Bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Ada apa ini? Mengapa Tuhan seperti tidak ingin memberiku bahagia? Bahkan disaat kini aku mengakui adanya Tuhan, Allah Azza Wajalla? Mengapa jalan hidupku tetap menyedihkan seperti ini?


Inayah yang masih begitu muda belia usianya tentu saja merasakan sakit di hatinya terdalam.


Arthur seolah telah terbuka topengnya.


Kisah kehidupan Arthur yang kelam, juga sikap Arthur dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan. Semua itu tidak bisa diterima oleh Inayah dengan lapang dada.


Inayah sedih, sakit, kesal, bingung juga kecewa.


Inayah akhirnya memutuskan untuk masuk kamar, dan tidur di samping Arthur dengan perasaan campur aduk. Terlihat Arthur sudah terlelap dengan wajah sembab.


Mata Inayah memperhatikan sesaat.


Bahkan sprei hamparan ranjangnya pun masih acak-acakan bekas pergumulan panas yang mereka lakukan tadi sore.


Inayah berbaring dengan tubuh menyamping. Memunggungi Arthur yang sikapnya berbalik dingin seolah Inayah lah yang melakukan kesalahan.


Sebenarnya keduanya sama-sama belum bisa tidur. Hanya pura-pura agar tidak terlihat malu dihadapan masing-masing.


Arthur sendiri, hatinya berkecamuk. Jiwanya remuk redam. Kebahagiaannya berganti menjadi kesedihan.


Bianca adalah biang keladinya.


Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa memaki apalagi memukul perempuan itu yang selalu suka drama.


Bianca, cinta pertama Arthur yang sangat ingin sekali Ia lupakan.


Ketika Arthur sudah mendapatkan kebahagiaan dengan menikahi Inayah, tapi Bianca lagi-lagi datang membuat hatinya gundah.


Cintanya memang terlalu besar pada Bianca yang selama ini Ia fikir adalah jodohnya yang akan selalu se-iya sekata sampai maut yang memisahkan.


Ternyata, Bianca adalah perempuan yang pandai bersandiwara.


Bianca tidak benar-benar mencintai Arthur yang adalah teman masa kecilnya.

__ADS_1


Bianca justru hanya menganggap Arthur batu loncatan percintaannya saja.


Ia menipu perasaan Arthur yang menggebu-gebu dan menerima cintanya, padahal hati Bianca justru tersimpan rapi kepada seorang anak tentara yang tinggal di ujung jalan perumahan mereka.


Bahkan Bianca dengan pandainya membagi waktu, untuk bertemu Arthur dan bercinta dengan Roger Simons kala itu.


Arthur diberikan harapan-harapan palsu, sedangkan Roger pun diiming-imingi tubuh moleknya hingga akhirnya mereka sampai juga ke pelaminan.


Arthur patah hati.


Tapi Arthur masih tetap di beri harapan palsu dengan berbohong kalau pernikahan Bianca dengan Roger adalah pernikahan perjodohan orang tua.


Bodohnya Arthur, mempercayai Bianca seratus persen dan tidak pernah mencari tahu apakah Bianca benar-benar sayang atau hanya sedang mempermainkannya saja.


Bahkan disaat dirinya telah beranjak dewasa, mulai pandai berbisnis dan sedang membangun kerajaan usaha filmnya, Bianca kembali datang menaburkan benih cinta di hati Arthur.


Cinta lama bersemi kembali.


Arthur tidak bisa melepaskan diri dari jeratan asmara Bianca.


Lagi-lagi mereka berhubungan. Padahal saat itu Bianca masih berstatus sebagai istri dari Roger Simons, tentara Amerika yang sedang menjalani tugasnya sebagai tentara perdamaian di perbatasan Palestina.


Hubungan mereka bahkan semakin jauh. Sampai berhubungan intim karena Bianca seringkali menceritakan keinginannya untuk mengajukan gugatan cerai pada Simons setelah pulang dari tugas.


Arthur besar kepala.


Arthur yang jumawa merasa kalau Bianca suatu saat nanti akan jadi miliknya seutuhnya.


Arthur yang tampan, cerdas dan hebat di dunia perfilman ternyata sangat bodoh, naif dan polos dalam hal percintaan.


Terlebih percintaannya dengan Bianca yang Ia harap hanya satu untuk selamanya.


Ternyata,...


Arthur tersentak kaget.


Sinar matahari pagi menembus tirai jendela kamarnya dan menerpa wajah. Rupanya subuh terlewat begitu saja. Arthur menghela nafas panjang.


Ia membalikkan badan dan termangu karena Inayah sudah tidak ada di sampingnya.


Arthur bangkit dari tidur.


Menggosok matanya dan memicing melihat selembar kertas di atas ranjang.


...Maaf Mas. Aku permisi tanpa pamit. Aku ingin pulang dulu ke rumah Mbak Tia. Karena sepertinya kamu sendiri sedang tidak ingin diganggu. Apalagi untuk diskusi denganku. Mungkin dengan merenung sendiri, kamu jadi bisa menyelesaikan masalahmu dengan Kakak cantik semalam. Maafkan Aku, Inayah....


Seketika Arthur menegakkan badannya.


Wajahnya kembali tegang. Inayah pergi dari rumah tanpa ia prediksi.


Tentu saja Inayah marah! Dasar pria bodoh! Istri mana yang bisa terima kalau mendapati kenyataan sang Suami ternyata punya anak dari hubungan gelapnya di masa lalu!


"Aaaaarrrhhh!!!"


Arthur memang pria dewasa yang berumur 34 tahun. Tapi usia tidak serta merta menjadikannya dewasa dalam menyikapi permasalahannya sendiri.


Arthur masih sangat tidak bijak ketika dirinya sendiri dihadapkan pada suatu permasalahan.

__ADS_1


Itulah kelemahannya.


BERSAMBUNG


__ADS_2