
"Jadi, Nak Soleh sudah tidak kerja lagi di pabrik keramik?" tanya Kan'an pada menantu pertamanya itu pukul sembilan malam lebih, setelah mereka pulang dari kediaman adik ipar Mia, istrinya.
Mereka berempat duduk di ruang tamu dengan disinari lampu bohlam temaram lima Watt.
Amel diam tak ikut menjawab. Ia tak berani bicara, takut salah dan berakibat fatal bagi emosi jiwa Soleh suaminya.
"Ada rencana akan kerja di sekitaran sini, Pak!" jawab Soleh setelah tersenyum kecut mendapati pertanyaan dari Kan'an.
"Jadi kalian ada rencana pindah dari ibukota?" Kali ini Mia yang bertanya.
Soleh mengangguk. Ia menoleh pada Amalia dan menggenggam tangan istrinya itu sembari menepuk-nepuk pelan.
"Saya berharap Amel kuat menjalaninya. Butuh tiga tahun saja, saya minta pengertian lebih dari Amel, Pak Bu! Cari kerja di ibukota itu teramat sulit diumur saya yang sudah tidak muda lagi. Ini adalah jalan yang terbaik untuk kami."
"Terus rencana kalian selanjutnya bagaimana? Pindah ke sini atau ke rumah kamu, Leh? Atau... mengontrak?"
"Mengontrak mungkin jauh lebih baik, Pak! Mungkin saya akan cari kontrakan di sekitar area Asamka kampung sebelah."
"Oh, daerah Asamka. Iya. Di sana area strategis dan banyak ruko-ruko juga kafe orang jualan. Bapak dengar wilayah itu jadi wilayah percontohan kota kecil yang produktif ya Leh? Tapi Bapak belum pernah main ke wilayah itu!"
Bagus. Sebaiknya jangan, Pak. Karena Aku akan tinggal dan usaha di sana dengan istri mudaku. Kumohon jangan kemana-mana ya kalian. Setidaknya, untuk tiga tahun kedepan.
Obrolan yang santai tapi berat isinya karena seperti pertanyaan interogasi pihak kepolisian yang kedua orang tua Amelia lakukan. Mereka sepertinya mulai khawatir masa depan putri sulung mereka ke depannya.
Soleh faham jika Kan'an dan Mia mulai khawatir karena Amelia sudah tiga hari tinggal di rumah sederhana mereka yang hanya ada tiga kamar. Satu kamar Inayah dan satunya lagi kamar Gaga setelah kamar utama mereka.
Tia sendiri menikah dengan anak tetangga mereka, Alif dan tinggal di rumah Alif yang tepat berada di samping rumah mereka.
Amelia sendiri saat ini tidur bersama Inayah. Dan kalau ada mereka berdua, Inayah mengalah tidur di kamarnya Gaga, si bungsu.
Dan kini pemilik kamar mulai terancam keberadaannya karena Amelia telah kembali ke rumah.
Begitulah jika kondisi rumah sederhana dan kecil pula. Jika Amelia memilih tinggal dengan keluarganya, otomatis roda perekonomian mereka mulai oleng kembali. Dan posisi anggota keluarga yang ada, mau tak mau harus berbagi tempat untuk Amelia Soleh.
Seperti malam ini. Kedua pasangan suami istri itu tidur di kamar Inayah yang Amelia tempati juga malam-malam sebelumnya.
Keinginan bercinta, seketika sirna karena kedua orang tua Amelia yang mengajak ngobrol sampai larut malam.
Yang ada kini Amelia mengajak diskusi Soleh hingga tengah malam.
"Bang... Kapan kira-kira kita pindah ke Asamka?" tanya Amelia mulai ajukan pertanyaan.
Soleh yang sibuk dengan gadget dan aplikasi game online nya, hanya berdehem. Sejak menikah lagi, Soleh belum pernah buka lagi permainan onlinenya yang menghabiskan kuota bergiga-giga.
Rasa takut dicap sebagai suami childish karena masih suka nge-game membuat Soleh menekan rasa ingin bermain di game online. Untungnya Juriah sudah bisa Ia jadikan mainan di atas ranjang. Jadi otaknya yang nge-hank pingin online ML jadi tersalurkan adegan ML sesungguhnya.
"Ehh, apa? Pindah ke Asamka? Kita?..."
Seketika Soleh baru tersadar pertanyaan Amelia yang membuatnya berfikir ulang.
Amelia mengangguk.
"Keluarganya tidak mengizinkan kita tinggal bareng di bengkel itu, Mel!"
"Tapi Juriah? Dia yang..."
"Juriah juga akhirnya menuruti kata orang tuanya. Aku, gak bisa membawamu serta untuk tinggal bersama, Mel!"
"Terus? Aku gimana? Tinggal bersama Emak Bapak disini?"
__ADS_1
Soleh hanya bisa menatap Amelia bingung.
"Kita pindahan dulu nanti hari Senin besok di kontrakan Bu Salmah. Satu-satu kita bereskan. Ya?"
"Abang..."
"Ya?"
"Apakah Abang masih tetap dengan tujuan awal?"
"Maksudnya?"
Amelia menoleh ke arah pintu. Walaupun sudah pukul dua belas malam, tapi khawatir adik apalagi Emak Bapaknya mendengar percakapan mereka.
"Abang hanya tiga tahun melakukan pernikahan dengan Juriah?" tanya Amelia, kini suaranya lebih pelan dari yang tadi.
"Amelia, istriku. Sedari awal kamu tahu, Aku setengah hati menjalankan poligami ini. Aku pernah bilang, hanya tiga tahun batasku bersama Juriah!"
Soleh mulai lagi dengan ketegasannya. Seperti menekankan tujuan awal yang sebenarnya mulai oleng karena Juriah dan keluarga bagaikan tambang emas bagi Soleh.
Amelia hanya terpaku.
"Kita berdosa, Bang, mempermainkan agama dan pernikahan!"
"Ini semua kulakukan untuk kebahagiaan kita juga, Amel!"
"Kebahagiaan yang mana, Bang?"
"Setelah tiga tahun, jika Juriah bisa memiliki anak dari pernikahan kami ini,... Aku akan bawa anak setelah ketuk palu perceraian. Dan ingat, harta gono-gini selama pernikahan tiga tahun, harus dia bagi. Juga harta anak kami nanti semisalnya kubawa. Pasti bisa menjadi bekal kita nantinya, Mel!"
Entah mengapa, Amelia seolah melihat Soleh seperti sosok 'Tedy' mantan suaminya almarhumah 'Teh Lina' Mamanya artis penyanyi Rizky Febrian yang sempat viral setahun lalu karena rebutan harta yang dikatanya adalah harta gono-gini.
"Abang!"
"Apa Abang tidak merasa bersalah memiliki niatan seperti itu pada Juriah?"
"Hei? Kamu sedang membela Juriah? Atau... kamu suka menjalankan poligami ini dan mau bertahan sampai akhir?"
"Bukan begitu, Bang! Tapi dari awal tujuanmu menikah sudah tidak baik. Sudah dipenuhi niatan buruk dan Aku tersadar sekarang. Aku takut Allah tidak ridho, Bang!"
"Menyenangkan hati kedua orang tua, apakah itu perbuatan buruk yang membuat Allah tidak ridho? Membuat hati sepasang orang tua lain bahagia karena anak tunggalnya kini sudah memiliki suami, apakah itu juga perbuatan yang mengandung dosa?"
Amelia diam.
Perkataan Soleh benar. Tapi tetap saja baginya ada yang salah. Dan Amelia telah terbuka fikirannya.
"Bang..."
"Dengar Amel! Aku melakukan ini untuk kita semua. Untuk Ibu Bapakku, untuk kamu juga. Ada banyak orang yang berbahagia termasuk kedua orang tua Juriah. Bahkan mereka sampai langsung membelikanku,"
Treeet treeet treeet...
Amelia menoleh pada ponselnya yang berdering.
"Juriah?"
"Apa?"
"Juriah telepon, Bang!"
__ADS_1
Soleh tersadar, ia memang sedang memblokir nomor istri mudanya itu ketika hendak beranjak ke rumah kediaman keluarga Amelia.
"Hallo, Juriah? Assalamualaikum..."
...[Mbak, waalaikum salam. Mana Mas Soleh, Mbak?]...
Amelia menatap wajah suaminya.
Istri muda Solehudin terdengar parau suaranya. Amelia segera menyodorkan handphone yang ditangan ke arah Soleh.
"Hallo, Sayang?"
...[Maaas, hik hik hiks... kenapa ponselmu ga aktif? Ish, kamu tuh ya!?]...
Amelia mendengar samar suara Juriah yang terisak menangis.
"Maaf Juriah! Mas kan lagi di sini. Khawatir kalau,"
...[Pulang! Pulang segera! Aku mau kita bereskan kekesalanku padamu, Mas!]...
"Iya, Sayang! Besok pagi aku pulang! Sabarlah dulu! Kami baru pulang dari rumah Bu'Denya Amelia! Maaf ya!"
Soleh mengembalikan ponselnya Amelia.
Kini Amelia menaruh di atas daun telinganya lagi.
"Hallo, Juriah... Besok pagi Bang Soleh pulang,"
Klik'.
Terdengar suara ponsel yang dimatikan.
Sepertinya Juriah marah besar pada Soleh.
Tapi Amel justru lebih merasakan jantungnya yang terasa sakit.
Sayang? Bang Soleh memanggil Juriah sayang dihadapanku?! Suamiku... suamiku rupanya sudah memanjakan perempuan lain dengan bahasa manis yang biasanya selama ini hanya untukku seorang...
Amelia merasa sangat jauh sekarang dari Soleh meskipun pria itu sedang duduk tepat di sampingnya.
"Bang... Bisakah kita akhiri semua permainan mu? Kita kembali ke Ibukota. Kita mulai semua dari awal dan izinkan Aku untuk bekerja. Ya?"
Amelia dengan lelehan air mata mencoba meluluhkan hati sang suami.
"Gila! Mana mungkin akhiri semua yang baru saja dimulai, Amelia?! Kamu mau ada huru-hara di kehidupan kita nantinya? Hahh?"
Amelia menepuk tangan Soleh pelan. Memberikan kode untuk mengecilkan volume suaranya. Khawatir kalau ada yang dengar.
"Dilanjutkan pun tetap saja akan ada huru-hara, Bang! Ini semua mengandung resiko! Dan jika kita kerja lebih rajin lagi, rezeki kita pasti akan Allah tambah. Haqqul Yaqin Aku, Bang! Aku..., Aku sedih mendengar kamu dimarahi Juriah! Hik hik hiks..."
"Sayang...! Itu hanyalah biasa bukan dalam pernikahan! Istri ngambek, marah dan berani memaki suami, suami mencoba merayu supaya istrinya ga lagi ngambek, seperti dirimu yang kadang juga melakukan itu, Sayang!"
Amelia terisak. Hatinya semakin sakit mendengar perkataan Soleh yang sangat santui menasehatinya.
Bang...! Aku ini juga istrimu. Dan kau sedang menerangkan kelakuan istri mudamu padaku seolah justru Aku yang salah. Ya Allah! Kenapa suamiku jadi seperti ini, ya Allah! Harta telah merubahnya seratus delapan puluh derajat Celsius. Kumohon kembalikan Suamiku yang dahulu, ya Allah! Yang hanya mencintaiku seorang saja tanpa ada niatan berbagi. Doa Amelia dalam hati.
Teringat masa-masa dahulu, ketika mereka baru saja pulang dari rumah sakit untuk pengecekan kesuburan dan Soleh dengan tenang memberi Amelia kata-kata penghiburan empat tahun yang lalu. Kala usia pernikahan mereka di tahun keenam.
"Sayang! Jangan terlalu difikirkan. Toh kondisi rahim kamu bagus, juga sel indung telur dan sel sp+rm+ku juga tak ada masalah. Kita hanya perlu bersabar saja. Tuhan hanya sedang menguji kesabaran kita sebelum benar-benar diberi kepercayaan berupa titipan anak. Kamu tahu, Sayang? Anak itu hanya titipan. Seperti halnya harta kekayaan dan juga jabatan. Kalau Allah ingin mengambil semua itu untuk menguji kesabaran kita, hanya syukur dan tetap harus bersyukur. Dan kamu harus tahu, Aku tidak terlalu memikirkan soal anak juga. Toh adikmu dan adikku banyak. Juga Aku masih punya kewajiban memberikan sebagian gajiku untuk Ibu Bapakku. Tuhan lebih tahu, Amel! Jika kita diberi anak secepatnya, sepertinya kita tidak akan bisa memberikan kebahagiaan kepada kedua orang tua kita."
__ADS_1
Amelia tersadar. Soleh yang dulu telah berubah sejak berhenti kerja dan kedua mertuanya menyodorkan seorang perempuan lain untuk Soleh nikahi.
BERSAMBUNG