
...Bro, doakan Aku. Hari ini kami akan menikah siri di masjid....
Arthur yang mendapatkan pesan masuk dari Victor di WhatsAppnya teriak kencang.
"What the hell? Gila si Victor! Kenapa semua orang di muka bumi ini jadi aneh bin ajaib!"
Ia yang kini sudah pulang ke rumah megahnya yang ditempati bersama Inayah tampak tak percaya.
Dihadapannya berjejer botol minuman beralkohol yang dulu selalu jadi teman sehari-harinya.
Inayah sempat melarang, bahkan sampai menangis karena Arthur kembali jadi orang yang bebas lepas bak hewan lepas kendali.
"Mas, minuman ini haram hukumnya. Mas sudah lama tidak mengkonsumsi minuman itu lagi. Mas adalah seorang mualaf yang taat. Semua masa lalu mas, sudah dikubur dalam-dalam."
"Tutup mulutmu! Hanya karena namamu tertera di sebuah buku nikah, lantas kau ingin mengatur hidupku? Nonsens!"
"Mas..., hik hiks hiks..."
"Kalau kau tidak suka, kau boleh angkat kaki dari rumah ini! Silahkan!"
Tentu saja Inayah berusaha bertahan.
Bahkan Ia tak pernah sekalipun menceritakan keadaan yang sebenarnya terjadi, sejak Arthur hilang ingatan dan kembali menggila seperti masa-masa jahiliyah-nya dahulu.
...[Bagaimana keadaannya mas Arthur, Nay? Apa... dia sudah bisa menerima kenyataan kalau kamu adalah istrinya dan Pupu adalah putranya?]...
Tanya Amelia di sambungan teleponnya kemarin sore.
"Mas Arthur baik, Mbak Yu'. Masih proses penyesuaian diri. Masih terkaget-kaget dengan kondisinya kini. Aku juga sedang berusaha memberikan yang terbaik untuk kesehatan mas Arthur. Tolong doakan Aku selalu ya, Mbak?"
...[Alhamdulillah. Semangat, ya Nay. Yakinlah, Allah selalu bersama kita dalam setiap langkah. Ujian ini akan segera berlalu. Tetap sabar dan ikhlas menerima cobaan yang Allah berikan. Jangan putus asa, apalagi kini kamu sedang hamil muda. Ya, Nay?]...
"Makasih, Mbak. Terus doakan Aku. Ada kabar baik, minggu depan Papi dan Mami mas Arthur akan datang ke sini. Semoga keadaan mas Arthur semakin membaik nantinya."
...[Aamiin. Semangat selalu, Inayah. Duh, Hawa nangis pingin mimik susu. Udahan dulu ya telponannya. Assalamualaikum!]...
"Waalaikum salam..."
Inayah hanya bisa menghela nafas panjang.
Ia harus tetap dan ikhlas seperti yang kakaknya sarankan.
Ujian ini hanya sementara.
Sebentar lagi, ingatan Arthur pasti akan kembali. Itu harapan dan doa Inayah setiap kali sujud berkeluh kesah pada Sang Pencipta.
Tapi kalau sampai setahun? Atau bahkan lebih? Dan kondisi mas Arthur masih seperti ini? Bagaimana? Sedangkan perutku kian hari kian membesar. Dan HPL (Hari Perkiraan Lahir) kian dekat. Bagaimana kalau mas Arthur masih cuek seperti ini?
Perlahan rembes air mata Inayah jatuh di pipi.
Ujian hidup kali ini dirasa cukup besar baginya. Inayah berharap badai kali ini segera usai, dan kebahagiaan akhirnya yang ia jelang.
"Bunda?"
"Iya, Sayang?"
"Kenapa Bunda menangis? Apa karena tingkah Papa yang sekarang ini?"
Inayah menggeleng cepat.
Disunggingkannya senyuman setelah menyusut air mata di pipi.
"Bunda senang, Papa sudah sehat kembali. Pupu juga senang khan? Apalagi sekarang Papa semakin sayang sama Pupu. Iya kan?"
__ADS_1
Inayah kembali tersenyum melihat Pupu mengangguk.
"Iya. Pupu senang meskipun bingung. Papa sering sekali tanya-tanya tentang Mama. Padahal, Pupu tidak pernah lihat Mama lagi. Pupu lebih sayang Bunda daripada Mama. Papa marah, cubit Pupu lalu bilang kalau Mama Bianca adalah perempuan yang istimewa bagi Papa dan Pupu."
"Papa benar. Mama Bianca adalah Ibu yang melahirkan Pupu ke dunia ini. Jadi, Pupu harus sayang Mama Bianca."
"Tapi sejak lahir Mama Bianca tidak pernah sayang Pupu. Malahan, Mama tinggalkan Pupu."
"Pasti ada yang tidak beres sampai mamamu pergi tinggalkan kamu, Anakku!"
Inayah menoleh pada Arthur yang tiba-tiba keluar dari kamarnya. Pupu berlari menghampiri Arthur. Tapi pria itu sedang mode on sedingin kulkas tiga pintu. Jadi hanya mengelus pelan rambut putranya, tapi matanya menyala menatap tajam Inayah.
"Kemungkinan mamamu pergi karena perempuan ini. Bisa jadi kan?"
"Mas!"
"Kenapa? Tidak suka dengan ucapanku? Merasa teraniaya? Kenapa tidak pergi saja dari rumah ini? Simpel khan? Masalahmu dan masalahku selesai!"
"Mas Arthur..., bisakah kamu menerima kenyataan dengan lapang dada kalau aku ini adalah istrimu? Apalagi... ada calon anak kita yang kini bersemayam dalam rahimku, Mas!"
"Tinggal aborsi saja. Kenapa harus repot-repot ingin melahirkan dan mengurusnya? Beres khan?"
"Astaghfirullahal'adziiim..., Mas!?"
Arthur mengangkat bahu dan mendelik cuek.
Ditangannya tergenggam sebuah botol minuman keras.
Ia membuka tutupnya yang masih tersegel. Lalu menenggak langsung dihadapan Putra Arthur Pangestu.
Dan tiba-tiba,
"Hoekkk!"
"Kenapa rasanya jadi pahit seperti ini?" gumamnya pada diri sendiri.
"Itu karena mulut dan perut Mas tidak lagi menerima minuman haram, Mas!"
"Tutup mulutmu, hei perempuan cupu! Atau, kalau kau memang benar istriku,... buka kerudung yang menutupi rambutmu itu! Buka! Jangan sok suci seperti itu! Kakakmu sendiri kepalanya tidak memakai kain penutup. Dia cantik, berbeda denganmu. Dan aku lebih suka dia ketimbang dirimu meskipun kau lebih muda."
Sedih hati Inayah mendengar hardikan Arthur.
Hatinya kian rapuh, apalagi hormonnya sedang turun naik impact dari kehamilannya yang masih muda.
Jatuh berderai air matanya.
"Papa..."
"Ya, Sayang?"
"Kenapa Papa sekarang suka marah-marah sama Bunda? Apa salahnya Bunda? Padahal selama Papa sakit di rumah sakit, Bunda selalu jaga Papa. Bukannya Mama Bianca, tapi Bunda yang sayang Papa."
Arthur terdiam.
Hati kecilnya juga mengakui itu.
Bianca tak pernah cinta dirinya dengan tulus.
Tapi mengingat kalau Pupu adalah darah dagingnya yang lahir dari rahim Bianca, perlahan Arthur kembali membangun kepercayaan kalau Bianca sebenarnya mencintai dirinya. Tapi, kedatangannya memberitahu Arthur tentang Pupu sangat terlambat.
"Mama Bianca memang tidak jaga Papa. Tapi kamu harus ingat, Mama Bianca lah yang melahirkan kamu, Nak!"
Inayah tak berani membantah. Penuturan Arthur benar.
"Apa yang terjadi pada dirimu, Arthur?"
__ADS_1
"Papi! Mami!"
Arthur girang seperti bocah mendapati kedatangan kedua orang tuanya yang berdiri di depan pintu ruang tengah.
Inayah tersenyum lega. Ia segera mendekat untuk mencium punggung tangan kedua mertuanya itu.
Arthur termenung melihat attitude Inayah kepada Frederica dan Joko Handoko.
Inayah sudah menjelaskan tentang kondisi Arthur yang mengalami amnesia retrograte sejak kecelakaan lalu lintas tempo hari dan berakhir menjadi pria yang berbeda.
Frederica mencium kening Inayah sambil membisikkan kata-kata penghiburan.
"Yang sabar ya Inayah. Arthur pasti akan mengingat kebersamaan kalian."
Bagaimana mungkin mas Arthur bisa cepat mengingat? Sedangkan dengan melihat wajahku saja, dia menjadi begitu emosional dan seperti benci sekali. Apakah sebenci itu dirinya dahulu pada perempuan berhijab? Sesinis itu pula kah dia jika melihat perempuan menutup aurat?
Ternyata, semua berawal dari sikap ateis nya yang tidak mempercayai adanya Tuhan sejak dirinya merasa berkali-kali ditipu Bianca dengan perasaan cinta yang meluap.
Kehidupannya yang keras, dirinya yang tak pernah beruntung dalam percintaan membuatnya jadi manusia yang kufur.
Itu sebabnya Arthur dahulu tidak suka pada perempuan berhijab. Dia menganggap perempuan-perempuan berhijab itu adalah perempuan munafik. Menutup aurat tetapi masih suka bergunjing, berjoget-joget di tiktok dan kadang ikut bermaksiat.
Dia tidak tahu kalau menutup aurat adalah sesuatu hal yang diharuskan dalam agama Islam. Tidak bisa disangkutkan dengan akhlak yang minus.
Begitu cerita Joko tentang Arthur dan masa lalunya.
"Pi, Mi! Kalau memang secara hukum dan agama pernikahan ini sah, sekarang aku ingin mengajukan gugatan cerai pada perempuan ini!"
Jeleggerrr
Bagaikan petir menyambar di siang bolong. Arthur mengutarakan keinginannya pada Frederica dan Joko sesaat setelah mereka duduk bersama mendiskusikan keadaan dirinya yang tak bisa mengingat masa-masa yang indah bersama Inayah.
"Tidak bisa, Arthur!"
"Kenapa, Pi?"
"Istrimu sedang hamil. Menceraikan wanita hamil dilarang agama dan negara."
"Agama yang mana?"
"Tentu saja agama yang sekarang kamu anut."
"Aku? Menganut agama apa? Islam, sama seperti dia? Rasanya itu mustahil! Tidak pernah terpikirkan olehku untuk menjadi seorang muslim dan masuk Islam!"
"Tapi nyatanya kamu telah melaluinya."
"Aku? Log in Islam?"
"Begitulah kenyataannya. Anakku, sebaiknya kamu pulihkan dahulu kesehatan fisik dan psikologis kamu. Setelah memori ingatan kembali, kamu pasti akan kembali mengingat Inayah dan cinta kalian yang luar biasa."
"Mami dan Papi ternyata mendukung pernikahan ini? Bukankah aku jadi berbeda jauh dengan kalian? Bukan seagama dengan kalian. Bagaimana bisa kalian sepasrah ini mendapati anakmu beda agama dan menikahi perempuan muslim?"
"Bukankah kamu yang justru dengan gigih meyakinkan kami? Kamu bilang, kamu jatuh cinta pada Inayah. Kamu ingin jadi manusia yang lebih baik lagi. Cobalah kamu ingat-ingat lagi."
Arthur tertegun.
Hati kecilnya masih sangat tidak percaya.
Seperti mimpi buruk yang panjang baginya.
Terlebih setelah melihat Inayah dan perutnya yang mulai membesar karena usia kandungan yang sudah memasuki bulan kelima.
"Tapi sekarang aku ingin bercerai!"
BERSAMBUNG
__ADS_1