Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 48 Ada Sesuatu Di Balik Kisah


__ADS_3

Sementara di tempat yang berbeda ternyata Ojan dan Samsiah sedang melakukan ritual bulanan yaitu memberi makan makhluk halus peliharaan mereka.


Menyeramkan, ketika manusia bersekutu dengan setan untuk mencapai tujuan kaya raya tanpa harus banting tulang bekerja keras.


Kemarin siang Ojan mampir ke ruko bengkel anaknya tinggal. Ia melihat menantunya sedang berbincang dengan seorang pria yang lebih muda.


Ojan tidak serta merta bergabung langsung dengan mereka. Namun dari obrolan yang terdengar, rupanya pria muda itu adalah adik iparnya Amelia. Mantan istri Soleh yang baru saja ditalak.


Ojan kesal. Ternyata putrinya masih harus mendengarkan sindiran halus dari keluarga Amelia yang seperti tidak terima kalau Soleh telah menceraikan perempuan yang pertama dinikahinya.


Diam-diam Ojan menjadikan pria itu sebagai umpan yang akan dijadikan tumbal pesugihannya bulan ini.


Setiap satu bulan sekali, Ia memang wajib memberikan darah segar kepada jin peliharaannya. Memang tidak harus berupa nyawa, tapi kecelakaan lalu lintas pun bisa asalkan ada darah segar mengalir untuk makan jin genderuwonya. Dan tumbal nyawa minimal harus Ojan persembahkan dua tahun sekali.


Sementara bukan hanya Ojan saja yang memiliki perjanjian dengan raja setan. Samsiah juga. Cuma Samsiah melakukan perjanjian haramnya itu dengan pesugihan menggunakan anak yang dilahirkan sang putri tempo hari.


Juriah melahirkan normal. Bayi yang sehat dan lincah. Namun entah kenapa esok harinya sang bayi ditemukan sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata, Samsiah telah memberikan tumbal pertamanya karena kesal dengan kondisi Juriah saat itu yang selalu jadi gunjingan para tetangga.


Kedua pasangan ini memang tidak pernah main-main dalam menentukan pilihan. Bahkan nyawa anggota keluarganya pun dijadikan taruhan.


Ojan sudah melakukan perjanjian pesugihan dengan dukun terkenal di wilayah barat laut Nusantara selama enam tahun. Dua putranya juga menjadi korban tumbal dari nafsu duniawi yang ingin dipandang orang lain sebagai orang terkaya di kampungnya.


Mereka sebenarnya memiliki tiga orang anak. Anak pertama berjenis kelamin laki-laki bernama Jamal, tetapi lahir dalam keadaan kurang sempurna karena mengalami keterbelakangan mental. Anaknya itu meninggal dunia karena jatuh ke sumur rumah mereka di kampung halaman. Itu adalah pertama kalinya Ojan mengeluarkan tumbal dalam keluarga.


Sejak Jamal meninggal dunia, usaha jual beli onderdil mesin-mesin bermotor Ojan justru meningkat pesat.


Bisnisnya bisa membeli beberapa hektar sawah tetangga. Hingga Ojan Samsiah pindah ke rumah yang jauh lebih besar yaitu tempat tinggalnya yang sekarang namun masih dalam kondisi belum sebagus saat ini.


Di tempat baru, mereka juga kehilangan Ilyas putra bungsu yang baru lima tahun umurnya karena kecelakaan lalu lintas. Jatuh dari sepeda motor yang dikendarai Ojan lalu terl+ndas ban mobil kontainer.


Padahal kematian Ilyas adalah perjanjian Ojan dengan dukun terkenal itu untuk kembali menaikkan derajatnya dimata orang lain.


Ojan memberikan putra bungsunya karena kondisi kesehatannya yang kurang baik. Ilyas sering sakit-sakitan sehingga Ojan tak segan menjadikannya sebagai tumbal keluarga.


Semakin lama, dari hari ke hari, minggu ke minggu bahkan bulan berganti bulan, ekonomi Ojan Samsiah kian menaik stratanya.


Bisnis onderdilnya maju pesat seiring kian banyak angkutan kota yang dibeli Ojan setiap tahunnya.


Sawah berhektar-hektar, rumah kontrakan bertebaran, menunjukkan kalau Ojan bukanlah orang sembarangan yang sedang menumpuk harta untuk tujuh turunan anak cucunya nanti.


Jin genderuwo yang mengikuti Alif ternyata sampai terbawa juga ke Ibukota. Ikut tinggal sementara di rumah kontrakan Amelia karena Alif memiliki ketahanan tubuh yang bagus sehingga agak susah untuk dijadikan tumbal.


Sebelum Alif dan Tia mengunjungi Amelia, sebenarnya semalaman putri mereka panas tinggi dan mengigau. Tetapi demi ingin mengetahui keadaan Amelia di kota yang kabarnya telah di cerai Soleh, adik dan adik ipar Amelia itu menitipkan putrinya kepada Mia dahulu.

__ADS_1


Syukurlah setelah Tia Alif pulang, putri mereka telah sehat kembali seperti sedia kala. Karena jin genderuwo itu telah ikut pergi sehingga tidak lagi mengganggu tumbuh kembang putri Tia dan Alif itu kini.


Kembali ke Ibukota.


Jin genderuwo itu kini mengganggu Dea, putri Tasya. Konon memang anak kecil jauh lebih mudah melihat dan merasakan hal yang tak kasat mata.


Anak-anak sangat polos dan berhati bersih sehingga lebih mudah menangkap hal mistis yang tidak sesuai dengan aura positifnya yang mengalir di jiwa.


Ketika menunggu antrian berobat Dea di dokter klinik, tiba-tiba terjadi hal yang mengerikan. Tepat di depan klinik, terjadi kecelakaan tabrakan maut tiba-tiba antara dua sepeda motor. Dan kejadian itu tepat terlihat di depan mata Tasya dan Diki. Bahkan salah satu pengendara motor pingsan dengan wajah bercucuran darah segar. Membuat suasana depan klinik menjadi ramai orang yang segera menolong para korban masuk klinik untuk diprioritaskan pemeriksaan.


Dea yang tadinya panas tinggi perlahan turun dan normal kembali suhu tubuhnya. Bahkan Putri Diki Tasya itu kini berlarian keluar masuk ruang tunggu klinik.


"Ma, ma! Beli mainan itu, Ma!"


Tasya dan Diki jadi keheranan melihat Dea yang kembali ceria seolah tidak sedang sakit.


Tadi di rumah Dea menggigil kedinginan dengan tubuh panas tinggi. Tapi kini, membuat Diki berkali-kali memeriksa dahi sang putri.


"Lah? Panasnya udah rerep ini? Gimana mau berobat?" tanya Diki bingung.


Tasya juga melakukan hal yang sama seperti suaminya. Ia bahkan memeriksa bagian perut Dea yang tadi panas sekali. Kini biasa saja.


"Kita pulang aja yuk? Udah mau jam sembilan juga. Dokternya sibuk urusin dulu pasien kecelakaan tabrakan barusan. Yuk pulang deh yuk? Lagipula Dea-nya juga udah sembuh!" ajak Diki pada istrinya.


"Ish! Tapi jaga-jaga takutnya tar malem Dea panas lagi. Kita ga punya stok obat demam penurun panas. Lagipula ga enak sama mbak Amel yang udah kasih kita uang!"


Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena hari kian malam dan antrian berobat masih lama karena ada pasien darurat.


Seloyang martabak keju dan boneka Barbie untuk Dea jadi pengganti berobat. Mereka tidak lupa membeli obat penurun panas untuk jaga-jaga kalau nanti malam Dea kembali panas.


............


Amelia yang akhirnya duduk bersebelahan dengan Lukman mulai membuka komunikasi dengan pria bujangan itu.


Selama lima tahun mengontrak di sini, baru kali ini Ia merasakan hal yang janggal. Hal mistis yang menyeramkan. Apalagi sampai adanya penampakan makhluk astral tinggi besar di dalam rumahnya.


"Mungkin karena cukup lama Mbak tinggal ke kampung. Jadi, ada makhluk yang numpang tinggal karena dirasa kosong tak berpenghuni sehingga membuat mereka nyaman tinggal!" kata Lukman spontanitas.


"Astaghfirullah, yang benar, Man? Bisa gitu ya? Padahal saya cuma pulang kampung seminggu!"


"Bisa aja, Mbak! Mahkluk halus atau jin itu sama koq kayak kita. Butuh tempat tinggal juga. Dan satu hal lagi, populasi makhluk halus jauh lebih banyak dari kita manusia. Mereka berkembang biak jauh lebih cepat dari kita yang butuh proses sembilan bulan sepuluh hari. Justru proses pengembangbiakan mereka sangat cepat walaupun hanya disentuh paha kanan dan kiri saja. Jin itu punya nafsu bir+hi yang tinggi. Bahkan ada yang sampai berhubungan dengan manusia, biasa kita kenal dengan makhluk bunian. Mereka tinggal di lautan, daratan bahkan udara sampai alam mithal, yaitu alam perbatasan antara manusia dan jin. Kecepatan jin bergerak melebihi cahaya dalam suatu waktu."


Amelia terpana oleh kecerdasan Lukman dalam bercerita.

__ADS_1


Pria yang sudah dianggap sebagai adiknya itu ternyata pintar membuat suatu kisah menjadi lebih berkesan.


"Kamu kok tahu kisah jin?"


"Hehehe..., waktu ngobong kiyai Hafidz sering cerita soal persetanan, Mbak!"


"Kamu anak pesantren rupanya!"


"Bukan, justru anak nakal yang bengal yang suka keluar masuk pesantren karena bikin Ayah Ibu jengkel. Hehehe... Maklum, Mbak. Saya anak laki satu-satunya di keluarga. Butuh tenaga ekstra buat dapetin perhatian orang tua yang lebih fokus ngurusin anak perempuan mereka yang tiga orang. Hehehe..."


"Oh gitu. Hehehe..."


"Mbak punya saudara kandung?"


"Saya sulung lima bersaudara. Dua adik perempuan, dua adik laki-laki. Kamu?"


"Sulung juga. Tiga adik saya perempuan, dua sudah nikah satu lagi masih kuliah semester dua."


"Umur kamu?"


"Dua puluh delapan, Mbak! Bujangan, single baru aja diputusin pacar akhir bulan lalu! Hehehe..."


"Hahaha, ish, Aku bukannya lagi sensus kependudukan, Lukman! Kamu ini, dasar deh!"


Entah mengapa, obrolan santai bersama Lukman membuat hati Amelia lebih tenang.


Tersadar kalau dia belum sholat Isya.


"Aduh, Aku belum sholat Isya!" pekiknya tanpa sadar.


"Sholat aja dulu!"


"Ta_takut!"


"Hm... Apa, boleh Aku antar masuk rumah kontrakan Mbak?"


Seketika kedua pasang netra mereka saling beradu pandang.


"Tapi pintu rumah dibiarkan terbuka lebar ya? Kamu tungguin di rumah tamunya. Boleh?"


"Hehehe..., siap Mbak! Saya ga akan melewati batas!"


__ADS_1


Amelia tersenyum. Tak sadar kalau senyuman manisnya itu justru menghipnotis Lukman.


BERSAMBUNG


__ADS_2