Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 133 Tawaran Yang Terus Membombardir


__ADS_3

"Cantik! Bahkan bangun tidur pun kamu terlihat sangat cantik!" gumam Lukman memuji kecantikan alami yang Amelia punya.


Pukul empat tiga puluh pagi. Alarm hape mereka berdering untuk mengingatkan kalau waktu Subuh sudah masuk.


Semalam mereka bergelut di atas ranjang tidur kapal pesiar yang masih berlayar di tengah lautan menuju Raja Ampat. Tampak spreinya kacau seperti ada angin ribut yang menerjang.


Cup.


Sebuah kecupan manis di pucuk kepala Amelia diberikan Lukman dengan penuh ketulusan. Membuat Amel semakin merasakan betapa dirinya sangat diberkahi Allah dengan suami yang sangat luar biasa.


"Mau sarapan apa?" tanya Lukman yang sudah lebih dahulu bangun daripada Amelia.


"Aku mau mandi dulu, Mas! Mau adus. Sholat Subuh baru kita cari sarapan sama-sama!"


Lukman tersenyum dan mengangguk.


Ia juga ingin mandi bersama Amelia.


"Sayang? Jangan mandi berduaan. Yang ada malah bikin kita kelewat waktu Subuh. Ish, Mas Lukman! Hihihi..."


Lukman tertawa lebar. Ia sengaja menggoda Amel agar bisa bermain di dalam kamar mandi sebabak lagi.


"Sholat dulu! Ayo sholat!"


Amelia sebenarnya mau juga. Tapi mengingat kewajiban sebagai umat muslim membuatnya mengingatkan Sang Suami untuk segera mandi dan subuhan.


Hingga akhirnya mereka sholat Subuh berjamaah di dalam kamar kapal pesiar mewah milik perusahaan asing yang menjadi destinasi hadiah perjalanan bulan madu mereka dari para sepupu.


"Sayang! Terima kasih untuk semuanya! Terima kasih untuk cinta dan kasih sayangnya padaku yang begitu banyak. Aku sayang kamu, Mas!"


Lukman tersenyum manis. Dipeluknya erat-erat tubuh Amelia yang kini dicandunya.


Lukman sangat mencintai Amelia.


Bahkan semakin cinta karena perempuan itu juga memanjakan dirinya tanpa malu-malu lagi. Benar-benar istri idaman Lukman.


Secangkir kecil teh madu hangat menjadi awal sarapan Lukman yang memang tidak terbiasa sarapan nasi.


Berbeda dengan Amelia, sepiring nasi uduk atau nasi goreng biasanya mampu membuat sepanjang harinya menjadi kuat.


"Menu sarapan pagi hari ini setangkup roti gandum saja?" ucap Amelia. Seketika Lukman tertawa.


"Masih kurang ya?"


"Hooh. Aku kalo belum makan nasi berasa lemes hariku, Mas!"


"Yuk kita ke pantry kantin saja. Ada lontong sayur juga tadi kulihat."


Netra Amelia berbinar.


Para penikmat kapal pesiar Costa Rica ini kebanyakan para turis asing. Otomatis sarapannya pun disesuaikan dengan lidah mereka. Padahal nasi goreng juga hampir makanan favorit semua orang termasuk para bule kokay itu. Tapi, ternyata untuk sarapan, menu nasi dianggap terlalu berat bagi sebagian orang.


"Sayang, sebentar dulu, dompetku ketinggalan di kamar!"


"Aku ikut!"

__ADS_1


"Tunggu di sini sebentar! Jangan kemana-mana!"


Amelia tersenyum tipis melihat Sang suami setengah berlari kembali ke kamarnya untuk mengambil dompet.


"Nona, tunggu!"


Amelia terkejut. Arthur berdiri di belakangnya sambil menyodorkan sebuah buku novel.


"A_apa ini?"


"Ini adalah novel yang akan kami angkat jadi film. Dan saya melihat, paras Nona sangat pas memerankannya."


Tentu saja Amelia membelalakkan matanya.


"Maaf, Tuan. Saya bukan artis ataupun selebritis. Saya tidak bisa bermain sandiwara apalagi akting! Ini, bukunya!"


Amel memberikan kembali novel yang diberikan Arthur padanya. Tapi ada satu hal yang menggelitik hatinya.


Judulnya. "Istri Muda Untuk Suamiku".


"Ini bercerita tentang seorang perempuan yang menjadi istri tua dari seorang pecalang."


Arthur melihat, Amelia seperti tertarik dengan judulnya.


"Pecalang?"


"Polisi Bali. Petugas keamanan setempat yang merasa dirinya bertahta lebih tinggi. Hingga berani mengambil keputusan poligami padahal justru menyiksa batin istri pertamanya yang sudah setia mendampinginya sedari muda."


"Ada apa ini?"


Amelia segera menoleh ke arah suara pria yang dikenalnya.


"Saya sangat ingin sekali istri Anda memerankan tokoh Ni Luh Wati, Istri dari Nyoman Ariputra."


"Tidak, tidak! Ayo Amel! Tolong, jangan ganggu istriku apalagi disaat tidak ada Aku disisinya. Kecuali, Anda memang ingin memiliki urusan panjang denganku!"


Arthur menghela nafas pendek.


Wajah Lukman menegaskan ketidaknyamanan dirinya pada Arthur.


"Saya tahu, Anda pasti pengusaha muda kaya. Uang bukan masalah buat Anda pastinya. Tapi film ini akan sangat berjasa besar bagi kaum perempuan yang menyandang status istri yang selama ini didoktrin untuk selalu manut pada suami meskipun itu jalan yang salah."


Arthur berusaha menjelaskan jalan cerita filmnya.


"Ini bukan film esek-esek!"


"Cukup!!!"


Lukman menbentak Arthur yang masih berusaha menarik perhatiannya dan juga Amelia.


Amelia segera memegang tangan Lukman. Khawatir akan ada keributan besar yang terjadi setelah ini.


"Apa Anda tidak bisa menempatkan diri dengan baik sebagai seorang pria dewasa yang tahu adab sopan santun berprilaku?"


"Maaf, Tuan sudah melebihi batas! Tolong, hargai privasi kami!" Amelia ikut angkat bicara.

__ADS_1


Tanpa diketahui Lukman dan Amelia, ternyata ada beberapa wartawan film yang mengambil gambar mereka yang sedang bersitegang.


Dan esok harinya wajah Amelia, Lukman dan juga Arthur sang sineas muda berbakat film-film indie menjadi berita utama di harian Ibukota dengan judul, Calon Artis Berikutnya di Film Terbaru Si Tangan Dingin King Arthur.


"Lho? Lho? Papi, Papi...! Apa ini?"


Fanny yang membaca koran harian langganan Bimo sontak kaget melihat berita hari ini.


"Anak dan mantu kita bakalan jadi artis? Ini beneran?"


Bimo yang sedang mandi di dalam tampak tenang saja tak menanggapi kehebohan istrinya melihat berita yang terpampang di lembar pertama koran Ibukota.


"Pi!"


"Hm."


"Ini coba buruan liat ini!"


"Telpon saja mereka. Tanya kebenarannya. Beres toh!?!"


Fanny tersenyum sambil menepuk dahinya. Mengapa ia sampai seperti kebakaran jenggot padahal bisa langsung tanya pada keduanya perihal berita yang sudah tersebar luas itu.


Lukman dan Amelia sudah turun dari kapal pesiar dan kini sedang berada di hotel dekat pantai tempat mereka menginap.


...[Apa, Mi? Ada apa?]...


"Di berita koran hari ini, kamu dan Amel bakalan jadi artis membintangi sebuah film?"


...[Hah?!? Apa sih? Ada berita apa memangnya?]...


Fanny segera mengirimkan gambar foto tentang berita yang menyebarkan kalau Ia dan Amel adalah pasangan suami istri yang akan membintangi film garapan King Arthur akhir bulan ini.


Kini Amelia dan Lukman hanya bisa saling bertatapan tak mengerti.


Berita yang sadis tanpa dikonfirmasi lebih dahulu kebenarannya. Membuat Lukman dan Amelia hanya bisa tersenyum kecut menanggapinya.


"Biar sajalah. Toh kita bukan seperti yang diberitakan. Kita bukan artis. Tidak melakukan perjanjian apalagi terikat kontrak dengan pengusaha film itu. Iya kan?"


Lukman mengangguk. Ia setuju dengan ucapan Amelia dan kembali memeluk Amel yang baru saja selesai mandi.


Pria itu mencium rambut wangi Amelia. Terus turun ke leher jenjang sampai ceruk indah istrinya itu.


"Sayang..."


Amelia hanya bisa mel+nguh. Ia membiarkan pria yang telah berhasil mendapatkan jiwa raganya itu berbuat sesukanya di tepi ranjang.


Indahnya bulan madu benar-benar menjadi nyata dalam hidup Amelia.


Ini seperti pernikahan yang baru pertama kali Ia alami. Amelia sungguh sangat bahagia. Mendapatkan suami yang baik dan penuh cinta.


Kini niatnya hanya ingin menjaga ketentraman rumah tangga dan menjalani tugasnya sebagai seorang istri untuk keluarga. Menjaga suami lahir batinnya. Tak ingin menjadi perempuan yang cerewet dan banyak marah karena suami yang tidak becus menjadi kepala keluarga.


Baginya Lukman adalah suami yang sempurna. Sangat sempurna karena bisa menjadi penyeimbang hidup Amelia.


Melindungi juga mengayomi dan melimpahkan banyak pujian serta kebahagiaan.

__ADS_1


Baik Lukman maupun Amelia sangat bahagia.


BERSAMBUNG


__ADS_2