
Soleh senang, Samsiah dan juga Ojan sudah pulang dari acara hajatan kerabat mereka yang ada di kampung sebelah.
Setidaknya Ia bisa minta bantuan kedua mertuanya untuk izin membereskan kontrakan rumahnya di kota bersama Amelia.
Baru saja hatinya bersorak, Juriah sudah berdiri dibelakangnya.
"Mas!"
"Sayang, dengar dulu penjelasanku."
Soleh membalikkan tubuh berusaha memberitahu Juriah tentang rencananya.
"Aku akan pindah dari kota. Amelia akan kembali pulang ke rumah orangtuanya. Kita, akan tinggal di Asamka. Usaha bersama sesuai rencana awal kamu, Yang!"
Juriah menatapnya lekat.
"Aku ikut!"
"Jangan, Yang!"
"Iih... masa' ga boleh. Aku juga mau tahu tempat kalian tinggal. Jadi kalau suatu saat kamu berbuat aneh-aneh atau menghilang tanpa kabar, Aku bisa datang ke tempat kamu dulu tinggal!"
"Ya Allah ya Tuhanku. Kita ini mau pindahan. Ga akan kembali lagi ke rumah itu, Sayang! Aku juga ga akan lama. Cuma pamitan sama tetangga kiri kanan, beres-beres perabot, cuss pulang dengan mobil truk ke sini lagi. Aku juga harus antarkan motor Tito, adik ipar ku. Dia sudah beberapa hari gak ngojek. Pasti Lani bakalan ngoceh ga punya duit lagi. Kumohon, mengertilah! Kalau kamu ikut, kita tidak bisa gerak cepat. Aku antar motor dulu pulang ke rumah, lalu berangkat ke kota. Paling semalaman di sana, Yang! Setelah itu, (Soleh mendekat ke daun telinga Juriah dan berbisik) Kita pergi berdua saja. Bulan madu kemanapun yang kamu mau!"
"Beneran?" tanya Juriah ragu, tapi penasaran.
"Iya. Janji. Suwer!"
"Apa itu suwer?"
"Itu bahasa gaul orang kota, artinya beneran. Ga bohong."
Netra Juriah berbinar indah.
"Baiklah. Tapi awas kalo mas lama-lama tinggalkan Aku. Dan janji juga, jangan matikan ponsel!"
"Hehehe... siap Boss!"
"Ish, dasar deh Mas nih!"
"Mau goyang dulu?" bisik Soleh menggoda. Merah merona wajah Juriah. Bibirnya tersipu malu dan tangan mencubit manja Solehudin.
Soleh segera menangkap tubuh istri mudanya. Bibirnya langsung tancap gas. Me++mat dengan penuh gairah juga kemesraan yang luar biasa.
Gelenjar kenikmatan menjalari tubuh Juriah.
"Mas..."
Bibirnya mend+s+h. Libidonya meningkat. Dan Soleh merasa diri semakin jumawa.
__ADS_1
Sementara Amelia menunggu suaminya keluar dari kamar. Untungnya Samsiah duduk menemaninya meskipun tidak terlalu banyak tanya.
Lamanya Bang Soleh keluar!
Amel mulai merasa bosan. Meskipun duduk di sofa yang empuk, tetapi lebih dari setengah jam menunggu membuat Amelia lelah juga.
"Nak Amel sudah makan? Mau makan bersama kami?" tanya Samsiah dengan sopan. Ia memang berencana untuk makan bersama suaminya, Ojan setelah perjalanan panjang dengan sepeda motor dari kampung sebelah.
"Terima kasih, Bu. Saya belum lapar."
"Kemana mereka? Lama sekali ya keluarnya! Hehehe... Ibu harap, Nak Amel maklum. Pengantin baru ya seperti itu kelakuannya. Hehehe..."
Wajah Amelia merah seketika.
Samsiah seolah sedang menjelaskan kalau putrinya dengan suami Amel sedang melakukan kegiatan yang halal dilakukan pasangan suami istri.
Jantung Amelia berdebar kencang.
Jedag-jedug mirip mobil angkot yang diberi tambahan speaker woofer aktif.
Samsiah menelan ludah. Ia bingung juga reaksi Amelia terlihat datar saja. Padahal andaikan itu adalah dirinya yang meskipun sudah tua tapi ogah dipoligami. Pasti Samsiah lebih memilih pergi daripada menunggu Soleh yang sedang asyik dikamar dengan Juriah.
Siapa yang tahu, namanya juga pasangan pengantin baru. Berduaan di kamar pasti yang terbayang pasti sedang main kuda-kudaan.
Apa ini perempuan sudah mati rasa ya sama suaminya? Atau terlalu cinta sampai bingung kalau tinggalkan dia? Hm... Di dunia ini ternyata ada banyak macam-macam karakter perempuan ya!?
Samsiah hanya bisa tersenyum tipis.
Amelia sendiri bukan tak punya hati untuk merasa sakit. Tidak.
Ia bingung, juga tak bisa melakukan apapun selain diam dan memendam.
Amelia menyadari kalau dirinya adalah perempuan yang bodoh.
Perempuan yang dengan sadarnya mengizinkan suami menikah lagi bahkan hadir di acara pernikahan mereka dengan melihat sendiri kebahagiaan yang terpancar di wajah suami serta madunya.
Soleh merasa nyeri di ulu hati.
Tidak ada seorang perempuan manapun di seluruh dunia ini mau hidupnya dimadu. Tidak ada.
Tapi Amel kembali mengingat kekurangannya yang belum juga memberikan keturunan untuk suami tercinta.
Sepuluh tahun, masa yang baginya cukup lama dalam penantian.
Anak adalah tujuan utama orang menikah. Ingin memiliki momongan dan memperpanjang garis keturunan.
Masalah anak adalah hal yang sensitif.
Untuk mengadopsi apalagi melakukan program bayi tabung, lebih tidak mungkin lagi bisa Amelia dan Solehudin lakukan.
__ADS_1
Perekonomian rumah tangga mereka benar-benar hanya cukup buat makan. Sisanya untuk mencukupi kebutuhan hidup kedua orang tua Soleh.
Tiada bersisa.
Jangankan untuk menabung seperti pasangan muda lainnya. Untuk sekedar membeli perhiasan emas atau pakaian yang bagus setiap minggunya pun nyaris tidak ada.
Amelia dan Solehudin baru benar-benar bisa membeli baju hanya disaat hendak lebaran saja.
Itupun karena ada uang Tunjangan Hari Raya yang dikeluarkan pabrik setiap tahunnya.
Benar-benar bulan kebahagiaan bagi Amelia karena bisa membeli pakaian lengkap daleman, sandal dan juga tas yang harganya disesuaikan.
Masing-masing bisa membeli satu pasang. Dan dua potong kaos oblong seratus ribu dapat tiga untuk dipakai sehari-hari.
Rasanya rutinitas itu telah berlangsung berbulan-bulan bertahun-tahun selama mereka menikah.
Terkadang yang paling membuat Amelia pusing adalah ketika ada saudara yang hajatan dan mereka harus pulkam kondangan karena tidak enak hati dengan para sesepuh keluarga yang sering kali menanyakan keberadaan mereka.
Tentu saja oleh-oleh biskuit plastikan yang Amelia beli lusinan jadi makanan ciri khas mereka ketika kumpul keluarga.
Sekarang, Soleh sudah berhari-hari tinggal di kampung. Menganggur dan tak berani keluyuran keliling kampung karena malu jika tak memberi sedikit oleh-oleh seperti biasanya.
Kini, karena nasib membawa mereka pada satu situasi yang rumit. Harus menjadi seperti ini dalam waktu yang teramat singkat. Bahkan tak ada rencana. Semua terjadi begitu cepat karena Mariana dan Anta yang mengatur segalanya.
Amelia percaya, Allah lah yang menjadikan semuanya jadi terasa sangat mudah.
Juriah, menjadi istri muda Solehudin. Dan kini Ia dihadapkan dengan kebingungan bersikap dan bertindak.
Semua masih serba salah dan membingungkan.
Amelia termenung sendiri dalam kesendirian.
"Amel! Ayo, kita berangkat!"
Amelia mendongak.
Soleh sudah keluar dari kamar. Pakaiannya kini telah berganti. Terlihat lebih muda dan segar meskipun wajahnya tampak kelelahan dengan sedikit kantung mata yang menggelayut.
Amelia! Apakah kamu sudah tidak punya rasa lagi pada suamimu? Dia, dia telah membagi cinta dan segalanya pada perempuan lain, Amelia! Apa kamu tidak merasa sakit hati dan kecewa?
Amelia menelan salivanya. Ia bangkit dan melangkah berjalan keluar perlahan.
Aku, harus kuat. Aku, harus tegar dan sabar. Ini semua adalah ujian pernikahan. Ini hanya cobaan yang harus kulalui dengan hati yang pasrah pada ketentuan Allah Ta'ala.
Tapi benarkah tindakanmu ini, Amelia? Bukankah kamu makin terlihat bodoh dihadapan mereka semua? Kedua mertuamu, madumu juga orang tuanya. Dan mungkin bahkan orang tuamu yang jika mengetahui kalau suamimu menikah lagi. Apa kamu benar-benar dungu, Amelia?
Suara hati yang silih berganti. Seperti ada malaikat dan setan yang saling bersahutan. Mengoceh dalam hati Amelia membuat gontai langkahnya berjalan keluar rumah.
Seperti kosong otaknya, Amelia berpamitan pada keluarga Juriah sementara Sang Istri Muda suaminya tidak terlihat batang hidungnya.
__ADS_1
Amelia kini menunggu Soleh menyalakan mesin motor milik Tito yang dipinjamnya beberapa hari lalu.
BERSAMBUNG