
"Ck ck ck... Kesian betul Mbak Amel ini!" gumam Lani setelah melihat status WhatsAppnya Tia, adik kandung Amelia.
"Ada apa, Lan?" Mariana yang kebetulan sedang main di rumah baru putrinya itu langsung bertanya karena penasaran.
"Liat nih, Bu! Kelakuan mantan menantunya Ibu. Hehehe... Ternyata jadi janda lima bulan sudah gatal kumpulin para pria!"
Pendapat yang salah keluar begitu saja dari mulut Lani. Sangat berbeda dengan harapan Tia ketika memposting gambar foto Kakaknya agar terlihat bahwa tanpa Soleh, Amelia banyak yang masih menginginkannya.
Tapi ternyata, berbeda dengan penilaian Lani yang menganggap Amelia jadi seperti janda gatal.
Mariana tertawa.
"Ini siapa yang pajang fotonya si Amel?" tanyanya pada Sang Putri.
"Adiknya."
"Hahaha... Kasian ya!? Segitu ngebetnya kepingin lepas status janda Kakaknya. Hm. Ehh? Ini..."
"Pak Anan meninggal dunia!" seru Lani setelah melihat postingan Tia berikutnya.
Ada gambar foto keluarga Amelia lengkap dengan Soleh juga tp wajah Soleh ditutupi stiker emosi muka hitam membuat Mariana meradang.
"Cih, bisa-bisanya foto anakku dia tutupi pake stiker jelek begini! Syukurlah kalian merasakan apa yang kurasa! Ditinggal suami mati! Biar tahu rasa!"
"Huhuhu... Huhuhu..."
Lani menoleh ke arah pintu depan.
Cia putrinya menangis keras dengan sebelah tangan dituntun anak tetangga.
"Cia kenapa?"
"Tangannya berdarah, Mama Cia!" kata anak laki-laki yang mengantarkan Cia pulang.
"Berdarah kenapa?"
Lani panik. Telapak tangan putrinya berlumuran darah bahkan sampai menetes jatuh di lantai marmer rumah barunya.
"Cia! Angkat tangannya ke atas! Itu darahmu kena marmer nanti jadi kusam!"
__ADS_1
Lani yang bodoh justru memarahi putrinya yang telah mengotori lantai marmer dengan ceceran darah segarnya yang mengucur dari telapak tangan yang terluka.
"Mama sakiiiit!!! Huaaa..." teriak Cia yang baru disadari Lani.
Ia segera bangkit dari duduk dan menggendong tubuh Cia ke arah wastafel untuk mencuci darah di tangan Cia.
"Kena apa ini?" tanya Lani dengan suara kencang.
Mariana tergopoh-gopoh berlari ke luar. Ia langsung memoteskan daun talas liar yang tumbuh di pekarangan. Lalu kembali lagi ke dalam rumah dengan daun talas di tangan.
"Ini, ini! Sini tangan Cia!" serunya dengan cepat.
Mariana menorehkan cacahan daun talas yang Ia bejek ditangan Cia.
"Adu aduh perih, Nek! Huaaa sakiiiit huaaa...!!!"
"Makanya kalo main itu jangan nakal!" omel Lani pada Cia.
Anak laki-laki yang tadi mengantar masih berdiri termangu melihat Cia yang menangis kencang.
"Tadi Cia mau naik ke pohon melinjo yang ada di kebun belakang!"
"Dibatang pohon ada paku-paku yang menancap! Katanya Mama Toriq, pohon itu ditanami jin jahat!"
"Huss apa itu!?"
"Beneran! Pohon Pak Ojan semuanya ditanami paku. Buat cari tumbal katanya!"
"Jangan ngomong sembarangan! Kamu kecil-kecil udah bisa ngarang cerita! Mendingan ngarang novel sekalian di Noveltoon! Ck, dasar deh! Anak siapa sih kamu, bikin gosip ngasal begitu!?"
Anak laki-laki itu keluar rumah Lani dengan langkah setengah berlari.
"Orang-orang sini kayaknya kurang suka sama Pak Ojan ya Bu?"
"Ya emang orangnya kayak gitu! Ngomongnya suka nyelekit. Orang yang baru kenal dimaki pasti lah sakit hati! Kayak dulu Abangmu itu! Dimarahi depan pelanggan yang sedang servis motor. Abangmu sampai emosi waktu itu!"
"Ternyata Pak Ojan itu galak ya! Lani kira orangnya baik dan ramah. Soalnya kayak yang murah senyum gitu pas nikahan Abang sama Juriah. Oiya, Bu Samsiah yang baik pastinya ya? Soalnya sering banget beliin Bang Tito makanan yang enak-enak buat Cia katanya."
"Hm. Syukurlah! Semoga suamimu terus bekerja di tempatnya Samsiah. Urus semua kontrakan dan kebun-kebun lahan milik Ojan! Pria itu masih bolak-balik rumah sakit kata Soleh!"
__ADS_1
"Iya. Sekarang aja lagi ada di Jakarta. Lagi kontrol mata katanya ada donor mata yang pas buat pak Ojan!"
"Kita belum datang berkunjung menjenguk Ojan ya?!"
"Kata Bang Tito gak usah! Pak Ojan ga mau dianggap pesakitan. Sodaranya aja jarang ada yang jenguk. Ga mau disebut sakit. Gitu kata Bang Tito!"
"Dasar, orang kaya mah bebas ya!?"
Mereka sibuk sendiri. Kasak-kusuk berghibah menggunjing Ojan dan warga sekitar.
Lupa kalau Cia dengan wajah pucat tertidur di lantai setelah menangis keras sekitar seperempat jam.
"Lan, itu Cia!?"
"Hahaha, kecapean nangis malah ketiduran!"
Lani menggendong tubuh mungil putrinya yang telapak tangannya masih menggenggam remahan daun talas. Ia menidurkannya di atas sofa ruang tengah rumah.
Daun tumbuhan jenis keladi itu memang mengandung fenol tanin, flavonoid, glikosida, sterol dan triterpenoid yang mengandung sifat anti inflamasi dan anti mikroba yang membantu mengurangi peradangan kronis.
Darah yang tadi mengalir deras dari telapak tangan Cia seketika terhenti berkat cacahan daun talas liar yang diambil Mariana.
Lani mengambil potongan kain bekas untuk membalut luka di tangan Cia.
"Hhh... Lekas sembuh ya anak cantikku!" doa Lani sembari menci+m pipi sang putri yang akan genap dua tahun itu sebulan lagi.
"Cia sebentar lagi ulang tahun kedua. Rasanya seperti baru kemarin bocah ini lahir. Hehehe..."
"Wah, bikin pesta ulang tahun dong!"
"Harus dong Bu! Kehidupan kita sekarang sudah naik level. Dulu kita harus mikir panjang untuk rayakan ulang tahun. Sekarang, uang untuk pesta sudah Lani siapkan. Sekalian selametan rumah baru!"
Mariana mengangguk dengan senyuman lebar.
Ia bisa memperlihatkan kepada para tetangga yang mulutnya ember yang sering menggunjing keluarganya dulu sebagai keluarga miskin yang mata duitan.
Kini Ia bisa sekalian pamer kalau putrinya sudah memiliki rumah baru. Besar dan megah pula. Paling wah diantara rumah lain di sekitarnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1