
Juriah menangis sesegukan.
Le' Gunawan yang menjemputnya dari rumah sakit tempat dirinya di rawat atas permohonan Juriah yang ingin sekali menyaksikan prosesi pemakaman Uminya tercinta.
Meskipun sempat kecewa dengan perilaku Sang Umi diakhir hayatnya, tetapi Juriah merasa sangat kehilangan sosok Ibunda yang dulu selalu menjaganya sepenuh hati.
Juriah hanya bisa meratapi nasib di rumah keluarga Samsiah karena pingsan saat acara pemakaman berlangsung.
Juriah tidak kuat mengetahui kenyataan kalau tubuh Uminya hancur menjadi potongan jasad tak bernyawa karena terseret kereta api.
"Umiii...! Untuk apa Umi pergi ke kota itu? Untuk apaaa?!? Hik hik hiks... Umiii huhuhu..."
Juriah tidak tahu, kalau roh Uminya duduk disampingnya dengan air mata berurai di wajah hitamnya yang seperti gosong itu.
Samsiah benar-benar menyesal hingga akhir hayatnya. Dia telah berdosa melalaikan kewajiban sebagai seorang Ibu dan juga istri yang baik.
Ia juga menangis pilu hingga para hewan yang ada disekitar mendengar rintihannya yang memilukan.
Penyesalan selalu ada di akhir.
Seperti Samsiah yang mengiba mengharapkan ampunan, atas segala dosa dan kesalahan yang diperbuat selama hidup.
Tangisnya menyayat hati para makhluk hidup lainnya selain Manusia seperti hewan dan pepohonan.
Penyesalan yang teramat menyedihkan. Bahkan sampai akhir, Ojan sampai tak mau memberinya maaf.
Seorang saksi mata telah membocorkan hubungan rahasia Samsiah dengan adik ipar Solehudin itu kepada Ojan.
Itu pula yang menyebabkan Ojan kian suka menyiksa Samsiah dengan gigitan dan perbuatan kasarnya di atas ranjang setiap malam.
Ojan tidak ingin membuka kalau Ia telah mengetahui perselingkuhan Samsiah. Tapi dengan caranya yang lain melampiaskan kemarahan.
Hingga Samsiah kabur melarikan diri. Tapi yang membuat Ojan makin marah adalah, Samsiah kabur mencari pria muda selingkuhannya itu tanpa sadar dan berniat minta maaf kepadanya.
............
Lani perlahan akhirnya bisa menerima kenyataan kalau dirinya telah ditipu mentah-mentah oleh Anton kekasih barunya.
Mariana hanya bisa menasihati Lani untuk tidak cepat percaya mulut manis laki-laki.
Di dunia ini, lelaki adalah makhluk yang paling pandai bersandiwara.
__ADS_1
Mariana juga sudah menjual rumah peninggalan Anta karena kesal selalu saling sindir yang berujung ribut dengan orang tua Tito.
Kini Mariana tinggal bersama Lani di rumah besar putrinya itu.
Memang Lani sudah habis hartanya. Emas perhiasannya juga telah raib bersama alat elektronik dan barang berharga lainnya karena digondol maling.
Motor gede yang ditinggalkan Tito serta sertifikat rumah juga dibawa kabur pacar siallan Lani.
Hingga akhirnya perempuan berumur 28 tahun itu keliling kota untuk mencari pekerjaan.
Umur yang masih muda serta wajah yang cukup menawan membuat Lani mudah mendapatkan tawaran pekerjaan.
Meskipun hanya sebagai pelayan restoran, Lani cukup bersyukur dan ambil kesempatan itu. Tentunya demi menyambung hidup kedepan. Karena hidup butuh makan.
Seminggu, dua minggu, hingga bulan pun berganti.
Kehidupan Lani mulai dari awal lagi.
Ia bisa menghidupi dirinya serta ibunya yang tinggal seorang saja.
Sesekali Kakak lelakinya, Fitra dan Jamal juga datang berkunjung meskipun hanya sebentar dan tak membawa keluarga mereka.
Tetapi ada sejumlah uang yang mereka berikan untuk tambahan biaya hidup dan jajan Mariana.
Dia benar-benar fokus bekerja dan tak lagi memikirkan cinta yang membuatnya sedih.
Hingga suatu hari,
Tok tok tok
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam!"
"Ibu siapa ya?" tanya tamu yang datang dan telah membuka pintu rumah dengan kunci yang dibawanya.
"Lah? Harusnya yang tanya begitu itu khan saya?" Mariana balik bertanya.
Kedua bola matanya menatap tajam ke arah pria bertubuh tambun itu dari atas kebawah dari bawah ke atas.
"Ehh? Saya pemilik rumah ini lho!?!"
__ADS_1
"A_apa???"
Tentu saja Mariana terkejut bukan main.
Spontan Ia tertawa menyeringai.
"Bapak jangan bercanda! Saya ini orang tua lho! Koq dibercandain begitu!" semprotnya berang.
"Saya tidak sedang bercanda! Siapa Ibu sampai harus saya candai!"
"Lho, lho?"
"Ini rumah pribadi saya! Lihat! Saya bahkan sudah menerima surat sertifikat yang telah dibalik nama atas nama saya!"
"Hahh?"
"Ibu sebaiknya segera bereskan barang-barang! Karena Saya akan pindah dua hari kedepan!"
"Saya tidak jual rumah ini! Anak saya juga tidak! Ini rumah atas nama Lani, putri saya!!!" jerit Mariana kesal.
"Saya adalah pemilik sah rumah ini! Bahkan saya belinya disaksikan notaris wilayah kecamatan setempat!"
Mariana melotot tak percaya.
Pria itu menghardiknya. Mengatakan kalau Ia harus segera tinggalkan rumah besar itu.
"Ini rumah putriku! Rumahnya berdiri di atas lahan atas nama almarhum suamiku!"
"Ibu jangan mengarang cerita! Rumah dan tanah ini sudah saya beli secara resmi di kantor pemasaran properti! Silahkan laporkan saja ke pihak kepolisian. Kalianlah yang akan kalah dan gigit jari!"
Mariana tertegun.
Ia menelpon Lani yang sedang bekerja.
...[Ada apa, Ibu? Aku sedang sibuk ini! Tolong jangan telpon Aku di jam kerja! Bisa kena potong bos gajiku!]...
"Laniii! Ada orang datang bilang kalau rumah kamu sudah dia beli berikut tanah milik bapakmu yang dari si Ojan!!!"
...[Hahh?!? Apa???]...
Sungguh tragisnya kehidupan Mariana dan putra-putrinya.
__ADS_1
Siang itu juga Mariana menelpon satu persatu putra-putranya meminta bantuan hukum atas kasus yang menimpa Lani, putri bungsunya.
BERSAMBUNG