
Senang hati Inayah mendapatkan kabar dari Frederica kalau mereka akan kembali ke Jakarta meskipun tanpa Arthur Handoko.
Hampir dua bulan, Pupu tak betah tinggal di San Fransisco.
Bocah imut itu sering sakit-sakitan, bahkan tubuhnya menyusut kurus dan kurang semangat hidup.
Setiap hari Pupu selalu menanyakan kapan pulang ke rumah Jakarta. Ia sangat rindu bundanya yang cantik dan baik hati. Begitu selalu celotehannya tiada henti.
Frederica, Joko dan Arthur akhirnya mengambil langkah demi kesehatan dan kembang tumbuh Putra Arthur Pangestu. Mereka akan kembali ke Jakarta dan menitipkan Pupu pada Inayah.
Sebenarnya ini juga taktik Frederica juga Joko agar Arthur kembali rujuk pada Inayah.
Meskipun Arthur belum pulih ingatannya, tapi temperamennya perlahan kembali pada saat dirinya telah hijrah.
Arthur setiap tiga hari sekali rutin ikut kajian majelis perkumpulan remaja muslim Indonesia di masjid dan musholla sekitar San Fransisco.
Kini Arthur benar-benar sudah mendapatkan kembali keimanannya.
Frederica sering kali men-spill nama Inayah dihadapan Arthur. Berharap sang putra ingat istri yang ditinggalkannya di Jakarta itu. Tapi Arthur cenderung pasif diam tak berkata apapun.
Sedikit kecewa jadinya Frederica melihat respon sang putra.
Padahal Frederica tidak tahu. Hati Arthur sendiri bergemuruh tiap kali Maminya menyebut nama Inayah.
Ia juga rindu. Tapi malu mengakui.
Ia juga ingin sekali kembali.
Hidupnya seperti pincang. Seperti ada rongga besar menganga di hatinya. Lubang yang dalam. Membuat hatinya terasa hampa.
Entah mengapa. Arthur tidak tahu.
Ia ingin kembali ke Jakarta. Melihat lagi wajah gadis manis bertutur hijab itu. Tapi Arthur takut temperamennya kembali meninggi. Seolah semua kesalahan ada di pundak Inayah.
Arthur sendiri bingung dengan perasaannya sendiri.
Jika dekat ia benci namun jika jauh rasanya rindu sekali.
Setiap hari setiap malam, wajah Inayah selalu terbayang.
Semua tingkah lakunya, jelas dalam ingatan.
Juga dirinya yang selalu berwajah garang, setiap kali melihat Inayah.
Mungkin karena memorinya kala itu masih membekas pada kejahatan Bianca yang sadis memperlakukan cintanya.
Inayah adalah istrinya.
Tapi dia lupa ingatan dan tidak mengingat sama sekali perjalanan cintanya pada Inayah. Sehingga Inayah seperti orang asing baginya. Padahal Inayah melayani dan memperlakukannya dengan sangat baik sekali.
Inayah membantu dirinya yang kala itu masih dirawat di rumah sakit. Sampai dokter memperbolehkannya pulang ke rumah. Inayah meng-handle semuanya juga di rumah. Tapi Arthur kala itu seolah tak punya hati nurani. Bertingkah sesuka hati. Membentak, memaki, bahkan mengusir Inayah beberapa kali.
Mengingat itu, tentu saja malu hati Arthur.
Makanya Ia ragu-ragu untuk ikut mereka ke Jakarta. Tapi untuk urusan keuangan, diam-diam Arthur mengirimkan sejumlah uang dalam jumlah ke rekening tabungan Inayah tanpa pemberitahuan. Itu untuk kebutuhan Putra Arthur Pangestu dan juga Inayah juga.
Arthur hanya akan memantau keluarga kecilnya itu dari kejauhan.
..............
Bulan Oktober, tepat tanggal satu. Inayah yang sudah memasuki usia kandungan delapan bulan itu berdiri menunggu pesawat terbang yang membawa putra sambung dan kedua mertuanya landing.
Jantungnya berdegup kencang.
Hatinya senang bukan kepalang.
Ia akan bertemu kembali orang-orang yang sempat pergi dari hidupnya selama kurang lebih tiga bulan.
"Bundaaa...!!!"
__ADS_1
Terkesiap Inayah mendengar suara imut berteriak dan tampak seorang bocah laki-laki tampan berlari ke arahnya.
"Pupu! Pupu! Pupuuu..."
Pertemuan yang dramatis. Keduanya berpelukan bahkan sampai berjongkok di lantai aula bandara.
Tangisan yang memilukan terdengar dari mulut Inayah dan juga Pupu.
"Sayangnya Bunda, ya Allah... anak pertamanya Bunda, sudah setinggi ini sekarang! Hik hik hiks... ya Allah, Alhamdulillah... Alhamdulillah kita bisa ketemu lagi... hik hiks hiks..."
"Bundaaa, Bundaaa! Pupu rindu Bunda! Hik hiks hiks..."
"Bunda juga, Nak! Bunda rinduuu banyak sama Pupu. Alhamdulillah... Alhamdulillah. Terima kasih Mi, Pi. Terima kasih sudah bawa Pupu kembali pada Inayah. Hiks hiks..."
Inayah beralih memeluk Mama mertuanya. Mereka saling melepas rindu dengan berpelukan erat.
Joko yang ikut mengantar sang istri ikut terharu dan sempat menitikkan air mata.
Ternyata chamistry Pupu dan Inayah sudah sedalam itu.
Keduanya benar-benar tulus menyayangi satu sama lain. Itu karena Inayah yang begitu ikhlas merawat serta menjaga putranya Bianca dalam kurun waktu dua tahun lamanya.
Pantas saja Pupu begitu lemah hingga sering sakit karena berjauhan dari Inayah.
"Bunda, Dede bayi..."
Pupu mengusap perut Inayah yang tampak membuncit.
"Sebulan lagi kita akan melihat adik bayi. Adik perempuan yang imut dan manis. Pupu suka?"
"Suka dong! Pupu akan jadi kakak yang baik, Bun! Pupu akan jaga adik. Kalau ada orang jahat sama adik, Pupu ugh, tinju wajahnya seperti Pa'Le Lukman pukul Papa waktu itu!"
Inayah yang tertawa-tawa seketika menutup mulut Arthur dengan mata terbelalak. Ia terkejut sekali, Pupu masih mengingat jelas perkelahian Lukman dengan Arthur.
Ternyata melakukan kekerasan dihadapan anak kecil dampaknya sangat besar dan berbahaya sekali.
"Lupakan kejadian itu, Sayang! Kekerasan itu tidak baik. Selagi masih ada jalan musyawarah, kenapa harus dengan kekerasan. Hehehe... Pa'Le Lukman sayang sekali pada Papa. Itu pukulan sayang. Udah, udah. Pupu tidak boleh mengingat hal-hal yang buruk. Ingat saja semua kebaikan Pa'Le, kebaikan Papa. Ya?"
Inayah tersenyum tipis. Ia mengusap kepala Pupu dan menariknya ke dalam pelukan.
"Bunda senang, Pupu akan tinggal kembali sama Bunda. Alhamdulillah."
"Alhamdulillah. Di San Fransisco Pupu tidak betah, Bun! Sekolahnya terlalu besar. Pupu tidak punya teman. Mereka semua anak-anak nakal yang suka jahil isengin Pupu. Buku menggambar Pupu disembunyikan. Pensil warna Pupu dipatah-patahkan karena Pupu bicara dengan bahasa Indonesia. Mereka benci Pupu!"
Sontak Frederica dan Joko yang kini membelalakkan mata.
"Kenapa Pupu tidak bilang Grandma Grandfa? Jadi selama ini Pupu,"
"Pupu tidak berani bilang. Pupu takut, Grandma!"
"O my God! Cucuku sendiri ternyata jadi bahan bullyan padahal masih sangat kecil. Itu sekolah bonafid. Sekolah internasional terfavorit di sana! Apa tidak ada teacher yang melihat perlakuan mereka pada Pupu? Kenapa tidak lapor guru?"
Inayah mencoba menenangkan Frederica.
Pendidikan di luar negeri memang berbeda dengan pendidikan di dalam negeri.
Disana hidup jauh lebih keras.
Anak-anak sudah diajarkan mandiri sedari dini.
Orang tua dilarang ikut campur apalagi sampai menunggui putra-putri mereka setiap hari meskipun masih TK atau SD.
Bahkan SD pun mereka sudah terbiasa tinggal di asrama.
Jauh berbeda dengan di Indonesia.
Apalagi ketika mengantarkan anak pertama kalinya masuk sekolah.
Tak jarang ibu-ibu ikutan masuk kelas dan mendampingi putra-putri mereka sampai bisa beradaptasi dan bisa mengikuti pelajaran yang guru berikan sampai beberapa hari. Khususnya untuk anak TK.
__ADS_1
Berbeda dengan pendidikan di luar negeri.
Semua sudah terorganisir.
Pagi anak dijemput bis sekolah. Siang pulang diantar kembali ke depan rumah. Kalaupun ada pertemuan para orang tua dengan pihak sekolah, semua ada jadwalnya. Para orang tua juga tidak cemas apalagi kepo dengan cara sekolah mendidik putra-putri mereka.
Mereka mempercayakan pendidikan, ilmu dan semuanya termasuk moralitas anak pada pihak sekolah.
Begitulah.
..............
Malam ini, Inayah tidur dengan memeluk erat tubuh putra sambungnya yang kembali pulang.
Seharian mendengar celotehan curhatan Pupu tentang kegiatannya di San Fransisco, membuat bibir Inayah tak henti-hentinya tersenyum.
Pupu benar-benar melampiaskan semuanya dengan bercerita panjang lebar detil pada Inayah. Seolah energi bocah itu tak habis-habis.
Inayah senang, Pupu riang.
Frederica dan Joko juga bahagia. Tindakan mereka mengirimkan kembali Pupu pada Inayah tidak salah.
Dan kini mereka bisa kembali lanjutkan hidup menikmati masa tua berdua.
Cup.
"Good morning, selamat pagi, Anaknya Bunda!"
Pupu mengucek matanya. Masih seperti tak percaya, Inayah kini ada dihadapannya.
"Bunda? Bunda! Bundaaa!!!" pekiknya setelah nyawanya telah terkumpul sembari memeluk Inayah erat.
"Aduhh, hati-hati Sayang! Adik bayi senang, Kak Pupu peluk Bunda, katanya!"
"Iya kah? Iya? Adik bayi koq suaranya tidak terdengar Pupu, Bun?"
"Hehehe... Adik bayi belum bisa bicara. Masih di perut Bunda. Nanti kalau sudah lahir baru mau bicara sama Kakak Pupu, katanya."
"Tadi sama Bunda bicara. Tadi kata Bunda adik bayi bilang senang. Koq sama Kakak bicaranya kalau sudah lahir? Ish, adik bayi tidak adil!"
Inayah tertawa lepas. Pupu membuat dirinya lupa pada kesedihan yang mendalam ditinggal anak serta suami tiga bulan lebih.
"Adik kan dalam perut Bunda. Adik ikut makan kalau Bunda makan. Adik jadinya saat ini lebih dekat sama Bunda. Jadi Bunda juga tahu isi hati adik. Nanti kalau sudah lahir, adik pasti juga akan dekat sama Kakak. Hehehe..."
"Yuk Bun, makan Bun! Biar adik cepat besar dan cepat lahir. Ayo! Pupu juga lapar. Bunda bikin sarapan apa?"
"Nasi goreng spesial. Yuk, Grandma sama Grandpa sudah menunggu di meja makan."
Pupu bersorak kegirangan.
Mereka bergegas keluar kamar. Makan bersama membuat mood Inayah kembali menaik.
Sedangkan Arthur semakin rindu hatinya mendengar percakapan ibu dan anak itu lewat jam tangan yang dipakai Pupu.
Ia memang sengaja memakaikan jam tangan yang sudah dimodifikasi lengkap penyadap agar bisa memantau putra serta istrinya itu meskipun tinggal berjauhan.
Sebelum pergi ke Jakarta, Arthur sempat mewanti-wanti Pupu agar tidak melepaskan jam tangannya kecuali mandi. Bahkan Arthur juga pesan, Pupu tidak boleh sampai lupa dan meninggalkan jam tangannya itu di manapun apalagi di sembarang tempat.
Semalam, Pupu melarang Inayah yang hendak membuka jam tangannya.
"Jangan, Bun! Ini jam tangan hadiah Papa. Pupu tidak mau pisah dari jam ini meskipun sedang tidur."
"Hehehe... oke. Pupu sayang sekali sama Papa ya? Bunda mengerti Sayang. Bunda hanya khawatir tangan Pupu sakit karena kena jam tangan ketika tidur."
"Tidak, Bunda. Pupu akan hati-hati."
"Baiklah. Bunda menurut saja. Hehehe..."
Alhasil, Inayah yang mengalah. Pupu tidur dengan jam menempel di pergelangan.
__ADS_1
BERSAMBUNG