Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 116 Soleh Yang Makin Berani


__ADS_3

"Kamu mau kemana Mas?"


"Kenapa? Bukannya kemarin-kemarin kamu bilang kalau Aku ini tidak ada kontribusi di rumah ini? Tidak bisa usaha, tidak bisa diandalkan! Sekarang Aku pergi keluar, cari kerja, masih saja kau cerewetin!"


"Untuk apa kerja di luar! Bengkel dan toko cukup untuk menghidupi kita berdua!" Juriah masih dengan argumennya yang semakin membuat Soleh kesal.


"Bekerja kamu bilang? Aku di sini kerja rodi! Makan uang dari hasil keringatku jaga toko, kau bilang tidak punya malu! Dan kalian sekeluarga, tak pernah memandang ku sama sekali. Hanya mencemooh dan mengatakan kalau Aku ini tidak bisa berbuat apa-apa!"


"Iya maksudku kamu belajar, Mas! Pegang mesin, otak-atik motor, belajar bongkar pasang dan servis motor seperti yang lain!"


"Kamu pikir semua itu bisa dipelajari otodidak dan langsung cespleng? Giliran Aku salah, selalu di caci, dibilang tidak punya kemampuan dan lain-lain. Mendingan Aku cari kerja yang lain yang kupahami dan tidak makan hati!"


Soleh pergi dengan mengendarai sepeda motornya hadiah Ojan di awal nikah.


"Mas...! Mas jangan pergi!"


Soleh tidak menghiraukan ucapan Istrinya yang melemah sampai menyatukan kedua belah tangannya agar Soleh mengerti.


"Mas..."


"Diam kau! Sekali lagi kau tahan Aku pergi, Aku akan pergi selamanya setelah menceraikanmu!!!" sentak Solehuddin.


Soleh sudah berubah menjadi si kepala batu. Ia tak pedulikan air mata Juriah yang jatuh membasahi pipi.


Di otaknya sudah terpahat rupa serta kenangan indah bersama Amelia yang sangat Ia rindukan.


Ingin sekali melihat jandanya itu kembali.


Ingin bercengkrama, bersenda gurau seperti dahulu. Ingin bercanda di atas ranjang. Melakukan pemanasan dengan saling belai dan lempar rayuan.


Dahulu, hubungan pernikahan mereka sangat baik dan penuh dengan kemesraan.


Dahulu, setiap harinya ketika kedua orang tua Soleh tidak datang dan merongrong menceritakan keluh kesahnya ingin ini dan itu.


Dahulu, semua terasa indah walaupun gajinya belum turun karena harpitnas alias hari kejepit nasional yang mengakibatkan hari gajian harus diundur satu hari karena tanggal yang biasanya jatuh di hari Sabtu atau libur.


"Hhh..."


Sepanjang perjalanan Soleh hanya bisa menghela nafas.


Kini tekadnya sudah bulat. Ingin mengunjungi rumah mantan mertuanya. Ingin menanyakan tempat tinggal Amelia yang baru.


Soleh berharap Amelia justru pulang kampung dan jadi pengangguran, sehingga Ia punya kesempatan lagi untuk memepet jandanya itu agar mau kembali membina rumah tangga dengannya.

__ADS_1


Masalah Juriah, Soleh sudah bertekad akan menceraikannya.


Seperti yang pernah Ia rencanakan di awal, kalau niatnya hanya menikahi Juriah dalam kurun waktu tiga tahun saja.


Tapi kini justru belum satu tahun dirinya sudah mantap ingin menceraikan Juriah. Tentu saja Soleh sudah memiliki alasan yang kuat.


Penyakit Juriah yang membuat Soleh merasa sudah tidak kuat. Itu tekadnya.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam..."


"Mak, Mak Mia..."


"So_leh? Ada apa kesini?"


Soleh merangkul mantan Ibu Mertuanya itu dengan isak tangis penyesalan.


Ia benar-benar kuras kemampuannya berakting dan memanipulasi air mata kesedihan.


Soleh menangis dengan segala kata penyesalan yang terlontar dari bibirnya.


"Mak, maafkan Aku, Mak! Hik hik hiks..., selama ini, Aku ternyata telah diberikan air jampi-jampi oleh keluarga juragan itu! Pantas saja, Aku sampai hati tega melepaskan Amelia demi menikah dengan Putri mereka padahal Aku sangat mencintai Amelia. Aku sangat menyesal karena imanku yang lemah sampai tak ingat Amel dan semua pengorbanannya mendampingi Aku! Hik hik hiks... Maaak, sungguh Aku baru tersadar kalau semua ini adalah permainan!"


"Sudahlah, Leh! Semua sudah terjadi, semua adalah takdir Illahi. Mungkin memang jodoh kalian hanya cukup sampai di sini."


"Mak, Aku baru tersadar, Mak! Fikiranku baru terbuka, kalau Aku sudah menceraikan Amelia setahun yang lalu. Sungguh semua itu kulakukan diluar daya fikirku yang normal, Mak! Mak tahu, Aku sangat mencintai Amelia. Sampai kapanpun, hanya Amelia yang selalu di hati ini. Tidak ada perempuan lain yang seperti Amelia, paket lengkap dengan segala kelebihannya. Aku tidak sadar saat menceraikan Amelia. Aku juga yakin, Amelia pasti punya pemikiran yang sama denganku. Soalnya Amelia sempat bertahan demi untuk menyadarkan kekeliruanku menduakan dirinya. Hik hik hiks... Bodohnya Aku, justru tidak sadar kalau itu semua hanyalah fatamorgana karena sihir-sihir yang mereka tanamkan di otakku, Mak!"


Soleh merangkul kaki Mia. Menangis Ia dalam pelukan wanita yang seusia dengan Mariana, Ibu kandungnya.


Mia hanya diam dengan tangan mengusap-usap punggung belakang Soleh.


"Ada apa ini?" Tia yang baru saja pulang dari kebun membantu Arif memanen kacang panjang terkejut melihat ibunya berurai air mata.


"Bang Soleh?"


Tia terperangah.


Ternyata ada Soleh yang menggelosor di lantai dengan kepala menghadap ke samping di atas pangkuan Mia.


"Awas! Mau apa kamu menangis di hadapan Emakku? Hah? Mau minta maaf? Mau minta rujuk sama Mbak Yu'ku???... O-o, tidak bisa! Tidak! Sekali tidak tetap tidak!!!"


Tia menarik tangan Soleh yang basah oleh keringat dan air mata.

__ADS_1


"Tia..., biarkan aku menceritakan semuanya pada Emak Mia! Hik hik hiks..."


"Jangan kau keluarkan air mata buayamu! Percuma! Karena Aku apalagi Mbak Yu' tidak akan pernah memaafkan semua kesalahanmu yang fatal pada kami semua terutama Mbak Yu'!!!"


"Tia, hik hik hiks... Tia! Kumohon mengertilah. Kemarin-kemarin aku dalam kondisi tidak sadar kalau telah dihipnotis atau digendam. Selama ini, mata dan hatiku dibuat buta oleh mereka! Mereka terus-menerus membombardir ku dengan air jampi-jampi. Kukira mereka adalah golongan orang-orang yang berhati putih, lembut dan rajin ibadah. Ternyata..."


"Hei, bro! Sorry sorry to say y,... itu bukan urusan Aku dan makku! Sudahlah. itu alasan orang, tidak ada hubungannya dengan kami! Kalau kau menyesal dan mau curhat, sana curhat pada orang tua mu, dan perempuan yang tega yang mau saja dinikahi dengan pria beristri!"


Tia berdengus kesar.


"Tia, percayalah padaku. Amelia seorang saja yang ada di hati ini. Sungguh! Apalagi sekarang, setelah Aku menyadari kalau tingkahku menduakan Amelia adalah murni karena kena pelet Juragan Ojan sekeluarga. Setelah aku menyadarinya, ini benar-benar di luar nalar orang yang masih sehat lahir batin dunia akhirat, InshaAllah!"


"Cih! Laki-laki tidak tahu malu! Setelah puas mencampakkan kakakku, sekarang kau pura-pura mengatakan kalau mereka main dukun untuk membuatmu menikahi perempuan yang katamu lebih cantik dari kakakku itu!"


"Sttt..., Tia anakku. Maafkanlah orang yang meminta maaf dalam. Jangan sampai kamu jadi orang yang berlaku kejam."


"Mak! Dia adalah pria kejam yang tega mempermainkan Mbak Yu' kita semua! Dia-lah yang harusnya di rukiyah karena perbuatannya yang biadab menceraikan Mbak Yu' tanpa sebab!"


Tia yang ikutan menangis, menarik keras tangan Soleh agar segera berangkat pergi dari rumah.


"Itu karena Aku dalam kondisi diguna-guna mereka, Tia!" Soleh membela diri.


"Diam ditempat. Tidak ada yang memintamu untuk menjelaskan alasannya! Pergi! Pergi dari sini!!! Jangan pernah datang lagi apalagi dengan alasan dan keinginan ingin mengajak Mbak Yu' ku rujuk lagi!"


Tia mengusir Soleh mentah-mentah.


Baginya, Soleh hanyalah bagian dari masa lalu keluarga mereka.


Sudah tidak ada yang tersisa, kecuali tangisan penyesalan dan kekecewaan. Soleh yang semula dia kira adalah suami yang terbaik karena Amel tak pernah menceritakan keburukan Soleh barang secuil pun. Tiba-tiba justru menceraikan Amelia setelah menikah lagi dengan putri juragan angkot dan dua puluh pintu kontrakan itu.


Tia benar-benar marah.


Ia berhasil menyeret tubuh Soleh hingga terbawa sampai ke teras rumah Mia.


Brukk


Dibantingnya daun pintu. Tia menguncinya dari dalam lalu mengajak Mia untuk masuk kamar.


Soleh hanya bisa menangis memohon kebaikan Tia dan juga Mia.


Berharap kekukuhannya bertahan bisa mendapatkan jawaban dimana alamat tinggal Amelia kini.


Padahal, Amelia sendiri belum menceritakan tentang kepindahannya dari kontrakan dulu tempat mereka pernah hidup bersama.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2