
"Lani Sayang, sertifikat rumah ini Aku bawa dulu ya? Biar kulaminating sekalian di tukang foto kopi agar awet dan tahan lama tidak kena rayap lemari."
"Iya, Mas Anton!"
Anton mencium pipi Lani yang harus habis mandi.
Pria itu dengan gemasnya menarik tubuh Lani kembali ke dalam kamar dan mereka bercinta di siang bolong tanpa pedulikan status yang belum sah menikah.
Anton akan menikahi Lani akhir bulan ini.
Tetapi pria itu sudah tinggal serumah di kediaman Lani.
Lani yang kesepian setelah wafatnya Felicia dan Tito yang berhasil Ia usir tanpa sepeserpun uang dan barang dibawa kecuali satu koper pakaiannya saja, senang karena Anton menjadi pengobat rasa sepinya.
Lani berfikir akan hidup bahagia setelah menikah dengan Anton.
Pria yang mengaku sebagai karyawan negeri sipil di kantor dinas Keuangan Negara itu memang setiap hari berpakaian layaknya seorang PNS.
Memakai seragam coklat susu dengan bintang-bintang di bahu kiri kanannya. Yang kata Anton adalah bintang tanda jasa. Satu bintang bernilai lima ratus juta jika pensiun dan dicairkan. Kata Anton pada Lani yang sama sekali tidak mengetahui kebenarannya kecuali mempercayai omongan tinggi Anton.
Fikiran Lani langsung melayang. Satu bintang lima ratus juta. Sedangkan di bahu kanan Anton ada tiga bintang dan tiga juga di bahu kiri. Total enam, dikalikan lima ratus juta menjadi tiga miliar.
Mabuk kepayang Lani tersenyum senang.
Ia membayangkan akan menjadi istri seorang milyarder. Punya uang pensiun, Tunjangan Hari Tua, belum lagi uang asuransi dan lain sebagainya.
Lani memikirkan hari tuanya akan hidup bahagia. Benar-benar jadi orang kaya.
Tak salah aku minta cerai sama si Tito. Jodohku selanjutnya adalah orang kaya yang sesungguhnya! Aku tidak perlu khawatirkan hari tua. Cukup duduk manis menerima gaji suami setiap bulan yang katanya tujuh jutaan itu. Belum lagi kalau ada komisi, bonus, uang transportasi, makan... Waah! Aaa, Aku ingin waktu cepat berputar!
Lani tersenyum manis sembari lambaikan tangan kepada Anton yang pergi untuk mengurus surat-surat kelengkapan pernikahan mereka ke KUA dengan motor gede pemberian Samsiah untuk Tito.
Mereka baru saja bercinta hingga lemas lutut Lani karena kehebatan Anton di atas ranjang.
Lani tersipu mengingat kenakalan mereka barusan yang saling naik turun ganti posisi.
.............
Sore hari menjelang, Anton tak kunjung datang.
Lani mulai was-was khawatir Anton kenapa-napa.
Ia menelpon ponsel kekasihnya itu. Namun operator seluler justru mengatakan kalau nomor yang Lani hubungi tidak terdaftar.
Tentu saja membuat Lani bingung. Biasanya selalu terdengar suara 'tut Tut tut'. Atau kalau pun ada operator perempuan yang berkata-kata, pasti ucapannya adalah "Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif!"
Tapi kali ini berbeda.
Berkali-kali Lani coba menghubungi Anton. Tapi, tiada respon.
Lani langsung meluncur ke rumah kontrakan Anton yang ada di kampung Salabenda.
__ADS_1
Ternyata rumah kontrakan Anton juga terkunci rapat. Pertanda pemiliknya sedang tak ada ditempat.
Lani kian cemas.
Ia pulang dengan fikiran berusaha sepositif mungkin.
Berharap Anton pulang di malam hari dan mereka kembali bercinta di ranjang tidur kamarnya yang besar hadiah pemberian Samsiah tempo hari untuk Tito.
Pukul sepuluh malam.
Lani masih belum dapatkan kabar dari Anton.
"Ya Allah, Maaasss! Kamu dimana, siiih?!?" gemas Lani memikirkan Anton.
Semalaman Lani tidak bisa tidur. Anton benar-benar tidak bisa dihubungi.
Pagi-pagi sekali Lani pergi ke rumah kerabatnya Anton yang pernah mereka kunjungi beberapa bulan lalu.
"Lho? Bukannya ini rumahnya Mbak Vira dan Mas Jerry, ya?" tanya Lani terkejut melihat orang yang membukakan pintu.
"Vira siapa? Jerry? Oh, mungkin penyewa rumah dua bulan yang lalu itu ya?"
"Penyewa rumah? Bukannya ini rumah pribadi mereka? Apa mereka pindah rumah dan rumahnya dikontrakkan kepada Bapak?"
"Pemilik rumah ini ya saya sendiri. Tiga tahun terakhir saya kontrakan memang. Sekarang saya isi sendiri lagi karena yang ngontrak rata-rata orang yang gak benar! Katanya suami istri, padahal bukan. Katanya duda dan janda, ternyata sama-sama memiliki pasangan! Ck ck ck... dunia ini sudah gila!"
Pucat pias wajah Lani.
Hati Lani seperti di cubit, nyeri sekali.
Dengan langkah gontai Lani pergi setelah pamit pada Bapak yang kini tinggal di rumah itu.
Lani ingat tempat kerja Anton. Ia memutuskan untuk segera pergi ke kantor dinas Anton di pusat kota.
"Anton? Tidak ada karyawan sini yang namanya Anton, Mbak!"
"Ada koq! Anton Wicaksono. Bagian administrasi lantai dua. Ini, ini fotonya!"
Lani langsung menunjukkan gambar diri Anton yang berpakaian dinas lengkap.
"Duh, saya ga kenal orang ini, Mbak! Ga ada karyawan di kantor ini yang namanya Anton dan wajahnya seperti Mas ini."
"Beneran? Mas bohong ya? Apa Mas disuruh dia buat prank saya?"
"Ya Allah, Mbak. Buat apa Aku bohong. Ga ada untungnya juga. Dan kita gak saling kenal. Kalo Mbak gak percaya, silakan langsung aja tanya ke divisi humas atau personalia. Silahkan aja tanyakan!"
Si Mas-Mas yang Lani tanya langsung keluar melenggang meninggalkan Lani yang kebingungan.
Bagaimana ini!? Mas Anton bohongi Aku? Ya Tuhan!!!
Lani berusaha mencari informasi lewat karyawan lainnya dengan menanyakan ruang divisi personalia.
__ADS_1
Ia menanyakan kepada kepala personalia langsung perihal karyawan yang bernama Anton.
Seperti yang tadi Lani dengar dari karyawan sebelumnya. Tidak ada karyawan bernama Anton Wicaksono. Juga karyawan yang berwajah Anton.
"Kemungkinan besar Mbak sudah masuk perangkap jadi korban penipuan!"
"Bagaimana mungkin? Saya sudah kenal Mas Anton tiga bulan! Akhir bulan ini kami akan menikah, Pak! Masa' sih saya bisa sampai tertipu calon suami sendiri?"
"Mbak, jaman sekarang itu susah cari uang. Penipuan banyak dimana-mana. Mbak jangan sembarang percaya orang. Apalagi laki-laki. Mbak tahu rumahnya? Orangtuanya? Alamat jelasnya?"
"Kontrakannya terkunci. Saya ke rumah kerabatnya katanya sudah pindah kontrakan. Saya coba ke sini. Dia bilang kerja di sini dan saya pernah lihat Mas Anton foto di depan kantor ini dengan pakaian dinas lengkap berikut pangkat eselonnya."
"Tapi tidak ada karyawan bernama Anton Wicaksono dan berwajah seperti yang Mbak sebut serta tunjukkan pada saya."
"Hhh...! Kemana saya harus mencari? Dia bawa sertifikat rumah dan juga moge milik mantan suami saya."
"Waduhh!? Ini sih fix mbaknya kena tipu!"
"A-pa???"
Lani keringat dingin dan pucat pasi.
Anton disinyalir melakukan penipuan padanya.
Lani akhirnya undur diri karena penasaran ingin menyambangi lagi rumah kontrakan Anton.
Butuh waktu seperempat jam untuknya tiba di rumah yang digembok itu.
"Bu, yang tinggal di sini kemana ya? Koq pintunya dari kemaren dikunci?"
"Oh, Mas Anton ya? Dia sudah pindah sejak dua hari yang lalu."
"Hah? Pindah? Kemana?"
"Kurang tahu pindahnya, Mbak! Cuma saya dengar Mas Anton mau pulang ke kampung. Mau nikah sama pacarnya di kampung."
"Ma_maksudnya? Kami memang mau nikah, Mbak! Akhir bulan ini. Tapi bukan di kampung!"
"Aih? Mbak pacarnya Mas Anton? Tapi, Mas Anton koq ngenalinnya sama saya yang berhijab itu lho! Cantik. Masih muda juga sekitar dua puluhan."
"Maksudnya Ibu apa? Saya jelek? Ga cantik dan sudah tua?" semprot Lani marah.
"Bukan, maksudnya yang Anton kenalkan sama saya soal pacarnya itu bukan Mbak. Tapi perempuan lain, begitu."
Lani menangis keras. Ia mulai panik dan histeris.
Sertifikat rumah besarnya raib dan juga motor gede kepunyaan Tito.
Ibu pemilik kontrakan jadi kebingungan. Hanya bisa menghibur Lani dan bilang mau bagaimana lagi. Yang dicari sudah tidak tinggal di sini.
Lani menangis. Berteriak-teriak tak terima keadaannya yang ditinggal Anton begitu saja.
__ADS_1
BERSAMBUNG