
Suster Arini tersenyum melihat Pupu yang asyik bersepeda ria di taman dekat kompleks perumahan mereka.
Inayah sudah mewanti-wanti agar Ia membawa pulang putra mereka tepat azan Maghrib.
Inayah semakin terlihat jelas memanjakan Putra Arthur Pangestu, karena tidak ingin mental anak sambungnya itu menjadi down karena dirinya hamil.
Kepergian Pupu yang sempat membuatnya panik menjadi pelajaran penting agar sang putra.
Suster Arini kini juga lebih berhati-hati dalam memberikan penjelasan. Ia ingin lebih lama bekerja di keluarga kecil ini. Karena Inayah tidak marah apalagi memecatnya karena kesalahannya kala itu.
Arini duduk di kursi taman setelah memberikan warning pada Pupu agar tidak bermain sepeda terlalu jauh.
"DenPuu..., jangan jauh-jauh dari Suster ya main sepedanya! Suster Arini duduk di sini!"
"Oke, Sus!"
Usia kanak-kanak seperti Putra Arthur Pangestu memang sedang masanya ingin tahu banyak hal. Ingin mengeksplor kemampuan dirinya termasuk hal-hal baru.
Pupu sudah bisa bersepeda roda dua setelah diajar suster beberapa bulan lalu. Kini ia ingin sekali belajar lebih jago lagi. Bahkan ingin bermanuver layaknya para freestyle dari video yutub yang Ia lihat diam-diam di ponsel tanpa sepengetahuan Inayah, Arthur dan juga suster Arini.
Sesekali Pupu mencoba mengangkat stang sepedanya agar terangkat dan terbang seperti dalam video. Membuat Arini yang memantau tertawa-tawa terhibur oleh kelakuan putra majikannya itu.
Setelah agak lama Arini mendapat tontonan lucu dari gaya Pupu, telinganya samar-samar mendengar suara isak tangis seorang perempuan.
Arini menoleh ke arah suara itu.
Seorang perempuan duduk di kursi kayu tak jauh dari Arini dengan wajah sembunyi memunggungi. Disampingnya terdapat tas besar dan satu dus bekas mie instan yang sepertinya berisi barang-barang milik perempuan itu.
Tangisannya terdengar lirih menyedihkan.
Lama-lama Arini berempati juga.
"Mbak? Mbak sakit? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan suara lembut.
Seketika wajah perempuan yang bersidekap itu mendongak.
Perempuan itu adalah Juriah, mantan istri muda Solehudin.
Arini tidak mengenal Juriah, begitu pula sebaliknya.
Juriah semakin keras menangis tersedu.
"Ada apa? Kenapa Mbak menangis sedih sekali?"
Arini mengusap-usap punggung Juriah yang basah oleh keringat.
__ADS_1
"Saya, saya... ditipu atasan saya, Mbak. Huaaaa hik hiks hiks..."
"Ditipu atasan? Mbak kerja dimana? Di salah satu rumah di kompleks ini?"
"Bukan. Hik hiks hiks... huhuhu."
"Coba jelaskan, saya akan dengarkan."
"Saya, baru tiga lima hari bekerja tinggal di Jakarta atas ajakan teman. Hari pertama saya sudah dapat kerjaan, kerja di perusahaan kaos dan ditempatkan di mall di outlet nya. Hari ketiga saya kena marah supervisor karena salah jual barang. Saya langsung dipanggil atasan. Kata atasan saya, saya akan di pindahkan di bagian lain. Hape saya dia sita, ijazah SMA saya juga. Saya dikasih alamat ini. Dan ternyata, setelah saya datangi kemarin, melewati banyak tes... kata atasan saya, saya tidak lolos dan tidak bisa lanjut bekerja karena saya berpenyakitan. Huhuhu... padahal, padahal... tesnya, tesnya itu... sampai urusan em em goyang di atas ranjang. Saya baru saja diusir tidak boleh tinggal di rumah besarnya. Saya tidak bisa bekerja lagi ditempatnya termasuk di rumah besar atasan saya. Saya merasa tertipu, Mbak! Huhuhu..."
"Ya Allah! Malangnya nasib Mbak! Mbak tinggal dimana?"
"Saya mau pulang ke kampung saja. Tapi ini sudah mau Maghrib. Takut ga ada bis yang berangkat ke daerah saya. Hik hik hiks..."
"Oala..."
Arini bingung, ia tak tahu harus berbuat apa.
"Nama Mbak siapa?"
"Juriah. Siti Juriah, Mbak. Ini, ini kartu tanda pengenal saya." Juriah menyodorkan selembar KTP yang diambilnya dari tas kecil yang disandangnya.
"Saya Arini. Saya adalah pengasuh sekaligus penjaga Den Putra, anak majikan saya."
Pupu kembali dengan sepeda roda duanya dan ikut bingung menatap suster pengasuhnya yang terlihat galau.
"Ada apa, Sus?" tanyanya dengan penuh kepolosan.
"Mbak ini sedang bingung. Mau pulang kampung tapi ini sudah mau malam. Bis ke arah kampungnya pasti akan jalan besok pagi. Hm..., andaikan saya bisa bantu," gumamnya ragu.
"Papa dan bunda pasti bisa bantu!" celetuk Pupu membuat Arini menatapnya lekat.
"Kita...ajak ke rumah? Apa, Papa dan Bunda mengizinkan Mbak ini menginap sampai pagi hari?"
Tapi..., apa perempuan ini benar-benar membutuhkan pertolongan? Tapi dari isak tangis serta raut wajahnya yang pucat pasi, rasanya tidak mungkin kalau Mbak ini berbohong. Apakah Aku terlalu gegabah jika membawanya serta ke rumah Pak Arthur dan Bu Inayah? Tapi..., jika aku meninggalkannya di sini, khawatir terjadi sesuatu dengan perempuan malang ini. Ya Allah, semoga langkahku ini tidak salah. Niatku hanya ingin menolong.
"Mbak, majikan saya rumahnya tidak jauh dari sini. Semoga Bapak dan Ibu DenPu bersedia menampung Mbak sampai besok pagi. Saya akan coba berikan penjelasan pada mereka. Saya harap Mbak bisa mendapatkan bantuan dari mereka. Karena Mbak terlihat tulus dan sangat butuh pertolongan, saya akan berusaha bantu."
"Ya Allah, Mbak... terima kasih banyak. Hik hiks hiks... Ternyata masih ada orang baik di kota yang kejam ini. Hiks hiks... Terima kasih, terima kasih banyak."
Arini membawa kardus Juriah dan mempersilakan untuk ikut langkahnya pulang sementara Pupu berjalan dengan sepedanya di depan memandu.
"Papaa!!!"
Arthur yang sedang menyiram pepohonan yang ada di halaman rumah menoleh mendengar suara sang putra yang baru pulang.
__ADS_1
Azan Maghrib berkumandang.
Pupu dan Arini pulang tepat waktu. Keduanya menepati janji.
Tapi seketika Arthur memicingkan matanya. Terkejut melihat sesosok perempuan yang ada diantara putra dan pengasuhnya itu.
Arthur seperti pernah melihat raut wajah perempuan itu, tapi lupa dimana dan kapan pertemuannya itu terjadi.
"Pak, ini Siti Juriah. Dia mau pulang kampung tapi kemalaman. Dia habis kena musibah, dipecat majikannya. Saya,"
"Kesini dulu, Sus! Pupu, masuk. Cepat ganti baju lalu ambil wudhu dan sholat bareng Bunda!"
Arini was-was. Ia lupa, tuannya itu adalah orang yang cukup dingin dan tidak terlalu respek dengan orang yang baru dikenalnya.
"Kenapa kamu berani sekali bawa orang baru ke rumah ini? Bagaimana kalau dia itu orang jahat atau ternyata penipu ulung?"
Deg.
Arini baru tersadar. Ia menoleh ke arah Juriah yang menunduk kikuk.
"Tapi Pak, Mbak itu tadi menangis sesegukan di bangku taman. Dia..., kayak orang bingung. Dia,"
"Mbak, Mbak siapa namanya?" tanya Arthur pada Juriah.
"Juriah, Tuan!" jawab Juriah gugup.
"Sebaiknya Mbak datangi masjid yang ada di depan perumahan. Minta bantuan pada penjaga masjid. Mereka pasti bersedia bantu, Mbak! Maaf saya,"
"Ada apa ini? Kenapa maghrib-maghrib ribut di teras rumah? Ayo masuk rumah semuanya. Temannya Suster Arini juga persilahkan dulu masuk. Mari sholat berjamaah. Setelah itu baru lanjutkan lagi pembicaraan."
Arini menghela nafas lega.
Inayah keluar jiwa Nyonya Besarnya, membuat Tuan Besar Arthur bertekuk lutut oleh titahnya.
Arthur mengangkat bahunya. Mencebik Inayah dengan gaya candanya. Seketika Inayah tersenyum menggoda. Senang rasanya ketika ucapannya tidak bisa dipatahkan apalagi dibantah.
Mereka semua masuk rumah.
Arini memberikan Juriah seperangkat alat sholat. Mukena dan sajadah untuk dikenakan sholat berjamaah di mushola rumah kediaman Arthur Handoko.
Suasana seketika hikmat karena semua orang sibuk berdoa meminta keberkahan Allah Ta'ala. Termasuk Juriah yang lagi-lagi bercucuran air mata meskipun kini menangis dalam diam. Tak lagi sesegukan seperti tadi sore di taman perumahan.
Juriah teringat nasibnya yang malang nian.
BERSAMBUNG
__ADS_1