Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 55 Tito Yang Terperosok


__ADS_3

Soleh terkejut, ponselnya berdering ketika Ia sedang sholat Ashar berjamaah dengan Juriah.


Kini mereka mulai lagi kuatkan ibadah. Minta pada Allah Ta'ala agar segera diberikan keturunan. Soleh was-was karena pernikahan yang sudah melewati bulan kedua, tetapi Juriah belum menampakkan tanda-tanda kehamilan.


Sedangkan dahulu Juriah langsung hamil padahal hanya digagahi satu kali oleh pria gila yang sampai saat ini masih belum diketahui identitasnya.


Soleh mulai gentar.


Fikirannya mulai oleng. Jiwanya sedikit merapuh. Takut kalau ternyata dirinya lah yang bermasalah sehingga sulit mendapatkan keturunan.


Pemeriksaan beberapa tahun lalu ketika masih berumah tangga dengan Amelia, kondisi rahim Amel bagus dan cairan sp++manya juga tidak bermasalah, hanya ada sedikit hambatan saja yaitu waktu.


Treeet treeet treeet


Treeet treeet treeet


Juriah lebih dulu mengambil ponsel suaminya karena khawatir Amelia menelpon dengan nomor lain.


Ternyata, Lani yang menelpon.


"Hallo, Mbak Lani?"


...[Hallo, Ju, Bang Soleh ada?]...


"Ada. Tapi kami sedang sholat, Mbak! Nanti dihubungi lagi!"


Klik.


Juriah menutup sambungan telepon dari Lani membuat adik iparnya itu spontanitas memekik kesal.


"Ya ampuun! Ternyata si Juju kelakuannya ga jauh beda sama Ibunya!" makinya kesal karena panggilan teleponnya ditutup tanpa perasaan.


"Ya namanya juga anak. Buah jatuh ga jauh dari pohonnya kan?!" Mariana kini telah tercuci hati dan jiwanya dengan cerita yang dibagikan putri bungsunya tentang Samsiah yang berdarah dingin.


"Aku gak sangka ternyata si Samsiah bisa berkata setajam itu sama kamu, Lani! Bisa-bisanya dia gak memandang Aku sebagai Ibu dari Soleh dan kamu! Dia dulu merengek-rengek cerita kalau anak gadisnya yang habis melahirkan tanpa bapak butuh suami segera. Cerita inilah cerita itulah. Eeeh sekarang sudah dapat anakku, dia ngomong seenak udelnya! Dasar perempuan culas! Sudah mengambil keuntungan dengan menikahkan anaknya yang gak perawan sama putraku yang sudah berkeluarga, eh dia dengan entengnya bilang keluarga kita yang paling diuntungkan!" oceh Mariana dengan ceramahnya yang kian memanas.


"Tapi sebenarnya, ucapan dia ada benarnya juga, Mar!"


"Apanya yang benar? Dia juga diuntungkan sama kita! Dia ambil putra sulung kita. Jadi kacungnya di bengkel dan toko. Tak diberi akses keuangan yang leluasa. Salah sedikit kena marah, kena maki! Mertua macam apa itu kayak begitu? Sekarang berani juga marahin anak perempuanku yang cuma pinjam uang saja. Lagipula pinjamnya juga sama si Juriah, bukan sama dia. Kenapa dia yang sewot, kebakaran jenggot!?"


Kini Anta tak berani menimpali perkataan Mariana. Karena jika Ia teruskan mematahkan kalimat istrinya itu, urusan bakalan tambah panjang.


Lani merengut. Ia masih kesal dengan tindakan Juriah yang saat ini sedang lanjutkan doa panjang dengan Soleh yang sebagai iman.


Doa yang khusu', agar Allah mengijabah segera. Dan mereka mendapatkan momongan secepatnya.


Selesai sholat, seperti biasa Juriah mencium punggung tangan Soleh. Dan Soleh mencium keningnya dengan penuh cinta.


"Mas..."

__ADS_1


"Iya, Sayang?"


"Apa kamu masih kesal dengan ucapan Umi yang kemarin?" tanya Juriah dengan suara dilembutkan dan terdengar manja merdu merayu.


"Sudahlah, jangan bahas itu ya Sayang! Aku sedang tidak ingin membicarakan Umi juga Abi. Cukup kita bicarakan hal yang indah saja. Seperti,... mmm kapan kita pergi bulan madu. Kita menikah sudah lewat dua bulan, tapi tidak pernah pergi keluar kota selain bekerja dan bekerja di toko onderdil ini!"


"Hehehe... Iya juga ya Mas! Ayo kita cari tempat indah buat pergi berdua, ke pantai atau pegunungan yang hawanya sejuk!"


Mereka mulai merapatkan tubuh dan saling bergesekan dengan bahasa tubuh yang saling menggoda.


Keduanya kembali berasyik masyuk. Semakin tenggelam dalam pusaran cinta yang memabukkan.


............


Hari berganti hari, minggu berubah minggu. Lani dan Tito yang kadung sedang membangun istana cinta mereka di atas lahan Ojan seluas dua ratus meter dengan pinjaman uang dari Juriah mulai merasa pusing.


Membangun sebuah rumah yang besar dengan model kekinian sesuai keinginan Lani ternyata membutuhkan biaya yang banyak.


Uang seratus juta yang dipinjam ternyata tidak cukup. Rumah mereka masih menggantung dan belum beres juga.


Sedangkan waktu untuk bayar hutang sudah mulai tiba. Semakin membuat Tito kebingungan juga dan berinisiatif untuk menemui Samsiah, Ibunya Juriah.


Tito ingin minta keringanan. Paling tidak minta waktu untuk beberapa bulan kedepan karena memang rumah mereka belum selesai pembangunannya.


Sayangnya, di tengah jalan menuju rumah Ojan yang besar dan megah itu, hujan turun dengan derasnya. Mengguyur Tito yang lupa membawa jas hujan.


Tito yang merasa perjalanannya tinggal sedikit lagi pun akhirnya melanjutkan deru mesin motor bututnya ke kediaman Samsiah.


Pintu rumahnya diketuk seseorang saat suasana rumah sepi dan Ia hanya sendirian. Sedangkan di luar hujan turun dengan derasnya.


Ojan masih dirawat di rumah sakit. Sedangkan para pekerjanya juga sedang keluar rumah karena suatu urusan termasuk menjaga sang Tuan.


Tok tok tok


Tok tok tok


"Assalamualaikum, assalamualaikum!"


"Siapa?" Samsiah hanya berani menanyai dari balik pintu. Takut yang datang adalah orang jahat yang berniat merampok.


Akhir-akhir ini berita di kampung mereka menakutkan. Banyak rampok dan begal yang berani masuk rumah meskipun hari masih siang.


"Saya Tito, Bu Sam!"


"Tito siapa?"


"Tito adik iparnya Bang Soleh, Bu! Tolong buka pintu. Saya kebasahan, Bu!"


Samsiah membuka gordennya. Ia mengintip dari balik jendela kaca. Kedua bola matanya bertemu netra Tito.

__ADS_1


Krieeet


"Hujan-hujanan, kamu?"


"Iya, Bu. Tadi dari rumah cerah, tapi diperjalanan hujan tiba-tiba."


Samsiah memandangi Tito yang kuyup dan menggigil kedinginan.


"Dasar kamu ini! Sebentar, Aku cari dulu pakaian mas Ojan buat ganti bajumu!"


Tito bergemerutuk, menggigil kedinginan. Dia berjongkok di bawah sofa milik Samsiah yang mewah. Jika duduk di atasnya, pasti sofa itu basah kena air hujan yang mengucur dari tubuhnya.


Samsiah yang melihat Tito dengan attitude yang cukup baik akhirnya kasihan juga melihat Tito yang menyedihkan.


"Nih, ganti pakaianmu sana di kamar mandi!" katanya seraya memberikan sekantong plastik pakaian salin untuk adik ipar menantunya itu.


"Terima kasih, Bu!"


Sebelum ke kamar mandi, Tito tanpa sadar membuka kaos yang dipakainya lebih dahulu. Hingga terpampanglah garis-garis tubuhnya yang kecil tapi kekar. Tito ternyata memiliki dada bidang yang berbentuk kotak-kotak. Mirip roti sobek para model yang sering Samsiah lihat di video yutub jika hendak tidur.


Seketika Samsiah merasakan getaran dalam dadanya.


Bergemuruh seperti petir kecil yang sedang bersahutan di udara sana karena hujan.


"Maaf, Bu. Kamar mandinya ada di sebelah mana?" Tito menoleh pada Samsiah yang menatap nanar.


"Itu!"


Mata Samsiah tak berkedip menatap Tito yang berjalan ke arah kamar mandi. Hingga setan laknat merasuk jiwanya yang sudah cukup lama kesepian dengan kondisi Ojan.


Samsiah segera berjalan cepat menyusul Tito dan...


"Tunggu! Tunggu, Tito! Aku... mau ikut masuk."


Tito terperangah. Kedua bola matanya membulat. Dan kini tak berkedip menatap Samsiah yang tangannya tanpa pamit bergerilya menyelusuri dada bidangnya lalu,


"Ahh!" Tito menjerit kecil.


Tangan Samsiah mencapit sesuatu.


"Aku akan memberimu kesempatan! Hutang istrimu sangat banyak padaku. Apa kau tidak tertarik dengan tawaranku?" bisik Samsiah membuat jantung Tito berdesir halus.


Hutang! Ya, Aku berhutang seratus juta rupiah pada orang ini! gumam hati kecilnya lirih.


Dan Tito pasrah ketika Samsiah mendorong tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi yang dingin gelap itu.


Setan-setan bergentayangan tertawa berpesta pora.


Pemujanya telah bertambah lagi dan dunia semakin gila.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2