Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 142 Hampir Salah Faham


__ADS_3

Bimo mendengar suara deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan gerbang pintu rumahnya pukul sebelas malam.


Ia menyingkap gorden kamar karena penasaran kenapa mobil itu berhenti di depan gerbang, bukan masuk ke dalamnya.


Betapa terkejutnya Bimo melihat sosok perempuan yang turun dari pintu mobil dan seorang pria yang ikut turun tapi mengambil beberapa kantong plastik dari bagasi belakang.


"Fanny? Kenapa naik mobil lain? Kemana mobilnya?" tanya Bimo bingung.


Matanya memandang Sang istri tak berkedip. Terlihat ada interaksi obrolan antara Fanny dengan pria yang mengantarkannya walaupun hanya sekedar senyuman tipis.


Bimo kian terbelalak, Arthur terlihat cipika cipiki dengan Fanny sehingga aliran darahnya seketika berdesir.


"Fanny..."


Kesalahpahaman sepertinya terjadi.


Fanny membuka pintu gerbangnya sendiri. Ia memang memiliki kunci serep gerbang sehingga tak perlu berteriak keras minta dibuka jika pulang melewati jam malam.


Bimo duduk termangu di meja kerjanya. Memikirkan banyak hal tentang istrinya yang kini ketahuan pulang larut malam diantar oleh pria lain. Bimo meyakini kalau pria yang mengantar Fanny jauh lebih muda.


Fanny... Apakah gosip-gosip yang beredar selama ini adalah benar? Apakah kamu suka main dengan pria yang usianya lebih muda seperti kabar miring yang berhembus di luaran sana? Apakah Aku terlalu membiarkan dirimu jauh hingga melebihi batas kewajaran? Apakah anak-anak tidak ada yang menasehati minimal menegur kelakuannya yang kelewatan? Atau... anak-anak tidak tahu kelakuan busuk Mamanya?


Krieeet


Fanny terkejut, Bimo masih duduk di depan meja kerjanya namun hanya melamun dengan tatapan kosong menatap layar laptop yang mati.


"Papa belum tidur?" tanyanya dengan suara lembut.


"Apakah kamu akan membiarkan Aku terus sendirian seperti ini apalagi setelah tahu kalau Aku sudah tidak punya apa-apa lagi?"


Fanny terkesiap.


"Ada apa? Kamu tidak akan mungkin bangkrut, Bang! Sahammu banyak, perusahaanmu stabil. Tak mungkin terjadi."


"Semua kemungkinan bisa saja terjadi jika Allah Berkehendak, bukan?"


Fanny diam, Bimo mengatakan hal paling krusial.


"Apakah ada orang lain yang bisa kamu andalkan selain Aku?" pertanyaan Bimo membuat Fanny meremang.


"Apa maksudmu, Bang?"


"Tapi Aku tidak terlalu khawatir. Kamu kini jauh lebih besar daripada Aku. Kamu juga masih muda. Bisa mendapatkan yang lebih baik dari Aku."


Seketika Fanny merasa ucapan Bimo menyindir halus dirinya.


"Aku tadi pulang diantar anaknya Joko Handoko. Kamu pasti mengenalnya. Secara kalian pernah bersiteru karena rebutan janda kembang bernama Anisa. Masih ingat?"


Kini Bimo yang meremang. Ternyata Fanny balik menyindir.

__ADS_1


Keduanya diam. Berusaha meredam suasana malam yang mulai panas.


"Kamu...kian nyaman pergi tanpa Aku."


"Apakah seperti itu persepsimu? Bukankah kamu sendiri yang mengajariku untuk bisa lakukan semuanya sendiri tanpa dirimu yang pastinya super sibuk?"


"Aku sibuk, karena,"


"Ya Aku tahu. Kamu suami yang baik. Tugasmu mencari nafkah untuk membahagiakan kami. Terima kasih."


"Dan kini kamu berniat membalas kesalahanku tempo hari dengan bermain-main dengan putranya si Joko Bodo itu?"


Fanny sudah tahu kalau Bimo sedang cemburu dan menyindir perbuatannya yang pulang larut malam diantar oleh Arthur.


Ia tersenyum menyeringai.


Ada rasa senang, tapi juga sedih. Ternyata suaminya lebih memilih rasa curiga dikepalanya ketimbang rasa sayang dihatinya.


Jika saja Bimo lebih memakai hati, pasti dia akan lebih bijaksana menanggapi kepulangan Fanny yang memang agak mencurigakan itu.


Fanny tidak menyalahkan rasa cemburu Bimo. Karena siapapun yang melihat dirinya pulang pukul sebelas malam diantar pria dan posisi mereka berduaan saja, pasti akan berfikir negatif.


Fanny tidak menyalahkan Bimo untuk kecurigaannya itu.


Tapi Fanny menyalahkan Bimo yang tidak bisa bersikap bijaksana dan dewasa sesuai umurnya dengan menanyakan perihal yang sebenarnya mengapa dirinya sampai diantar putranya Joko Handoko, rival bisnis Bimo.


Fanny tersenyum kecut.


"Apa kamu percaya kalau Aku bisa tega padamu?" tanya Fanny membuat Bimo mendongakkan wajah menatap istrinya.


"Bagaimana mungkin Aku menyangkal. Kalian berduaan dalam satu mobil di pukul sebelas malam. Lalu berpamitan dengan senyum sumringah dan menempel pipi kanan dan pipi kiri. Apakah Aku harus tutup mata? Dan pura-pura buta padahal melihat tingkah kalian yang tidak sepantasnya."


"Mobilku pecah ban. Susah mencari bengkel hingga akhirnya Aku harus menelpon jasa derek mobil. Kebetulan anak itu ada disekitar tempatku menunggu taksi online. Kami tadi bertemu di rumah Mia. Dan akhirnya Aku tidak kuasa menolak tawarannya karena hari telah malam juga. Sedangkan seperti yang kamu tahu, perumahan kita susah akses kendaraan umum."


"Fanny..."


"Kamu berfikir Aku ada main dengan anak kecil itu? Anaknya Joko Handoko?"


"Aku tidak ingin berprasangka buruk padamu. Tapi..."


"Gosip-gosip beredar luas karena banyaknya pengusaha wanita yang suka gonta-ganti pasangan di atas ranjang? Atau karena kau sendiri pun begitu?"


"Fanny!"


"Jika kau memandang rendah Aku seperti itu, mengapa masih bertahan dan setia menggenggam jemariku dalam naungan rumah tangga? Mengapa tidak kau ajukan perceraian saja di pengadilan agama?"


"Fanny?!?..."


"Kau memilih mengibarkan bendera putih, atau memilih berperang di Medan pertempuran denganku? Keduanya Aku siap jabani."

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa justru baru sekarang kamu mengeluarkan statement seperti itu? Bukan ketika dahulu Aku melakukan kesalahan-kesalahan itu?"


"Kenapa? Hello!! Yang diuntungkan dengan statement ku barusan tentu saja dirimu, Bang! Kenapa? Karena kamu itu laki-laki. Seorang konglomerat yang punya banyak uang! Bahkan perempuan yang lebih cantik dan muda bahkan lebih muda dari Salsabila putri bungsu kita, Aku yakin kau bisa dapatkan. Berbanding terbalik denganku yang sudah akan menjelang menopause. Siapa yang mau denganku? Kecuali pria yang mungkin numpang hidup denganku. Dan Aku tidak akan inginkan itu! Karena Aku akan lebih memilih hidup sepenuhnya dengan anak-anakku!"


Fanny membanting tasnya di atas ranjang.


Emosinya mulai meninggi dan wajahnya terlihat merah padam menahan amarah.


Grep


"Maaf! Maafkan Aku! Please Maaf, Fanny!" bisik Bimo dari belakang setelah tangannya memeluk tubuh Sang istri dengan begitu eratnya.


Fanny tergugu. Ia terisak menangis sedih.


"Jika Aku mau seperti yang kamu tuduhkan, tentu Aku bisa, Bang! Banyak perempuan dewasa yang bisa melakukan itu dengan alasan balas dendam. Tapi Aku tidak akan lakukan. Aku tidak ingin anak-anak kita mendapatkan keburukan dari tingkahku yang gila. Sejujurnya Aku juga hanya manusia biasa, tapi Aku berusaha menahan diriku yang kutahu punya banyak kekurangan sampai kamu berani selingkuhi Aku dulu. Hik hik hiks..."


"Maaf... Maaf! Hik hiks hiks... maaf."


Pasangan suami istri yang sudah tidak lagi muda itu kini saling berangkulan. Tangisan kesedihan juga penyesalan. Tangisan tulus meminta maaf dan pengharapan maaf yang ikhlas luas dari hati tulus.


Manusia adalah tempatnya salah. Fanny juga mengerti dirinya yang dulu terlalu sibuk dengan anak-anak. Mengurus anak empat adalah tugas yang sangat berat. Tapi ternyata mengabaikan suami demi anak juga adalah langkah salah yang Ia ambil.


Bimo, saat itu sedang diuji dengan kenikmatan duniawi. Bergelimang harta dan juga kesibukan yang mendera.


Sementara Fanny, dengan dalih dan alasan ingin menjadi Ibu yang baik hingga tak ingin melewatkan masa-masa keemasan putra-putri mereka sedetikpun, justru penghianatan yang didapat.


Nyaris ada perceraian. Tapi Fanny berfikir sangat banyak. Dan rasanya tak mungkin pergi mengajukan opsi cerai dengan membawa keempat anak bersamanya.


Untuk membagi dua anak-anak pada Bimo, tentu saja Fanny tidak pernah bisa. Anak bukanlah kue. Anak bukan harta yang harus dibagi rata. Tidak sesederhana itu.


Fanny tidak ingin dihari tuanya mendapatkan kalimat buruk dari keempat anaknya jika mereka terpaksa membagi dua jika sampai harus berpisah.


Fanny lebih tidak percaya lagi kepada istri yang nantinya Bimo nikahi. Terbayang di pelupuk matanya bagaimana nanti Ibu tiri mereka menyiksa dan memperlakukan dengan buruk anak-anak yang akan diurus Bimo dan istri barunya.


Membayangkan hal itu membuat Fanny langsung berteriak histeris.


Itu sebabnya dulu Ia bertahan, walaupun banyak sahabatnya yang menganjurkan dirinya cerai karena masih berusia muda.


Jika sekarang tiba-tiba mereka harus cerai, Fanny pasrah. Umurnya pun tidak akan lama lagi. Mungkin. Secara kini usianya sudah memasuki kepala lima. Anak-anak juga sudah memiliki kehidupan masing-masing.


Fanny bisa meneruskan usahanya untuk menghidupi dirinya sendiri sehari-hari.


Fanny lebih percaya diri sekarang ketimbang dulu.


Walaupun semua orang pasti akan berfikir, mengapa baru sekarang Ia bercerai.


Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri dalam mengatasi setiap permasalahan yang dialami.


Seperti Fanny, yang lebih memilih bersabar dan bertahan. Hingga jika memang Tuhan sudah tidak lagi menjodohkan dirinya dengan Bimo, ia akan legowo berlalu tanpa penyesalan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2