Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 83 Amelia Telah Kembali


__ADS_3

"Mbak Amel! Alhamdulillah, sudah pulang."


"Iya, Tasya. Maaf ya, beberapa hari ini Aku bikin kamu sibuk mengurus katering sendirian."


"Ga apa-apa koq Mbak. Namanya juga darurat. Untungnya Mbak Ziah mau bantu sampai beberapa hari ini."


"Alhamdulillah. Syukurlah. Terima kasih banyak ya Tas? Beneran Aku sangat terbantu sekali. Mbak Ziah juga, terima kasih banyak!"


"Sama-sama Mbak Amel. Saya juga bersyukur, tiga hari menganggur akhirnya punya pendapatan juga. Hehehe..."


"Mbak Ziah memang sudah berhenti kerja?"


"Ga, Mbak. Tapi sedang dirumahkan dulu karena pabrik sedang direnovasi. Bulan depan masuk kerja lagi seperti biasa."


"Oh. Alhamdulillah. Cuma waktunya istirahat jadi sibuk bantuin Tasya masak ya!?"


"Hehehe..., Boss Adam sempat komplein. Masakan saya gak seenak masakan Mbak Amel. Haduh, potek hatiku, Mbak dengarnya."


"Hihihi... Ternyata masakan kita kurang memuaskan Mas Adam, Mbak!" timpal Tasya yang membuat Amel tertawa kecil.


"Ah, perasaan rasa kita ga jauh beda. Modus aja itu modus hahaha..."


"Siapa yang modus?"


"B Boss Adam!?!"


Sontak memerah wajah ketiga perempuan yang sedari tadi mengghibah orang yang baru saja datang itu.


"Hehehe, ayo lanjutkan obrolannya!"


"Ga Boss, maaf..."


Adam terkekeh melihat wajah-wajah gugup para pekerja kateringnya.


"Alhamdulillah, pemegang saham terbesar sudah pulang ya?" tanyanya dengan lembut pada Amelia.


"Hehehe..., baru tiba Boss!" jawab Amel sembari mempersilakan Adam duduk di teras rumah kontrakannya.


"Ough. Aduhh. Sebenarnya ada hal penting yang ingin sekali Aku diskusikan sama kamu, Mel!"


"Oiya? Apa itu Mas?"


"Hm. Tapi kamu baru saja datang. Nanti saja, biar istirahat dulu sambil ngopi santai."


"Mas Adam mau ngopi?"


"Hm. Boleh request ga?" Adam tanya balik.

__ADS_1


"Apa itu?"


"Saya mau dibuatkan kopi khas kampung kamu. Boleh? Kopi di sana bikin saya ketagihan, Mel!"


"Aihh? Itu kopi dari warung. Sama aja seperti di sini. Cuma beda merek produk aja. Malah kopinya lebih murah, Mas!"


"Boleh minta dibuatkan kopi sama kamu?"


Amelia tersenyum. Tasya dan Ziah tertawa kecil sambil saling mencolek satu sama lain.


"Ternyata Boss Adam sudah ke kampung halamannya Amel ya?" goda Tasya membuat Amelia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ish kalian ini! Seneng banget menggoda!"


"Hehehe...! Mereka cuma tanya, Mel! Bukan menggoda Saya. Kamu cemburu?"


"Ehh? Bukan. Bukan seperti itu maksudnya, Boss!"


"Hahaha..."


Sontak Tasya dan Ziah tertawa terbahak-bahak. Mereka sengaja menggoda Amel yang kian memerah wajahnya karena Adam yang terus menerus membombardirnya juga dengan candaan.


Seketika Amel masuk ke dapur membuatkan kopi untuk Adam.


"Dasar ya kalian! Hehehe..." ujar Adam setelah Amelia pergi.


"Hahaha, Boss yang duluan. Mbak Amel itu orangnya polos dan lugu."


"Hahaha... Iya deh, iya." Tasya makin tertawa lebar.


Atasan Suaminya itu adalah pria humoris juga ternyata. Adam dengan jujur menceritakan bahwa dirinya jatuh cinta pada Amelia pada pandangan pertama.


Adam benar-benar ingin serius menjalin hubungan dengan janda kembang tanpa anak itu.


Setiap hari Adam datang ke kontrakan Amel dan mengobrol bersama Tasya dan juga Ziah.


Tentu saja niatnya ingin mengorek keterangan tentang Amelia dan seluruh kisah hidupnya.


Mulai dari cerita rumah tangga Amelia yang sudah sepuluh tahun tapi tak kunjung diberi momongan, hingga nasib naasnya yang dipoligami sang suami atas dorongan kedua mertuanya sendiri.


Tasya menceritakan semuanya tentang Amel.


Membuat Adam semakin respek kepada Amelia.


Lukman sendiri tidak mau mengalah mundur ketika Adam menceritakan niatnya untuk melamar Amelia dalam waktu dekat.


Kata Lukman, sebelum janur kuning melengkung, Amel belum jadi hak sepenuhnya seseorang. Apalagi Amelia belum memilih salah satu diantara mereka berdua.

__ADS_1


Kini bahkan kedua pria itu sepakat untuk bersaing secara sehat. Demi bisa mengambil hati Amelia.


Adam jauh lebih unggul karena bisa keluar sesuka hati. Sedangkan Lukman harus menunggu jam kerjanya tuntas. Secara dia adalah anak buah Adam di konveksi.


"Kopi hitam datang!"


"Terima kasih, Mel! Lho!? Koq ada empat gelas?"


"Untuk Tasya dan Mbak Ziah. Juga Saya hehehe..."


Adam tersenyum. Selain cantik, hati Amelia juga baik. Adam yakin kalau Neneknya dan Mama Adelia yang tinggal bersama akan menyukai kepribadian Amelia. Aamiin. Itu khayalan Adam sejak mengenal lebih jauh lagi tentang janda Solehudin itu.


Waktu menunjukkan pukul tiga sore.


Tasya dan Ziah sibuk memetik tangkai cabe dan mengupas kulit bawang untuk masak esok pagi.


Mereka berdua memang baru saja pulang dari pasar. Dan langsung bekerja membersihkan bahan-bahan yang akan diolah esok hari untuk menu makan siang karyawan konveksi Adam Malik.


Raut wajah Adam yang tiga hari terlihat lesu dan datar, kini menampakkan keceriaannya karena Amel telah kembali. Adam bisa kembali melanjutkan usahanya mendekati Amelia.


............


"Aduhh!"


"Kenapa, Man?" Diki segera menoleh ke arah Lukman yang sedang membersihkan skoci mesin jahit.


Jari Lukman berdarah terkena jarum jahit.


"Ga papa!" katanya sembari menggigit jarinya yang berdarah.


"Fokus, Man! Lepaskan Mbak Amel! Sepertinya memang bukan jodoh Lo! Lagipula Mbak Amel cuma nganggap Lo adik toh!"


"Gue mau berusaha dulu. Belum berjuang dan belum berkorban. Bukankah cinta butuh pengorbanan? Hm. Ini saatnya gue mendapatkan jodoh terbaik yang Allah kirimkan."


Diki terkekeh.


"Saingan Lo berat, bro! Pemilik konveksi ini! Tampan pula. Ya kalah lah sebelum benar-benar perang!"


"Jangan patahin semangat gue 'napa!? Harusnya Lo kasih gue support. Mbak Amel itu perempuan yang wajib gue perjuangkan. Dan gue harus berusaha sampai benar-benar Mbak Amel telah punya pasangan pilihannya."


Diki hanya bisa mengelus dada.


Antara senang punya teman seorang ksatria, tapi juga sedih karena takut Lukman patah dan hancur berkeping-keping.


Secara bersaing dengan Adam Malik yang seorang pengusaha muda kaya dan tampan rupawan.


Sedangkan Lukman hanya modal berwajah manis saja dan kekuatan cinta yang patut diacungi jempol.

__ADS_1


Diki tidak tahu, Lukman adalah penerus nomor satu perusahaan properti dan pemilik hotel bintang lima di pusat Ibukota.


BERSAMBUNG


__ADS_2