Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 126 Allah Maha Membolak-balikkan Hati Manusia


__ADS_3

Soleh berdiri tegak di atas pagar balkon ruko Ojan yang Ia tempati bersama Juriah.


Wajahnya pucat pias dengan mata sembab karena terus menerus menangis menyesali nasibnya yang malang.


"Bang, istighfar Bang! Hik hiks... turun! Turun, Bang!"


Lani dan Mariana yang memang sekarang tinggal sementara di sana mencoba memberikan nasehat kepada Soleh.


"Soleh! Soleh jangan, Nak! Jangan, Soleh!... Kalau kamu nekad akhiri hidup, bagaimana dengan Ibu dan adikmu Lani, Leh? Hik hiks hiks..."


"Kalian bisa hidup tanpa Aku! Kalian justru akan tenang hidup tanpa Aku! Hiks hiks..."


"Soleh! Istrimu masih di rumah sakit. Juriah sudah lewati masa kritis! Tidak apa-apa kalian tidak punya anak juga. Sungguh Ibu tidak akan minta apapun karena cucu Ibu sudah banyak, Leh! Ibu hanya minta kalian hidup rukun saja. Iya, Leh... Hidup rukun sampai akhir. Itu yang ibu inginkan saat ini."


Soleh terisak menangis semakin dalam dengan hati pilu bak teriris sembilu.


Mariana dan Lani memang tidak mengetahui kenapa sampai Soleh hendak melakukan hal yang dilaknat Allah itu.


Mereka hanya menyangka kalau Soleh depresi karena Juriah yang harus diangkat rahimnya. Menganggap Soleh yang sedang sedih karena pupus harapan punya anak.


Padahal bukan itu.


Bukan hanya itu.


Soleh depresi dan ingin Bun+h diri karena pernyakit menakutkan yang diidapnya kini.


Penyakit yang didapat dari jalannya yang jauh melenceng hingga tertular virus mematikan.


Baginya lebih baik mati sekarang, daripada harus menunggu tubuhnya kian habis dan tinggal kulit membalut tulang belulang.


Ia ingin pergi dari dunia ini.

__ADS_1


Menghadap Sang Illahi Robbi, menangis di liang kubur karena semua kesalahan yang dibuat tanpa pikir panjang.


"Soleh! Turun! Turun!!! Istighfar!!!"


Giman yang mengetahui kenapa Soleh jadi seperti itu langsung membentak Soleh.


"Bukan begitu caranya meminta pertolongan Allah Ta'ala! Bukan semakin terjerumus ke lembah nista!!! Kau harusnya bersyukur, Tuhan memberimu waktu untuk bertobat!!! Bukan malah berbuat seperti ini!!!"


Soleh menunduk malu.


"Bangkit!!! Setidaknya kau sadar kalau kau salah!!! Lalu taubatan nasuha!!! Minta pengampunan Allah Ta'ala selama nafasmu masih dikandung badan!!! Jangan malah semakin membuat dirimu jadi kayu bakar api neraka, Soleh!!!"


"Le', hik hiks hiks... Hidupku telah hancur, Le! Habis sudah tak bersisa. Debu-debu halus ini beterbangan dihempas angin kencang. Hik hiks hiks..."


"Soleh, manusia itu tempatnya dosa! Ayolah, ini justru adalah kesempatanmu untuk memperbaiki diri, meminta maaf dan ampunan pada Yang Maha Kuasa. Seperti Aku, Aku pun seorang pendosa. Aku pemadat, penjudi hingga istriku berkali-kali minta cerai. Aku selalu balik dan balik lagi ke jalan kesesatan. Aku terus terikat dengan sepupuku, mas Ojan! Aku juga masih sedang berusaha menemukan jalan Tuhan dengan pertobatan yang dari dasar hatiku terdalam. Kehidupanku jauh dari kata tenteram. Anak-anak kuberi makan dengan hasil uang haram. Semuanya menjadi panas dan penuh dengan amarah kebencian. Semakin besar dan membesar terus lingkaran hidup yang penuh kemaksiatan. Akhir hidup mas Ojan juga Mbak Samsiah membuatku tersadar, harta bukanlah segalanya. Apalagi dengan mendapatkan harta dengan cara apapun tak peduli halal atau haram. Tak pikirkan apakah kita telah menyakiti hati orang. Justru harta itu akan menyiksa kita sendiri sampai mati. Hik hik hiks..."


Giman menangis.


Mariana turut tersentak dan tersadar.


Banyak sekali orang-orang yang telah Mariana sakiti. Terlalu banyak hingga Tuhan seperti muak dan sengaja menggodoknya dengan ujian dahsyat seperti ini.


Berharap dirinya tersadar, namun terus saja melakukan kemaksiatan dengan mencerca dan menghina orang.


Mariana menangis sesegukan dengan kepala sujud di lantai.


Lani tak kalah histerisnya.


Nasehat dan ucapan Giman menyentuh hati terdalamnya. Mengingat betapa Ia telah jahat pada Amelia, pada Felicia almarhumah putrinya, juga pada Tito suaminya yang kini entah ada dimana.


Lani menangis meraung-raung membuat Soleh juga terbuka fikirannya.

__ADS_1


Soleh perlahan turun dari tiang balkon dan menangkup wajah ibunya.


"Bu! Ibu... hik hik hiks... Ibu, apakah Ibu tidak akan menyuruhku untuk menikah lagi seperti dahulu ketika Aku berumah tangga dengan Amelia? Apakah Ibu sudah punya jodoh yang lain untuk disodorkan padaku sedangkan Aku ini adalah pria beristri?"


"Tidak, Tidak!!! Tidak, Leh! Tidak!!! Tidak akan ibu jadi orang seperti itu lagi! Huaaaa hik hik hiks... Ibu telah jahat pada Amelia. Ibu telah membuat Amelia menjadi janda. Inilah karma dari perbuatan ibu sendiri. Bahkan pada Juriah pun Ibu hanya memanfaatkan hartanya saja. Ibu banyak bersalah kepada orang-orang. Terutama pada menantu-menantu Ibu. Hik hiks hiks..."


Soleh merangkul Ibunya.


Ia juga memeluk tubuh Lani dan menoleh pada Giman.


"Terima kasih, Le Giman! Terima kasih, sudah membukakan mata hati kami bertiga. Terima kasih banyak."


Giman turut berjongkok.


Merengkuh bahu Soleh dan menepuk-nepuk pundaknya.


"Yang kuat, Leh! Kita ini kepunyaan Allah SWT. Biar Dia saja yang mengatur hidup kita. Kaya miskin, susah senang, tawa tangis, pasti akan Allah berikan silih berganti. Asalkan kita hidup dengan hati teguh dan penuh rasa syukur kepada-Nya saja!"


Soleh memeluk tubuh Giman.


Mereka sama-sama berurai air mata.


Tapi kini air mata kebahagiaan. Air mata ketenangan karena telah menemukan jalan Tuhan.


"Lani, bisakah kamu antar Ibu pergi ke rumah orangtuanya Amelia? Ibu ingin meminta maaf atas segala perlakuan ibu selama ini pada putri mereka. Setelah itu, Ibu akan menemani Juriah di rumah sakit sampai kesehatannya pulih dan pulang ke rumah ini."


Lani mengangguk.


Ia segera bangkit menuju kamar mandi.


Mencuci mukanya yang sembab, lalu berwudhu menghilangkan hadast kecil.

__ADS_1


Hatinya juga bertekad, ingin mendatangi rumah mantan Mertuanya. Ingin bersujud minta maaf karena dulu dirinya pernah menyakiti hati putra mereka.


BERSAMBUNG


__ADS_2