
Amelia duduk dibelakang jok motor yang dikendarai Solehudin dengan tenang.
Tangannya merangkul pinggang Sang Suami tanpa ada pikiran lain-lain kecuali memikirkan dimana nanti Ia akan tinggal.
Menguping obrolan Inayah dan Gaga, Amelia semakin merasakan dirinya hanya membebani orang tua dan sanak saudara saja.
Untuk tinggal bersama Soleh dan Juriah, ternyata banyak orang yang ikut campur dan tidak menyetujuinya.
Amelia bingung.
Ingin berdiskusi dengan Soleh, tetapi kini mereka sedang dalam perjalanan.
Soleh juga sepertinya punya pikiran sendiri. Ia anteng saja melihat ke depan, fokus membawa kendaraan hingga tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Hingga mereka sampai di kediaman orang tua Soleh.
Tito menyambut senang kepulangan motornya yang dibawa lagi oleh Soleh.
Kakak iparnya itu memang kini semua jauh berbeda. Semakin terlihat arogan raut wajahnya. Mungkin karena merasa keren dan hebat bisa memiliki istri dua dan sama-sama bucin kepadanya.
Membuat Tito sebal melihat keangkuhannya.
Apalagi kini kantong keuangannya seperti kantong Doraemon yang selalu penuh.
Seperti saat ini, Soleh memberinya lagi uang lima ratus ribu rupiah sambil berkata, "Nih! Jangan ngoceh-ngoceh karena motormu Aku bawa lama!"
"Iya, Bang!" sahut Tito dengan senyum menyeringai tapi hati gendeg alias sebal.
Tito tak banyak berkata-kata selain langsung menyerahkan semua uang yang Soleh berikan pada istrinya yang sedang menemani putrinya tidur siang.
Soleh juga memberikan uang sebesar lima ratus ribu pada Mariana.
Namun Ibunya itu justru terlihat tidak puas.
"Cuma segini? Apa kamu setor ke si Amel lebih besar?" tebaknya membuat Amelia menghela nafas panjang.
"Si Amel malah belum Soleh kasih uang!" timpal Soleh membuat Mariana mendelik.
"Kami mau ke kota. Mau bereskan rumah kontrakan dan bikin surat pindah ke RT."
"Ya. Kamu bisa kerja di bengkel Pak Ojan. Urus toko onderdilnya. Banyak emas disana kalo kamu bisa mengambil hati mereka!"
Amelia hanya jadi penonton dan pendengar saja.
Suaminya berbincang sebentar dengan kedua orang tuanya.
Disana Amel merasa hanya seperti robot saja. Yang diam karena dalam mode on off. Hanya telinga saja yang mendengar maksimal.
Bahkan Amelia tidak berani mengingatkan Soleh kalau hari sudah menjelang sore. Sudah pukul dua lebih. Amelia khawatir kemalaman sampai ibukota. Tapi tak berani memberitahu dan menegur Sang Suami.
Sampai Soleh tersadar sendiri dan berpamitan pada Mariana dan Anta yang baru pulang dari warung kopi.
Biskota pukul lima jadi kendaraan yang membawa mereka kembali ke Ibukota.
Sepanjang perjalanan, Amelia diam begitu pula Solehudin.
Soleh bahkan sibuk chatting dengan Juriah dengan bahasanya yang agak mes+m menjurus hal-hal yang begituan. Hingga sesekali senyumnya mengembang sampai lupa kalau istri pertamanya duduk di samping dan sesekali turut melirik chattan mereka yang terbaca juga.
Amelia memalingkan wajahnya.
Panas, merah padam, kesal tapi seperti tidak bisa berbuat apa-apa.
Ingin sekali marah, tapi tidak sedang pada tempatnya.
__ADS_1
Ingin kabur, tapi kabur kemana dan tak punya uang juga.
Kini Amelia hanya berharap Soleh kembali pada dirinya sendiri sebelum menikah dengan Juriah.
Pukul sebelas malam, mereka tiba di rumah kontrakan.
Amelia menatap penuh kerinduan sambil menunggu Soleh membuka anak kunci pintu rumah kontrakannya.
Sepuluh hari mereka meninggalkannya. Pasti banyak kotoran di dalam yang harus Amelia bersihkan.
Sampai tiba-tiba,
"Bang Soleh? Mbak Amel? Ya ampun, betah bener di kampung, baru pulang sekarang. Hehehe..."
Diki, tetangga sebelah kontrakan menegur mereka.
"Hei, Dik! Iya nih. Hehehe... Sift malam ya? Baru pulang?" Soleh balik tanya berusaha ramah meskipun wajahnya terlihat lelah.
"Iya Bang! Yo wes met istirahat Bang, Mbak! Aku juga mau istirahat hehehe..."
Amelia hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
Soleh membukakan pintu dan mempersilakan Amelia masuk lebih dulu.
"Rapikan kasur, ganti spreinya! Pasti kotor. Aku mau tidur cepat. Ngantuk!" katanya mulai terbiasa dengan intonasi kasar jika berbicara dengan Amel. Sangat berbeda ketika berkata-kata pada Juriah.
Amelia dengan polosnya pun menurut.
Ia mengangkat bantal-bantal dan guling untuk menggantikan sprei kasurnya yang lepek berbau lembab.
Amelia melihat keatas plafon kamar. Ada bercak tetesan air. Seperti bekas bocoran air hujan yang menggenang. Membuatnya akhirnya tahu darimana asalnya bau lembab di atas ranjang tidur mereka.
Srek sreek
Ada selembar bahan putih bertuliskan huruf Arab yang tidak Amelia fahami untuk apa dan siapa yang menaruhnya.
Deg deg deg deg
Deg deg deg deg
Jantung Amel berdebar kencang.
Ia mengambil dan mengamati setiap tulisan huruf Hijaiyah yang tertera itu. Seperti..., ada tujuan misterius yang terkandung didalamnya.
Amelia masih mencoba diam. Untuk menanyakan pada Soleh, rasanya terlalu dini dan hari sudah malam pula. Rasa lelah dan penat duduk berjam-jam di kursi biskota yang keras bisa membuat obrolan mereka menyimpang jadi keributan.
Amelia membuka satu persatu sarung bantalnya dan...
Klotrak.
Sesuatu terjatuh dari dalam bantalnya dan menggelinding di bawah ranjang.
Sebuah bungkusan putih. Semakin membuat Amelia bergetar ketakutan.
Amelia berjongkok mengambil.
Rasa penasaran berhasil mengalahkan rasa takutnya. Matanya melihat ke arah Soleh yang sedang duduk di kursi depan sambil menghisap rokok kreteknya sangat santai. Amelia urungkan niat untuk memanggil Soleh.
Dengan membaca basmalah, Amelia membuka jahitan bungkusan putih yang berbentuk persegi panjang itu.
"Bismillah!"
Tangannya gemetar. Matanya tak berkedip menatap isi kantong yang terburai.
__ADS_1
Ada gumpalan rambutnya, potongan kuku, bahkan buntelan kecil yang ketiga Amelia buka adalah... celdamnya yang sudah lama hilang.
"Astaghfirullahal'adziiim..."
Amelia terkejut sambil beristighfar. Seketika memori ingatannya berfikir jauh sekali hingga Ia terkejut mendengar dering ponsel Solehudin.
"Hallo? Sayang? Belum tidur?"
Jantung Amel seketika seperti mau meledak.
Soleh, menyapa Juriah dengan mesra dan memanggil Sayang. Seketika emosinya melonjak dan, Amelia berdiri beranjak ke arah Soleh.
Srek.
Ia menarik ponsel Sang Suami.
"Hargai Aku ketika kau bersamaku, Bang!" tegurnya seperti sudah lama sekali terpendam. Dan Soleh melotot melihat tingkah Amel.
"Amelia?!?"
Brak.
Amelia membanting ponsel Soleh. Belah jadi beberapa keping berantakan di lantai.
Air matanya mengalir deras. Kini seperti barisan kata kata yang sudah tidak kuat lagi tertahan di ujung bibir, Amelia melontarkan semua unek-uneknya.
"Kau, Bang... semakin kesini tingkah lakumu semakin mengesalkan! Kau bilang Aku harus bertahan dan bersabar! Sampai kapan? Sampai Aku mati karena menahan emosi di batin dan kalian tertawa-tawa mengadakan tahlilan?"
Plak.
Soleh menampar Amelia.
Ia mengambil serpihan handphonenya yang jadi barang yang tak ada harganya lagi itu.
"Kau gila, Bang!"
"Kau yang gila, Amelia! Aku capek, memikirkan hidupmu dan Aku kedepannya, tapi kau bukannya menjadi istri yang baik, malah bertingkah seolah kau adalah ratu yang harus selalu kusanjung dan kupuja-puja!"
"Aku minta cerai! Ceraikan aku sekarang juga!!! Aku tidak kuat hidup terus-terusan seperti ini denganmu yang gila harta!!!"
Plak plak plak
Soleh menerjang Amelia. Ia menampar pipi istri pertamanya dengan emosi jiwa yang tak terkendali hingga Amelia berteriak keras.
"Tolooong! Tolooong!!!"
"Mbak, Mbak!? Bang Soleh?!?"
Terdengar suara-suara dari luar rumah dan...
Gubrak.
Diki, Tasya istrinya dan seorang pemuda yang tempo hari Amelia kenal tapi kini lupa namanya menerobos masuk rumah kontrakan mereka.
"Bang sadar, Bang!"
Mereka melihat Soleh sedang mencekik leher Amelia dan menariknya segera.
"Istighfar, Bang... istighfar! Ya Allah..."
Malam itu menjadi malam tragedi yang nyaris menghilangkan nyawa Amel hingga mereka semua digelandang ke rumah Rukun Warga setempat untuk islah dan dirukunkan kembali pada pukul satu malam.
BERSAMBUNG
__ADS_1