Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 42 Skak Mat Untuk Soleh


__ADS_3

"Mbak? Mbak Amel? Bangun, Mbak!"


Amelia tersentak kaget. Tasya membangunkan tidurnya yang terlelap di atas hamparan sajadah panjang.


"Jam berapa, Tas?" tanyanya dengan suara parau.


"Jam lima, Mbak! Sholat subuh dulu, terus lanjutkan tidur di atas ranjang."


"Terima kasih ya, Tas. Maaf, jadi bikin kalian repot ya!?"


"Ga apa, Mbak. Kita kan bertetangga. Lagipula, Mbak juga sering bantu kami dan Dea."


Dea adalah putri Tasya dan Diki. Dea kadang sering main ke rumah kontrakan Amel sesekali. Gadis mungil itu kini masih terlelap di atas ranjang setelah semalam ikut terganggu jam tidurnya karena kericuhan yang dibuat Amel dan Soleh.


"Mbak? Lebam di pipi kiri Mbak sekarang terlihat jelas!"


Amelia mengusap pipi kirinya. Masih sakit, tapi tidak seperti semalam yang terasa nyut-nyutan.


Soleh menamparnya beberapa kali. Bahkan lehernya pun kena cekik meskipun tidak terlalu keras.


"Mbak..."


Amelia menatap Tasya.


"Apa benar yang semalam itu?" Tasya melanjutkan ucapannya. Kalimat tanya yang sebenarnya sejak semalam begitu ingin Tasya lontarkan akhirnya terucap juga.


Amelia menghela nafas. Ia mengangguk.


"Mbak sendiri yang menjadi saksi?"


"Iya."


"Setegar itu Mbak menyaksikan pernikahan Bang Soleh dengan perempuan lain?"


"Entahlah, Tas. Aku juga tidak mengerti. Yang pasti kala itu aku hanya seperti sedang menonton drama di televisi."


"Ya Allah, Mbak!" gumam Tasya tak percaya.


"Kenapa Mbak? Apa karena..."


"Bang Soleh ingin memberikan cucu secepatnya pada Ibu Bapaknya. Dan Aku, merasa tertekan oleh rasa bersalah. Hingga akhirnya,... hhh... ide untuk menyetujui pernikahan itu muncul tiba-tiba."


"Sekarang, rencana Mbak selanjutnya apa?"


"Aku mau ajukan perceraian."


"Terus...? Mbak akan pulang ke kampung halaman?"


"Aku akan tetap tinggal di mengontrak di sini, Tasya. Belajar berdikari dan mencoba mencari pekerjaan di sekitar sini."


"Aku mendukungmu, Mbak! Ayo, semangat!"


"Terima kasih, Tasya. Terima kasih banyak ya?"


Amelia memeluk Tasya. Mereka tersenyum lega mendengar tekad Amelia untuk jangka panjangnya.


Selepas sholat Subuh, Tasya membuatkan Amel segelas teh manis dan setangkup roti isi selai coklat.


Tok tok tok

__ADS_1


"Tasya? Tas..."


"Iya, Bang! Sebentar..."


Diki sudah bangun dan mengetuk pintu kontrakannya.


Tasya membukakan pintu, terkejut ternyata yang paling pertama masuk rumah mereka justru adalah Soleh.


"Amel! Amel... Maafkan Abang, ya? Semalam Abang khilaf!"


Soleh mendekat dan hendak merangkul tubuh istrinya. Namun Amelia justru terlihat tidak nyaman dan mendorong tubuhnya sendiri hingga terdesak ke sofa.


"Amelia..., pipimu biru!" seru Soleh seraya mengusap pipi Amelia tapi langsung ditepis.


"Maaf, Bang! Amel... ingin cerai!"


Soleh tersentak. Bibirnya menganga.


"Amelia... Maaf. Lupakan semua kejadian semalam dan kita,"


"Cukup, Bang! Amel mau cerai. Dan mungkin saja Keluarga Abang juga menginginkan itu juga Juriah istri mudamu."


Soleh melengos sembari tertawa menyeringai.


"Aku tahu kamu cemburu, Sayang! Aku tidak menyalahkanmu. Sungguh, Amel! Hape bisa dibeli lagi yang baru. Iya? Kita anggap tidak ada masalah di antara kita. Oke, Sayang? Sayang, maafkan Abang ya? Ayo kita pulang. Kasian Diki dan Tasya. Terganggu karena tingkah kita yang kekanak-kanakan. Ayo kita pulang!"


Soleh menarik tangan Amel.


"Tunggu! Sebaiknya ada yang ikut sebagai saksi! Khawatir ada tindakan kekerasan lagi yang Abang Soleh lakukan!'


"Hei, kunyuk! Kau punya masalah apa denganku, hah? Sejak semalam kuperhatikan kau seperti sengaja cari ribut denganku!"


Soleh menunjuk wajah Lukman yang dengan tegas memberikan keterangan pada Soleh.


Syuut.


Hampir saja pelipis Lukman kena hajar kepalan tangan Soleh. Untungnya dia memiliki keterampilan ilmu bela diri hingga mampu melihat gerakan Soleh yang hendak memukulnya hingga Soleh hanyalah menghajar angin saja.


"Sial+n!!!"


Bug.


Soleh menendang kursi sofa milik Tasya.


"Bang Soleh! Abang sudah buat keributan di rumah orang!" sentak Amel mengingatkan. Namun Soleh semakin beringas emosi hingga kembali menarik tangannya keluar dari rumah Tasya Diki.


"Bang, Bang Soleh, istighfar Bang!" Diki turut mengingatkan Soleh.


Amelia menurut dituntun Soleh. Mereka keluar dari rumah Tasya Diki dengan wajah tegang.


"Bang, lepas!" teriak Amel setelah tepat di depan pintu rumah kontrakan mereka.


"Amel! Hentikan kecemburuan mu yang berlebihan ini! Sudah. Kubilang lupakan ya sudah!" Soleh tak gentar membuat Amelia supaya kembali menurut padanya. Tapi ternyata Amelia kini semakin kuat tekadnya untuk bercerai.


"Aku minta cerai!" pekik Amelia.


"Tidak! Ayo masuk!"


"Ga mau! Aku mau cerai!"

__ADS_1


"Aku tidak akan menceraikanmu!"


"Untuk apa kita tetap bersama? Bukankah kau lebih memilih Juriah? Mari kita cerai secara baik-baik. Menikah baik-baik, berpisah pun harus baik-baik, Bang!"


"Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu, Amelia! Ini hanya masalah kecil. Ini karena kamu sedang emosi. Setelah beberapa hari, kamu justru akan sangat menyesal meminta cerai dariku. Jadi, jangan gegabah memutuskan sesuatu ketika hati sedang panas!"


"Aku sudah putuskan dan berfikir cukup lama, Bang! Cerai adalah keputusan terbaik bagi kita!"


"Cerai keputusan terbaik? Kata siapa? Allah membenci perceraian!"


"Diperbolehkan cerai jika diantara keduanya sudah tidak ada lagi kecocokan!"


"Amelia! Istighfar! Sadar apa yang kamu ucapkan!"


"Astaghfirullah. Aku sadar sesadar-sadarnya, Bang!"


"Kau fikir kau bisa hidup tanpa Aku?"


Kini situasi semakin panas. Soleh mulai menyerang mental Amel dengan memberikan tekanan.


"Kau tidak tahu caranya mencari nafkah! Kau selama ini hanya mengandalkan hidup dari gaji ku saja! Mana mampu kau bertahan sebagai seorang janda, Amelia!"


"Aku tetap ingin cerai!"


"Kenapa minta cerai? Karena merasa masih muda? Bakalan ada gitu laki-laki yang mau menikahimu setelah cerai dari Aku? Hei, Amelia... Lihat dirimu di cermin! Ngaca dulu! Berapa usiamu sekarang!? Bukan perempuan cantik yang masih muda! Sadarlah! Ayo sadar. Mari Sayang! Kita kembali lupakan permasalahan yang hanya,"


Amelia menolak pelukan Soleh dan,


Plak


Lagi-lagi Soleh menampar pipi Amelia.


"Cukup, Bang! Abang bisa saya laporkan karena sudah melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga!" Lukman menerjang Soleh dan berusaha melindungi Amelia dari tangan ringan Soleh.


"Heh! Kau yang aku penjarakan karena berani ikut campur urusan rumah tangga orang!" Soleh semakin marah.


"Aku punya banyak saksi. Lihat, saksinya bukan satu dua orang saja! Tapi hampir tetangga melihat kelakuan Abang yang kejam pada istri sendiri!"


"Oh, aku tahu! Hm... akhirnya aku tahu maksudmu, heh! Kau mencintai Istriku? Kau fikir bisa mendapatkan Amelia setelah kuceraikan, begitu?"


"Mas Soleh!"


Soleh menoleh. Siti Juriah, istri mudanya berteriak dari jarak sekitar dua puluh meter di ujung gang.


"Ju_juriah?"


Juriah berjalan cepat dengan Mariana dan Anta mengekor di belakangnya.


Istri muda Solehudin ternyata langsung mendatangi rumah orangtua Soleh dan mengajak pergi ke ibukota malam itu juga dengan kendaraan pribadi Ojan.


Ternyata, Soleh tak berkutik dihadapan Istri Muda, kedua orang tua dan kedua mertuanya.


Mereka masuk rumah kontrakan. Membubarkan orang-orang sekitar yang turut menonton pertikaian keduanya yang sedang seru-serunya.


"Amelia minta cerai, Bu!" cerita Soleh dengan suara serak.


"Amelia minta cerai? Ya sudah, ceraikan saja!" jawab Mariana dengan entengnya.


"Mas...! Mas mencintai Mbak Amel?" tanya Juriah membuat Soleh menunduk. Soleh seperti raja catur yang dalam posisi skak mat terancam kuda dan perdana menteri.

__ADS_1


Hari itu, Amelia pertama kalinya ia bersyukur karena Sang mertua memudahkan langkah pilihan yang diambilnya yaitu pisah dari Solehudin, suaminya.


BERSAMBUNG


__ADS_2