Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 137 Arthur Yang Merasa Senang


__ADS_3

"Ka_kamu siapanya Amelia?" tanya Arthur yang baru pertama kalinya gugup dihadapan bocah perempuan imut yang tadi jelas-jelas Ia ledek.


"Saya... adiknya Mbak Yu' Amelia."


Keduanya saling bertatapan. Kali ini dengan aura yang berbeda dari sebelumnya.


Inayah juga terlihat sama gugupnya karena merasa agak kelewat batas barusan terhadap Arthur.


"Mister ini siapa ya? Apakah suruhan dari keluarga Mas Lukman untuk mendatangi kami? Atau... sengaja datang cepat untuk menjemput kami pindahan ke Jakarta?"


Arthur tersenyum tipis sambil menggeleng.


"Saya adalah kenalan Nona Amelia dan Mas Lukman. Perkenalkan, nama saya Arthur Handoko. Saya, seorang sutradara sekaligus produser film yang sedang menggarap produksi terbaru dan sangat tertarik dengan Nona Amelia untuk menjadi pemeran utama film saya. Dan sedang menelusuri kisah hidup Amelia juga yang ternyata memiliki kisah hidup tak kalah dramatis dari novel yang akan saya angkat ke layar lebar."



Inayah tertegun. Arthur ternyata adalah teman kakaknya. Malu hati juga akhirnya Ia.


"Maaf... maafkan saya tadi terlihat kurang sopan pada Tuan."


"Saya juga minta maaf. Saya sama sekali tidak tahu kalau,"


"Sudahlah, hehehe... kita lupakan kejadian barusan. Oke?" sela Inayah membuat Arthur tersenyum dan mengangguk.


"Boleh saya bertemu Ibu lagi? Ada banyak yang ingin saya ketahui dari Keluarga yang sangat hebat ini."


"Oh iya silahkan masuk, Tuan..."


"Arthur. Panggil saja saya Arthur."


"Tuan Arthur."


"Jangan Tuan, kesannya koq bikin merinding ya kalau dipanggil Tuan. Hehehe..."


"Mmm..., Mas Arthur?"


"Ya. Itu lebih pas karena Papi saya asli Surabaya. Hehehe..."


"Hah?!? Beneran?"


"Iya. Saya keturunan Indonesia asli. Memang punya dua kewarganegaraan. Amerika dan Indonesia. Tapi darah Indonesia lebih kental karena Papi asli Indonesia. Hehehe..."


Mia yang mendengar suara orang mengobrol dan tertawa kecil keluar dari dapur dan terkejut melihat siapa yang sedang berbincang.


Inayah? Ngobrol sama Tuan Bule itu lagi? Tapi dengan ucapannya yang halus sopan bahkan terdengar sesekali suara tawa kecil? Apa aku tak salah lihat?


"Inay?!"


"Ya Mak?"


"Ibu. Maaf, saya datang lagi."


Arthur berdiri. Kali ini sikapnya jauh lebih sopan. Ada misi yang sedang ingin Ia gali. Dan berharap bisa mengambil hati Ibunya Amelia dan juga hati adik-adiknya.


Arthur sebenarnya adalah orang yang memiliki sifat masa bodoh dan tidak suka berbasa-basi. Tapi demi tercapainya tujuan untuk menarik Amelia menjadi artis pilihannya, Arthur adalah orang yang perfeksionis. Ia akan melakukan apapun demi keinginannya terwujud.


"Oala? Tuan Mister?"


"Saya Arthur Handoko, Ibu. Panggil Arthur saja."


"Mas Arthur, Mak! Ternyata punya darah Jawa Timur."


"Wah? Iya kah? Silahkan duduk, Nak!"


"Terima kasih, Mak!"


Baru saja Arthur duduk. Terdengar suara azan Ashar berkumandang lewat toa masjid.


"Mak, Inay mau sholat di langgar dulu. Mas Arthur, silahkan mengobrol sama Mak tentang Mbak Yu' Amelia. Saya permisi dulu mau sholat."

__ADS_1


"Bukannya waktu sholat masih lama ya? Kan baru juga azan? Santai saja dulu, mari kita mengobrol dulu. Oiya, nama adik siapa?"


"Saya Inayah. Saya mohon maaf, waktu sholat yang paling baik adalah disegerakan ketika azan berkumandang. Saat azan masih terdengar, itu adalah waktu terbaik untuk berdoa. Dan waktu paling mustajab juga, Mas! Maaf, bukan bermaksud menggurui."


"Mustajab itu apa?"


"Mustajab itu waktu yang paling bagus. Yang InshaAllah semua doa dan harapan kita dikabulkan Allah Ta'ala."


"Woaa...! Seyakin itu?"


"Tentu saja. Saya sangat yakin dengan janji Tuhan saya!"


Arthur tertegun. Ia tak berani menimpali perkataan Inayah. Teringat peristiwa siang hari saat Ia berada di rumah mantan suaminya Amelia. Hampir saja dirinya digebuki warga karena terdeteksi menghina agama mereka.


Kali ini Arthur lebih memilih diam dan merenungkan langkah apa selanjutnya yang akan Ia ambil untuk membuat Amelia menerima tawaran kerja samanya menggarap sebuah maha karya besar untuk acara festival film tahun ini.


Mia tersenyum melihat kedua bola mata Arthur yang menatapnya lembut.


"Pantas saja, Amelia sangat manis dan elegan. Ternyata Ia berasal dari keluarga yang sangat baik, ramah dan santun."


"Hehehe... tidak sesempurna itu juga, Mas. Kami ini hanya orang kampung yang tidak berani berbuat aneh-aneh. Khawatir ditertawakan orang kalau gaya kami tidak sesuai dengan keadaan."


Arthur tersenyum kagum.


Mia tersipu malu. Rupanya bule yang tadi Ia dan putrinya anggap orang asing yang tidak bisa berbicara bahasa Indonesia itu ternyata bisa juga bertata krama layaknya orang Indonesia dengan ciri khas yang sopan dan mudah memberikan kalimat sanjungan.


Sepertinya orang tua anak ini meskipun keturunan campuran, ternyata kedua orang tuanya berhasil memberikan pendidikan moral yang sangat baik.


Mia tidak tahu, kalau sebenarnya Arthur justru tidak seperti yang Ia pikirkan.


Arthur adalah anak yang berontak dari kedua orang tuanya. Bahkan melepaskan agama yang orang tuanya turunkan, yakni seorang Nasrani menjadi atheis setelah usianya menginjak dewasa.


Arthur pernah patah hati. Marah pada Tuhannya karena gagal menikah bahkan sampai dua kali.


Ia sampai bersumpah tidak akan pernah mau menikah dan tidak mau mengenal adanya Tuhan karena tidak bisa Ia lihat dan Ia dengar suaranya.


Doa-doanya yang selalu Ia lantunkan lewat kidung-kidung pujian lagu-lagu rohani setiap Kebaktian di hari Ahad seperti tak pernah Tuhannya dengar.


Joko Handoko sendiri tidak bisa memaksa untuk Arthur kembali kepada Keimanannya. Arthur telah dewasa. Arthur juga memiliki kebebasan menentukan pilihan hidup seperti keinginannya.


Hanya satu doa Joko dan istrinya. Semoga Arthur mendapatkan pasangan yang bisa mengerti akan dirinya di masa mendatang.


Joko tak ingin Arthur melewati hidupnya seorang diri tanpa pasangan. Joko tidak ingin melihat anak tunggalnya sengsara sampai akhir hayat.


Itu adalah doa harapannya yang sangat besar pada Tuhan untuk putranya tercinta.


Arthur melihat Gaga yang berpakaian rapi pulang dari mengaji sore di rumah pak Haji Darto.


"Assalamualaikum."


"Alaikumussalam..."


Gaga mencium punggung tangan Mia dan juga Arthur. Gaga kaget melihat tamu bule yang dibopong ke rumahnya siang tadi waktu pingsan dan sudah pergi ternyata kembali lagi.


Berbanding terbalik dengan Arthur yang merasakan aura kesejukan di keluarga yang baru beberapa jam ia sambangi ini.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!"


Rama yang juga baru pulang dari masjid mengucapkan salam dan sama terkejutnya seperti Gaga melihat Arthur yang kembali lagi.


"Mister? Apa ada yang tertinggal?" tanya Rama dengan lembut.


"Oh, bukan. Tidak. Tidak seperti itu."


"Katanya Mas Arthur, Ia adalah temannya Mas Lukman dan Mbak Amelia, Ram."


"Lho? Bukannya mereka masih di luar kota ya? Sedang bulan madu di Bali dan Raja Ampat."

__ADS_1


"Iya. Saya juga bertemu mereka bahkan satu pelayaran kapal pesiar dengan mereka menuju Raja Ampat."


Rama jadi teringat masa-masa ia ketika masih jadi seorang ABK. Tapi bukan kapal pesiar melainkan kapal tongkang nelayan negara Thailand.


Banyak sekali cerita hidup Rama selama kontrak kerja di atas kapal laut dan membuka obrolan santai antara dirinya dengan Arthur yang juga ternyata suka sekali melakukan perjalanan laut termasuk memancing.


Otomatis obrolan mereka nyambung satu sama lain.


"Berapa usiamu, Rama?"


"Dua puluh delapan tahun, Mas!"


"Wow, beda enam tahun dengan saya."


"Memangnya Mas Arthur berapa usianya?"


"Tiga puluh empat tahun."


"Berarti sudah berkeluarga ya?" tebak Rama membuat Arthur tertawa.


"Saya single. Tidak ada kepikiran untuk menikah."


"Mengapa begitu? Bukannya Mas Arthur ini tampan, banyak uang? Pasti mudah sekali mencari pasangan."


"Hehehe... pasangan di atas ranjang atau pasangan hidup? Tentu saja itu berbeda. Dan saya tidak tertarik melakukan pernikahan. Hidup sendiri jauh lebih baik daripada berdua menjadi bertiga, berempat,... Belum lagi jika tiba-tiba ditengah jalan ada masalah. Hm. Saya tidak inginkan itu!"


"Apa... Mas Arthur ada trauma yang buat mas memutuskan seperti itu?"


"Hehehe... tidak juga. Untuk apa trauma. Lebih baik dipotong masalah yang membebani hidup. Beres kan?!?"


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..."


Arthur tertegun melihat penampilan Inayah yang berubah semakin manis dengan gamis gombrongnya.



Kenapa anak ini semakin dilihat semakin imut ya? Penampilannya berbeda dengan Amelia yang sederhana tapi tanpa hijab. Dia juga tinggi seperti Amelia, tapi kenapa lebih suka memakai pakaian yang gombrang seperti itu? Sampai terlihat seperti liliput imut yang ingin sekali kuadopsi dan masukkan di akuarium kaca.


Arthur makin termangu melihat senyuman manis Inayah pada Kakak dan adiknya yang mencandainya.


"Pakaian kalian sudah dipacking semuanya?" tanya Rama dijawab serentak 'iya' oleh Gaga dan Inayah.


"Kalian akan pindah kemana?"


"Ke rumah orangtuanya Mas Lukman, Mas yang di daerah Bogor!"


"Bogor? Dimana tepatnya?"


"BNR. Bogor Nirwana Resident."


"Wah!? Itu daerah rumah saya!"


"Yang benar, Mas?"


"Iya. Saya di perumahan Cluster Cendana."


"Kita kalau tidak salah di perumahan jalan Boulevard BNR nya."


"Kita masih satu wilayah itu. Tak sangka ternyata akan jadi tetangga!"


"Iya. Hehehe..."


Arthur merasa harapannya akan segera terwujud dalam waktu dekat.


Ia juga berharap Amelia berada dengan kompleks perumahan yang sama juga nantinya. Minimal dekat seperti rumah yang akan dihuni Keluarga Amelia.


Bayangan syuting film yang akan dilaksanakan secepatnya seakan ada di pelupuk mata Arthur Handoko.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2