
"Kamu Lani, kamu Tito?"
Lani dan Tito mengangguk dan tersenyum.
"Tolong, bayar hutang kalian dengan benar sesuai perjanjian. Kali ini Aku sudah sangat penuh toleransi. Kalian membuat rumah di lahan milik suamiku yang digarap oleh Pak Anta dan Bu Mariana. Aku sudah sangat merelakan karena memang perjanjian antara kami adalah tanah itu akan jadi milik kalian jika putriku dan Soleh jadi menikah serta dikaruniai anak. Demi Juriah, Aku tidak akan bahas tanah itu. Tapi, uang yang Juriah berikan pada Soleh sebagai pinjaman adalah kewajiban kalian yang harus dibayarkan. TEPAT WAKTU. Setiap tanggal lima kalian harus menemui Aku untuk membayar hutang pinjaman uang sesuai perjanjian kalian."
Lani dan Tito menelan ludah. Takut sekali dengan perkataan Samsiah yang dikiranya adalah Ibu rumah tangga biasa yang sama cerewetnya seperti Ibu mereka, Mariana. Ternyata Samsiah jauh lebih kejam damage nya dari Mariana.
"Pikirkan dengan benar, betapa keluarga kami sudah begitu baiknya pada keluarga kalian! Barter yang sebenarnya sangat merugikan pihak kami karena Soleh kakakmu justru tidak bisa kami andalkan. Maaf, Aku lebih baik bicara jujur didepan daripada bicara manis tapi dibelakang menusuk. Seperti kalian! Yang diam-diam ternyata suka sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan! Kalian pikir, kami ini Kaya raya tanpa kerja keras dan menguras tenaga serta fikiran? Kami, berusaha melakukan apapun untuk mengumpulkan harta. Bukan dengan jalan ongkang-ongkang kaki dan mencari keuntungan disana-sini seperti keluarga kalian!"
Samsiah benar-benar mengeluarkan pukulan telak ke ulu hati Lani dan Tito.
Harga diri pasangan muda beranak satu itu tercabik-cabik dengan ucapan lugas Ibu mertua kakak sulung mereka.
Dan Lani serta Tito tak bisa berkutik selain mengangguk mengiyakan.
Wajah Samsiah begitu menyeramkan di pandangan Lani juga Tito. Sampai pertemuan berakhir pun di sebuah warung makan yang mereka sepakati untuk ketemuan pun keduanya tidak banyak berkata-kata. Hanya anggukan kepala saja sebagai jawaban.
"Tolong, jangan manfaatkan putriku yang polos dan suci dalam mencintai Soleh. Ingatlah! Dalam pernikahan ini yang paling diuntungkan sebenarnya adalah Kakakmu, Lani! Dia tidak memberikan apapun pada kami, justru kami-lah yang memberinya keuntungan. Pekerjaan, jabatan, uang, harta kekayaan bahkan tanah yang bapak kalian garap itu adalah keuntungannya yang nyata dari keluarga kami. Dan satu hal lagi yang wajib kalian ketahui! Bapak kalian berhutang banyak pada kami sehingga Ia menjual putra sulungnya kepada kami!"
__ADS_1
Deg.
Jantung Lani seperti kena bogem. Menyesakkan sekali ucapan Samsiah yang langsung pada intinya dan seperti ada penekanan dari intonasi kata-katanya.
Tito memarahinya sepulang dari pertemuan dengan Ibunya Juriah.
"Kubilang juga apa!? Buat apa kamu pinjam uang sana-sini buat bangun rumah! Sabar saja harusnya! Kalau rezeki, kita pasti bisa kumpulin dulu uang buat bangun rumah sendiri!" semprot Tito kesal pada istrinya itu.
"Nunggu kumpul uang? Kapan? Lebaran monyet?" timpal Lani pada suami. Tak kalah jangar.
"Kamu terlalu berambisi kepingin punya rumah sendiri! Tunggulah! Allah pasti akan beri kita jalan! Begini kan jadinya kalau kamu terlalu gragas!"
"Bayarnya tiap bulan gimana?" teriak Tito membuat Lani makin uring-uringan.
"Ya urusan kamu-lah! Kamu suaminya! Yang wajib bertanggung jawab atas semua ini!"
"Kamu yang sok-sokan berani pinjam uang ratusan juta! Aku pula yang harus tanggung jawab! Kau pinjam juga gak izin Aku dulu! Mana baktimu pada suami? Bilang sama orang diluar sana suami memble, suami miskin, ga punya apa-apa! Kamu yang terlalu banyak menuntut ini-itu. Alasan bilang dapat suami gak becus usaha! Gajiku seharusnya cukup buat makan kita bertiga, Lani!"
"Mas, dengar! Hidup itu juga perlu yang lainnya! Bukan cuma makan saja! Otak diciptakan Allah agar bisa mengembangkan hidup! Bukan cuma terima nasib dengan mengerjakan yang sudah ada! Usaha, dong! Cari kerjaan lain yang lebih besar pendapatannya kalau sekiranya kerjaan yang sekarang gak ada perkembangan!"
__ADS_1
"Doamu mana sebagai seorang istri? Mana sumbangsihmu padaku sebagai Suamimu? Apa pernah kau fikirkan Aku? Beri bantuan dengan ikut cari tambahan? Mana? Tak ada! Hanya makan, tidur, ghibah sama teman-temanmu menceritakan keburukan suami. Iya kan?"
"Aku pulang ke rumah orang tuaku!" cetus Lani semakin kesal.
"Silahkan! Terserah padamu!"
"Rumah yang sedang dibangun itu adalah milikku, bukan milikmu!" tambah Lani.
""Silahkan, Aku gak tertarik. Bayar sendiri hutangmu pada Ibunya si Juriah itu!"
"Aaarrrggh!!!"
Lani hanya bisa berteriak kesal sembari menuntun Felicia keluar rumah orangtuanya Tito dan melipir langsung masuk rumah Anta Mariana.
Kedua orang tua mereka sedang berada di kebun, sehingga pertengkaran yang sangat panas itu hanya disaksikan sendiri oleh putri kecil mereka yang ikut menangis ketakutan.
Kini rumah tangga pasangan itu sedang diguncang prahara.
Dan Tito sedang berusaha memberi pelajaran pada Lani, istrinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG