
"Horeee, horeee..." pekik Cia girang sekali sembari berlarian mengelilingi rumah barunya yang luas dan indah.
Lani dan Tito juga tersenyum sumringah. Rumah besar mereka telah selesai finishing dan siap ditempati.
"Bang! Masa' kita pindahan bawa barang-barang furniture butut? Rasanya aneh deh. Rumahnya bagus tapi perabotannya jadul banget. Pasti orang-orang akan berkomentar kayak gitu."
Lani menggandeng tangan Tito. Ia mencoba merayu sang suami agar memikirkan isi rumah juga.
Tito hanya tertawa menyeringai sambil geleng-geleng kepala. Ia tahu maksud istrinya. Secara kini tingkatan mereka telah jauh lebih tinggi. Otomatis perabotan rumah tangga yang mereka punya meskipun masih bagus dan masih bisa dipakai akan terlihat jomplang jika dibawa ke rumah baru.
"Nanti Aku tanya Bu Samsiah. Siapa tahu dia punya toko perabot yang rekomended!"
"Yeaay... terima kasih, Bang!"(Cup)
Lani mengecup pipi kiri Tito dengan penuh mesra.
"Mau cobain goyang di rumah baru ya?" goda Tito dengan suara berbisik karena ada putri kecil mereka.
"Hihihi, rumah baru ranjang baru juga dong. Yang empuk itu lhoo, ya Bang?"
"Uang darimana, Lan?"
"Pinjem Bu Samsiah lah!"
"Hutang kita sudah banyak lho, Lan! Setidaknya kita harus bersyukur sudah punya rumah sendiri. Masalah perabot, pelan-pelan kita isi setiap bulan kalau sudah pindah."
"Lama, Mas! Pindah rumah tapi perabotannya kosong, ya kurang afdol. Kurang gimana gitu!"
"Hhh... Jadi semua harus ganti dong?"
"Kalau bisa semua, itu lebih bagus, Bang! Ya? Ya, ya?"
Lani menggelayut di pundak Tito. Sengaja merayu dengan menggesek-gesekkan tubuhnya ke badan Sang Suami.
"Dasar ya, perempuan kalau ada maunya pasti deh. Hhh... Ya liat nanti!"
"Hihihi, makasih Ayahnya Cia!"
Lani selalu bangga, dirinya selalu di atas angin. Tito akhirnya menyanggupi keinginannya.
Uang selalu uang yang jadi pangkal permasalahan.
Tito hanya bisa menangis dalam hati. Istri anaknya tidak tahu kalau kemewahan yang tengah mereka nikmati sebenarnya adalah dari hasil jual diri Tito pada Samsiah yang semakin mencinta.
Seperti hari ini, Samsiah sebenarnya belingsatan karena Tito izin tidak datang hari ini karena mau melihat rumah baru bersama anak istri.
"Kenapa kamu harus ikut mereka, To? Kan bisa ditemani ibu mertuamu?" cetus Samsiah dengan bibir cemberut.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Saya sudah janji sama Cia, putri saya."
Karena alasan Tito adalah putrinya, Samsiah tidak berani berkomentar apa-apa lagi. Karena Ia pun akan melakukan hal yang sama jika menyangkut putri tercinta, Juriah.
Seperti barusan, Juriah baru saja menelponnya. Menangis keras karena Abinya yang kelakuannya kian menyudutkan Soleh suaminya. Juriah ingin Ojan segera pulang dan di jemput Samsiah. Ia ingin fokus mengurus rumah tangga dan mengikuti program kehamilan. Jika Juriah dan Soleh dalam keadaan stres, bagaimana bisa mereka segera diberi momongan. Begitu argumen Juriah, membuat Samsiah gundah.
Jika Ojan pulang, otomatis sepak terjangnya berhubungan badan dengan Tito akan sangat sulit mendapatkan kesempatan.
Ojan juga pastinya akan terus bertingkah merongrong dirinya siang malam dengan umpatan serta makian. Samsiah seketika pusing kepala. Migrainnya kumat.
"Le' Giman! Mas Ojan mau pulang. Tolong rapikan kamar tamu!"
"Mbak Yu' mau saya bereskan ruang tamu?"
"Iya."
"Memangnya akan ada tamu kah?"
"Jangan banyak tanya! Kerjakan saja, Le'! Semakin kemari kamu semakin cerewet! Panggil istrimu, suruh kerjakan saja tanpa banyak cakap!"
"Maaf, Mbak Yu'!"
Giman segera bergegas melakukan apa yang Samsiah perintah.
Jika Ia terus bertanya, urusan bisa panjang dan Samsiah akan membuat pekerjaannya semakin ribet.
Tito keluar tanpa mengenakan baju. Hanya celana panjang saja. Dadanya yang berbulu halus dengan bagian perut bagus tampak basah oleh keringat.
Sungguh mencurigakan.
Giman mulai mencium gelagat yang tidak baik, tetapi tidak berani menegur.
Semakin kesini kelakuan istri Ojan itu memang terlihat aneh.
Dandanan Samsiah kian wah. Gayanya sudah seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta.
Usia Samsiah padahal sudah mau 50 tahun, tapi memang wajahnya yang cantik awet muda juga faktor ekonomi yang mumpuni membuat perempuan itu rajin bolak-balik salon kecantikan untuk perawatan.
Ojan sendiri keadaannya semakin menyedihkan.
Jalannya kini agak bengkok tertatih karena tulang engsel kaki kirinya yang bermasalah akibat kecelakaan lalu lintas.
Mata Ojan tinggal satu. Yang satunya kosong karena sudah di anggap dokter bedah. Kini Ia sedang menunggu cangkokan yang pas untuk kembali punya mata.
Ojan terlihat menakutkan ditambah tubuhnya yang kini kurus karena pikiran ruwet.
Tentu saja sangat berbanding terbalik dengan penampilan Samsiah saat ini.
__ADS_1
Sebelum kecelakaan maut yang menyebabkan mata Ojan rusak terkena serpihan kaca mobil, pria berusia 50 tahun itu sangat gagah perkasa. Berwajah tampan mempesona meskipun sudah berumur separuh abad. Pakaian Ojan juga adalah pakaian yang dibeli di butik khusus untuk para juragan.
Tapi sekarang, semua pakaian itu sangat terlihat tidak pantas dikenakan Ojan karena bentuk tubuh yang kurus dan wajah cekung serta mata yang menakutkan.
Jalan juga pincang, harus selalu dibantu seseorang untuk berjalan selain tongkat penyangga.
"Tika,..."
"Ya, Mas?"
"Apa kamu pernah melihat kejanggalan yang sedang terjadi dengan Mbak Yu' Samsiah?"
"Sstt... Sudahlah. Jangan hiraukan dia! Yang penting kita kerja saja dengan benar!"
"Ternyata kamu tahu sesuatu?"
Tentu saja Giman mendelik ke arah istrinya yang sedang mengganti sprei kamar tamu dengan yang baru.
"Aku tidak mau kita susah, Mas! Anak-anak kita butuh biaya untuk sekolah. Cukup kerja dengan benar. Urusan Mbak Yu', Aku ga mau ambil pusing. Biarkan saja!"
"Aku hanya kasihan sama Mas Ojan, Tik!'
"Halah, Mas Ojan juga sama. Dulu-dulu mana pernah dia memperlakukan kita layaknya keluarga! Kita bekerja di sini seperti budak. Sama saja bahkan tak ada empati padahal kamu itu sepupunya dari Si Mbah!"
"Sudah. Toh kita juga yang salah. Kita banyak minta bantuan sama Mas Ojan."
"Justru kita jadi terjerumus begini gara-gara dia yang selalu memberikan kamu pinjaman buat judi Roullete mu itu!"
"Itu kan cuma masa lalu, Tika. Maaf..."
"Masa lalu yang buat suram masa depan! Kamu mempertaruhkan masa depan anak-anak kita, Mas!"
"Maaf. Sekarang kan Aku sudah insaf. Sekarang, Aku ingin sekali seperti Mas Ojan!"
"Aku justru gak mau kamu seperti dia."
"Kenapa?"
"Hidup diperbudak harta. Bukan keberkahan yang di dapat. Tapi melarat di akhir hayat."
Giman diam mendengar penuturan Tika. Istrinya itu ternyata telah banyak mengambil pelajaran hidup dari keluarga Ojan sepupunya.
Dia diam tak berani menimpali. Karena ucapan Sang istri benar adanya.
Ojan yang dulu adalah teman mainnya di waktu kecil, justru bertansformasi menjadi orang terpandang seperti saat ini.
Namun ternyata, hidup kaya raya pun bukanlah akhir kebahagiaan. Ojan kini seolah sedang menunggu hukuman atas pilihan hidup yang Ia jalani. Padahal dirinya masihlah di dunia. Belum berpindah tempat ke akhirat.
__ADS_1
BERSAMBUNG