Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 71 Soleh Dan Sifat Buruknya


__ADS_3

Setelah selesai tahlilan malam pertama wafatnya Kan'an, istri dan putra-putrinya berkumpul di ruangan tengah. Duduk bersila bersama setelah membaca Al-Qur'an. Berkumpul dengan bercerita satu sama lain. Tentang apapun, tentang kenangan indah semasa Bapak mereka masih ada.


Amelia telah bulatkan tekad. Akan menceritakan semuanya kepada Ibu dan adik-adiknya.


Ada jalan, Gaga menanyai Amel kenapa Soleh tidak ikut pulang bersamanya.


"Mak...!"


Mia tersenyum menatap wajah putri sulungnya. Wajahnya kini jauh lebih tenang. Mia sudah mengikhlaskan kepergian Kan'an dan mendoakan sang suami agar tenang di alam sana.


"Mak..., maafkan Amel, Mak! Hik hik hiks..."


"Kenapa, Nduk?! Sudah, sudah. Bapakmu juga pasti lebih senang jika kita merelakan kepergiannya. Ini sudah suratan takdir Gusti Allah. Kita tidak boleh menyesali apa yang telah terjadi."


Mia memeluk tubuh Amelia yang menangis sesegukan di bahunya.


"Mak...! Aku sekarang seorang janda, Mak! Hik hik hiks... Aku bercerai dengan Bang Soleh, Mak!"


Mia mengangkat bahu putrinya. Ia menatap dalam-dalam wajah Amelia dan kembali memeluknya jauh lebih erat.


Tangis keduanya pecah.


"Tidak apa-apa, Nduk! Tidak apa-apa. Emak mengerti pilihanmu. Pasti sulit dan sudah kamu pikirkan dengan matang jauh-jauh hari. Hik hik hiks..."


Amelia senang. Emaknya mengucapkan kalimat yang membuat hatinya lega.


Mia tidak menyalahkan Amel dengan semua keadaan yang kini disandangnya.


"Yang sabar ya Nduk! Yang kuat. Allah bersama kita! Hik hiks..."


Amelia menangis pilu.


Sedih hati memberikan kabar duka lagi pada Emaknya. Tapi mau bagaimana lagi. Memang begitulah keadaannya kini.


Bersyukur Amelia, Emaknya adalah pribadi yang sangat dewasa. Tidak ada penghakiman yang Ia terima. Justru kata-kata penyemangat agar Amelia bisa bangkit dari keterpurukannya.


Makin membuat Amel sedih karena belum bisa membahagiakan kedua orang tuanya bahkan sampai Bapaknya pergi, Ia belum sempat membuat Bapak bangga.

__ADS_1


"Maafkan Amel, Mak, Pak! Huaaa..., Amel belum bisa memberikan yang terbaik. Belum bisa buat Emak Bapak bangga! Hik hik hiks..."


"Jangan bilang seperti itu, Nduk! Sejak kamu lahir ke dunia ini, kamu, kalian adalah kebanggaan Emak Bapak. Kalian lah penyemangat Emak Bapak! Hik hik hiks... Terima kasih, telah sabar dan setia menerima keadaan Emak Bapak yang justru belum bisa memberikan kalian yang terbaik sebagai orang tua. Hidup kita sederhana. Tidak seperti orang lain yang mudah dapatkan ini itu karena orang tua mereka orang yang berada. Maaf ya anak-anakku! Maaf..."


Sontak saja keempat anak Mia merangkul tubuh kecilnya hingga mereka menangis bersama.


Hidup mereka memang sederhana. Tetapi mereka bahagia secara batiniah.


Kedua pasangan suami istri itu berhasil memberikan asupan rasa syukur yang tak henti kepada anak-anaknya atas karunia Sang Pencipta.


Seperti kematian Kan'an, mereka terima takdir ini dengan lapang dada.


Sejatinya setiap manusia pasti akan mati.


Hanya waktu saja yang membedakan kapan itu terjadi.


............


Soleh berusaha menahan diri dan melupakan keinginan terbesarnya agar bisa kembali menemui Amelia.


Seperti yang Mariana ucapkan. Ia memang harus eling dan berfikir jauh kedepan.


Ia harus kuat menahan diri selama dua tahun ini. Agar bisa kembali ke pelukan hangat Amelia, istri pertamanya. Meski hatinya berharap Juriah dan Amelia bisa bersanding dengannya sama seperti di alam mimpi.


Kini fikiran Soleh galau. Hatinya resah.


Andaikan sampai dua tahun Ia dan Juriah belum juga dikaruniai anak, akankah Ojan serta Samsiah mau memberinya harta gono-gini jika bercerai.


Soleh berfikir banyak hal, bagaimana caranya agar Ia bisa membawa sebagian harta Juriah dan Ia bisa kembali pada Amelia.


Secara pikiran, Amelia jauh lebih telaten mengurus dirinya ketimbang Juriah.


Soal makan, soal kesehatan, Juriah kurang peduli.


Hanya soal ranjang saja yang jadi kelebihan Juriah karena kini Soleh telah mengetahui kalau Juriah ternyata hyper s+x. Dan selalu ingin dan ingin berhubungan intim sehari bisa dua kali.


Kemungkinan besar karena memang rumah tangga mereka yang baru menjelang lima bulan saja. Masa-masa hot, masanya ingin terus bercinta.

__ADS_1


Atau karena Juriah perlahan sudah melupakan masa lalunya yang menyedihkan yang diperko++ pria bejat di masa remaja.


Dan kini Juriah menikmati hubungan biologis antara dirinya dan Solehudin.


Terkadang Soleh yang kelelahan juga karena Juriah memberinya kode untuk kembali menggoyang ranjang padahal tubuhnya lelah dan penat seharian berjibaku dengan mesin dan oli di bengkel.


Ia memang menyukai aktivitas itu, tetapi jika tubuh yang sudah usia 36 tahun itu melemah, tetap saja tidak mampu membuat Soleh terlihat gagah perkasa bak Arjuna kecuali dengan bantuan obat penambah stamina yang Soleh beli diam-diam tanpa sepengetahuan Juriah.


Hanya disaat Juriah menstruasi saja Soleh bisa sedikit bernafas lega.


"Mas..., Aku koq halangan gak beres-beres ya?" tutur Juriah suatu ketika.


"Memangnya sudah berapa hari?"


"Sudah mau sepuluh hari."


"Coba periksa ke bidan. Jangan-jangan sedang mengandung! Eh, jangan bilang Abi Umi kalau kamu datang bulan ya? Mas ga enak kalau terkesan menipu Abi tempo hari!"


"Ya kan aku sudah bilang, waktu itu cuma masuk angin. Tapi Mas malah langsung lari bilang Abi kalau Aku hamil. Ish, salah siapa!?"


Soleh tersenyum kecut.


Rasa takut menghadapi penerimaan Ojan jika tahu Juriah tidak sedang hamil membuat Soleh mengetuk-ngetuk pelipisnya.


"Ya sudah. Aku ga akan bilang kecuali Abi desak tanya!"


Soleh memeluk Juriah sembari menepuk bok+Ng sang istri yang langsung memekik.


"Maas...! Ish, jangan mancing-mancing! Aku ga bisa minta jatah dulu!"


Soleh mere+m++ payu++++ Juriah dan berlari dengan tertawa lepas. Senang memperlakukan Juriah seperti anak-anak.


Pria itu memang sangat kekanak-kanakan. Pemalas tetapi menginginkan hidup yang enak.


Sungguh definisi manusia yang ingin enak sendiri.


Sifat genetik yang buruk yang diturunkan Anta dan Mariana.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2