
Arthur bukanlah orang yang mudah patah meskipun mendapatkan hardikan lumayan keras dari Lukman.
Karakter serta pembawaan sikap Amelia justru semakin memancingnya untuk menyewa dua orang stalker agar mencari tahu latar belakang perempuan dewasa yang saat ini membuat Arthur tak bisa berpaling untuk tidak memperhatikannya.
Uang tentu saja baginya bukan masalah. Papanya, Joko Handoko adalah konglomerat nomor lima belas di Indonesia. Sementara Frederica, Mamanya juga bukan orang sembarangan di San Fransisco walaupun hanya seorang guru. Frederica adalah anak petinggi polisi di distrik pusat kota San Fransisco. Dan Arthur adalah anak tunggal pernikahan silang itu.
Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam Arthur sudah mendapatkan kabar tentang Amelia dan ternyata semakin membuat Arthur tertarik menggarap film yang ingin sekali pemeran utama wanitanya adalah Amel.
"Hm... Pantas saja matamu terus berfokus pada perempuan ini! Ternyata, mata batinku tidak salah!" gumamnya sambil Membolak-balikkan lembaran kertas berisi data tentang Amelia juga Lukman.
"Ternyata ini adalah pernikahan keduanya. Dengan pria bujangan pula rupanya. Hm... perceraian terjadi karena Sang Suami menikah lagi dengan perempuan lain anak juragan angkot di kampung sebelah. Hm..., baiklah! Sebelum berhasil mendapatkan target, ada baiknya aku mendatangi dulu mantan suaminya terdahulu. Siapa tahu kisah novel yang akan kuangkat ke layar lebar ini bisa kusisipi kisah Amelia juga."
Arthur mengangguk-angguk bak burung pelatuk.
Ia akan terbang ke Jakarta tiga hari lagi untuk urusan rapat pemegang saham perusahaan iklannya.
Dia pria hebat, sangat hebat di bidang bisnis. Bertangan dingin dan mampu merubah hal yang biasa menjadi luar biasa.
Bahkan Arthur sudah lepas dari segala biaya hidup dari orang tuanya sejak berusia dua puluh lima tahun.
Kini Ia adalah pribadi yang bebas merdeka, mandiri tanpa nama besar orang tua walaupun masih pulang dan tinggal se rumah dengan orangtuanya di San Fransisco sesekali.
............
Amelia dan Lukman menuntaskan bulan madunya yang indah di Raja Ampat.
__ADS_1
Menyewa sebuah cottage kecil di pinggir pantai untuk tempat tinggal selama beberapa hari di sana tanpa ada gangguan dari orang lain.
Sungguh menakjubkan bagi Amelia.
Mereka hanya berdua.
Berbagi kasih dan saling melengkapi satu sama lain dalam segala hal.
Bekerja sama melanjutkan hidup, saling dukung saling support. Amelia dan Lukman semakin mengenal satu sama lain.
Ponsel mereka sengaja di non aktifkan.
Sengaja ingin melarikan diri dari semua pertanyaan yang silih berganti masuk ke ponsel keduanya setelah foto mereka viral di lembaran berita ibukota.
"Beneran kan tuh bule gila?! Aku udah punya feeling ga enak pas waitres ngasih kita minuman gratis katanya traktiran dia."
"Itu kenapa kita jadi masuk koran dengan judul, calon artis pemeran utama film terbaru besutan King Arthur. Aku malah baru tahu kalau bule itu ternyata sutradara film sekaligus produser. Hm..."
Amelia menangkup dagunya sendiri. Ikut bingung juga karena si wartawan gosip yang mengambil potret mereka diam-diam itu terlihat seperti wartawan amatir yang serampangan.
"Bisa dilaporkan polisi kah, Yang? Mereka ambil foto kita tanpa konfirmasi, terus... diupload tanpa wawancara. Setahu Aku, itu illegal ya?"
Bola mata Lukman membulat.
Ia meraih wajah Amelia dan mengecup bibirnya beberapa kali.
__ADS_1
"Kamu koq makin pinter sih?" pujinya bangga.
Amelia tersipu dan menunduk malu.
"Bisa, Yang! Mereka bisa kena pasal kalau kita laporkan. Kena pasal pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan. Tapi untuk apa ribet-ribet urus sampai ke pengadilan juga. Bikin urusan tambah panjang. Kita abaikan saja, toh bukan seperti itu juga cerita aslinya."
Amelia tertawa dengan kepala mengangguk.
"Urusan pengadilan butuh uang banyak ya Mas! Hehehe..."
"Iya. Dan lagi, kerjaan kita masih banyak yang lain. Ambil positifnya aja. Siapa tahu setelah ini bisnis kuliner kamu jadi maju pesat. Banyak pelanggan yang tiba-tiba mampir makan di restoran. Tapi siap-siap, bisa jadi mereka akan menjuluki kita dengan sebutan 'Artis Tidak Jadi' karena memang kita bukan artis. Hahaha..."
"Hehehe... Iya ya Mas!"
"Kita nikmati saja bulan madu kita ini, Sayang! Abaikan batu-batu terjal yang baru saja menghadang. Perjalanan kita masih panjang. Langkah kita masih harus maju dan terus maju. Pernikahan baru saja dimulai. Biduk rumah tangga kita baru berlayar. Kuharap kamu tidak akan pernah bosan denganku meskipun tahu kekuranganku begitu banyak sekali.
Grep.
Amelia menutup mulut Lukman.
Kini Ia gantian yang menerjang.
Sang Suami memang dua tahun lebih muda darinya. Tapi urusan kedewasaan, Amelia telah menguji Lukman dan Lukman lah pria yang paling tepat yang Allah jodohkan untuknya.
Amelia mungkin berpengalaman dalam menjalani pernikahan. Tapi sejatinya kedewasaan pernikahan itu tidak bisa diukur dari lama tidaknya seseorang menikah. Tetapi dari banyaknya pengalaman hidup yang mengajarkan seseorang menjadi lebih kuat dalam menghadapi masalah.
__ADS_1
Biarlah layar pernikahan berkembang dan melaju dengan takdir yang Tuhan arahkan. Berharap lautan tenang tanpa badai. Memohon perjalanan aman, tanpa kendala berarti karena kapten dan nahkodanya saling berpegangan tangan erat satu sama lain.
...BERSAMBUNG ...