Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 194 Akhir Yang Bahagia 6


__ADS_3

"Apa ini?"


Jantung Inayah berdebar kencang tatkala mencoba memberikan Arthur surprise kotak berisi testpack dan surat keterangan dirinya positif hamil dari dokter kandungan.


Setelah dokter umum tempatnya berobat menganjurkan Inayah untuk pergi ke dokter kandungan agar mendapatkan keterangan lebih rinci lagi akhirnya Ia menuruti.


Dokter kandungan memberikan Inayah kabar gembira yang lebih detail lagi.


Inayah sedang mengandung janin sekitar enam mingguan. Tentu saja hatinya seketika bahagia sekali.


"Sa_sayang? Ini... beneran?!?"


Seperti tebakan Inayah, Arthur terkejut dan hampir tak percaya.


"Kamu sedang prank aku ya?"


Inayah tak menjawab, hanya tertawa renyah membuat suaminya makin geregetan.


"Eh, ga baik lho bercanda bikin Aku shock kayak gini. Gimana kalo aku kena serangan jantung saking kagetnya. Terus aku mati,"


Grep


Inayah mendekap bibir Arthur yang berkata ngasal.


"Yang gak baik itu, kalau bicara asal ceplos. Takut malaikat lewat, ucapan kamu dicatat. Naudzubillah, Mas! Ralat!" ucap Inayah dengan suara tegas.


"Astaghfirullah, maaf ya Allah. Tapi, tapi kamu ngasih ini ke Aku ini beneran tulisan yang tertera di sini ini? Dua garis biru? Artinya...?"


Inay mengangguk seraya mengelus-elus perutnya yang masih rata.


"I_ini? Beneran ada calon Dede bayi?" tanya Arthur dengan suara terbata-bata, masih dengan nada tak percaya.


Inayah menarik tangan Arthur.


"Ya Allah..."


Seketika Arthur baru tersadar dan langsung memeluk tubuh Inayah.


Dia tadi seperti blank hilang pikiran sesaat dan baru tersadar kalau Allah telah mengirimkan hadiah paling indah dalam hidupnya kini.


"Berarti Aku, aku... tidak mandul, Sayang... Hik hiks hiks... Terima kasih ya Allah! Terima kasih banyak atas Kuasa-Mu yang penuh dengan keajaiban!"


Arthur terharu sekali sampai wajahnya memerah dan matanya basah, merebak riak turun perlahan meneteskan air.


"Hik hiks hiks... ya Allah! Ya Allah Yang Maha Pengasih. Terima kasih atas semua keberkahan-Mu. Sayang, kamu benar-benar anugerah terindah yang Allah kasih untukku. Setelah sekian lama Aku tidak pernah percaya adanya Tuhan. Setelah hidup cukup lama tak pernah merasakan sebahagia kini. Alhamdulillaah... Alhamdulillah. Huaaaa, aku beneran seperti mimpi, Sayaang..."

__ADS_1


Arthur berjingkrak-jingkrak. Bergoyang seperti penari jaipong membuat Inayah jadi tertawa terbahak-bahak.


"Ya Allah, Maasss! Sudah toh, ish... hahaha... random banget deh tingkahmu. Kamu otewe Papa dua anak lho sekarang. Hehehe..."


"Oiya ya. Aku akan jadi Papa dua anak. Oiya, bayi kita jenis kelaminnya apa, Yang?"


"Belum ketauan dong. Masih janin imut. Kata dokter, aku harus banyak istirahat. Gak boleh terlalu banyak gerak sampai usia kandungan masuk 17 sampai 20 minggu atau empat bulan. Kata dokter, usia kehamilanku masih rawan. Jadi Aku harus benar-benar menahan diri agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."


Arthur langsung pias menatap wajah istrinya.


Ia juga menuntun lembut Inayah ke kursi sofa dan menyuruhnya duduk.


"Kamu ambil cuti kuliah dulu setahun, sampai melahirkan dan bayi kita sudah bisa ditinggal beberapa jam."


"Mas...?"


"Kamu harus turuti perkataanku. Demi bayi kita. Ya? Ya ya?"


Inayah menatap wajah Arthur tertegun membisu.


"Sayang,... kuliah masih ada kesempatan lain. Tapi hamil dan melahirkan..., ini adalah kado terindah yang Allah beri pada kita. Selain itu, kamu juga akhir-akhir ini kurang fit. Sering sakit kepala, lemas, mual juga. Iya kan? Kalau dipaksakan ngampus juga hasilnya ga bisa maksimal. Nilai kamu malah bisa anjlok dan tetap saja akhirnya harus mengulang. Daripada capek-capek seperti itu, lebih baik jadwal kegiatan kamu sudah dipending mulai dari sekarang. Mumpung kamu baru jalani semester tiga beberapa minggu, ya kan?"


Inayah menelaah perkataan Arthur.


Ia berfikir apa yang Arthur ucap ada benarnya juga.


"Bunda, Papa..."


Pupu membuka pintu kamar mereka dengan takut-takut.


"Sayang..., sini masuk. Sini, sini!" Inayah melambaikan tangan kepada putranya Arthur dari Bianca itu.


"Masuk, Boy!" tambah Arthur dengan senyuman.


"Papa..., boleh Pupu main sepeda ke taman sama suster Arini?"


"Kapan? Sekarang? Tapi ini sudah sore,"


"Jam lima lewat. Boleh. Tapi azan Maghrib harus segera pulang, ya Sayang!"


"Iya, Bunda. Horeee...! Suuss Suster Arini! Bunda kasih izin. Ayoo, let's go... bye Bunda, Papa..."


Arthur berlari keluar mencari Suster Arini.


"Sayang...! Kenapa diizinkan? Ini udah jam lima lewat hampir setengah enam!"

__ADS_1


"Mas..., jangan terlalu keras pada Pupu. Tolong kali ini kita harus lebih baik lagi menghadapinya. Khawatir perasaan Pupu sedih dan terluka. Kamu tahu? Aku dan semua orang panik kemarin karena Pupu menghilang dari rumah setelah mengetahui aku hamil."


"Hahh? Apa???"


Inayah menceritakan kejadian kemarin.


Ia membuat Arthur menganga. Kaget mengetahui kalau putra pertamanya itu ternyata seorang anak yang sensitif sekali meskipun gendernya adalah laki-laki.


"Ternyata... Pupu punya trauma ketakutan yang besar ditinggalkan dan tidak disayang kita lagi. Untuk itu, aku minta mas lebih menunjukkan rasa sayang mas pada Pupu. Jangan pernah mengingat lagi kesalahan mamanya di masa lalu. Pupu adalah darah dagingmu, Mas. Putraku juga. Tolong bersikaplah manis dengannya. Jangan terlalu tegas."


Arthur meraih wajah Inayah. Ia mendekatkan wajahnya lalu,


Sluurrpp...


Kecupan manis berakhir sesapan yang mendebarkan. Arthur mencium mesra bibir Inayah dan mel++++nya lembut.


Bersemu merah jambu wajah Inayah. Tampak kaget dan malu-malu.


"Terima kasih, Sayangku...! Terima kasih banyak, Sayang!"


Inayah merasakan jiwanya terbang melayang tinggi di awan. Arthur adalah pria yang manis. Lembut dan penuh kasih sayang. Arthur memperlakukan Inayah bak putri raja. Memberinya kenyamanan dan kesejahteraan.


Inayah bangga dan bahagia. Sungguh impian hidupnya di masa lalu kini telah jadi nyata.


"Sayang, Sayang! Dokter bilang, jangan dulu berhubungan intim sampai kehamilanku telah melewati usia empat bulan. Kata dokter, Mas wajib puasa dulu. Hehehe..."


"Hehehe... gitu ya? Oke, demi anak istriku tercinta, aku akan terima."


Cup


"I love you, my lovely wife!"


"I love you too, my hubby!"


Inayah tersenyum lebar, Arthur kembali memeluknya erat tapi lebih lembut dan cepat dilepas karena khawatir Inayah merasa sesak.


"Maghrib nanti sholat berjamaah di rumah yuk Mas? Kita bertiga. Aku, kamu, Pupu. Ya?"


"Siap, Komandan! Hehehe..."


"Hehehe..."


Cinta yang tulus, telah bersemayam di dalam jiwa raga Arthur dan Inayah.


Arthur merasakan kalau nasibnya berubah sejak Ia mengenal keluarga Mia terutama perempuan manis cantik yang kini duduk disebelahnya ini.

__ADS_1



BERSAMBUNG


__ADS_2