Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 155 Sifat Arthur Yang Mirip Kan'an


__ADS_3

Krieeet...


Arthur terkejut, Mia membuka pintu kamar opname-nya dengan wajah datar. Tanpa ucapan salam apalagi senyuman khas bersahabatnya yang Arthur suka.


Hari ini Arthur akan pulang ke rumahnya. Ia sedang bersiap-siap membereskan tas tentengnya yang berisi perlengkapan selama tinggal tiga hari di rumah sakit setelah selang infusnya dicabut tenaga kerja kesehatan.


"Mak..."


"Maaf, Saya kemari lagi karena ada urusan."


Arthur merasakan aura nada bicara Mia yang tidak seperti biasanya. Kini terdengar dingin bahkan menakutkan hingga berdebar juga jantungnya.


"Silahkan duduk, Mak!"


Mia menurut.


Kini mereka duduk berhadapan di sofa ruang VVIP kamar inap rumah sakit.


"Bolehkah saya memohon?"


Pertanyaan Mia terdengar ambigu.


"Tolong..., jangan ganggu Inayah! Dia masih kecil. Baru tamat SMA dan baru melihat dunia. Saya mohon,... jangan ganggu dia!"


Tentu saja ucapan Mia melukai hati Arthur.


Namun pria itu tidak sakit hati. Hanya kecewa karena Mia kembali salah faham padanya.


"Saya tidak pernah mengganggu Inayah. Saya juga sadar diri, siapa saya ini. Kami hanya baru beberapa hari kembali berteman. Bukan seperti yang Mak cemaskan. Tidak seperti itu. Saya mohon Mak jangan berfikir buruk terlalu jauh tentang saya."


"Saya tahu, kamu punya hak untuk membela diri. Tapi saat ini saya sedang tidak ingin mengerti seperti apa kondisi kamu. Saya..., hanyalah seorang ibu yang was-was dengan masa depan putrinya. Jika kamu punya anak perempuan nanti, kamu akan bisa merasakan apa yang saya rasakan saat ini."


Arthur terdiam. Sebentar menunduk dan menghela nafas, namun kembali menegakkan wajahnya. Arthur ingin menunjukkan kepada Mia kalau dia tidak ada keinginan untuk mengganggu putri Mia seperti yang dikhawatirkan.

__ADS_1


"Saya tidak akan mengganggu Inayah kalau Mak tidak inginkan itu. Maaf...! Maaf karena ucapan saya kemarin membuat Mak jadi sangat ketakutan. Saya berani janji. Saya akan pegang janji saya, Mak tak perlu kuatir!"


Mia menelan salivanya. Ada sedikit rasa lega di hati. Tapi kenapa dirinya juga merasa sedih mendengar ucapan Arthur yang terkesan pasrah tanpa perlawanan. Sungguh membingungkan hati.


"Mak mau pulang bareng Saya?"


Mia tertegun mendengar tawaran baik Arthur.


Anak ini, apakah karena darah bangsa asing membuatnya terlihat sangat santai bahkan menawarkanku untuk pulang bareng? Apakah memang hatinya sebaik ini tanpa ada embel-embel lain? Sungguh membuatku bingung. Disatu sisi ada ketakutan yang luar biasa besar kalau dirinya bawa pengaruh buruk untuk keluargaku. Tapi di sisi lain, Aku merasa kita adalah orang-orang yang tidak punya fikiran negatif berlebihan kepada orang lain. Harusnya dia marah, harusnya dia kecewa dan sebal karena larangan tegasku untuk tidak mendekati Inayah lagi. Tapi justru... Ataukah ini taktiknya dalam setiap menyelesaikan masalah?


"Mak takut saya akan berbuat jahat pada Mak?"


Mia seketika tertohok.


Arthur sangat pas mengucapkan kalimat sindiran yang halus padanya.


"Saya tahu, image Saya tidak bisa diperbaiki di mata Mak. Tapi saya tidak punya niatan apapun. Cuma berfikir ringan, karena kita satu tujuan, satu arah. Tak ada salahnya saya menawarkan ajakan pulang bersama. Atau... sepertinya Mak masih akan di Jakarta."


"Saya belum pulang ke Bogor sekarang. Ada kerjaan proyek bersama Kak Fanny, Mamanya Lukman."


Entah mengapa, Mia justru menceritakan proyek kerjasamanya dengan besannya itu pada Arthur. Bisnis usaha pertanian holtikultura teknik hidroponik di wilayah Sentul.


"Proyek yang menjanjikan itu, Mak! Sekarang banyak orang milenial yang lebih suka sayuran terutama organik non pestisida."


"Iya. Kak Fanny membuka perusahaan produsen pangan secara online. Katanya, pasarnya online, lewat aplikasi dan sayuran siap dikirim dalam keadaan petik setelah ada pesanan."


"Resikonya juga gak terlalu besar untuk bisnis bahan pangan. Apalagi pangsa pasarnya itu luas. Bisa ke hotel, restoran, juga supermarket-supermarket menengah ke atas. Pasokan permintaan stabil bahkan bisa menaik terus. Good job, Mak!"


"Aamiin... Terima kasih banyak untuk dukungannya."


Mia tersadar hingga tersenyum malu.


Dia tadi berusaha keras kepala, tapi memang mengobrol masalah bisnis dan usaha dengan pria yang usianya dua tahun lebih tua dari putri sulungnya, Amelia membuat Mia nyambung dan nyaman.

__ADS_1


"Saya harus pamit sekarang. Kalau tidak, kita bisa terus mengobrol dan lupa waktu. Kapan-kapan, kita mengobrol lagi dengan keadaan yang lebih baik. Cepat sembuh ya, Nak! Terima kasih sudah mau mengerti situasi dan perasaan Mak sebagai orang tua."


Arthur tersenyum dan mengangguk.


"Mak naik apa ke restonya Amelia?"


"Mak sudah bisa pakai aplikasi gojek. Sudah beberapa kali pakai ojek online dan lumayan terbantu. Kamu pulanglah ke rumah. Istirahat dan jangan langsung bekerja!"


"Hehehe...! Mak tahu saja fikiran Saya. Lusa bahkan saya sudah mulai sibuk dan harus terbang ke Berlin. Satu film indie Saya mendapatkan penghargaan silver bear di kategori film indie lokal terbaik."


Mia terpukau dengar pencapaian Arthur yang luar biasa di bidang perfilman. Bahkan penghargaan bergengsi di kancah dunia. Tak pernah terbayangkan kalau Arthur ternyata bukan produser dan sutradara sembarangan.


"Keren!" ucapnya membuat Arthur merasa tersanjung.


"Hehehe..., Mak jauh lebih keren. Dan saya sangat menghormati Mak beserta keluarga."


Mia tersenyum kecil.


Ia kembali pamit dan kali ini langsung bergegas beranjak pergi. Khawatir obrolan seru kembali membuatnya tertahan dan bincang-bincang lagi dengan Arthur.


Mia mengerti, mengapa para wanita suka berlama-lama dengan pria bule itu.


Bukan hanya ketampanan yang memikat, namun kecerdasan serta pembawaannya yang santun membuat lawan bicara merasa betah mengobrol dengan Arthur.


Kini dia tersenyum sendiri sepanjang jalan.


Pantas putriku mengagumi pria itu. Sedikit banyak sifat Mas Kan'an ada pada Arthur. Sosok yang selalu jadi idola Inayah. Kini Aku mengerti, mengapa Inayah terkesan lembek dan sulit menjauh dari Arthur. Andaikan saja pria itu tidak seburuk berita yang santer di luar sana... Hhh...


Mia menghela nafasnya.


Dia kembali terkenang Kan'an, almarhum suaminya yang kini telah tenang di alam yang berbeda.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2