
"Ayo, kita pulang!"
Inayah kaget sekali, Arthur tiba-tiba menarik pergelangan tangannya cepat dan menyeretnya ke luar aula pelaminan.
"Mas! Acara ijab kabulnya,"
"Ayo, urusan kita sudah selesai!"
Arthur membawa Inayah pergi tanpa pamit pada saudara dan kerabatnya yang ada di acara pesta pernikahan Victor Valdes dan Putri Fania itu.
Amelia dan Lukman yang melihat langsung saling lempar pandangan.
"Mas!"
"Kita akan susul mereka setelah ijab kabul Victor dan Juriah selesai. Tidak enak jika meninggalkan acara sebelum acara sakralnya dimulai, Amel!" bisik Lukman membuat Amelia mengangguk pelan.
Amelia menunduk sedih. Adiknya sedang dalam masalah besar. Mau tidak mau Ia harus ikut campur. Karena Arthur terlihat temperamental sekali.
...............
Di kediaman Arthur, Frederica dan Joko Handoko masih duduk dengan raut wajah bingung.
Arthur menelpon mereka dan mengatakan kalau mereka harus mengepak semua barang dirinya dan juga Pupu untuk dikirim lewat paket siang ini juga.
Arthur sudah bulat akan pindah ke Amerika membawa Putra Arthur Handoko.
Sesampainya di rumah, Arthur berteriak keras pada kedua orang tuanya.
"Kenapa belum melakukan apa yang kuminta?"
"Arthur..."
"Apa susahnya bilang itu pada semua asisten rumah tangga? Tak perlu kalian yang melakukannya. Susah sekali bicara dengan manula seperti kalian!"
Joko dan Frederica hanya bisa mengelus dada.
"Pupu! Pupu!?! Suster Arini!"
Kedua yang dipanggil namanya itu datang dengan wajah ketakutan.
"Packing semua pakaian kalian! Cepat! Aku akan mengirimkan lewat paket ke San Fransisco hari ini juga!"
"P_pak? Sa_saya juga?" tanya Arini dengan suara terbata-bata.
"Iya. Kenapa? Tidak mau? Lebih memilih resign daripada ikut aku dan Pupu ke Amerika?"
"Saya, saya harus bilang dulu kerabat saya di kampung, Pak. Ma_af!"
"Ya sudah. Kau kupecat!"
"Mas!"
"Papa!!!"
Inayah dan Pupu berbarengan mengingatkan Arthur.
Anak dan ibu sambung itu saling berangkulan dengan wajah panik ketakutan.
"Paspor dan visa mu sudah Papa urus! Besok siang kita akan pulang ke San Fransisco! Kita akan temui mamamu, Mama Bianca!"
__ADS_1
"Bianca sudah meninggal dunia, Arthur!"
Bagaikan mendengar suara petir yang menyambar. Arthur seketika membelalak.
"Apa???"
"Bianca meninggal dunia tepat di hari kamu kecelakaan."
"Hahaha, bohong! Papi bohong kan? Papi sengaja membohongiku agar tidak lagi berhubungan dengan Bianca!"
"Itu benar, Arthur! Bianca menderita leukemia. Itu sebabnya dia menyerahkan hak asuh Pupu padamu. Sebelumnya dia pernah mendatangi kami agar mau mengurus Pupu. Tapi kami pikir, kamu yang paling berhak. Itu sebabnya kami menyarankan Bianca untuk datang ke Indonesia dan meminta langsung padamu."
Inayah dan Arthur diam.
"Tidak mungkin! Bianca sehat. Sangat sehat! Mami sekongkol dengan Papi ingin membuatku hancur!"
Joko berusaha mendekat dan berupaya menghibur sang putra. Tapi lagi-lagi Arthur menepis.
"Jangan bodohi aku! Aku bukan anak usia lima tahun!"
"Arthur...! Terimalah kenyataan! Sadarlah, Nak!"
"Kalian semua sekongkol! Kalian benar-benar jahat sekali inginkan kehancuranku! Kau! Kau biang keladinya! Pergi kau dari rumahku! Pergi!!!"
Arthur menunjuk ke arah wajah Inayah.
"Inayah masih punya keluarga, Arthur! Tidak bisa seenaknya kau mengusirnya dari rumah ini! Antarkan dia baik-baik pada keluarganya, seperti dahulu kau mengambilnya dengan baik-baik pula pada keluarganya!"
Semua yang ada di ruangan terkejut. Amelia dan Lukman sudah berdiri di depan pintu.
"Mbak, Mas!"
"Ya Allah ya Tuhanku!"
Lukman tanpa basa-basi menghajar telak wajah Arthur.
"Aku pernah menghajarmu dulu. Dan kau Mungkin akan sadar kembali dengan jotosan ini!'
Semua orang memekik melihat kejadian itu.
Darah segar keluar dari lubang hidung Arthur. Seperti de javu, kejadian yang sama terjadi lagi.
Lukman menghajar Arthur tanpa ampun.
"Bukankah aku pernah bilang? Jika kau sampai berani menyakiti Inayah, aku adalah orang yang pertama menghajarmu!"
Kali ini Amelia tidak menghentikan Lukman. Hanya diam dan menunduk sembari memeluk tubuh Inayah yang gemetar hebat hendak melerai.
"Mas, sudah. Sudah! Kumohon jangan pukul suamiku!" jerit Inayah panik.
Lukman menghentikan jotosan ketiganya. Ia sampai tersengal-sengal karena menahan emosi yang kadung meluap.
"Ayo, kita pulang! Jika suamimu tidak lagi menginginkanmu, pulanglah! Ada rumah yang akan menampungmu! Jangan takut, Inayah! Kami bersamamu!"
"Mas... hik hiks hiks..."
"Ayo Inay, bereskan pakaianmu."
"Mas! Aku akan bertahan di sini... sampai kapanpun. Sampai mas Arthur benar-benar sadar dan ingatannya kembali."
__ADS_1
"Inay!" Amelia tak percaya, adiknya sekokoh itu mencintai Arthur dengan perubahannya.
"Suamiku hanya sedang tidak sadar, Mbak! Justru disaat inilah aku harus selalu mendampinginya dan menerima kelemahannya. Kumohon mengertilah aku, Mbak!"
"Sayang...! Pulanglah dahulu. Izinkan kami mengurus Arthur dahulu untuk beberapa saat. Kami akan membawa Arthur pulang dulu ke tempat tinggal kami. Setelah keadaan jadi lebih baik, kita semua akan kembali tenang dan hidup bahagia bersama. Ini hanya butuh waktu, Inayah. Mungkin dengan Arthur berobat rutin di rumah sakit tanah kelahirannya, ia akan segera pulih dan ingatannya kembali."
Frederica menjadi penengah. Sedangkan Joko mengurus Arthur yang terkapar dengan wajah bengap penuh darah.
"Mami..."
Inayah terdiam mendengar nasehat sang ibu mertuanya yang asli orang Amerika.
"Izinkan Inay merapikan pakaian sebentar." Pinta Inayah dijawab anggukan Frederica.
Inayah masuk ke kamarnya.
Cukup lama suasana hening. Situasi yang sempat tegang kini perlahan mencair seiring Joko dan Frederica mencoba mengelap wajah putra semata wayangnya itu dan mengobati memarnya dengan obat merah.
Pupu duduk di sofa ruang tengah dengan tubuh menggigil dipangku Suster Arini.
Keributan tadi membuatnya sangat ketakutan.
Tak lama kemudian Inayah keluar dari kamar.
Semua orang kembali terkejut.
"Inayah?"
Inayah melepas hijabnya.
Arthur yang melihat Inayah, tertegun tak berkedip.
"Mas! Izinkan aku berpenampilan begini selama di rumah. Khusus untukmu. Tapi ketika aku keluar rumah, aku akan kembali berhijab, Mas! Untuk surgamu tentunya."
Arthur menyeka darah yang masih mengalir walau tak sederas tadi. Ia tak berkata apa-apa selain diam. Arthur bungkam seribu bahasa.
Jantungnya berdegup kencang melihat istrinya ternyata begitu cantik dan muda belia bak bunga yang baru merekah.
"Bianca...! Aku tidak percaya Bianca sudah...! Aku harus melihat pusaranya! Harus, Mi, Pi!"
"Baiklah. Biar kamu lihat sendiri dengan mata kepalamu sendiri!" ujar Frederica dengan nada suara kesal.
Inayah mencoba mengobati pipi Arthur yang memar. Namun Arthur masih dalam mode on kulkas freezer tiga pintu. Dia langsung melengos memalingkan wajahnya. Tak ingin disentuh Inayah yang sudah mencoba berubah untuk menenangkan dirinya.
"Mas, baiklah. Aku akan pergi ikut Mbak Amel dan Mas Lukman. Aku..., tidak ingin kita bercerai. Aku sebenarnya ingin sekali mengurus mas Arthur sampai benar-benar sembuh dan,"
"Pergilah! Pergi. Maaf jika aku telah menyakitimu selama ini. Aku, ingin mencari jati diri dan jalan hidupku sendiri kini. Terima kasih untuk semua yang pernah kau lakukan selama hidup denganku. Kamu masih muda dan cantik. Pasti akan banyak laki-laki yang bisa membahagiakanmu selain Aku."
Ucapan Arthur membuat hati Inayah hancur.
Runtuh seketika pertahanannya.
Dengan berderai air mata, Inayah membereskan pakaian dan juga surat-surat pentingnya termasuk dua buku nikah miliknya dan Arthur.
Inayah yakin, suatu saat nanti Arthur pasti akan kembali. Hanya saja ia tak tahu kapan itu semua terjadi.
Kini Inayah hanya pasrah pada ketentuan Illahi.
__ADS_1
BERSAMBUNG