Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 212 Kesalahpahaman Part Tiga


__ADS_3

"Apa maksudnya untuk menjaga agar tidak ada kericuhan di keluarga besar kita? Apa kamu tahu siapa itu Juriah?"


Arthur menelan saliva. Bola matanya tak bisa menipu Inayah.


"Kamu tahu siapa itu Juriah tapi malah menyembunyikannya dari Aku? Begitu? Apa itu konsep rumah tangga yang kamu gaungkan pakai sistem keterbukaan? Hah? Begitu?"


"Aku hanya tidak ingin membuat kamu jadi kepikiran, Sayang. Kamu sedang hamil muda. Tidak boleh stres dan banyak fikiran. Kalau kamu tahu Juriah adalah istri muda Solehudin, kamu pasti tidak akan bermanis-manis begitu padanya. Aku sendiri sebenarnya tidak setuju dia menginap di rumah kita. Tapi kamu,"


"Itu karena aku tidak tahu siapa dia! Kamu menutupi masalah sebesar ini padaku, mas! Lantas untuk apa kita satukan kekuatan dan berumah tangga jika tidak ada saling komunikasi serta pengertian? Lebih baik kita pisah sebelum semakin banyak kebohongan yang akan kamu lakukan di kemudian hari!"


"Inay! Stop it! Jangan ngomong seperti itu!"


"Mas, mumpung masih belum terlalu jauh kita saling menyakiti. Lebih baik, kita cerai secara baik-baik. Toh kamu sudah menepati janjimu pada Mak untuk menikahiku dan menjaganya. Sekarang, pisah adalah yang terbaik,"


"Tidak! Tidak!!! Kamu hanya sedang emosi. Lebih baik kita silent dan sama-sama intropeksi diri. Jangan bicarakan hal yang terlalu jauh! Aku tidak mau dengar apapun! Istirahatlah dulu, Sayang. Aku menunggumu tenang."


Arthur hendak meraih bahu Inayah. Namun Inayah masih dalam keadaan emosi.


Dia mundur dan menepis tangan Arthur.


"Sayang!?!"


"Pulanglah! Aku mau di sini! Aku sudah fikirkan masak-masak, lebih baik kita cerai daripada saling menyakiti."


"Inayah, istighfar! Kamu sedang mengandung, Sayang. Ada janin calon anak kita yang akhir bulan ini akan diberikan ruh oleh Allah Ta'ala. Jangan berfikir yang aneh-aneh. Kumohon, Sayang! Please, please dengarkan penjelasanku dengan hati dan fikiran yang tenang."


Arthur mengiba. Memohon pada Inayah dengan menyatukan kedua telapak tangannya.


"Pulanglah! Ini sudah malam. Pupu pasti menunggu."


"Hhh... Pupu menunggu kita, Sayang!"


"Aku tidak akan pulang ke rumah itu lagi. Maaf, aku ingin di sini."


"Baiklah. Kamu boleh menginap di rumah Mbak Amelia, besok siang aku jemput ya Sayang?"


"Tak perlu, Mas! Aku tidak akan ikut kamu lagi. Aku, minta cerai. Untuk kebaikan kita berdua."


"Inayah..."


"Maaf, Mas. Aku mengantuk. Pulanglah mumpung belum larut malam!"


Inayah menunduk dan berjalan menjauh.

__ADS_1


"Apakah karena pemuda tampan yang sepadan denganmu kamu sampai minta cerai dariku, Inayah?" tutur Arthur to the point mengingat cerita Victor tadi.


"Apa? Apa maksudmu, mas?"


Inayah langsung membalikkan tubuhnya dan mengerutkan dahi.


"Bukankah kamu pergi dengan seorang pemuda tampan tadi sore? Apakah dia yang mengantarkanmu sampai ke sini? Iya kan?"


Inayah menatap Arthur tak berkedip.


"Baiklah. Temui aku dulu dengan dia. Biar bisa kunilai apakah pemuda itu sungguh-sungguh mencintai kamu. Kalau ya, aku rela melepasmu untuk dia."


"Mas! Ngomong apa kamu ini?" teriak Inayah kesal.


"Kamu juga ngomong sembarangan barusan. Apakah aku tidak boleh membuka kebohonganmu juga? Atau aku salah? Fitnah?"


"Fitnah! Dia cuma teman selewat di kampusku. Dia bukan siapa-siapa dan bukan orang spesial bagiku! Saat itu dia sedang jadi sopir online dan kebetulan aku meyewa gr+bcar dan dia supirnya! Kamu menuduhku selingkuh, mas?"


"Bukan menuduh, hanya mengambil benang merahnya saja, Inayah!"


"Jahatnya kalau sampai kamu mengira aku selingkuh! Kamu beneran pria licik! Kamu yang suka selingkuh, tapi lempar batu sembunyi tangan padaku! Pokoknya Aku minta cerai! Itu lebih baik daripada harus batin makan hati dengan tingkah polahmu, Mas!"


"Inayah! Kamu selalu memandang rendah Aku. Demi Allah, aku selalu menjaga pandanganku sejak memiliki kamu! Anak kita saksinya! Please, baiklah jika aku harus minta maaf dan berlutut, aku lakukan."


"Maafkan aku, Inayah."


"Pergilah! Pulanglah ke rumahmu! Biarkan aku di sini menenangkan hati!"


"Inayah, tolong... fikirkan baik-baik. Kamu yang paling mengenal Aku. Cobalah lihat hatiku dengan hatimu. Cintaku hanyalah untukmu seorang."


"Sudahlah mas, aku capek. Aku lelah mau istirahat!"


"Mas Arthur, saya mohon izinkan Inay menginap dulu di sini untuk beberapa hari. Biar fikirannya tenang dulu. Nanti setelah itu baru kamu kesini lagi untuk menjemput Inayah."


Amelia akhirnya ikut bicara.


Arthur menatap punggung Inayah sampai menghilang di balik pintu kamar tamu rumah Amelia.


Hidungnya berlumuran darah yang mulai mengering.


"Cuci dulu wajahmu, Mas!" ujar Amelia sambil memberikan selembar handuk kecil berwarna putih dan menunjukkan arah wastafel.


Arthur menuruti perkataan Amelia.

__ADS_1


Sementara Lukman sedari tadi tak bicara. Hanya diam duduk di atas sofa ruang tengah dengan tatapan mata penuh kekecewaan.


"Aku menutupinya dari Inayah karena kami baru saja berbahagia. Pulang dari klinik, hatiku berbunga-bunga. Inayah dinyatakan positif hamil. Tapi tiba-tiba suster Arini pulang bersama perempuan itu ke rumah kami. Suster bilang dia korban penipuan bossnya dan sedang menangis di taman menjelang Maghrib. Suster dan Pupu mengajaknya menginap semalam karena hari menjelang malam dan dia khawatir tidak ada bis yang akan berangkat ke kampungnya malam hari. Aku yang sudah mengenal jati dirinya terkejut. Sebenarnya aku tidak setujui dia menginap malam itu. Tapi Inayah justru seperti Dewi berhati malaikat. Juriah diizinkan menginap bahkan mendapatkan banyak kebaikan dari Inayah. Esoknya aku sendiri yang mengantarkan Inayah sampai terminal bahkan sampai naik bus jurusan kampung halamannya. Semua itu untuk memastikan agar perempuan itu benar-benar pergi dari kehidupan kami dan kembali ke kampungnya. Tapi ternyata,"


"Ternyata kamu kasihan padanya dan membiarkannya untuk tidak kembali ke kampung!" sela Lukman, menerka-nerka.


"Bukan. Tidak begitu ceritanya."


"Mas,... izinkan dia bicara dulu. Jangan dipotong ceritanya."


Amelia menjadi penengah.


"Aku yang sudah tenang karena kupikir dia sudah pergi tinggalkan ibukota ternyata salah. Victor, teman yang dahulu pernah dekat denganku dalam urusan pekerjaan tiba-tiba justru mengajaknya kerja sama untuk menghancurkanku. Victor dendam padaku karena aku menjauh darinya. Mereka melakukan kolaborasi. Entah bagaimana, yang pasti ini semua adalah rencana mereka berdua. Sumpah demi Allah, aku bersaksi demi apapun, tidak pernah ada niatan jahatku apalagi untuk membohongi Inayah, Mbak!'


"Hhh..., ini yang kutakutkan. Aku pernah bermimpi buruk tentang Inayah. Tapi itu sudah sebulan yang lalu."


Amelia kembali teringat pada mimpi buruknya yang menakutkan.


"Sebaiknya kau pulang dulu. Biarkan Inayah menenangkan fikirannya dulu di sini."


Lukman yang sedari tadi berwajah bengis perlahan melunak dan memberikan saran pada adik iparnya yang sudah bonyok wajahnya kena hajar.


"Baiklah. Aku titip Inayah ya Mbak, Mas! Aku permisi pulang dulu. Lusa aku kembali ke sini."


"Iya. Hati-hati di jalan!" kata Lukman lagi sembari menepuk-nepuk pundak Arthur sambil menarik nafas panjang.


"Dalam rumah tangga itu pasti ada cobaan. Semoga kamu selalu jadi suami penyabar dan penyayang istri, Mas Arthur!" ucap Amel mendoakan adik iparnya.


"Aamiin... Assalamualaikum."


"Waalaikum salam..."


Inayah yang sedari tadi menguping segera beralih ke jendela kaca kamar. Ia mengintai Arthur dari dalam dengan linangan air mata yang bercucuran.


"Mas... hik hik hiks... Semoga semua ucapanmu pada mas Lukman dan mbak Yu Amel benar. Aku masih merasa sakit karena kamu menutupi sesuatu dari Aku."


Inayah perlahan mulai tenang dan menyesali ucapannya yang dengan mudah bilang minta cerai.


Hatinya berjanji, lusa ketika Arthur datang kembali untuk menjemputnya, ia akan memeluk tubuh suaminya itu dan meminta maaf yang sebesar-besarnya.


Hatinya sedih, penyesalan memang selalu datang belakangan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2