Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 164 Arthur Yang Memegang Rahasia


__ADS_3

Pukul sembilan malam. Mobil Arthur terparkir di depan gerbang rumah.


Seperti hari kemarin, Inayah kembali memergoki Mia dan Arthur bersama lagi. Bahkan kini Arthur ikutan keluar dari mobil Alphard-nya.


"Mau ikutan masuk? Ternyata..., hubungan mereka semakin hari semakin dekat. Sepertinya..., Mak bakalan cepat lepas masa jandanya!"


Inayah bergumam dengan dirinya sendiri.


Krieeet...


Rama yang membukakan pintu karena mendengar juga suara Emak yang pulang dari kerjanya.


Hari ini Rama baru pulang dari daerah Pandeglang. Ia mendapat tugas dari Bimo melihat kompleks perumahan usaha Bimo yang disana.


"Mak."


Rama mencium punggung tangan Mia dan tersenyum tipis.


"Mas Arthur? Kalian ketemu dimana?" tanya Rama, tapi langsung disela Inayah yang hatinya panas terbakar cemburu. Pikirannya kalut hingga kali ini agak lepas kendali sebab merasa bisa meng-gap Arthur yang ada main dengan Emaknya dihadapan Rama. Inayah merasa tidak perlu mengadu ini itu, ini kesempatan bagus supaya Kakak lelakinya itu menilai hubungan Mia dan Arthur saat itu juga.


"Bukan ketemu dimana, lebih tepatnya sih kayak orang janjian! Iya kan, Mas Arthur?" ujarnya sambil mencium punggung tangan Mia yang sontak mengeryit bingung.


Arthur langsung menoleh ke arah Inayah. Ia agak lama berfikir. Tapi langsung tersenyum dalam hati, melihat wajah Inayah yang merah merona mendapati tatapannya.


Arthur langsung merangkul bahu Mia.


"Iya. Hehehe... kita memang janjian ya Mak?" tuturnya dengan senyuman lebar.


Inayah merasakan dadanya bergemuruh kencang. Seperti ada longsoran tanah dari hatinya yang gempa melihat kemesraan Arthur pada Mia.


Yang membuat Inayah makin hancur, Mia malah ikutan tersenyum. Dan tangannya merangkul pinggang Arthur. Patah hati Inayah. Seketika Ia tak bisa menahan diri dan berbalik arah masuk kamarnya melihat hal yang menyakitkan itu.


"Lah? Koq masuk kedalam kamar?" goda Arthur sambil tertawa lepas.


"Jangan ganggu terus Inayah, Mas! Dia... sepertinya lagi masa pubertas. Rada telat sih sebenarnya untuk anak perempuan jaman sekarang. Hehehe..." Rama ikut bicara.


"Hehehe... Ga apa koq. Itu normal-normal saja. Inayah manis kalau sedang merajuk. Beneran bocah ingusan banget. Hehehe..."


Rama tahu, Arthur menyukai Inayah. Tatapan mata Arthur yang dalam dan lembut bisa Rama rasakan meskipun bibirnya meledek adik perempuannya itu terus menerus.

__ADS_1


Rama juga tahu, Arthur memiliki strategi mendekati Emaknya terlebih dahulu. Karena Rama juga sefaham dengan Arthur untuk urusan me-mepet perempuan.


Tapi sayangnya dijaman sekarang, para perempuan justru tidak peka. Mereka lebih menginginkan cinta yang membara yang langsung ditujukan kepada mereka, bukan dengan jalur remaja tempo dulu yang sukanya mendekati orangtua terlebih dahulu.


"Emak mau ke kamar dulu ya Nak Arthur?"


"Iya, Mak! Arthur juga mau pulang sebentar lagi!"


"Iya. Ingat ya, pesan Emak tadi, Mas!" ujar Mia membuat Arthur tersenyum tipis.


Jujur, Arthur merasa terbebani oleh amanat dari perempuan yang sudah Ia anggap seperti ibunya sendiri itu.


Mia masuk kamar.


Ia terlihat sangat lelah dari raut wajahnya. Arthur menatap Mia sampai menghilang di balik pintu kamarnya.


"Ram...! Aku pamit ya?"


Rama mengangguk dengan senyum.


"Terima kasih banyak, Mas. Sudah mau mengantarkan Emak sampai rumah."


Rama sedikit bingung, Arthur menariknya hingga keluar dan mereka berada di teras rumah.


"Ram..., sebenarnya ada hal yang cukup serius yang ingin kudiskusikan sama kamu."


Deg.


Jantung Rama berdegup kencang. Ia merasakan ada hal yang kurang baik yang terjadi kepada ibundanya.


"Mas? Ada apa?"


"Nanti kuceritakan! Tapi tidak sekarang. Aku akan chat kamu nanti. Eits, jangan terlihat seperti mencurigai sesuatu atau bertingkah seolah kamu sedang mencari tahu tentang kabar apa yang akan kuberitahu, terutama pada Emak!"


"Apa ini menyangkut Emak?"


Arthur mengangguk.


Rama tertegun.

__ADS_1


"Ada apa, Mas? Emak kenapa?"


"Ssstt!!! Nanti kuceritakan! Saat ini Aku pasti sedang diawasi Emak! Aku juga dilarang menceritakan perihal ini pada kalian semua! Tapi Aku merasa ini bukanlah hal yang pantas untuk ditutupi!"


"Hal apa? Hal tentang hubungan kalian yang sudah semakin jauh?"


Arthur terkejut, Inayah sudah berada dibalik pintu rumah. Ternyata gadis imut itu mengintip dan menguping pembicaraan antara Arthur dengan Rama.


"Inayah!" tegur Rama mulai jengah dengan tuduhan adiknya itu.


"Memang benar khan? Karena Aku sudah beberapa kali memergoki kalian bertingkah aneh!" sungut Inayah sambil menatap tajam Arthur.


Kali ini tuduhan Inayah tak lagi bisa Arthur toleran.


Pria itu mendorong tubuh Inayah sampai tersudut ke dinding rumah.


"Bisakah kau berfikir positif sedikit? Bisakah untuk tidak membiarkan imajinasi liarmu berkembang semakin jauh hingga akhirnya kepribadianmu berubah negatif?"


Inayah tertohok.


Ditelannya air ludah agar dirinya kembali tenang karena api cemburu yang berkobar.


"Beliau adalah Emakmu sendiri! Rasanya sangat jahat jika kau berfikir seburuk itu pada beliau. Kalau Aku, sudah terbiasa difitnah dan dituduh yang bukan-bukan. Tapi Emak,... tidakkah kamu malu menuduh beliau ada main denganku?"


Arthur mengeraskan rahangnya. Terlihat sangat menyeramkan ketika dalam mode on serius.


Bahkan Rama sampai tak bisa berkata apa-apa selain membiarkan Arthur menekan Inayah agar tidak kejauhan menuduh kedekatan mereka.


"Ma_maaf..."


Arthur melepaskan Inayah dari intimidasinya dan bergegas pergi tanpa sepatah katapun.


Rama dan Inayah hanya bisa menatap Arthur tanpa berkedip sampai pria dewasa itu pergi dengan kendaraan mewahnya.


"Kamu sih!" seru Rama sambil menunjuk Inayah yang berbalik merasa bersalah.


Kini Ia menyesal karena telah sembrono menuduh Mia dan Arthur macam-macam.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2