
Tok tok tok
Tok tok tok
Soleh mengetuk pintu rumah Ojan di pukul dua malam.
Ia baru sadar kalau kedatangannya terlalu malam dan bisa saja menimbulkan banyak pertanyaan.
Untuk itu sebelum mengetuk pintu rumah, Soleh telah lebih dulu menchat Juriah dan mengatakan kalau Ia sudah ada di depan gerbang rumah Ojan yang bercat warna emas.
Jadi yang membukakan pintu tentu saja adalah Juriah.
"Mas!"
Soleh senang, Juriah langsung menubruknya dengan derai air mata.
"Sudah. Aku langsung pulang kan? Ini bukti kalau Aku mencintaimu Juriah Sayang!" ujarnya singkat tetapi mampu membuat Juriah tersenyum manis meskipun matanya terlihat sembab.
"Abi Umi ada?" tanya Soleh dengan suara dipelankan.
Juriah menggeleng.
Soleh menghela nafas lega.
Syukurlah. Bapak Ibu mertua belum pulang. Setidaknya mata panda Juriah tidak akan jadi perhatian dan pertanyaan nantinya.
Soleh segera merangkul bahu Juriah yang sedang mengunci kembali pintu rumah.
Soleh mengangkatnya untuk bermain-main sekedar menghilangkan rasa kesal sekaligus sedih karena keributannya dengan Amelia.
Juriah terpekik kaget, tapi senang.
Mereka bercanda masuk ke dalam kamar.
"Dasar ya perempuan cantik ini!" gumam Soleh mulai merayu istri mudanya yang memang imut menggemaskan.
"Aku kenapa?" tanya Juriah pura-pura bodoh. Namun senyum liciknya mengembang.
"Kamu sengaja ya, buat aku gak bisa tidur sampai langsung tinggalkan Amelia dan meluncur karena kangen yang tak terbendung. Belum lagi setelah kudengar suara paraumu yang pastinya habis menangis. Bikin hati ini merasa bersalah!"
"Siapa suruh Mas matikan ponsel dan membuat Aku jadi berfikiran aneh-aneh! Kamu tuh yang dasar, Mas!"
Juriah balik mencerca Soleh dengan canda.
Mereka bergumul di atas ranjang. Dengan tubuh menggeliat tetapi tawa kecil bergaung dan senyuman menghias bibir.
Juriah bahagia, Soleh pulang pukul dua dini hari dan langsung mengajaknya tempur.
__ADS_1
Sebagai seorang istri muda, Juriah makin percaya diri dan mengakui kalau Soleh sudah mulai bucin padanya.
Ada sisi hati egois yang ingin diakui kalau dia jauh lebih berharga dari Amelia yang usianya jauh lebih tua darinya.
Juriah jumawa, Soleh akan selalu ingin bersamanya. Padahal baru seminggu saja mereka menikah tetapi dia sudah mampu menarik Soleh pulang padahal sedang berduaan dengan Amelia.
Jejak-jejak tanda yang dibuat Soleh di ceruk leher, dada kiri kanan atas bawah hingga kedua pangkal paha Juriah menjadi gaya baru yang Soleh torehkan di hati istri mudanya juga.
Juriah semakin cinta pada Soleh.
Dia memeluk erat tubuh Sang Suami yang tertidur pulas karena kelelahan bercinta hingga tiga kali padahal hari menjelang pagi.
Azan Subuh berkumandang. Keduanya teruskan lelap hingga siang. Sungguh nikmat pasangan suami istri yang masih pengantin baru itu.
.............
Amelia sholat Subuh lebih lama dan lebih khusu' lagi. Ia berdoa pada Allah Ta'ala agar Sang Suami diberikan kesadaran dan kembali ke jalan yang benar.
Amelia sadar, tujuan mereka sudah jauh menyimpang. Walaupun memang ada niat baik untuk membahagiakan orang tuanya dan mengurangi beban hidup yang menghimpit mereka karena memiliki hutang puluhan juta kepada Pak Ojan Bapaknya Juriah.
Amelia kembali mengingat awal pangkal permasalahan hingga akhirnya suaminya itu mengambil jalan poligami. Kedua mertuanya juga menjadi orang yang paling berperan hingga Soleh bisa menikahi Siti Juriah.
Selesai sholat Amelia mendapat kekuatan. Siang ini Ia akan datang ke rumah Mariana dan Anta.
Tujuannya jelas, ingin berdiskusi serius dan menceritakan keinginannya agar Soleh menceraikan Juriah.
Walaupun Ia sudah bisa menebak bakalan menerima cacian yang lebih parah dari yang pernah Amelia dapatkan sebelumnya. Tetapi demi untuk menyadarkan kedua orang tua Soleh, Amel merasa wajib mengingatkan mereka.
Amelia ingin Suaminya kembali seperti dulu lagi. Pria baik hati yang jujur tulus mencintainya dan pria yang bertanggung jawab serta pekerja keras.
Sebelas tahun kurang Ia bersama Sang Suami, Amelia merasa sudah sangat mengenal karakter Soleh.
Dulu Soleh tidak terlalu menghamba uang. Dulu suaminya itu tidak suka melihat kaumnya yang sering menebar cinta sesuka hati apalagi jika sudah beristri.
Tapi kini, keadaan ekonomi yang lemah membuat hati Soleh jadi rentan dengan cobaan.
Sebagai seorang istri, Amelia merasa wajib mengingatkan Soleh agar kehidupan mereka kembali stabil dan tenteram seperti dahulu.
Walaupun hidup seadanya, tetapi hati Amelia bahagia. Tidak seperti sekarang ini. Hatinya gelisah, suaminya mendua demi inginkan sesuatu yang menurut Allah belum waktunya.
Kini hati Amelia telah bulat.
"Apa? Minta tolong bantuannya bilang ke Soleh biar segera ceraikan Juriah? Hahh? Kamu kenapa? Mulai ngerasa kesepian padahal baru seminggu saja Soleh tinggal di rumah istri mudanya!? Ck ck ck dasar lebay!"
Amelia sudah menerka, Mariana pasti akan meresponnya seperti sekarang ini.
"Kamu kenapa, Amel? Bukannya Soleh baru saja pulang kemaren? Kenapa sekarang kamu malah berkelakuan kayak begini?" Anta turut serta berkomentar.
__ADS_1
"Ada apa, Mbak? Diawal-awal Mbak yang mengizinkan justru sampai hadir di KUA turut menyaksikan ijab kabul Bang Soleh dengan Juriah. Sekarang Mbak inginkan Bang Soleh cerai padahal baru seminggu lebih. Kalau sampai itu terjadi, apa kata keluarga Juriah, Mbak? Terus...kata tetangga juga pastinya. Kita semua bakalan dapat predikat buruk dimata semua orang, Mbak! Menurut Lani, sabarlah dulu, Mbak!"
Amelia menatap Lani.
Bahkan adik bungsunya Soleh yang dulu kurang mendukung pernikahan kakaknya dengan Siti Juriah pun memberikan saran kepada Amelia seperti itu.
Memang ada benarnya juga.
Di awal justru Amelia sendiri yang memberikan izin dan mendukung pernikahan. Tapi sekarang, dia mulai sadar kalau pernikahan yang dilandasi oleh niat buruk justru berimbas pada kehidupan mereka kedepannya.
Amelia takut akan karma.
Karma dari perbuatan sendiri, pasti cepat atau lambat akan datang menghampiri.
Amel hanya ingin semuanya menyadari.
"Ibu, Bapak, Lani...! Abang Soleh punya rencana buruk. Hanya akan menikah dengan Juriah selama tiga tahun saja. Setelah itu, Bang Soleh akan menceraikannya. Andaikan sampai memiliki anak, akan dibawa dan diurus. Saya takut, segala sesuatu yang diawali dengan niat jahat akan berimbas pada kehidupan Bang Soleh dan keluarga yang mengetahui. Allah Maha Melihat. Allah tidak tidur. Saya hanya tidak ingin kita kena azab, Bu, Pak!"
Plak.
Amelia menahan rasa pedas dipipinya.
Mariana baru saja menampar Amelia hingga suami dan putri bungsunya termangu menatap keberaniannya.
"I_ibu?"
"Makanya kalo ngomong itu hati-hati! Kenapa kau mengharapkan kita semua kena azab! Anak tol+l! Dasar b+doh! Apa kau tidak pernah diajarkan kedua orang tuamu untuk berkata yang baik dan sopan terlebih kepada mertuamu!? Hah?!?"
Mariana sewot mengoceh dengan emosi tingkat tinggi.
Lani menunduk. Kasihan juga Ia pada Amelia. Akhirnya Ia menuntun Amel masuk ke ruang tengah.
"Mbak! Mbak, maaf ya... Ibu sampai menampar."
Lani memberikan Amelia lotion untuk diusapkan di pipi kakak iparnya itu yang memerah dan mulai berbayang gambar tangan ibunya.
"Mbak terlalu terburu-buru mengatakan keinginan. Sabarlah dulu. Biarkan Bang Soleh yang mengambil keputusan. Lani yakin, Bang Soleh jauh lebih mengerti maksudnya. Percayalah, Abang akan bisa seimbang antara Mbak dengan Juriah. Ya mungkin saat ini kan mereka baru saja menikah. Masih ingin saling mengenal satu sama lain. Jadi porsinya pasti lebih banyak bersama Juriah, Mbak!"
Amelia tidak menjawab. Matanya merah menahan tangis. Pipinya kini mulai jelas tergambar lima jari kanan Mariana yang baru saja Ia terima.
Jatuh perlahan air matanya.
"Lani...! Bagaimana perasaanmu kalau Tito yang ada diposisi Bang Soleh?"
Lani melongo. Diam namun seketika mendengus kesal.
"Kenapa Mbak jadi seperti sekarang ini? Jadi labil dan menyumpahi semua orang!" jawab Lani dengan ketus dan berjalan keluar meninggalkan Amelia yang terisak di depan meja makan.
__ADS_1
Amelia sedih. Bahkan Lani pun ternyata salah faham kepadanya.
BERSAMBUNG