Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 166 Terus Berjalan


__ADS_3

Berpura-pura sebagai orang yang tidak mengetahui keadaan Mia adalah satu hal yang menyiksa bagi Rama. Apalagi setelah Ia menatap wajah perempuan yang melahirkannya 29 tahun yang lalu.


Sesak rasanya, berusaha tegar dihadapan Mia dan dua adiknya yang masih belum dewasa secara usia.


Berbeda dengan Mia.


Hari ini Mia tidak pergi keluar rumah. Semalam Ia menggigil kedinginan padahal suhu tubuhnya tinggi sampai mencapai 29 derajat Celcius.


Fanny sendiri mengatakan kalau Ia baru akan pulang besok Subuh dari Singapura bersama Bimo.


Fanny bilang, Mia bisa istirahat karena Ia juga sudah punya asisten pribadi yang menghandle semuanya jika Mia dan dia sedang tidak bisa datang ke lahan perkebunan organik mereka.


Mia sedikit lebih lega. Ternyata Ia bisa bolos kerja untuk beberapa hari, memulihkan kembali kondisi kesehatannya yang agak drop sejak pulang dari rumah sakit dan tahu penyakit yang dideritanya.


Mia merasa kalau Ia begitu karena sugestinya yang melemah karena tahu dirinya sebentar lagi akan mati.


Semalaman Ia tak bisa tidur.


Setiap kali terbangun, seperti ada Kan'an berada di sekitarnya. Memperhatikannya dengan senyuman, membuatnya jadi tidak merasa kesepian.


Anak-anaknya tidur di kamar masing-masing. Bahkan Inayah, sejak pindah dari kampung ke rumah besar milik mertuanya Amelia itu kini lebih senang mengurung diri di kamar indahnya.


Mia lebih sering sendirian jika di rumah. Ada untungnya juga Ia menyetujui kerjasama dengan Fanny. Setidaknya ada kegiatan baru yang bisa menghilangkan kejenuhan dan membunuh rasa sepinya.


Hari kedua, badannya agak lebih enakan dari yang kemarin. Mia memasak nasi goreng setelah selesai sholat Subuh untuk sarapan pagi ketiga anaknya yang masih satu rumah.


Rama sudah duduk di depan meja makan, menunggu Mia yang masih sibuk di belakang kompor. Anaknya yang masih membujang meskipun sebentar lagi akan berusia 30 tahun itu tidak banyak berkata-kata. Hanya ekor matanya yang menatap Mia dengan perasaan bergejolak campur aduk.

__ADS_1


Gaga keluar kamar. Ia telah rapi dengan seragam sekolah putih birunya. Juga duduk di samping Rama.


Tak lama, Inayah juga keluar kamar. Juga terlihat sudah rapi hendak pergi ke kampus karena ada kelas pagi.


"Mak, Inayah berangkat ya?" kata Inayah dengan suara datar dan terdengar dingin.


Seketika kedua bola mata Rama mendelik.


"Duduk! Sarapan dulu! Emak sudah capek-capek buatkan nasi goreng!" bentaknya sambil melotot ke arah Inayah.


"Aku harus buru-buru, Mas!" sela Inayah.


"Hargailah Emak! Makan dulu! Siapa suruh kamu bangunnya kesiangan!"


Inayah memajukan bibirnya. Namun Ia menurut juga perintah Kakak laki-lakinya yang galak menakutkan kalau sedang badmood.


Mia tersenyum.


Ia memprioritaskan Inayah dan memberikan porsi nasi sedikit lebih dahulu pada gadis imutnya itu tanpa bicara.


"Mak, aku mau nasi goreng yang banyak."


Mia tersenyum lebar. Sudah dua hari ini Rama selalu makan apapun yang Ia masak dengan sangat nikmat bahkan banyak diluar kebiasaannya. Padahal, kadang Rama lebih sering makan di restoran Amelia daripada makan di rumah. Tapi akhir-akhir ini, Rama seperti suka sekali menghabiskan masakan Mia hingga tak ada makanan sisa di malam hari.


Rama juga seperti sedang ogah kongkow-kongkow di luar.


Pulang kerja, selalu menemui Mia jika sedang ada di resto. Atau pulang ke rumah di daerah Bogor lebih dahulu bahkan sebelum Mia pulang.

__ADS_1


"Lagi suka makan di rumah ya?"


"Lagi seneng makan masakan Emak."


"Hehehe..., sepertinya, ada tanda-tanda akan segera melepas masa bujang nih!" goda Inayah membuat Rama tertunduk.


Bukan, Mak! Belum. Belum ada. Tapi Aku sedang menikmati momen, membuat banyak kenangan karena selama ini Aku sangat jauh darimu, Mak! Hhh... Andaikan saja bisa kita bertukar takdir. Aku lebih ridho menerima penyakit yang Emak derita daripada harus perlahan melihat Emak melemah, merapuh, dan... pergi tinggalkan kami.


Rama menyusut titik air mata yang jatuh di ujung kiri. Ia tak ingin terlihat cengeng. Juga tak ingin Mia tahu, kalau dirinya sudah mendengar kabar penyakitnya dari Arthur.


Siang ini, Arthur bersedia menemani Rama menemui Amelia dan Lukman untuk menceritakan kondisi kesehatan Mia.


Setelah Amelia, baru Tia, lalu Inayah dan Gaga.


Butuh kekuatan luar biasa untuk Rama memberitahukan keadaan Mia pada saudara-saudaranya.


Rama meminta bantuan Arthur.


Minggu depan Arthur akan sibuk pergi ke luar kota, ke Bali tepatnya. Ia akan sangat sibuk beberapa bulan kedepan untuk proyek film terbarunya.


Bahkan film yang Arthur garap kali ini membawa pesan moral yang cukup besar untuk para pasangan suami istri yang sudah menikah lama dan sedang diguncang prahara bernama kebosanan.


Istri Muda Untuk Suamiku, akhirnya berhasil memulai syuting meskipun bukan Amelia pemeran utama wanitanya.


Arthur gagal menarik Amelia menjadi artisnya. Tapi, Ia bahagia, Mia berhasil juga Ia taklukkan dalam memberinya izin mendekati Inayah.


Arthur diam-diam juga sudah menchat imam masjid Istiqlal untuk ikrar pengucapan dua kalimat syahadat dan dua hari lagi dia akan resmi menjadi mualaf.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2