Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 73 Soleh Dan Keinginannya


__ADS_3

"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam."


Seketika bola mata Amelia menatap nanar sosok tubuh pria yang berdiri tegak di depan rumah orangtuanya.


Pukul tujuh pagi, tapi dirinya sudah mendapatkan tamu yang tak diundang. Dan tamu itu adalah Solehudin.


Ingin sekali Amel mengusir pria itu mentah-mentah jika tak ingat adab etika dan sopan santun.


"Siapa, Mel?"


Mia ikut terkejut setelah mengetahui kedatangan tamu di pagi hari ini.


"Soleh?"


Pria itu langsung bergegas menghampiri Mia dan mencium punggung tangannya.


"Mak!" sapanya dengan suara lirih.


Amel melengos, mulai menerka kalau Soleh hanya bersandiwara sedih saja.


Entah mengapa, rasa illfeel-nya semakin menjadi setiap melihat wajah pria tampan yang dulu begitu Ia puja. Semua tak lagi sama seperti dahulu.



"Silahkan duduk, Nak!"


Mia masih berbesar hati menerima mantan menantunya itu bertamu.


"Saya turut berbelasungkawa. Seperti mimpi, dua pria yang sangat saya kagumi dan hormati telah tiada. Bapak juga sebulan yang lalu meninggal dunia."


Amelia menatap Soleh tak percaya.


"Pak Anta sudah meninggal dunia?"


"Iya, Mak! Saya juga masih tidak percaya. Bapak meninggal dunia di kolam renang taman kota. Serangan jantung kata dokter yang memeriksanya."


"Innalilahi wa innailaihi rojiuun."


Mia ikut sedih dengan menghela nafas.

__ADS_1


"Buatkan minum, Nduk!" ucap Mia pada Amel.


"Tidak usah, Mak! Saya sudah minum kopi tadi di rumah!"


Amelia tidak bereaksi. Tidak menolak juga tak mengiyakan. Bibirnya terkatup dengan wajah datar dan dingin.


"Mak..., saya minta maaf!"


"Sudahlah. Jangan bahas masalah yang telah lalu. Masalah kalian yang sudah tidak lagi berjodoh, bukan berarti kita harus menjadi musuh, bukan?"


"Saya ingin melamar Amelia lagi. Saya ingin kembali rujuk dengan Amel."


"Apa yang membuatmu jadi seperti ini, Bang?" tukas Amelia ketus.


"Nak, pernikahan itu bukanlah suatu mainan. Bisa cerai-rujuk, lalu cerai lagi. Tidak bisa seperti itu dan tidak boleh berbuat seperti itu!"


"Mak, dia sudah menikah lagi. Untuk apa dia inginkan diriku. Untuk mengurus hari tuanya setelah dia dengan percaya dirinya memilih menikahi perempuan yang jauh lebih muda, lebih cantik dan anak juragan kaya raya pula!"


Wajah Mia terlihat berubah.


"Sudah menikah lagi?" tanyanya dengan nada suara ditekan.


"Stop, Bang! Selagi Aku dan keluargaku masih bersikap sopan padamu, jangan menyiram cuka di hatiku yang luka!"


"Bang Soleh? Mau apa Abang ke sini?"


Tia yang baru pulang dari pasar langsung berkomentar sengit melihat Soleh yang tengah duduk bersama Emak dan Kakaknya.


"Sebaiknya pulang, dan jangan pernah menginjakkan kaki di rumah butut ini lagi! Pergilah. Pergilah selagi kami masih bersikap baik."


Tia marah sekali. Wajahnya memerah memendam rasa emosi.


"Tia...! Jangan seperti itu pada tamu. Biar bagaimanapun, kita tidak boleh kasar apalagi sampai menghardik orang yang datang bertamu ke gubuk kita!"


"Mak, dia datang pasti ingin menghina Mbak Yu' lagi! Dia dan keluarganya telah menghina Mbak Yu'! Bilang kita ini keturunan orang susah, Mbak Yu' gabug, perempuan pembawa sial, boros,"


"Stop, Tia! Bang, maaf jika Aku terkesan mengusirmu. Sebaiknya kamu pergi saja sebelum Tia terus mengatakan hal yang makin jauh lagi!"


"Mel..., bisakah kita berbincang empat mata?"


"Hei laki-laki tidak tahu diuntung! Kakakku tidak akan bisa kamu ganggu lagi kehidupannya! Tidak ada yang boleh berkomentar pedas meskipun itu adalah orang tuamu sendiri! Perempuan itu dinikahi untuk dihargai dan dihormati! Bukan diinjak-injak sesuka hati karena alasan yang tidak jelas! Kamu pikir kami akan tinggal diam jika sampai kamu berbuat hal yang menyakitkan hati Kakakmu?"

__ADS_1


"Pergilah, Bang! Sudah, Tia, sudah! Malu sama tetangga!"


"Aku tidak malu, Yu'! Harusnya pria ini yang malu! Bukan kita!"


"Tia, sudah. Sudah, Nduk! Jangan tambah permalukan Kakakmu dengan suara kerasmu itu."


Amelia mendorong tubuh Soleh keluar rumah.


"Maaf..., diantara kita sudah tidak ada hubungan apapun. Aku turut berdukacita atas wafatnya Bapakmu, semoga beliau mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah Ta'ala!"


Bruk.


Amelia menutup pintu rumahnya. Tinggalkan Solehudin yang termenung menyesali diri.


Sementara Tia juga diajak masuk Mia kedalam kamar. Berharap putri ketiganya itu segera tenang dan melunak.


Amelia duduk di sofa ruang tamu dengan mata beriak. Hatinya hancur, keluarganya telah mengetahui keadaan diri yang hancur berantakan atas kejadian yang terjadi dalam rumah tangganya.


Sesakit ini ternyata ketika keluarga sampai turut serta merasakan kesedihan yang kurasa. Ya Tuhanku, tolong angkat kesedihan ini! Kumohon tolong angkat dan berikanlah kebahagiaan untuk keluargaku. Terutama untuk orang tuaku yang kini tinggal satu. Hik hik hiks... Sedari dulu, bahkan sampai kini. Aku belum bisa memberikan yang terbaik untuk mereka selain kesedihan dan kesedihan. Ya Allah ya Tuhanku, kumohon angkatlah penderitaan ini. Setidaknya setelah kepergian Bapak, Aku ingin memberi Emak bahagia!


...............


Soleh termenung sepanjang perjalanan.


Niatnya untuk berta'ziah dan minta maaf kepada keluarga Amelia justru sebaliknya. Keluarga mantan istrinya terutama adik iparnya sangat marah. Membuat Soleh semakin sedih hati tersadar dengan apa yang telah Ia perbuat.


Apa yang dikatakan Tia memang benar. Kedua orang tuanya terlalu membenci Amelia. Tetapi hatinya selalu merindukan cinta dan kasih sayang mantan istri pertamanya itu meskipun ada Juriah yang menggantikan posisi Amelia kini.


Apalagi setelah melihat wajah Amelia yang semakin cantik meskipun usianya sudah kepala tiga.



Wajah Amelia kian berkilau, bersih dan bersinar cantik jelita. Tidak seperti saat masih bersamanya, Amelia justru terlihat kusam karena jarang dandan.


Kini Amel justru sebaliknya.


Sekilas terasa jauh perbedaannya.


Dan hati Soleh semakin tertancap dalam inginkan kembali membahagiakan Amelia.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2