Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 219 Hari Bahagia Siti Juriah Part Tiga


__ADS_3

"Victor, apa kau belum mengucapkan sumpah janji suci?" tanya Arthur yang baru saja datang menemui Victor di ruangan make up.


"Ijab kabul maksudmu?" Victor balik tanya.


"Ya."


"Tinggal tiga jam lagi, man!"


"Hm. Sebaiknya batalkan saja!"


"Hei?! Are you crazy? Gila!!! Itu perbuatan gila! Mempermalukan diri sendiri!"


"Daripada ujung-ujungnya kau bercerai juga dari perempuan itu. Lebih baik kau ikut aku ke Sana Fransisco."


"No, thanks! Aku sudah melangkah sejauh ini. Dan aku yakin dengan langkahku, Arthur!"


"Hm. Payah!"


"Kau yang payah! Kau egois dan baru' karena tidak mau mendengarkan penjelasan semua orang termasuk Aku."


"Untuk apa? Toh penjelasan kalian semua tidak ada yang masuk akal!"


"Itu kau masih hilang sebagian ingatan! Bersabarlah! Terima saja pelayanan Inayah dan kau akan merasakan betapa cinta kalian itu begitu kuat! Andai kau tahu, seberapa gigihnya aku dulu ingin memisahkan kalian. Hingga akhirnya aku luluh oleh ketulusanmu pada Inayah dan kini aku justru ingin seperti dirimu. Hidup tenang, mendapatkan keberkahan dari Allah."


"Allah? Tuhanmu itu? Mana? Mana coba kulihat? Mana Dia?"


"Arthur!!! Andaikan saja saat ini kita hanya berdua dan aku bukan seorang mempelai pria yang akan jadi raja sehari, sudah kutampar mulut busukmu itu!"


"Hahh!?! Ya sudah. Tampar Aku!"


"Kau akan menyesal sekali ketika kau tersadar nanti, Thur!"


"Aku tidak ingin tinggal di negara yang penuh dengan drama ini. Aku akan pulang ke kampung halaman ku."


"Kurasa, orang tuamu juga tidak inginkan kau jadi pecundang!"

__ADS_1


"Mereka tidak setuju pun aku bisa jalan sendiri! Toh aku ini sudah terbiasa hidup tanpa mereka juga selama ini. Aku akan pulang kepada Bianca. Menikah dengannya dan kami hidup bahagia selamanya. Happy ending."


"Arthur..."


"Aku akan bawa Pupu. Bianca pasti terbaru dan akan memilihku yang telah berhasil merawat dan menjaga buah hati kami ketimbang suami tentaranya yang gila perang. Kita akan menikah dan membangun Production House di sana. Membuat film-film yang laris di pasaran!"


"Ck ck ck... Kau semakin kelewatan! Benar-benar makhluk yang keras kepala karena masih saja memikirkan masa lalumu yang sudah lama usai! Istrimu yang sah sedang mengandung. Bianca bukan siapa-siapamu, Arthur! Kehidupanmu ada di negara ini! Bahkan popularitasmu, sebagai seorang sutradara dan produser indie kau cetak di negara ini! Produksi film es+k-es+k sudah kau tinggalkan empat tahun lalu! Seiring kau juga meninggalkan aku! Apa kau ingat? Untuk apa kau ingin tinggal di sana?! Bahkan sudah tiga tahun pula kau memilih menjadi warga negara Indonesia setelah sekian tahun kita harus bolak-balik ke kedutaan mengurus perpanjangan dokumen KITAS kita sebagai anak campuran warga asing yang memiliki dua kewarganegaraan!"


Arthur merengut. Ia menepiskan tangan.


"Susah bicara denganmu!"


"Idem!"


"Oke, bye! Aku akan pergi dan tak akan kembali lagi! Jaga dirimu baik-baik, Victor Valdes!"


Arthur pergi berlalu. Meninggalkan Victor yang termangu melihat kembalinya sang sahabat yang dulu begitu ia puja.


Entah mengapa, Victor kini muak melihat tingkah Arthur yang seperti ini. Padahal dulu dengan tingkah Arthur yang ini, dirinya seperti melihat kekuatan dewa. Dan mengekor Arthur kemanapun Ia pergi karena jatuh cinta pada ketegasannya.


"Sayang..."


"Sayang..."


Keduanya saling berangkulan dalam diam.


Tak ada yang bisa mereka lakukan. Mencoba menyadarkan Arthur dari ketidakberesan otaknya teramat sulit. Mereka sudah berusaha. Tapi tidak membuahkan hasil.


"Semoga mas bule segera ingat pada Inayah."


"Aamiin..."


"Yuk, kita keluar! Tamu-tamu menunggu. Pak penghulu juga sudah datang."


"Yuk."

__ADS_1


Victor tersenyum manis. Berbeda dengan Juriah yang justru terlihat tegang.


"Kenapa? Koq wajahmu gitu?"


"Aku takut kamu salah ucap, Mas!"


Victor menjawil dagu Juriah.


"Percayalah. Aku adalah pria yang serius dan tidak suka setengah-setengah dalam mencinta. Dan aku akan jadi laki-laki paling hebat dalam hidupmu."


Sontak Juriah memeluk Victor erat.


"Hei, hei! Kita belum sah lho ini! Jangan dulu minta adegan ranjang, sah dulu baru kita gaskeun. Hehehe..."


Juriah tersipu. Victor adalah pria yang paling sempurna dimatanya. Tampan, mapan, humoris dan menyenangkan.


Mereka saling tatap dengan mesra.


"Tolong jangan lepaskan tanganku sampai aku tua dan mati nanti ya mas?"


"Enggak kebalik tuh? Hm? Aku yang harusnya ngomong begitu, Sayangku. Karena kamu pastinya akan banyak kumbang yang datang ingin menghisap madu. Aku, cuma kumbang tua yang tak punya taji yang bisa sewaktu-waktu kau ganti dengan kumbang lain."


"Mas! Jangan bilang begitu! Jangan ngajak berantem dulu sementara kita belum sah jadi suami istri!"


"Hahaha, iya juga ya! Ayo, ayo, jadi suami istri dulu baru kita berantem ya Sayang?!"


Keduanya tertawa. Bahagia dan berusaha selalu bahagia.


Masa lalu, hanyalah masa lalu.


Jangan diingat lagi.


Tetapi, jadikan masa lalu patokan agar tidak lagi mengulangi kesalahan.


Keduanya ingin melangkah ke depan. Membuka lembaran baru dengan cahaya cinta penuh keberkahan.

__ADS_1



BERSAMBUNG


__ADS_2