Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 87 Samsiah Dengan Kegilaannya


__ADS_3

Samsiah panik karena Putri tunggalnya telah mengetahui perselingkuhan yang Ia lakukan dengan berondong manis yang tak lain adalah suaminya Lani, adik perempuan Solehudin.


Wanita paruh baya itu langsung bergegas pergi meninggalkan kota tempat tinggalnya tanpa pamit apalagi izin Ojan yang masih tertidur pulas di atas ranjang besarnya.


Tito mengantarkan dirinya ke toko butik setelah sempat terjadi sedikit perdebatan di rumah Tito disaat Lani sedang semaput pingsan.


"Ayolah, kita kabur bersama. Aku punya uang di tabungan seratus juta. Barang-barang berharga jika kujual bisa mencapai seratus juta. Total kurang lebih dua ratus juta, Tito! Cukup untuk kita memulai hidup baru berdua. Bukankah kamu juga sudah bosan dan jengah dengan tingkah Lani yang hanya inginkan uang dan uang saja? Kita bisa memulai semua dengan uang tabunganku di kota lain. Kita menikah!"


Tito yang tak percaya Samsiah benar-benar, ingin mengajaknya kawin lari itu hanya melongo saja.


Tentu saja Tito berfikir seribu kali untuk melakukan hal bodoh itu.


Kabur bersama Samsiah? Meninggalkan keluarganya yang Ia bangun susah payah dari nol?


Tito tidak segila itu juga. Meskipun Samsiah mengiming-imingi uang tabungan yang banyak.


Walaupun begitu, Tito masih tidak rela untuk meninggalkan Samsiah juga. Karena dirinya masih membutuhkan banyak uang untuk anak istrinya. Apalagi kini Cia sedang di rawat di rumah sakit.


Tito harus bisa melunakkan kembali hati Samsiah. Menghiburnya agar sedikit bersabar sampai waktu untuk mereka benar-benar bersama tiba.


Tentu saja itu hanyalah omong kosong yang Tito lontarkan.


Tidak mungkin baginya memilih Samsiah yang jelas-jelas nyaris seumuran Ibunya.


Cintanya mentok pada Lani seorang.


Bahkan demi Lani juga, Ia rela menjual diri dan juga martabatnya sampai seperti keset kaki diinjak-injak.


Demi perempuan yang kini menjadi istrinya. Demi bahagian dia. Demi untuk sebuah senyuman dan kehangatan yang Tito dapatkan dari Lani seorang.


Apalagi kini ada malaikat kecil yang telah hadir diantara mereka. Felicia Saputri.


Walaupun Ia sempat keceplosan pada Samsiah kalau dirinya lelah dijadikan sapi perah terus menerus oleh istrinya tercinta itu. Tapi demi Lani, Tito rela. Tito bersedia korbankan jiwa raga asalkan Lani selalu tersenyum bahagia.


"Sayangku...! Terlalu dini jika kita kabur sekarang! Lagipula keadaannya sekarang sedang tidak kondusif juga. Anakku sakit dan sedang dirawat. Aku takut sekali kalau Cia nantinya benci dan menyumpahi kita dikala dewasa nanti. Cinta kita masih punya banyak waktu. Bersabarlah!"


"Bagaimana bisa sabar, To!? Lihat ini! Lihat!"


Lagi-lagi Samsiah membuka atasannya hingga terpampang kulit tubuhnya yang merah kebiruan karena kekerasan fisik yang Ojan lakukan semalam.


"Sini, Aku olesi obat luka!" Hanya kalimat itu yang bisa Tito lontarkan sebagai penghiburan untuk Samsiah.


Ojan memang sudah gila.


Otaknya jadi miring karena stres berkepanjangan memikirkan dirinya yang kian rusak wajah dan tubuhnya.


Donor mata masih belum ada kabar juga. Sementara tulang kakinya mulai rusak permanen membuat langkahnya menjadi ringkih tertatih-tatih.


Belum lagi melihat wajah istri yang semakin cantik awet muda. Juga dandanan Samsiah yang membuat hatinya resah.


Ojan semakin menggila.


Tito sejujurnya kasihan melihat Samsiah.


Enam bulan bekerja dengan wanita itu, sedikit banyak ada rasa sayang juga yang timbul. Apalagi Samsiah sangat baik kepadanya. Memberikan apapun yang Tito inginkan walaupun hanya sekedar percakapan candaan.

__ADS_1


Seperti tempo hari. Setelah bercinta Tito dan Samsiah mengobrol di atas ranjang penginapan di pinggir kota.


"Motorku mogok terus beberapa hari ini."


"Bawa ke bengkel Abangmu. Bilang, Aku yang suruh. Ga perlu bayar. Cukup bikinkan tagihan ke Juriah. Nanti dia yang ganti pake uang kontrakan."


"Hhh... Motor tua, Bu!" keluh Tito.


"Biarpun motor tua, tetap harus dirawat. Justru harus semakin rajin merawatnya. Sama seperti orang juga. Makin tua harus semakin disayang. Hehehe..."


Saat itu Tito tertawa dan langsung merangkul Samsiah yang masih polos tanpa busana.


"Aku mau ganti motor baru. Tapi nanti kalau sudah punya uang."


Samsiah memeluk pinggul Tito hingga tubuh mereka menempel erat.


"Lusa kita beli. Aku harus buat alibi dulu, ambil uang dari mas Ojan!"


"Ga usah, Bu! Kan Aku bilang nanti. Bukan sekarang atau pun lusa."


"Jangan khawatir. Kita bisa beli sekarang juga kalau ada uang!"


Begitulah Tito dan Samsiah.


Terkadang dirinya benar-benar seperti seorang bocah yang sangat dimanja Samsiah. Namun tak jarang justru Samsiah yang seperti anak kecil merengek minta diberi kasih sayang dan perhatian.


"To!"


"Iya, Sayang?"


"Kata siapa?"


"Kataku lah!"


"Itu cuma perasaan Ibu aja. Apa aku pernah komplein? Pernah mencibir? Ga kan? Tubuh ibu adalah yang terbaik. Tubuh perempuan paling baik yang pernah Tito lihat."


"Beneran?"


"Iya."


"Perlu operasi ga? Oplas gitu. Bagian ini, bagian ini. Gimana?" tanya Samsiah dengan nakal sambil menunjuk ke arah dada dan BOK+ngnya.


Tito menggeleng.


"Yang asli lebih nikmat."


"Beneran?"


"Iya lah. Palsu, buat apa!? Ga boleh direm+s-rem+s sembarangan. Takut pecah jadi kanker."


"Iya juga sih. Tapi..., dibandingkan istri kamu. Pasti kamu lebih milih tubuh istri kamu."


Ya iyalah, Bu! Kata-kata yang aneh! batin Tito tetapi Ia justru mengatakan kebalikannya.


"Kata siapa?"

__ADS_1


"Kataku lah!"


"Buktinya, Aku malah lebih memilih tidur bersama kamu ketimbang Lani. Itu artinya apa? Silahkan artikan sendiri!"


Sontak fikiran Samsiah melambung terbang tinggi. Ia ge'er tingkat tinggi. Mengira cintanya Tito kini sepenuhnya untuk dirinya.


Tentu saja tidak.


Tito lakukan itu hanya untuk sebuah barter yang seimbang. Uang dan harta yang bisa Ia keruk.


Seperti Soleh mengeruk harta Samsiah dan Ojan lewat Juriah.


Cuma Soleh jauh lebih beruntung. Soleh menikah resmi dan istri mudanya jauh lebih muda dari umur Soleh. Sebuah keberuntungan yang harus dipertahankan.


Membuat Tito mencibir ketika mendengar Lani kalau Soleh curhat kan kesedihan menikahi Juriah yang jelas-jelas membawa keuntungan besar bagi hidupnya dan keluarganya.


"Selesai. Sini, biar kupeluk dulu. Hilangkan kesedihan yang mendera di hati Ibu. Kita harus kuat, kita tidak boleh lemah. Suatu saat kebahagiaan abadi yang akan kita dapatkan."


Tito menghibur Samsiah setelah mengoleskan salep ke kulit tubuh perempuan selingkuhannya itu.


Samsiah kembali menangis. Tapi kini jauh lebih tenang.


"Maaf, Bu! Aku harus kembali ke rumah sakit. Putriku tidak ada yang menungguinya. Ibu mertua katanya mau pulang dulu sementara Lani masih kutinggal di rumah karena pingsan."


"Iya, To. Hati-hati ya di jalan!?"


Keduanya saling menautkan bibir dengan cium++ hangat di dalam kamar pribadi khusus ruang kerja butik Samsiah.


Lambaian tangan Samsiah mengiringi kepergian Tito lewat kaca jendela.


Cinta membutakan mata serta hati perempuan paruh baya itu.


Cinta yang berlandaskan nafsu birah+ karena pubertas kedua.


Sungguh sangat disayangkan.


Jalan kehancuran kini adalah pilihan Samsiah.


.............


Pukul lima sore, Samsiah telah tiba di sebuah teluk tempat dukun yang menjadi guru spiritualnya.


Seorang perempuan yang sudah uzur tetapi masih terlihat segar dan bertubuh sintal menyambut kedatangan Samsiah di depan pintu rumahnya.


"Lama kamu baru kemari lagi, Samsiah!" sambutnya dengan kalimat ambigu.


"Ma_maaf Nyai. Kehidupan saya sedang diuji terus oleh Yang Maha Kuasa."


"Kau kesini pasti butuh pertolonganku. Ketika kau senang-senang, manalah ada ingat Aku!" sindir Nyai Dasima, wanita tua yang menjadi dukun kepercayaan Samsiah sejak sepuluh tahun lalu.


"Maaf, Nyai. Beribu-ribu maaf."


Hanya kalimat itu yang Samsiah ucapkan. Dan segepok uang dalam amplop coklat berhasil membuat Nyai Dasima tersenyum tipis lalu membiarkan Samsiah masuk ke dalam bilik tapanya yang dipenuhi barang-barang mistis perantara dirinya berhubungan dengan para makhluk halus.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2