Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 109 Rencana Lukman


__ADS_3

"Tasya, Tasya... Aku ada kabar gembira!" seru Amelia dengan riang gembira tatkala sudah sampai di teras kontrakannya.


Tasya dan Ziah yang sedang berleha-leha langsung bangun dari rebahannya di ruang tamu rumah kontrakan Amel.


"Ada apa, Mbak?"


"Dengar, kalian berdua. Kita akan pindah ke rumah kontrakan yang baru secepatnya. Mas Lukman berhasil menemukan tempat yang cocok untuk kita buka usaha!"


"Mas Lukman?"


Amelia tersipu. Ia melirik Lukman yang berada di sampingnya dan membuat Tasya tersenyum menyeringai.


"Hehehe..., ada apa Tas?" ujar Lukman menimpali.


"Hehehe..., ga koq Mas Lukman!" Tasya ikutan menggoda Lukman yang memerah wajahnya bak kepiting rebus.


"Jangan godain terus Mas Lukman dong, Tas! Ini berkat dia, kita bisa pindah dari sini. Mbak Ziah bisa ikut Aku. Kita tinggal sama-sama semuanya."


"Dimana, Mbak?"


Tasya dan Ziah kompak bertanya.


"Daerah pusat Ibukota. Sekitar setengah jam dari sini. Tempatnya strategis, uang kontrakannya juga dimurahin sama pemiliknya yang katanya mas Lukman itu adalah temannya!"


"Aku ga bilang teman, Mbak. Tapi Aku kenal pemiliknya dan udah tanya dan berhasil nego harga."


"Eh iya, maaf Mas! Kamu tahu harganya, Tas? Masing-masing unit dikasih harga enam ratus ribu per bulan! Murah kan?" ujar Amel menggebu-gebu menceritakannya.


"Murah banget! Kita disini aja kontrakan delapan ratus perbulan! Ini, enam ratus per bulan? Daerah strategis pula? Mau lah Mbak!"

__ADS_1


"Tuh kan, Tasya pasti mau juga, Mas! Cuma kemungkinan Diki yang agak repot ya? Harus bolak-balik kerja lebih cepat berangkatnya karena sekitar setengah jam dari sana ke konveksi."


"Dulu sebelum tinggal di sini, Bang Diki malah pulang pergi naik motor satu jam. Kalau tempatnya enak dan bisa untuk kemajuan usaha kita, toh apa salahnya berkorban sedikit!" cetus Tasya membuat Amelia lega.


"Tapi tetap kamu diskusi dulu sama suami. Biar bagaimanapun, Diki adalah kepala keluarga. Biar Diki yang ambil keputusan. Kalau Mbak Ziah, maaf, statusnya sama seperti Aku. Bisa ambil keputusan sendiri karena kami adalah janda."


Lukman menunduk mendengar perkataan Amelia yang menyedihkan.


Dalam hati kecil Lukman, Ia ingin segera mengubah status wanita yang Ia cintai itu menjadi istri dirinya.


"Iya, betul itu." Ziah ikutan komentar.


"Ada satu hal juga. Untuk biaya kontrakan kamu, Tas... Aku yang tanggung. Jadi Kalian tidak perlu memikirkannya karena ada gaji bulanan pastinya dari usaha katering kita yang bisa berkembang juga dengan buka restoran kecil-kecilan. Karena di depan rumah kontrakan kita, ada satu unit ruangan toko untuk usaha. Jadi dapur kita berdayakan juga dengan membuka warung nasi atau istilah kerennya restoran. Gimana?"


"Mbaak!!!"


Tasya langsung memeluk Amel.


Ziah ikut terharu.


Mereka bertiga saling menggenggam erat tangan dan tersenyum senang.


"Kita akan wujudkan semua mimpi kita yang seringkali kita ucapkan ketika masak berbarengan. Kita buka usaha restoran bersama. Usaha kita bertiga. Karena ini adalah kerja keras kita."


"Dan Mbak Amel sebagai pelopornya."


Mereka bertiga berangkulan.


"Aku akan setransparan mungkin untuk biaya pengeluaran dan pemasukan. Seperti biasa. Keuntungan bagi bertiga. Kita mulai dari bawah lagi dengan mencoba mengeluarkan tenaga dan fikiran lebih besar lagi."

__ADS_1


"Modalnya gimana, Mel? Mbak ga bisa tambahin karena memang gak punya tabungan."


"Ada teman Lukman yang usaha furniture. Kita bisa kredit semua barang untuk modal bergerak. Terus, Mas Lukman bersedia jadi donatur tetap juga karena punya tabungan. Jadi, kita usaha pinjam modal. Jadi keuntungan selain dibagi tiga, juga dibagi untuk bayar angsuran. Hehehe... semoga bisa terlunasi dalam waktu sepuluh bulan dan kita bisa menikmati hasilnya. Itu yang Amel fikirkan, Mbak!"


"Aku setuju, Mbak!"


"Aku juga. Sangat setuju!"


"Terima kasih, kalian sudah mempercayaiku. Kita bisa buka usaha bersama."


"Sebenarnya ini adalah usaha Mbak. Harusnya Mbak menikmati hasil yang lebih besar ketimbang kami. Modal awalnya juga milik Mbak. Kami cuma membantu tenaga saja!"


"Ga. Kalian adalah tiang pondasiku. Terutama kamu, Tas! Disaat Aku lemah, kala Aku jatuh, kamu dan Diki selalu ada dan siaga membantu. Kalian sudah seperti keluarga bagiku. Sungguh, Aku tanpa kalian entah apa jadinya!"


Amelia menitikkan air mata.


Ia merasa dunia gelapnya telah berlalu. Menjadi terang benderang dengan kekuatan yang ada dibantu orang-orang yang membuatnya tetap berfikir normal.


Lukman tersenyum. Ia hanya jadi penonton saja. Membiarkan Amelia memutuskan semua tanpa campur tangannya.


Lukman cukup mengamati dan membantu dari balik layar. Cukup melihat usaha Amel dari kejauhan namun tetap support sepenuhnya dari belakang.


Sebenarnya Lukman ingin membebaskan bayaran untuk kontrakan ruko yang barusan Ia perlihatkan.


Namun mengingat Amelia tidak mengetahui siapa pemilik ruko-ruko tersebut, Lukman mencoba memainkan drama.


Uang kontrakan separuh harga yang akan Ia pungut dari Amel nantinya pun akan Lukman berikan dalam bentuk suntikan dana. Dan Ia juga berbohong soal harga awal yang katanya satu juta dua ratus. Mamanya mematok uang kontrakan pertahun dua puluh lima juta rupiah. Bukan perbulan seperti yang Lukman bilang pada Amelia. Karena dia yakin kalau di nominal bayar pertahun, Amelia pasti langsung mundur tanpa ada keinginan pindah ke ruko itu.


Lukman juga tidak ingin Amelia kehilangan harga diri jika Ia mengaku sebagai anak pemilik ruko-ruko tersebut.

__ADS_1


Biarlah semua berjalan sesuai rencana. Perlahan setelah Amelia pindah dan buka usaha di sana, Lukman mulai bisa memikirkan hal yang lain. Yaitu melamar Amelia.


BERSAMBUNG


__ADS_2