Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 184 Langkah Arthur Handoko


__ADS_3

"Apa yang kau inginkan, Bianca? Apa kau belum puas menghancurkan masa laluku? Seumur hidup melajang, itukah Aku yang kau mau? Kau bilang cinta, sayang... sangat menginginkan aku tapi itu semua bulshiiit. Palsu belaka! Setelah akhirnya Aku bisa terbebas dari bayang-bayang dirimu yang begitu jahat membohongi Aku, kau... kembali datang dengan kepalsuanmu selanjutnya! Apa maumu?!?"


Arthur membentak Bianca yang akhirnya melakukan pertemuan di sebuah cafe pinggir kota.


Arthur kecil menangis kaget mendengar teriakan Arthur besar.


Helaan nafas berat yang hanya bisa Arthur lakukan kala itu sedangkan Bianca mencoba menenangkan Arthur.


"Sini, sini! Mamamu sepertinya memang perempuan kasar yang tidak pandai mengambil hati seseorang termasuk menenangkan dirimu!"


Arthur mengangkat tubuh Arthur kecil.


Mengendong dan mendekapnya di bahu.


Cukup lama, bocah empat tahun itu menangis meskipun tidak berontak. Tetapi akhirnya Arthur diam perlahan... sampai hening sejenak dan...


"Dia tertidur!" ujar Bianca dengan suara parau.


Sepertinya perempuan itu terus menangis dalam waktu yang cukup lama. Bahkan raut wajahnya berbeda sekali dari yang terakhir kali Arthur lihat.


"Kau benar-benar menderita kanker leukemia?" tanya Arthur dengan suara datar.


"Untuk apa aku mempermainkan penyakit?" Bianca balik bertanya.


Keduanya diam.


"Maafkan Aku, Archie. Dulu Aku memang seringkali berbohong padamu. Maaf..."


"Sudahlah."


"Apa istrimu marah padamu?"


"Dia memang masih muda. Tapi dia lebih dewasa dibandingkan kamu. Bahkan dibandingkan dengan Aku juga."


"Kamu beruntung mendapatkan dia."


"Tentu saja!"


"Bolehkah Aku menitipkan Arthur padanya?"


"Enggak! Seenaknya kau mengatur kehidupanku dengan Inayah!"


"Arthur adalah putramu, Archie!"


"Kalau pun itu benar, aku lebih suka menaruhnya di asrama. Biar dia tinggal di tempat yang banyak temannya."


"Jadi kamu beneran akan mengurus Arthur, Arch?"


"Jangan dulu kepedean! Jangan terlalu naif menganggap Aku adalah Arthur yang dulu yang selalu menurut pada apa maumu!"


"Bukan begitu... Jika itu benar, Aku tenang sekarang. Aku bisa pergi dengan hati tanpa rasa ketakutan lagi. Ada kamu yang menjaga putra kita."


"Berhenti berkata putra kita!" sentak Arthur membuat Arthur kecil terbangun kaget dan menangis lagi.


"Cup cup cup... jangan menangis! Anak laki-laki harus kuat, tidak boleh cengeng!"


Arthur menepuk-nepuk punggung Arthur dengan lembut. Bocah itu kembali tenang dan tertidur lagi.


"Dia tidak tidur dengan tenang selama beberapa malam ini. Kuharap kalian menjaga Arthur layaknya putra kalian sendiri!"

__ADS_1


"Hei, hei! Mau kemana, Kau?"


"Aku harus pergi. Terima kasih karena bersedia merawat Arthur. Di tas ransel itu ada semua berkas dokumen Arthur. Selamat tinggal, Archie. Semoga pernikahanmu langgeng selamanya."


"Cih! Dasar perempuan gila!"


Bianca pergi meninggalkan Arthur dan Arthur hanya berdua. Arthur sendiri tidak menahan perempuan itu karena sudah hilang rasa sejak ada Inayah.


"Inayah..."


Seketika Ia teringat istrinya yang kabur, pergi dari rumah ke rumah Kakak perempuannya.


Arthur mengambil ponselnya dengan satu tangan masih menggendong Arthur Pangestu.


Nomor pribadi Tia.


"Hallo? Assalamualaikum... Mbak Tia? Apakah,"


...[Waalaikum salam. Mas, kamu cari Inayah ya? Iya. Dia ada disini. Kenapa dia kesini gak diantar? Malah naik gojek? Oiya, dia baru saja pergi ke kampus. Kalian ada apa? Ribut ya? Halaaah, itu sih biasa. Namanya rumah tangga ya begitu itu. Justru ribut-ribut itu menambah keharmonisan rumah tangga. Sudaah, jangan dipikirkan! Hehehe...]...


"Iya, Mbak. Mbak..., apa..., Reyhan ada di rumah? Reyhan... sekolah dimana, Mbak? Ada asramanya juga? Bisakah anak usia empat tahun masuk sekolah asrama?"


...[Hahh? Reyhan? Hari ini Reyhan libur. Kan sudah kenaikan kelas juga. Ada di rumah, bukan di asrama. Umur empat tahun? Itu sekolah usia tujuh tahun ke atas, Mas! Untuk siapa? Anaknya siapa? Artisnya Mas Arthur?]...


"Untuk... Mbak, Reyhan ada di rumah? Bisakah Aku titip anaknya temanku pada Mbak dan Reyhan? Boleh ya?"


...[Ya boleh-boleh saja, koq. Kebetulan Aku juga lagi rehat karena hari ini kami off libur di resto. Hari ini aplusannya Mbak Yu'. Bawa saja ke sini, Mas]...


"Terima kasih banyak, Mbak Tia. Aku terbantu sekali!"


Arthur menghela nafas lega.


Tak butuh waktu lama, Arthur sudah tiba di kediaman Tia sambil menggendong Arthur kecil yang sudah bangun dari tidurnya yang sebentar.



Di rumah Tia, Arthur sedikit bercakap-cakap dengan kakak iparnya itu.


"Hai, ya Allah tampannya! Siapa namamu, Anak Ganteng?"


Tia mencoba berinteraksi dengan Arthur tapi bocah itu tidak bereaksi.


"Apa...dia tidak bisa bahasa Indonesia?" tebak Arthur mulai panik.


"Hei boy, what's your name?"


"Aturr, Papa!"


"O my Gosh! You can't speak Indonesian?!"


Bocah itu mengangguk pelan dengan raut wajah ketakutan.


"Papa?!? Hehehe, aiiihh andaikan kalian cepat punya anak. Pasti akan keren dipanggil Papa Mama ya Mas! Oiya, Inayah tahu kan kalau anak temannya Mas dititipkan sementara sama Mas?"


"Tahu. Tapi dia tidak tahu kalau secepat ini. Mamanya akan pergi berobat ke luar negeri. Jadi,..."


"Makanya sedang sakit? Hhh... Semoga lekas sembuh. Lalu Papa kandungnya?"


Tentu saja Arthur bagaikan tertohok jantungnya.

__ADS_1


"Papanya, sudah meninggal dunia ketika dia dilahirkan."


"Yang aku kaget itu namanya, Mas! Hehehe... sepertinya Mamanya fans beratnya mas Arthur. Sampai namanya pun Arthur Pangestu. Dan nama Pangestu itu nama orang Indonesia kan?"


"Mamanya blasteran Indonesia-Belanda yang lahir dan tinggal di San Fransisco. Kami teman masa kecil dulu. Lalu dia menikah dengan orang Amerika asli. Punya dua anak satu perempuan satu laki-laki. Yang perempuan diasuh oleh keluarga mendiang suaminya. Yang laki-laki, Arthur ini."


"Hm, begitu rupanya. Waduhh, pe'er banget ya Aku sama Reyhan harus ngomong boso Inggris, Mas! Hehehe... Yo wes sambil belajar ya, Rey... hehehe..."


Arthur tersenyum. Arthur kecil terlihat anteng bermain dengan Reyhan, putra tunggalnya Tia dan Alif yang sudah berumur tujuh tahun dan sekolah kelas satu SD di sekolah asrama tak jauh dari restoran Amelia dan Lukman.


"Aturr,"


"Yes, Papa?"


"Papa has to go to work. Don't be naughty, right? And You have to obey Aunt Tia's words! Okay?"


"*Ya, when Papa comes home and picks me up?"


"Later in the evening*."


"Ok."


Bocah itu sepertinya sudah terbiasa bermain sendiri tanpa bimbingan orang terdekat. Arthur kecil kembali tenang bermain setelah bercakap-cakap dengan Arthur dalam bahasa Inggris.


Tinggal Tia dan Reyhan yang termangu memandangi wajah Arthur dewasa dan Arthur kecil secara bergantian.


"Kenapa orang bule itu rata-rata memiliki garis wajah yang mirip ya? Kalian, dilihat dari arah manapun sangat mirip. Hehehe..."


Merah padam wajah Arthur Handoko.


"Mbak, Aku saat ini sedang sibuk untuk premier Film terbaruku yang digarap di Bali. Judulnya Istri Muda Untuk Suamiku. Maaf, kalau Aku jadi merepotkan Mbak Tia."


"Jangan sungkan, Aku senang koq. Reyhan juga senang tuh, jadi ada temannya. Daripada dia main game terus. Liburan sekolah hanya di kamar, depan laptop main game. Ga ada kegiatan lain. Ada Aturr, Reyhan jadi lebih ceria."


"Sepertinya Aku akan cukup lama menitipkan Aturr pada Mbak sampai promo film ku selesai."


"Ga apa koq. Kebetulan banget, Reyhan liburannya hampir tiga minggu. Mereka bisa main sama-sama. Reyhan senang, serasa punya Adik. Dia memang mulai sering merengek minta adik. Ada Aturr membuat Reyhan lupa. Pasti mas Alif juga bakalan senang ada member baru di rumah ini untuk beberapa waktu."


"Terima kasih, Mbak! Aku pamit ya? Oiya, untuk jajan Aturr nanti kutransfer ke nomor rekening Mbak!"


"Ya ampun, jangan segitunya juga, Mas! Tenang saja. Aturr masih bocah juga. Pastinya jajannya gak terlalu besar."


"Buat jaga-jaga aja Mbak. Hehehe... Assalamualaikum!"


"Waalaikum salam..."


Arthur tenang, Ia bisa pergi bekerja tanpa menanggung beban fikiran tentang Arthur Pangestu.


Tapi satu hal yang Ia lupa.


Arthur lupa mengabari Inayah, istrinya perihal Arthur yang kini ada bersamanya dan sedang dititipkan kepada Tia.


Inayah sendiri masih kuliah seperti biasa. Masuk kampus setiap hari karena baru semester satu menjelang ujian kenaikan semester dua. Inayah juga sedang sibuk menuntut ilmu di kampus Kota Hujan. Sementara Arthur juga sibuk bekerja di kantor pusat, di Ibukota.


Kesibukan keduanya bisa membuat jarak yang terbentang semakin lebar. Apalagi kurang komunikasi di awal rumah tangga yang masih penuh dengan tanda tanya dan belum kenal dekat satu sama lain.


Langkah Arthur Handoko yang terkesan sat set sat set tanpa kompromi dengan Inayah bisa jadi batu sandungan di rumah tangga mereka yang baru seumur jagung itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2