
Arthur tidak bisa konsentrasi melanjutkan pekerjaannya yang tinggal setengah jalan lagi.
Meskipun Inayah telah menjadi istri kini, namun pengintaian diam-diam yang Arthur lakukan selama ini tetap berjalan.
Entah mengapa, rasa cemburunya justru kian besar mengingat makin kesini makin banyak pria yang datang menggoda istrinya yang masih ingusan itu.
Chat demi chat masuk ke ponselnya Inayah yang masih Arthur sadap, sehingga Ia pun bisa membaca pesan yang masuk ke ponsel istrinya itu.
Banyak gaya pria-pria muda jaman sekarang dalam hal pendekatan.
Beribu alasan cara serta taktik para mahasiswa yang tertarik dengan Inayah di kampusnya. Bahkan ada yang jauh lebih membuat Arthur kesal bahkan adalah seorang dosen tua bangka pun sepertinya ada sinyal ketertarikan yang begitu terlihat kuat pada Inayah.
"Ck! Ini orang! Kenapa bisa-bisanya mengirimi chat perhatian di luar pelajaran kuliah di pukul sembilan malam?! Dasar dosen fiktor!"
Untungnya Inayah bukanlah gadis genit yang suka sekali mengambil kesempatan.
Inayah tidak merespon semua rayuan gombal pria-pria hidung belang yang sedang berusaha mendekatinya.
Bahkan dengan tegas, Inayah mengatakan kalau Ia sudah punya pasangan dan tidak ingin menghancurkan hubungan yang baru saja dijalin. Begitu katanya.
Tentu saja Arthur bahagia, meskipun Inayah tidak mengatakan secara terang-terangan kalau Ia sudah punya suami.
Tinggal tiga mingguan lagi. Arthur harus bersabar hati.
Meskipun setiap malam Ia dan Inayah selalu video call-an, namun rasa rindu bukannya terbayarkan justru semakin membludak membuat dada Arthur serasa ingin meledak.
Mia, masih dengan kondisi yang seperti itu. Setiap hari putra-putrinya bergantian menjaga Mia. Berharap Mia segera sadar dari koma, mendapatkan mukjizat dari Illahi Robbi.
Putra-putri Amelia juga kian tumbuh besar dari hari ke hari. Makin lucu menggemaskan, tanpa terasa sudah berumur tiga bulan kini.
Fanny, mamanya Lukman juga sering menjenguk Mia dan melakukan obrolan panjang seperti saat Mia masih segar bugar sehat wal'afiat.
"Mak, lekaslah sembuh, Mak! Aku rindu curhat denganmu. Aku rindu berkeluh kesah tentang semuanya. Tentang diriku yang juga letih. Tentang cucu-cucu kita yang makin gemoy badannya. Amelia dan Lukman mulai kerepotan mengurus di kembar tanpa bantuan kita. Ingatkah Mak? Kita sudah berkhayal, akan menggendongnya sama-sama. Kita tidak lagi cemburu karena cucu kita ada dua. Mak..., hik hik hiks..."
Fanny menangis pelan mengingat persahabatan mereka yang manis.
"Sungguh Allah Maha Baik. Allah berikan Aku besan rasa saudara. Aku jadi lebih bersemangat menapaki hidup. Tapi kini, Aku tanpamu, Mak! Terseok-seok, bahkan kadang rasa ingin menyerah. Ingin lepaskan semua kepenatan seperti yang sekarang sedang kamu perbuat. Tapi..., Aku lebih inginkan kamu hidup tenang, bahagia."
Cerita Fanny mulai jauh kesana-kemari.
Hampir dua jam, Fanny duduk di samping Mia yang terbaring koma dengan tubuh dipenuhi alat bantu medis yang menyesakkan.
Tumor otak yang menyerang Mia sudah diatas ambang stadium akhir.
Para dokter ahli bahkan sampai bingung, melihat stamina psikis Mia yang bertahan sampai sejauh ini.
__ADS_1
Arthur terkejut, Frederica dan Joko ternyata menyambanginya di Bali.
Tersenyum manis melihat keseriusan kinerjanya yang fokus memberikan aba-aba action dan cut disetiap waktunya.
Prok prok prokk
Aplause tepuk tangan dari kedua orang tuanya membuat Arthur tersipu malu.
"Kenapa kalian tidak beritahu Arthur kalau akan datang ke Bali?" tanyanya di sela-sela istirahat shooting film terbarunya itu.
"Papimu penasaran sekali, ingin segera melihat menantunya yang masih dibawah umur itu, katanya."
Arthur merona wajahnya.
"Apa kamu itu kini berubah selera menjadi seorang pedofilia? Anak perempuan berumur delapan belas tahun kamu nikahi? Ya Tuhan..."
"Papi,... jangan bicara seperti itu pada putra sendiri!" tegur Frederica pada Joko, suaminya.
Joko menepuk keningnya.
"Mamimu dulu, ketika Papi nikahi umurnya sudah dua puluh lima tahun. Tapi kamu..., setelah sekian lama memilih tidak ingin menikah, tiba-tiba mengabarkan kalau masuk Islam dan menikah. Membuat Papi shock seketika!"
Arthur hanya tersenyum tipis mendengar reaksi Joko tentang keputusannya.
"Kami tahu, kamu sudah dewasa. Sudah cukup umur pula untuk menikah. Tapi,"
Cetakk
Arthur menjentikkan dua jarinya dengan senyuman lebar.
"Ayo, Aku traktir makan siang."
Ajakan Arthur akhirnya membungkam mulut Joko Handoko untuk diam.
Begitulah keluarga kecil konglomerat nomor lima belas di Indonesia itu.
Bertiga, tetapi bisa ramai seperti sepuluh orang jika sudah bersama.
Makan siang kali ini pun terasa lebih hangat menghiasi hari Arthur.
Sayangnya momen-momen seperti sekarang ini sangat langka untuk dinikmati Arthur sepanjang hidupnya.
Kedua orang tuanya adalah orang yang super sibuk.
Bisa duduk bertiga di hadapan meja makan adalah hal yang selalu Arthur tunggu. Tapi sayangnya, tidak bisa sebulan sekali apalagi setiap hari mereka bisa seperti ini.
__ADS_1
Kesibukan masing-masing membuat jarak dan waktu terasa sangat lambat bagi Arthur yang tumbuh sebagai anak yang kesepian
Itu sebabnya, ketika Ia pertama kali melihat keharmonisan keluarga Mia, Arthur sangat iri sekali.
Hari-hari bersama keluarga. Rasanya luar biasa.
Bercanda, bercengkrama, bahkan saling ledek saling menggoda, semuanya adalah bagian hidup yang sangat Arthur inginkan.
Sayangnya, orangtua mereka memutuskan hanya ingin memiliki seorang anak saja dalam pernikahan mereka. Tidak ada anak tambahan yang bisa Arthur ganggu layaknya kakak mengganggu adik.
Dan egoisnya mereka, setelah mengambil keputusan itu justru mereka lebih sering berada di luar rumah tanpa Arthur.
Mereka sangat menikmati hidup, Arthur justru meratapi hidup.
Bahkan kini dengan sangat menyebalkannya, kedua pasutri yang sudah menikah melewati tahun perak itu pun bergandengan mesra tanpa memikirkan perasaan Arthur yang belum pernah merasakan malam pertama dengan Inayah.
Bagaimana mungkin, siangnya Ia ijab kabul, menjaga Mia di rumah sakit, paginya Arthur langsung terbang ke San Fransisco lalu lanjut ke Bali untuk proyek filmnya yang baru.
Sungguh sibuk. Bahkan Arthur hanya baru mengecup kening Inayah, yang lain belum terjamah.
"Kamu... benar-benar jatuh cinta dengan gadis berhijab itu, Arthur? Kenapa Mami merasa kamu seperti masih menjaga jarak dengannya?" selidik Frederica tentang hubungan rumah tangga putranya yang baru seumur jagung dan langsung long distance relationship.
"Pertanyaan macam apa itu, Mi? Tentu saja Aku cinta Inayah. Makanya kunikahi dia. Mami belum kenal gadis itu. Dia cantik dan cerdas. Berpendirian teguh. Mami pun akan suka jika sudah mengenalnya."
Joko tersenyum menatap istrinya yang terlihat was-was.
"Bagaimana bisa putraku berubah drastis secepat itu. Itu yang membuat Mami ragu."
"Tak kenal maka tak sayang. Tak sayang jadi tak cinta. Allah sudah mentakdirkan Aku menikah dengan Inayah. Mami Papi cukup restui dan doakan kami saja. Aku tidak ingin lebih. Tidak, Mi, Pi!"
Kini Frederica tersenyum lega.
Arthur kembali dengan jati dirinya yang asli. Yang suka mendebat apapun yang Ia yakini benar. Frederica berharap semoga pilihan putranya adalah yang terbaik.
"Emak Mia sakit parah. Itu sebabnya kami menikah segera. Terkesan tergesa-gesa memang. Tapi semua itu ada alasannya. Mami Papi bisa melihatnya nanti."
"Semoga kalian hidup bahagia selamanya."
"Aamiin..."
Arthur senang. Akhirnya Maminya mengucapkan kalimat yang paling Ia tunggu.
Minggu depan Ia sudah bisa pulang ke Ibukota. Ia bisa menemui istrinya yang masih muda belia dan memperkenalkannya pada Mami Papi.
Setelah itu, hidupnya happy ending. Bahagia sampai akhir hayat. Itu harapan Arthur.
__ADS_1
BERSAMBUNG