Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 70 Saling Berkaitan


__ADS_3

"Bu. Dukun yang waktu itu Ibu datangi minta supaya Amelia mau menerima pernikahanku dengan Juriah dimana tinggalnya?"


Mariana menoleh ke wajah putra sulungnya.


"Kenapa? Apa ada masalah? Ojan bikin ulah lagi? Dia bikin kamu kesal? Aku sudah ke sana minta Mbah Surip untuk melunakkan hatinya. Apa ndak berhasil kali ini?"


Mariana membombardir Soleh dengan banyak pertanyaan.


Soleh menggeleng kuat-kuat.


"Bukan! Ada lah. Aku mau konsultasi!"


"Hm. Ibu kira si Ojan bikin kamu darting lagi! Eh, Juriah sudah periksa kehamilan belum? Anaknya laki apa perempuan?"


"Ck. Jangan tanya itu, Bu! Perempuan itu belum juga berbuah. Itu cuma masuk angin."


"Lho? Piye iki? Terus, si Ojan responnya bagaimana? Terus? Tanah yang dia kasih buat kita, apa bakalan diambil lagi? Dua ratus meter tanahnya sudah dibangun rumah oleh adikmu. Ngomong-ngomong si Lani nanyain, kapan kamu dan Juriah datang ke rumah barunya!"


"Hhh... Nanti-nanti lah! Aku mau bikin si Amel keleyengan minta balikan lagi sama Aku!" Soleh kebablasan. Tanpa sadar Ia buka kartu niatnya ingin konsultasi ke dukun langganan Mariana dan almarhum Anta.


"Hahh? Apa katamu?"


Tentu saja Mariana melotot kaget.


Bug.


Dipukulnya bahu Soleh dengan mimik wajah seram.


"Jangan gila! Jangan buat aneh-aneh! Eling kau Leh! Istrimu belum hamil, jangan cari gara-gara!"


"Aku masih sakit hati, Amelia memilih pergi! Niatku menikah lagi untuk menyenangkan Amelia juga dikemudian hari."


"Dasar bocah gemblung! Istrimu yang sekarang jauh lebih muda, lebih cantik, lebih...apa itu, anak muda jaman sekarang bilangnya? Gelowing? Iya gelowing!"


"Glowing!"


"Nah itu. Untuk apa kau pikirkan mantan istrimu yang buluk dan gabug itu! Fokus saja pada Juriah! Jaga toko onderdil yang baik! Dan dekati si Samsiah juga. Tengok noh adik iparmu! Dia kerja sama si Samsiah. Jadi asisten pribadi, belum apa-apa Samsiah sudah memberinya ini itu. Itu karena si Tito pintar cari peluang! Baru namanya orang hebat! Kamu, belum juga berhasil sudah pikirkan hal lain yang ga ada gunanya sama sekali! Beruntung Aku dan bapakmu menjodohkanmu dengan anak si Ojan itu! Untungnya juga ternyata anaknya mau dan bahkan kini jatuh cinta sama kamu! Mikir, Leh, mikir! Jangan sampai tujuan yang ini hancur berantakan padahal baru mulai dan belum berhasil. Andaikan bapakmu masih hidup, emosi dia dengar kau mau rujuk sama si Amel itu!"


"Ibu... Apa Ibu sama sekali tidak punya nurani?"


"Aih? Apa maksudmu?"


"Selama ini, yang memberi Ibu dan Bapak uang dari separuh gajiku itu adalah hasil dari keikhlasan Amelia dalam mengelola gajiku. Bayangkan, gajiku hanya tiga juta. Potongan ini itu, kredit motor waktu itu, bayar kontrakan, token listrik, biaya makan sehari-hari. Ga cukup, Bu! Aku tidak akan bisa memberikan 25 persen gajiku pada kalian kalau Amel tidak bisa mengakalinya. Aku bersyukur sampai saat ini, istriku itu tidak meninggalkan hutang yang banyak justru dia menekan perasaannya jika melihat uang belanjaan yang habis sedangkan gaji bulan berikutnya masih jauh."


Buk.


"Gila! Gila kau Leh! Eling! Bisa jadi perempuan gabug itu sudah mengguna-gunai kamu biar otakmu kembali memikirkan dia! Sadar Leh, sadar!"


"Dia hanya pembawa sial bagi hidupmu! Dia tidak membuat kamu jadi orang hebat yang banyak uang, dipandang orang, dihormati uang. Kamu hidup belangsak di kota besar. Tinggal di kontrakan kecil, tiap bulan harus mikir bayar kontrakan! Sekarang, hidupmu enak! Istrimu muda dan jauh lebih cantik! Anak tunggal, anak orang terpandang. Hartanya berlimpah. Kamu mau apa tinggal bilang, pasti Juriah bakalan belikan. Buat apa kau mikirin perempuan yang sudah kau buang itu? Pikirin caranya Juriah hamil! Beri Ojan dan Samsiah cucu yang banyak. Anakmu itu nggak akan hidup sengsara nantinya!"


Mariana mengoceh segala macam. Membuat Soleh menutup telinga dan beranjak pergi ke luar rumah orangtuanya.


"Dasar bocah edan! Dikasih enak minta yang sepet! Ck ck ck... Ini pasti ini buatan si Amelia!"


Soleh pergi tanpa pamit.


Dia kini nongkrong di konter hape. Membeli satu nomor GSM baru, karena ingin sekali menelpon Amelia.

__ADS_1


Setelah mengganti kartu SIM card ponselnya beberapa saat, Soleh menelpon nomor Amelia yang sudah Ia hafal di luar kepala.


"Nomor yang Anda tuju tidak terdaftar. Nomor yang Anda tuju tidak terdaftar."


Soleh berdecak kesal.


Ternyata Amelia telah mengganti nomor ponselnya.


Habis sudah kesempatan Soleh untuk mendengarkan suara lembut Amelia dari balik telepon genggamnya.


"Soleh?"


Soleh menoleh. Seorang pria berdiri di hadapannya dengan bibir tersenyum tipis.


"Nirwan? Nirwan! Hei, apa kabar?"


"Baik, Leh! Kamu sendiri? Apa kabar? Eh, Aku tadi cari-cari kamu di pemakamannya Cak Anan. Kamu dimana? Aku cuma liat istrimu saja. Tapi dia juga terlihat shock dan diam dipojokkan sama Emaknya."


"Hah? Apa? Bapaknya Amelia meninggal dunia?"


Soleh terperanjat kaget.


Nirwan jauh lebih kaget lagi.


"Waduh? Gimana ceritanya, menantunya justru nggak tahu bapak mertua meninggal dunia?!"


"Kami..., kami sudah bercerai empat bulan yang lalu, Wan!"


"Oala..."


"Kamu tidak diberi kabar memangnya?"


Soleh menggeleng lesu.


"Aku yang salah. Aku menyakiti hati Amelia. Pasti keluarganya kini benci aku juga."


"Hhh... Namanya berumah tangga, tidak bisa kita prediksikan akan terjadi sesuatu yang mengenakkan. Tapi, sepertinya kamu pergi ta'ziah itu jauh lebih melegakan. Mau kuantar?"


Soleh bersyukur, bertemu teman lama dirinya dan juga Amelia di masa muda.


Nirwan adalah suami dari teman kerja sepabrik Amel dulu. Nirwan dan Soleh saat itu sama-sama berjuang mendapatkan cinta seorang gadis.


Nirwan mendekati Lilis, Soleh memepet Amelia. Kedua pasangan itu berhasil naik ke pelaminan.


"Kamu masih sama Lilis kan, Wan?" tanya Soleh pada Nirwan.


Mereka berjalan meninggalkan konter hape. Hendak menuju kampung Amelia, diantar Nirwan.


"Masihlah. Lilis baru saja lahiran anak kami yang ketiga."


"Woow, rajinnya kau cetak anak!" ledek Soleh membuat Nirwan tertawa.


Treeet treeet treeet


Treeet treeet treeet


Treeet treeet treeet

__ADS_1


Ponsel Soleh berdering terus.


"Angkat dulu hapemu, Leh! Kenapa dicuekin?"


"Pasti dari istriku! Ck. Malas Aku!"


"Wih? Ternyata kau sudah nikah lagi?! Hebatnya. Cerai dari Amel langsung punya yang baru! Hebat, hebat! Hahaha..."


"Apanya yang hebat!?" sungut Soleh.


Treeet treeet treeet


Treeet treeet treeet


Treeet treeet treeet


"Angkatlah dulu, Leh! Siapa tahu istri barumu benar-benar darurat keadaannya!"


"Palingan Aku disuruh pulang! Jaga toko dan bengkel Bapaknya!"


"Benar-benar hebat kamu sekarang, Leh! Ya sudah, Aku tidak jadi mengantarmu ke rumahnya Amel. Tadinya Aku cuma niat beli pulsa. Oiya, dimana tinggal sekarang, Leh?"


"Aku di Asamka, Wan! Mampir ya kalau lewat!"


"Asamka? Dimananya? Setiap hari Aku bolak-balik lewat sana!"


Bengkel paling besar itu. Milik juragan Ojan."


"Kamu nikahi anak bandar kos-kosan di daerah Semangun itu? Wah? Yang benar kamu, Leh?"


"Mampir ajalah kalo sempat! Dahlah, aku pulang aja dulu!"


"Iya. Aku masih libur. Ambil cuti dua hari untuk dampingi Lilis melahirkan!"


"Selamat ya, kamu sudah jadi lelaki sempurna!"


"Memangnya kamu masih belum berhasil?" tanya Nirwan menohok hati Soleh.


"Hm... Semangat, Wan! Banyak anak susah rezeki! Aku pergi ya!?"


"Hahaha... Suwe kau!"


Soleh mencucutkan bibirnya sebal.


Nirwan seolah meledeknya karena sudah menikah dua kali tapi masih belum bisa memiliki keturunan.


Kini Ia ingin pulang. Ingin menemui Juriah dan kembali mengajaknya bikin anak karena perasaannya yang sedang tak enak.


Sepanjang perjalanan Soleh memikirkan keadaan Amelia.


Kematian Kan'an hanya selang sebulan lebih dari kematian Anta. Seperti firasat buruk. Allah sedang menguji Amelia dan juga dirinya.


Soleh tidak tahu kalau kematian dua orang tua yang selalu dihormatinya itu berkaitan erat dengan keluarga Juriah istri mudanya.


Keluarga Juriah, si pemuja setan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2