
Pukul setengah satu dini hari Arthur dan Mia sampai di depan pintu gerbang rumah yang ditempati keluarga Mia.
Tentu saja wanita yang sudah berusia setengah abad lebih itu cemas kalau anak-anaknya marah.
"Kamu pulang saja, Nak. Mak bisa menjelaskan kepada anak-anak dari mana Mak baru pulang tengah malam begini."
Arthur menggeleng.
"Aku harus ketemu anak-anak Emak! Aku punya peran dan harus bertanggung jawab juga."
"Hhh..."
Mia memang mempunyai kunci serep rumahnya. Begitu pula ketiga anaknya yang masih tinggal bersama Mia di situ.
Krieeet...
Perlahan Mia membuka pintu rumah.
Mia sangat terkejut, ruang tamu rumah yang tadinya gelap tiba-tiba menyala. Tiga anaknya duduk di sofa ruang tamu diam tanpa suara. Mereka adalah Rama, Tia dan Inayah.
Sedangkan Gaga sepertinya disuruh tidur oleh kakak-kakaknya karena esok harus masuk sekolah.
"Mak!?" sapa Tia yang langsung berdiri dan memeluk tubuh kecil Mia.
Inayah ikut bergegas merangkul mereka yang sedang berpelukan.
"Mas Arthur, masuk Mas!" ujar Rama dengan sopan.
"Untuk apa dia disuruh masuk?" pekik Inayah langsung naik darah.
"Inay!" seru Mia menegur putrinya yang masih 18 tahun itu.
"Sebaiknya semua duduk. Ada yang ingin saya sampaikan!" kata Arthur dengan suara tegas.
Inayah, meskipun dengan wajah jutek tetapi menurut juga.
Semua duduk termasuk Mia.
"Maaf, maafkan Saya karena membuat Emak pulang tengah malam," tuturnya dengan intonasi suara lebih tenang.
"Bukan salah Arthur! Ini salah Emak! Emak yang meminta Arthur mengantar Emak ke kampung!" sela Mia membuat ketiga anaknya membulat bola matanya.
"Ke kampung? Kenapa Emak ga minta Rama yang antar?" tanya Rama dengan nada kecewa.
"Emak ingin ziarah. Dan kami tadi pergi ziarah kubur ba,"
"Tolong diamlah! Ini urusan keluarga kami!"
Semua tersentak menoleh ke arah Inayah yang emosi dengan berurai air mata.
Arthur diam.
"Mak, anak Emak itu siapa? Kami atau dia? Kenapa Emak lebih percaya dia daripada kami? Kenapa Emak lebih dekat dengan dia ketimbang kami? Kenapa??? Apa karena cinta telah membuat mata hati Emak jadi buta?"
__ADS_1
"Inayah!!!" hardik Rama pada adiknya.
Mia tersenyum.
Bibirnya terlihat agak biru tapi dia begitu tenang.
"Maaf... Maafkan Emak, Inay, Tia, Rama! Maaf ya? Demi Allah, kalian adalah anak-anak Emak yang baik dan penurut sejak kecil. Semuanya, anak-anak kebanggaan emak sama bapak. Sungguh Emak bangga dan bahagia memiliki anak-anak kalian. Alhamdulillah wasyukurillaah. Emak tak pernah tidak mensyukuri nikmat itu."
"Mak..., Mak sakit parah, kenapa gak bilang kami? Kenapa justru menyembunyikannya dari kami?" Kini Tia ikutan bertanya.
Air matanya tumpah ruah. Tangisannya lirih dalam rintih.
Mia menghela nafas. Sedikit bingung harus mulai menjelaskan dari mana.
Cukup lama Ia diam membisu. Mencoba mencari kosakata yang baik untuk bisa Ia jelaskan kepada anak-anak yang sedang menginterogasinya.
"Emak juga baru tahu, Nduk! Hhh... Emak sering bilang sakit kepala bukan, pada kalian?! Disetiap kesempatan. Disaat kepala Emak benar-benar tidak bisa lagi dikondisikan."
"Lalu?" sela Inayah.
"Diamlah Inay! Biar Mak jelaskan dulu semuanya! Dimana attitude mu sebagai seorang mahasiswi?!"
Arthur gemas dengan tingkah Inayah yang suka sekali menyerobot menyela pembicaraan Mia.
"Kenapa? Apa kamu begitu percaya diri akan jadi Bapak Tiriku?" Inayah semakin emosi.
"Hahh? Apa? Hah??? Hahaha... ya Allah ya Tuhanku, hahaha... Mak, benar katamu. Calon Istriku ternyata sedang dilanda cemburu buta. Hahaha..."
Inayah mengorek gendang telinganya. Berharap ucapan Arthur tadi hanya refleksi yang salah dari pendengarannya.
Tapi ternyata Mia juga Rama justru jadi ikutan tertawa. Dari tangis sedih kini kondisi berubah sedikit cerah ceria.
"Kamu tahu, Nduk? Arthur sedang memepet Emak agar mendapat restu untuk bisa mendekatimu dan menikah denganmu, Inay!"
Memerah wajah Inayah.
Arthur tersenyum dengan mata menatap ke arah wajahnya.
Malunya bukan kepalang.
Inayah sampai lupa pada dirinya yang sedang menyelidik Emak dan langsung bergegas masuk kamar dengan dua telapak tangan menutupi wajah.
"Hahaha... Hahaha... Inayah, maaf. Aku memang sengaja memblokir nomormu demi untuk menjaga janjiku pada Emak untuk tidak mengganggu putri imutnya yang masih bau kencur. Hahaha..."
Arthur membuat hati Inayah jadi seperti taman bunga. Beraneka ragam tanaman bunga tiba-tiba bermekaran indah menyebarkan harum wangi bunga.
Inayah menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Telungkup dengan mata terpejam namun bibir tersenyum lebar.
Ya Allah ya Allah ya Allah!!! Waaa..., ini bukan mimpi khan? Jerit hatinya bahagia.
"Maaf, Tia, Rama. Emak sendiri baru tahu kondisi Emak beberapa hari yang lalu. Itu pun karena Mas Arthur! Mas Arthur tiba-tiba datang ke tempat Mak kerja. Tujuan awalnya tentu saja untuk meminta Inayah. Tapi Ia melihat wajah Emak yang pucat dan Emak bilang kalau sedang kurang sehat, kepala pusing dan mual-mual. Dialah yang membawa Emak ke rumah sakit tempat Amel dulu pernah dirawat juga. Emak bahkan sampai dibayari general medikal check up segala. Keesokan harinya, Mas Arthur juga yang mengingatkan Emak untuk ambil hasil pemeriksaan. Ternyata...,"
Tia dan Rama memeluk erat Mia. Mereka kembali menangis sampai suasana kembali tegang dan Inayah kembali ke luar kamar karena mendengar tangisan kakak-kakaknya.
__ADS_1
"Emaakkk! Hik hik hiks... Maaakkk! Maafin Inay, Mak!"
"Hik hik hiks..."
Semua menangis, bahkan Arthur juga sampai meneteskan air mata melihat chamistry antara Ibu dan anak yang mengharu biru itu.
"Haruskah Emak operasi? Diangkat penyakitnya atau bagaimana baiknya, yang penting Emak sehat dan panjang umur?" tanya Tia dengan suara bergetar pada Mia.
"Emak tidak mau operasi. Dokter Ramon juga memberikan saran pribadi untuk Emak tidak operasi. Sebenarnya prosedur rumah sakit, Emak harus ikut kemo, radioterapi, bahkan harus masuk ruang isolasi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tapi Mak menolak. Emak hanya harus rutin berobat ke dokter Ramon. Hidup bahagia, tidak boleh banyak fikiran dan harus hidup sehat mengkonsumsi obat secara teratur. Itu bisa setidaknya memperpanjang umur Emak, Ti!"
"Huaa huhuhu...Hik hiks hiks..."
Semua kembali menangis mendengar Mia berkata 'memperpanjang umur'.
"Umur Emak akan panjang! Rama yakin, Allah yang pegang sisa umur kita di dunia. Dokter juga manusia biasa. Bisa saja salah prediksi. Iya kan Mas Arthur?"
Arthur mengangguk cepat merespon ucapan Rama yang juga banjir air mata.
"Semua hanya Allah yang Berkehendak. Kita berdoa saja semoga Emak selalu sehat. Dan bahagia tentunya."
"Aamiin..."
Semua serempak mendoakan Mia.
"Terima kasih. Terima kasih, anak-anakku! Emak bahagia. Bahagia sekali. Hik hiks hiks..."
Mia yang sedari tadi tegar, akhirnya ambrol juga kekuatan hatinya menerima takdir. Ia menangis memeluk anak-anak yang sangat Ia sayangi.
Seperti mengingat masa lalu yang bak film dokumenter hidupnya, Mia mengenang semuanya. Hingga air matanya terus menetes tak bisa berhenti.
Teringat masa-masa kecil semua anak-anaknya satu persatu. Cerita manis, pahit, asam, gurih semuanya Mia kenang. Termasuk rumah tangganya bersama Kan'an, seperti Romeo dan Juliet, indah sampai akhir. Dan ia seperti melihat Kan'an yang sedang duduk di kursi depannya tersenyum manis padanya. Semakin tumpah air mata Mia.
"Mak, jangan menangis, Mak!" Arthur berusaha mengingatkan Mia untuk tidak larut bersedih hingga membuat kesehatannya jadi menurun.
"Emak menangis karena bahagia, Nak! Oiya, bolehkah Emak membawa anak-anak Emak turut hadir melihat kamu mengucap syahadat?"
Semuanya menoleh pada Arthur yang tersipu malu.
"Sejujurnya Aku malu, Mak! Ini adalah hubunganku dengan Tuhanku! Tapi, Aku ingin Mak hadir. Baiklah. Mak, Rama, Inayah dan Tia boleh ikut melihat Aku masuk Islam besok siang di masjid Istiqlal. Hehehe..."
Emak memeluk Arthur.
Tangannya segera menangkap jemari Inayah dan...
"Titip putriku. Jaga dia, sampai akhir hayatmu. Jangan sakiti putriku! Bersabarlah jika putriku sedang keras kepalanya. Bimbing dia, jadikan Ia bidadari surgamu, Arthur Handoko!"
"Emak,... terima kasih."
Inayah merembes mili.
Tak bisa berkata apa-apa lagi selain hati yang menghangat bahagia. Begitu pula Arthur yang baru pertama kali merasakan kebahagiaan seperti ini di usianya yang ke-34 tahun.
BERSAMBUNG
__ADS_1