
"Seminggu lagi kita menikah. Ah, rasanya sudah tidak sabar."
Amelia tersipu malu mendengar celotehan Lukman yang sedang bersiap-siap membersihkan mobil yang akan mereka pakai menjemput Emak dan adik-adiknya di kampung.
Ada dua mobil, kata Lukman keduanya adalah mobil sewaan.
Sampai saat ini, Lukman memang belum pernah sekalipun menceritakan jati dirinya yang seorang penerus perusahaan properti terbesar di Indonesia.
Ia masih bermain-main dengan calon istrinya yang justru tidak terlalu peduli pada harta.
Amelia hanya pernah menanyakan perihal pekerjaan Papanya saja.
Lukman jawab kalau Papanya adalah wiraswasta. Dan dia ikut bekerja membantu pekerjaan Papa.
Ruko kontrakan juga Amel belum tahu kalau kompleks ruko tersebut adalah milik Fanny, Mamanya.
Amelia dan Tasya selalu menitipkan uang bulanan ruko yang sejumlah enam ratus ribu rupiah per bulan itu lewat Lukman. Dan Lukman menerimanya dengan bibir tersenyum.
Fanny sebenarnya sudah memarahi Lukman.
"Teganya kamu menarik uang sewa pada Amel dan temannya itu! Kan Mama sudah bilang, ga perlu! Ambil beberapa unit, jangan ditarik uang sewa! Dasar anak bandel! Gimana kalo Amel tahu akhirnya!?" maki Fanny tak mengerti jalan fikiran putra sulungnya itu.
Lukman langsung menggandeng bahu Fanny seraya bergurau.
"Lukman masih sedang mengecek kehebatan hati calon bidadari Lukman, Ma!"
"Dasar! Mengecek apa? Itu justru bisa jadi 'penyakit' kalau Amelia tau dan marah karena kamu itu rajanya bohong!"
"Lukman kan gak bohong. Cuma gak jujur aja, Ma! Hehehe..."
"Sakarepmu lah!"
"Hahaha... Mama."
Fanny hanya bisa memukul pelan bahu putranya itu.
Begitulah Lukman.
Saking seringnya Ia ditipu perempuan yang hanya ingin bersamanya karena harta, sehingga menjelang akhir pun Ia masih terus mengetes ketulusan Amelia.
Meskipun di bibirnya Ia percaya Amelia sepenuhnya.
"Mas? Maas?"
"Ah iya, hehehe... duhh jadi melamun!"
Lukman tersipu melihat wajah cantik dihadapannya itu memonyongkan bibirnya.
Ingin sekali Ia nyosor seperti bebek namun urung karena mereka belum sah menjadi halal.
"Jangan melamun nanti pas bawa kendaraan!" ujar Amel mengingatkan Lukman.
__ADS_1
"Siap Mbak Cantik!"
"Bisa gak panggil namaku saja? Koq kesalnya kayak ngobrol sama Rama jadinya karena selalu dipanggil Mbak."
"Itu panggilan kesayanganku, lho! Mbak gak mau?"
"Apanya yang panggilan kesayangan? Berarti sama Mbak Ziah, terus Mbak Putri yang punya lapak es kelapa di ujung sana itu, juga panggilan kesayangan?"
Nah Lo, siap-siap jika Amelia dalam mode on cemburu!
Lukman tertawa terbahak-bahak.
Ia sampai memegangi perutnya yang berguncang karena tawa.
"Ish, malah diketawain!" tukas Amelia sembari berlalu. Tapi,
Grep
Lukman sontak menarik tungkai tangan Amel.
"Jangan marah, Sayang! Hehehe maaf... aku cuma becanda. Ya?! Maaf ya?"
Lukman mendekat.
Amelia mendengus pelan.
"Aku sengaja memancing kecemburuanmu, Amel! Sengaja ingin melihat apakah Kamu sungguh-sungguh mencintaiku."
"Aku menerimamu, apa...kamu merasa kalau Aku tidak,..."
"Teruskan. Please!"
Amelia merasa lidahnya kelu, kerongkongannya tersekat.
Hatinya begitu mencintai Lukman. Tapi bibirnya enggan untuk mengatakan.
Sungguh dirinya adalah perempuan kuno yang sangat malu untuk mengungkapkan rasa dihati terdalamnya.
Amelia cinta Lukman, tapi tidak ingin terlihat bucin hingga jadi bodoh seperti dahulu dirinya memperlakukan Soleh.
Pernikahan yang gagal membuatnya trauma. Sangat trauma apalagi untuk bermain cinta.
Dulu, pernikahan yang dibangun bersama Soleh, berharap adalah yang pertama dan terakhir dalam hidupnya.
Tak pernah terfikir ada perceraian. Apalagi sampai ada orang kedua diantara mereka.
Namun kenyataannya, tidak sesuai harapan.
Kini Amelia menemukan jodoh lain yang jauh lebih baik segala-galanya dibandingkan Soleh.
Justru hal itu membuat Amelia merasa minder dalam hati. Juga takut hanya jadi perempuan diatas kertas saja.
__ADS_1
Ia kini suka sekali membaca novel-novel online di sebuah aplikasi yang terkenal di Indonesia termasuk beberapa negara tetangga.
Bacaan novelnya kali ini adalah kisah seorang perempuan yang hanya dinikahi untuk alasan tertentu saja, sebuah status karena pihak pria-nya ternyata tidak betul-betul mencintai.
Belum lagi perempuan pemeran utamanya itu kini jadi bulan-bulanan pihak keluarga sang pria.
Sungguh membuat Amelia jadi was-was juga meskipun hanya ada di novel saja.
Ia sudah banyak mengalami hal-hal sedih dan menyakitkan dalam berumah tangga.
Memiliki suami yang pemalas, ibu mertua yang culas, bahkan bapak mertua yang juga suka menindas. Itu karena dirinya hanya anak seorang petani biasa.
Bagaimana dengan pernikahan yang kali ini?
Amelia makin was-was.
Sedangkan untuk semuanya dihandle oleh pihak keluarga Lukman sebagai mempelai pria.
Keluarganya tidak diizinkan untuk ikut sibuk. Hanya duduk manis di hari H. Begitu kata Keluarga besarnya Lukman.
Hari ini Ia akan menjemput keluarganya. Tepat tujuh hari sebelum akad digelar.
Katanya, dihari minus satu, dua bis besar akan datang menjemput para tetangga dan kerabat yang ingin turut hadir di acara resepsi pernikahan Amelia dan Lukman.
Untuk membayangkannya saja Amelia tidak berani.
Itu kata Mamanya Lukman akan digelar secara sederhana. Tapi dua bis menjemput tetangga dan saudara-saudara Emak Bapak, rasanya itu bukan pesta sederhana.
Mumet kepala Amelia jika memikirkannya.
"Pengantin dilarang stres ya? Tidak boleh banyak fikiran selain jaga kesehatan dan ikuti proses perawatan kulit yang sudah Mama kirimkan ya?" kata Fanny via sambungan telepon pada Amelia ketika memberitahukan kalau Amel akan mendapatkan paket lengkap mantenan di hari minus lima.
"Lah? Koq sekarang malah jadi melamun?"
"Hehehe... Iya, Mas maaf...! Yuk berangkat, mumpung belum terlalu siang."
"Siap komandan!"
Mereka naik mobil berduaan. Lukman yang menyetir sementara Amel jadi navigator duduk disampingnya.
"Penunjuk jalan jalan ngantuk ya? Hehehe..."
"Ish, padahal udah tahu jalannya. Pake acara ledekin Aku. Hehehe..."
"Maaf, lupa. Padahal Nona manis bukan guide ya, tapi koq berhasil gaet hati Aku?"
"Hahaha..., Mas apaan sih? Garing banget tau, hahaha...! Kalo Inay dengar pasti dikomen, hahaha!"
"Iya, ya... hahaha!"
Sungguh suasana yang indah. Perjalanan yang menyenangkan. Mereka berdoa dalam hati, semoga Hari Bahagia akan dijelang tanpa ada halangan. Aamiin.
__ADS_1
BERSAMBUNG