Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 33 Pertemuan Kembali Dengan Istri Pertama


__ADS_3

Memiliki istri dua ternyata lumayan menyulitkan juga yang Soleh rasa.


Seperti hari ini. Dia padahal sudah memiliki kesepakatan dengan Juriah kemarin, kalau boleh ke rumah keluarga Amelia setelah Abinya membelikan sepeda motor.


Tetapi kenyataannya Juriah cemberut dengan bibir manyun seperti ikan cucut tatkala Soleh mulai membahas obrolan akan pergi setelah selesai sholat Ashar.


Padahal semalaman mereka kembali tempur dan main sampai tiga ronde hingga sprei ranjang tidur basah oleh keringat mereka yang bercucuran.


"Sayang..., Aku tidak enak hati kalau ingkar janji lagi. Please lah, fahami Aku, Juriah!" Soleh berusaha berkata selembut mungkin agar Juriah mengerti.


Istri mudanya itu sangat moodian. Terkadang bahagianya sampai senyum setengah harian. Namun dengan cepat juga berubah cuek, jutek dan judes seperti sekarang. Soleh sampai menepuk keningnya. Bingung dan pusing.


"Kamu kan tau, Mas... Abi Umi berangkat ke kampung sebelah dan baru pulang lusa dari sana! Masa' kamu tega tinggalin Aku di rumah sendirian?"


Lah? Biasanya juga begitu kan?


"Sayang..., kamu kan gak sendirian di rumah ini. Ada Yu' Ima, Yu' Sum, Uni, Mas Toba, Mas Dodon, kamu bisa minta temani dulu seperti biasa. Please Yang, Aku cuma semalam aja kok disana. Pagi-pagi sekali aku pulang ke sini. Kita bisa ke Asamka buat lihat bengkel dan mulai benah-benah buat pindahan nanti. Ya? Ya?"


Juriah masih menekuk wajahnya.


"Buat apa Aku nikah kalo ujung-ujungnya masih minta ditemenin sama mereka!?" ujarnya ketus.


"Inikan sudah keputusan kita kemarin, Ayank! Coba kamu bayangkan, bagaimana perasaan Amelia. Dia juga istriku. Seandainya kamu tukar posisi sama Amel, bagaimana perasaanmu."


"Ish, kata Mas aku adalah istri yang terbaik. Kata Mas kemarin bakalan ngelakukan apa saja buat kebahagiaanku! Mana itu buktinya?!"


Soleh memerah wajahnya. Juriah memiliki ingatan yang kuat dan otak yang cerdas sehingga dengan mudah mematahkan semua ucapannya. Sangat berbeda dengan Amelia yang terkesan manut dan menurut saja.


"Sayang,... Aku harus kesana sebentar saja. Tolong, beri aku kemudahan agar kedepannya bisa terus hidup bersamamu. Kita telah menikah. Tidak mungkin aku pergi meninggalkan kamu begitu saja tanpa pertanggungjawaban. Juriah, Aku... adalah pria dewasa yang harus bisa mengambil sikap juga."


Juriah menunduk. Air matanya jatuh bercucuran. Antara sedih karena harus menerima kenyataan dan juga senang karena suaminya adalah pria yang bisa memberinya pengertian.


Ia menubruk tubuh Soleh sembari menangis tergugu di dada bidang suaminya itu.


"Mas harus ingat Aku juga ya? Huhuhu... cepat pulang. Cepat kembali. Aku merindukanmu. Hiks hiks..."


Soleh tertawa kecil. Hatinya berbunga-bunga. Juriah sudah seperti gadis cilik yang sedang sangat bucin padanya dan selalu ingin mengekor terus disampingnya.


Ia segera memeluk tubuh istri mudanya itu dengan bisikan rayuan maut yang mematikan.


"Hei, cantik! Hanya kamu seorang yang bisa memuaskanku diatas ranjang, Juriah Sayang! Amelia,... tidak bisa."


Seketika jantung Soleh berdentum keras.


Kebohongannya semakin menjadi demi untuk membuat Juriah bahagia dan percaya pada dirinya.


Sungguh suatu hal yang terlihat sepele. Namun kebiasaan Soleh berbohong mulai bertumpuk dan terus menambah dosa. Tanpa sadar ia sedang menabung karma untuk dirinya sendiri.


..............

__ADS_1


Butuh sandiwara dan drama, dengan luapan perasaan serta emosi yang mengocok hati.


Soleh kini akhirnya bisa lepas juga dari pelukan hangat Juriah.


Perjalanan menuju ke kampung kedua orang tua istri pertamanya, Amelia dengan motor gede baru yang dibelikan mertua istri kedua.


Sungguh suatu hal yang sangat membahagiakan hati Soleh.


Ia ingin memperlihatkan kepada Amelia, kalau pencapaiannya yang belum satu bulan sudah lumayan besar. Dan pastinya Amel akan terkesima melihat keberhasilannya.


Ia ingin Amelia turut senang melihat motor barunya yang non kredit alias dibeli tunai.


Amelia terpana melihat Sang Suami yang duduk dengan gagah diatas motor barunya.


Seperti yang tadi Soleh bayangkan, Amelia hanya menganga menatapnya tak berkedip.


"Motor siapa, Bang?" tanya Amelia, kagum dengan kuda besi R15 milik Soleh. Dan Soleh menepuk dadanya jumawa.


"Kamu?" tanya Amelia lagi seolah tak percaya.


"Dibelikan Pak Ojan, Abinya Juriah!" jawabnya dengan suara ditahan karena khawatir Ibu dan Bapak Amelia ada di sekitar dan turut mendengar.


Amelia tak dapat berkata-kata. Ia mengajak Soleh untuk masuk ke dalam rumah.


Secangkir kopi capuccino panas membuat Soleh memejamkan mata dan menghirup aroma khasnya yang sudah cukup lama dirindukan terhidang lengkap dengan gorengan. Amelia memang sangat mengerti kesukaan Sang Suami.


"Terima kasih, Yang!" kata Soleh seraya tersenyum menatap wajah Amelia.


"Kamu mau kemana? Sudah berdandan cantik!" tanya Soleh lagi setelah memperhatikan penampilan Amelia yang sudah berpakaian rapi dengan wajah ber-make up meskipun tipis tapi terlihat manis.


"Aku kan mau ke rumahnya Pakde, Bang! Bantu-bantu lagi di sana. Ini tahlilan hari ke-tiga. Mas mau kesana kan?"


Soleh mengangguk setelah menyeruput kopi capuccino saset yang diseduhkan Amelia.


"Kita bareng aja kesananya, Mel!"


"Inayah dan Gaga? Hm... kasian kalo mereka naik angkot hanya berdua saja, Bang! Emak Bapak sudah ada di sana. Emak bahkan menginap sejak hari pertama Bude wafat."


"Hm."


Soleh terdiam. Mulai terlihat kekecewaan di raut wajahnya yang datar.


"Terus, aku naik motor sendirian gitu?"


"Gaga aja Bang yang ikut Abang! Hehehe..."


Gaga, adik bungsu Amel keluar dari kamar dan langsung menyambung pembicaraan Soleh dengan Amelia.


Soleh tertawa kecil sembari menyambut uluran tangan Gaga yang hendak salim padanya.

__ADS_1


"Motor yang Abang bawa keren! Motor GP ya Bang? Gaga ikut dibonceng ya? Ya, ya?"


Anak kelas empat SD itu berputar-putar sembari menengok ke luar memperhatikan motor Soleh dengan tatapan kagum.


Dasar anak norak! Menyebalkan sekali si Amel dan keluarganya.


Soleh menarik tangan Amelia dan mengajaknya masuk kamar Sang istri.


"Aku kan bawa motor itu memang buat mbonceng kamu! Kenapa kamu malah terlihat ga bersemangat waktu Aku ajak? Istri lain bangga dan sangat senang jika suaminya mengajak boncengan. Tapi kamu,"


"Bukan Aku ga seneng, Bang! Dua adikku naik angkot, Aku milih boncengan motor sama kamu, apakah itu elok? Sedangkan tujuan kita sama-sama berangkat ke rumah pakde. Kecuali kalo adik-adik bersama Emak Bapak, mungkin Aku akan tega. Tapi ketika mereka hanya berdua saja naik angkot dan Aku enak-enakan naik motor, rasanya..."


"Halah alasan! Mereka sekolah tiap hari sendiri naik angkot. Kamunya aja yang lebay! Dan asal kamu tahu, Juriah justru nangis-nangis di rumah orang tuanya ga mau kutinggal. Huhh! Sikapmu bikin Aku emosi!"


Amelia menelan ludah. Ia menyesal membuat Soleh marah.


"Maaf, Bang! Maaf... Bukan maksudku membuat Abang marah. Ya udah, Aku ikut dibonceng kamu."


"Ga usah. Aku bonceng Gaga saja. Kamu naik angkot sama Inayah."


Soleh akhirnya memutuskan yang jadi pilihan awal Amelia.


"Mas jangan marah, kumohon! Hehehe... (Cup)"


Amelia mengecup bibir suaminya yang sudah hampir sepuluh hari tidak memberinya kehangatan.


Soleh menatap tajam Amelia. Kemudian senyumnya tersungging. Luluh juga melihat Sang Istri seperti sedang menggoda.


Ia memeluk tubuh Amel dengan hati gembira.


"Kamu pasti malu ya ngakuin kalo kangen berat sama aku?"


Amelia tersipu. Wajahnya merona merah jambu. Lalu perlahan kepalanya mengangguk.


Dengan Amelia, Soleh tidak perlu ja'im alias jaga image.


Soleh tak perlu ragu-ragu untuk mensosor b+b+r merah padat milik Amelia. Dan kini mereka saling melahap. Mengungkapkan segala isi kerinduan di dada.


"Malam ini Mas tidur di sini kan?" tanya Amelia ingin memastikan.


Soleh mengangguk. Dia mengganas menyundul gunung kembar Amelia dan masuk ke dalam kemeja longgar sang suami.


"Mas..., tahan Mas! Hei, Gaga sama Inayah menunggu di luar! Hihihi...! Ayo, ayo kita berangkat. Mumpung baru jam empat lewat."


"Haish! Kamu ini, Mel! Bujangku sudah bangun ini! Ish, sebentar lah naik kesitu!"


"Sssttt...! Hehehe... nanti malam kubuatkan ramuan spesial," goda Amelia membuat Soleh makin terpacu khayalan sy+w+tnya.


Mereka berjalan ke luar kamar setelah puas berci++man.

__ADS_1


Soleh menggandeng mesra Amelia. Melangkah bersama dan berpisah karena beda kendaraan.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2