
"Ma_maaf... Aku, aku takut disana sendirian. Aku fikir, mas Victor pergi, tinggalkan aku."
Juriah terbata-bata menjelaskan kedatangannya yang tiba-tiba membuat Arthur dan Victor terkejut.
"Berbaurlah, Putri! Di dalam sana kamu bisa berkenalan dengan banyak orang dari berbagai profesi. Tapi jangan berkenalan dengan sembarang orang! Hanya itu saja saranku."
Victor memberikan Juriah nasehat yang baik. Sementara Arthur menatapnya dengan tatapan mata yang tajam tak berkedip.
"Tunggu! Tunggu, Juriah!" sela Arthur membuat Juriah kian gugup.
"Kenapa kau masih di sini? Bukankah aku sudah mengantarkanmu sampai terminal dan meninggalkanmu di atas biskota jurusan xxx? Sebegitu inginnya kah kau menghancurkan kehidupan Mbak Amelia karena dia kini telah bahagia?"
"Aku,... aku tidak sejahat itu!" bela Juriah dengan suara kencang bercampur cucuran air mata yang tak tertahan.
"Aku yang membawanya turun dari bus selepas kau tinggalkan dia!"
"Victor? Kau??? Apa rencanamu hingga mengajaknya serta?"
"Tentu saja niatku adalah ingin membuatmu panik dan kehidupanmu kembali goncang. Dan kau..., kembali mencari aku. Kau kembali membutuhkan aku sebagai teman curhat dan rumahmu seperti dulu."
"Gila! Kau pikir rencanamu itu akan berhasil? Hm? Inginkan aku hancur? Begitu, Victor?"
"Aku melihat raut kecemasan di wajahmu. Aku bisa merasakan kalau kau takut pada Juriah. Aku mengenalmu cukup lama, dan aku tahu apa yang bisa membuatmu terlihat tidak nyaman tapi melihat Juriah, kau seperti melihat hantu. Itu sebabnya kupikir Juriah bisa menjadi senjataku. Aku ingin kau dan istrimu bermasalah."
"Hhh..."
Arthur menarik nafas. Victor benar-benar bagaikan bocah lima tahun yang sedang cemburu padanya.
"Dia ini, adalah perempuan yang pernah menjadi madu kakak iparku. Dia, ada di ibukota ini dan aku takut kehidupan rumah tangga kakak iparku dengan suaminya yang sekarang jadi goncang. Itu makanya aku tidak ingin perempuan ini ada di Ibukota. Bahkan dia sempat menginap di rumahku karena keadaannya yang menyedihkan. Dan istriku yang tidak mengenalnya dengan polosnya membantu, mengizinkan dia menginap semalam. Itu karena hatinya yang baik."
"Kenapa kau takut Juriah menghancurkan kehidupan kakak iparmu lagi? Bukankah Juriah tidak bermaksud begitu sebenarnya?"
"Dia, pandai bersandiwara. Dia pandai akting dan menjual kisah sedihnya! Buktinya dia bisa merebut Solehudin dari tangan Amelia dan setelah pria itu hancur, ditinggalkannya dan kini ingin mencari mangsa baru."
Juriah menelan ludahnya. Air matanya kian deras mengalir tapi tanpa suara.
"Aku ada dipihak Juriah! Dia tidak sejahat itu! Aku mengenalnya! Aku yang merubahnya selama satu bulan lebih ini, Arthur! Kau... terlalu bernegatif thinking pada Juriah! Bukankah kau kini telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik? Tapi kenapa kau masih memiliki ketakutan berlebih? Tidakkah kau ingat tentang pak tua buta yang tidak punya rasa takut dagangan pisangnya diambil orang karena memahami konsep kehidupan? Kau kembali takut pada apa yang seharusnya tidak perlu kau risaukan karena semua orang memiliki nasib dan takdir masing-masing!"
Deg.
Jantung Arthur berdegup kencang tatkala Victor mengatakan hal itu.
Dia menyadari ucapan Victor benar.
"Aku, melihat sendiri kehancuran seorang Solehudin dan kini hidupnya seperti apa gara-gara perempuan ini. Hati-hati, Victor! Bisa jadi perempuan ini juga sedang berdrama menjual kisah sedihnya padamu dan akhirnya playing fictim seolah dirinya adalah korban."
__ADS_1
Hancur hati Juriah mendengar tuduhan Arthur yang lugas tanpa perasaan.
Pecah tangisnya.
Juriah membalikkan badannya, berjalan cepat kemudian berlari sekencang-kencangnya.
Ia ingin menghilang segera dari dunia ini karena hidupnya yang penuh kepahitan.
"Juriah! Putri! Tunggu!!!" teriak Victor serba salah.
"Kau terlalu cepat menuduh yang bukan-bukan padanya, Arthur!" kata Victor lagi. Kali ini ia berniat menyusul Juriah yang berlari ke arah pintu keluar belakang gedung.
"Seandainya kau bisa merubahnya menjadi perempuan baik-baik, aku sangat apresiatif padamu, Victor!"
"Kau menantangku? Akan kujabani!" teriak Victor sembari mengacungkan jari tengahnya pada Arthur dan berlari mengejar Juriah.
Arthur menghela nafasnya.
Pertemuan ini begitu melelahkan baginya. Tapi juga melegakan.
Kesalahpahaman diantara dirinya dengan Victor perlahan mencair.
Beberapa tahun yang lalu, mereka akrab satu sama lain. Bahkan pernah beberapa minggu tinggal bersama ketika sedang survey lokasi syuting untuk project film mereka.
Namun Victor berulah.
Tentu saja Arthur bergidik, ngeri juga membayangkan dirinya yang kian jauh hidup tak tentu arah setelah ketidakpercayaan dirinya dengan adanya Tuhan.
Arthur masih berfikir waras.
Masih ingin hidup normal dengan layaknya manusia. Menyukai lawan jenis dan berhubungan intim dengan perempuan, bukan dengan laki-laki.
Membayangkannya saja Arthur sudah ngeri. Apalagi jika ia harus menerima cinta Victor dan mereka melakukan hal gila.
Arthur perlahan menjauh. Menjauh dan menjauh dengan alasan orangtuanya yang selalu inginkan dirinya pulang ke San Fransisco setiap waktu.
Arthur sengaja mengambil lokasi syuting di luar pulau Jawa. Tentu saja niatnya adalah untuk menghindar dari Victor.
Tanpa ia sadari, ternyata Victor memendam emosi yang tak terkendali. Victor mengambil keuntungan dari Juriah yang saat itu sangat ingin sekali Arthur pulangkan ke kampung agar tidak membuat goncang kehidupan Amelia lagi.
Arthur mengingat ucapan Victor. Dirinya terlalu bersuudzon pada Juriah.
Bisa jadi Juriah dan Soleh memiliki kisah sebelumnya yang tidak ia ketahui.
Arthur teringat ceramah ustadz nya di kuliah subuh beberapa minggu yang lalu.
__ADS_1
Bahwa manusia itu sebenarnya adalah insan yang lemah karena kelebihannya sendiri. Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling sempurna dari makhluk lainnya.
Itu karena manusia diberikan akal fikiran oleh Allah SWT.
Tapi karena akan fikiran itu pulalah manusia bisa menjadi makhluk paling lemah dibanding makhluk ciptaan Allah yang lainnya.
Akal fikiran manusia membuatnya modian dan gampang dihasut setan. Manusia mudah labil, gampang lemah iman seiring perkembangan otaknya yang suka sekali traveling.
Sejatinya di dunia ini, tidak ada manusia yang tidak memiliki kesalahan.
Bahkan nabi Adam yang seorang bapak dari manusia pernah berbuat salah sampai Allah menurunkannya dari surga ke bumi.
Jadi intinya, manusia itu bisa jadi jahat dan juga baik.
Tak ada manusia yang selamanya baik. Begitu pula sebaliknya. Manusia jahat pun pasti punya sisi baiknya.
Itu sebabnya ada doa yang mengkhususkan manusia meminta agar diwafatkan dalam kondisi Husnul khatimah.
Yakni dalam keadaan sedang berbuat baik. Dalam kondisi jiwa dan raga memuja Allah Ta'ala. Itu permintaan hampir semua umat manusia.
Hhh...
Arthur kembali menghela nafasnya.
Ia harus merubah kecemasannya menjadi kepasrahan pada Allah Ta'ala.
Ketakutannya akan goyangnya rumah tangga Amelia dan Lukman karena adanya Juriah di Ibukota memang terlalu berlebihan.
Entah mengapa, fikirannya kini jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Arthur menepuk keningnya. Mengakui kalau dirinya masih begitu bodoh dan belum menjadi pribadi yang benar-benar baik karena masih bisa memiliki rasa was-was pada dunia. Padahal ia sangat meyakini, sesuatu itu terjadi atas kehendak Allah Ta'ala Tuhan Yang Maha Esa Yang Maha Segalanya.
Apapun itu, akan terjadi atas izin-Nya.
Tapi tidak bisa terjadi jika Allah tidak mengizinkan.
Amelia dan Lukman sudah hidup bahagia. Jika memang pondasi cinta, kasih sayang mereka telah kokoh tertancap, badai cobaan seperti Juriah pasti tidak akan meluluhlantakkan nya. Arthur berkeyakinan itu.
Dia tak perlu cemas lagi. Amelia dan Lukman pasti punya caranya tersendiri menyikapi semua permasalahannya.
Sama seperti dirinya dan Inayah ketika menyikapi kedatangan Bianca serta Pupu setengah tahun yang lalu.
Kini Arthur melangkah tenang.
Ia akan kembali berbaur dengan para sineas dan berbincang-bincang perihal perfilman yang jadi pilihan usahanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG