
"Morning, Beib! Gimana tidurnya? Nyenyak?"
Inayah tersenyum senang karena melihat wajah Arthur tepat ketika kelopak matanya terbuka.
"Sa_sayang? Aku kesiangan! Ini udah jam berapa?"
"Jam enam lewat. Hehehe..."
"Ya Allah ya Karim! Aku kesiangan sholat Subuh! Kenapa gak dibangunkan, sih Yang?"
Cup. Arthur mengecup pucuk hidung istrinya dengan cepat.
"Sudah. Sudah tiga kali malahan. Tapi kamunya terlalu pulas tidurnya sampai Aku gak tega buat nyubit pant++ kamu. Hehehe..."
"Haaa..."
Inayah segera beranjak dari ranjang. Ia bergegas masuk kamar mandi. Tergopoh-gopoh ambil wudhu, lalu ambil sajadah dan pakai mukena.
"Allah Maha Tahu. Allah Maha Pengampun. Maaf, sholat Subuh ku terlambat." Gumamnya cepat lalu mulai nawaitu dan khusu' ibadah kerjakan yang dua rakaat.
Arthur tersenyum manis. Ia keluar kamar, kembali lanjutkan merapikan dandanannya di ruang ganti di sebelah.
Tak butuh waktu lama, Inayah telah tunaikan kewajibannya. Lalu bergegas menuju Arthur yang sedang mematut di depan kaca membandingkan satu dasi dengan dasi lain yang hendak ia kenakan ke kantor pagi ini.
"Ini bagus, Mas! Tumben, pakaiannya rapi sekali pagi ini."
Arthur menoleh. Inayah menyulurkan jemarinya dan mencium punggung lengan Arthur yang langsung menyambutnya.
"Iya. Ada pertemuan para sineas muda di Ram Production. Ini kesempatan banyak orang film untuk saling bertukar pikiran demi kemajuan perfilman Indonesia."
Inayah memegang kedua belah pipi Arthur yang lembut setelah bercukur kumis dan jenggot selesai subuh tadi.
"Tampannya! Adakah sutradara cewek, Mas? Kira-kira masih muda atau sudah... berumur gitu?"
Pertanyaan ngasal Inayah membuat Arthur tergelak.
"Ish, koq tanyanya gitu!? Kamu lagi nyelidik ya? Ada ceweknya gitu? Hahaha... ceritanya sedikit was-was ya? Atau mungkin sedang jelous? Hm? Hm?"
Inayah tertawa lepas. Ternyata penyelidikannya langsung diketahui sang suami.
Keduanya saling berangkulan dan tertawa.
"Dunia intertainmen itu memang penuh warna. Agak menyeramkan dan mudah sekali tergelincir ke jurang kenistaan jika kita tidak pandai-pandai membawa diri. Tentu saja aku tidak ingin menutupi semua itu dari kamu, Yang! Dunia kami memang lebih banyak tipu muslihatnya. Karena kami memang menawarkan dunia akting. Semua drama dan sandiwara, juga berlaku di belakang layar. Termasuk kami para kru penggiat perfilman. Cewek cowok, tua muda berbaur membuat dunia perfilman semakin berwarna. Tapi balik lagi, tergantung kitanya, Inayah."
Inayah mengerjap. Ia tersenyum dan mengangguk.
Keraguan dihatinya kini hilang sudah.
Ia tersipu malu mengingat betapa kehidupan suaminya dulu itu pastilah sangat berbeda. Baginya yang penting Arthur selalu setia mencintainya. Tak ada niatan menggantikan dirinya sebagai ratu di rumah tangga kecil bahagia ini.
"Mas..."
"Hm?"
"Andaikan perutku kian membuncit. Tubuhku melebar karena faktor kehamilan. Mukaku tumbuh jerawat dan aku jadi jelek, kamu akan illfeel dan,"
"Dan apa? Dan apa? Hadeeuh, jangan ngomong sembarangan! Kamu adalah kamu, tetap istriku yang paling cantik dan paling kucintai. Aku adalah aku. Tetap suamimu yang makin tua berumur dan tak lagi gagah perkasa seperti para bujangan keren di kampusmu itu. Sudahlah. Jangan bahas begituan. Bikin aku emosi, tahu! Aku mengiri melihat teman-teman kampusmu yang muda, tampan, gagah dan keren dengan style anak muda masa kini. Beda sama aku. Kamu kalo jalan sama Aku, seringkali kulihat diwajah orang-orang yang perhatikan kita, hati mereka pasti bilang "Oh, Bapak sama anak. Oh, Om-om doyan daun muda. Oh, begini oh begitu."
"Hahaha hahaha, apa sih, Mas?! Hahaha, kamu tuh apa sih punya pemikiran kayak gitu! Aku justru seringkali ngerasa pikiran orang-orang yang lihat kita jalan berdua gini, "Hmmm... Cowoknya keren maksimal, ceweknya anak kampung yang kampungan. Mungkin memang orang kampung. Mau digosok biar mengkilap pun tetap saja orang kampung. Kasihan ya cowoknya, dapet cewek buluk. Itu yang cewek dapet tuh cowok berkah tapi yang cowok dapet yang cewek musibah."
Lagi-lagi keduanya saling berangkulan.
"Papa, Bunda? Sampai kapan kalian bakalan terus tertawa-tawa seperti itu? Pupu dari tadi menunggu kalian di meja makan. Papa kapan berangkat kantornya? Jadi gak antar Pupu ke sekolah?"
"Oalaa..."
__ADS_1
"Astaghfirullah... hehehe, maaf Pupu Sayang! Maaf, Bunda sama Papa malah asyik bercanda. Ayo, ayo... kita sarapan. Papa nih, nakal, Pu!"
"Papa! Jangan nakal-nakal sama Bunda! Pupu bisa marah sama Papa kalau Papa jahatin Bunda."
Inayah tertawa bahagia.
Tangan mungil Pupu menuntunnya dan Arthur tergelak sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Hidupnya kini telah sempurna.
Ada Istri yang cantik, muda dan membahagiakan hatinya. Ada anak yang tampan, baik dan sayang pada orangtua meskipun bukan lahir dari rahim Ibu yang merawatnya sekarang.
Dan satu lagi, ada calon bayi yang sedang dikandung istrinya itu. Calon anak buah hati cinta mereka.
Arthur bersyukur sekali pada Tuhan.
..................
Juriah duduk dengan badan agak gemetar.
Gaunnya yang mahal dan bagus mampu menyulapnya bagaikan putri Cinderella yang cantik jelita. Penampilannya anggun berkelas. Sangat persis seperti para artis cantik yang berseliweran di acara jamuan di hotel bintang lima itu. Tetapi hati dan jiwa Juriah yang gugup kikuk membuatnya deg-degan terlihat cukup jelas.
Hari ini ia diajak Victor untuk ikut ke acara penting, temu kangen dengan para sineas muda di perusahaan film paling besar di Indonesia. Ram Production House.
Ada banyak orang-orang penting bahkan jauh lebih tinggi kedudukannya dari para selebritis dan artis. Mereka adalah para pengusaha film sekelas produser.
Jika Juriah memiliki hoki, kehadiran pertamanya bisa membukanya masuk ke jalur keartisan. Begitu Victor bilang.
Juriah yang sekarang bukanlah Juriah yang dahulu.
Namanya kini adalah Putri Fania. Identitasnya telah berganti. Victor adalah induk semang yang hebat dalam urusan merombak total jati diri dan juga penampilan Juriah.
"Putri, sini!"
"Kenalkan, Putri Fania. Dia... adikku."
Senang hati Juriah bukan kepalang. Victor memperkenalkan dirinya sebagai adik, bukan asisten atau anak buah. Merona merah jambu wajah Juriah. Kansnya menuju ketenaran mulai menapaki jalan.
"Waah, kamu punya batu pualam cantik yang disembunyikan, Vic! Apa sengaja kau simpan untuk film pamungkas? Ada sken naskah baru kah?"
"Hahaha kepooo kalian! Ada saatnya nanti. Hehehe, mohon doanya saja!"
"Calon artis kah? Atau..., bisa kami ambil sebagai pemeran utama nantinya?"
"Aku masih sedang menggodoknya. Adikku ini masih teramat polos. Jiwanya masih murni. Tidak seperti kalian yang berjiwa setan. Hahaha..."
"Hahaha, sialllan!"
Sebelum Juriah dibawa Victor ikut acara temu para sineas Indonesia, Victor telah memberinya pengarahan dan juga tujuannya.
"Aku ingin membuatmu menjadi perempuan yang terkenal. Kamu punya sisi keberuntungan itu. Kamu cantik. Punya sisi misterius. Tinggal kuasah sana-sini, poles sana-sini. Aku yakin suatu hari nanti kamu bisa jadi aktris terkenal. Kamu ada bakat dibidang seni akting. Itu yang kulihat dari mata batinku. Satu catatan penting dariku. Jangan cepat berpuas diri. Jangan malas belajar dan mengambil ilmu dari orang-orang hebat. Dan jangan sombong. Itu saja pesanku."
"Jadi, Mas Victor ingin aku jadi artis? Bisakah? Apa aku mampu? Bukankah aku diajak mas karena ada hal penting yang ingin mas lakukan dengan keluarga mantan maduku? Keluarga dari mas bule?"
"Kamu tahu? Aku ini orang yang suka sekali memanfaatkan kesempatan. Jika kamu bisa menghasilkan uang, kenapa tidak kumanfaatkan? Satu dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali tepuk, dua nyamuk mati. Faham maksudku? Kamu tetap jadi orang yang bisa kumanfaatkan menarik kembali si Arthur. Dan kamu juga bisa kubuat jadi artis terkenal."
Juriah tersenyum tak percaya.
Kedua bola matanya membulat. Penuh hasrat dan khayalan ketika Victor menceritakan niatannya untuk membuat Juriah jadi artis besar.
Juriah mengangguk.
Ia meraih jemari Victor tanpa ragu. Mencium punggung tangannya seraya berkali-kali mengucapkan kata terima kasih.
__ADS_1
Victor tersenyum melihat respon Juriah yang membuatnya kian yakin.
"Hari ini aku akan membawamu serta ke pertemuan para sineas. Disana kamu bisa berkenalan dengan banyak orang dan banyak karakter. Ingat, dunia intertainmen adalah dunia yang tidak bisa dipercaya. Jangan langsung percaya dengan mulut manis mereka yang memujimu dan memintamu ikut PH mereka. Tapi jangan sombong dan usahakan humble. Pekerjaan banyak berserakan disana. Pilihanmu adalah ingin jadi orang besar atau ingin jadi keset pintu kamar mandi. Semua tergantung pilihanmu."
Juriah menelan salivanya.
Ucapan Victor membuatnya menciut tentang dunia keartisan.
"Arthur!"
Victor menoleh mendengar nama Arthur dipanggil rekannya.
Juriah ikut menoleh. Mata indah Juriah diam-diam memperhatikan Victor yang terlihat kikuk dan agak gelisah.
Juriah menggenggam tangan Victor. Keduanya bertatapan dan... seperti ada chamistry yang menguatkan kontak batin keduanya.
Juriah dan Victor berjalan mendekati Arthur yang sedang dikelilingi para sutradara dan produser. Mereka menyalami Arthur. Memberinya ucapan selamat atas keberhasilan film Istri Muda Untuk Suamiku berhasil masuk kategori film indie Asia terfavorit di Cannes Film akhir tahun lalu.
Prestasi Arthur semakin gemilang. Apalagi setelah dirinya diketahui telah menikah dan hidup lurus bahagia bersama keluarga kecilnya.
Arthur yang sangat berbeda dengan Arthur yang dulu.
"Selamat ya, Arthur!?"
"Victor! Terima kasih. Bagaimana keadaanmu? Apa kantor PH mu sudah direnovasi? Pindah kemana sekarang?"
"Syukurlah. Semuanya bisa kuatasi meskipun kamu menghilang pergi. Kantorku sekarang ada di jalan Pecenongan. Mampirlah tengok gubuk usahaku sesekali. Jangan lupakan Aku dan semua kenangan kita membangun usaha perfilman yang pernah kita khayalkan. Dan akhirnya kamu kian meroket tanpa membawa diriku serta."
Arthur tertawa.
"Maaf, sobat. Bukan maksudku melupakanmu. Tapi, aku tidak bisa mengikuti jalan fikiranmu. Aku,..."
Arthur menghentikan perkataan. Bibirnya membulat lebar tatkala matanya menatap Juriah.
"Kamu?!?"
Juriah tersenyum.
Victor memang belum memperkenalkan dirinya.
"Kenalkan. Dia adik sepupuku. Putri Fania namanya."
Arthur menoleh ke arah Victor.
"No! She is not Putri Fania, she is..."
Juriah mengulurkan tangannya. Mengajak Arthur berjabat tangan.
Jantung Juriah berdegup kencang. Khawatir kalau dirinya akan ketahuan Arthur dan suasana di sana jadi kacau karena kehadirannya.
Untungnya sekolah kepribadian selama satu bulan mampu membuat Juriah bisa menguasai hati dan jiwanya yang seakan hendak meledak.
"Kenapa, Arthur? Kamu kenal Putri sebelumnya?" tanya Victor sengaja memancing sikap Arthur yang terlihat pucat.
"Exercise me! Boleh kita bicara empat mata?" Arthur bertanya pada Juriah.
"Maaf, Arthur. Dia orangku. Ingin berbicara empat mata? Kecuali denganku!"
Arthur menelan saliva.
Ia melihat kelicikan di bola mata Victor yang memang sepertinya sedang mengambil keuntungan dari keadaannya itu.
"Mari kita berbicara empat mata!" ajak Arthur akhirnya pada Victor.
Keduanya berjalan menuju lorong aula. Mencari tempat yang sunyi untuk bicara.
__ADS_1
Bersambung