Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 82 Kini Ojan Menggila


__ADS_3

Samsiah terkejut mendengar operasi Pencangkokan bola mata Ojan yang gagal.


Alih-alih memiliki mata kembali seperti normal, Ojan justru semakin terlihat aneh menyeramkan.


Mobil yang dikendarai oleh Ojan hampir saja menabrak motor. Dan ternyata motor Soleh menantunya sendiri yang nyaris jadi korban sang supir yang mengantar karena makian Ojan sepanjang jalan.


Sesampainya di rumah, Ojan juga melampiaskan emosinya pada sang istri yang justru terlihat semakin cantik dan awet muda.


Ojan kian kesal karena wajah tampan yang dulu begitu dipuja Samsiah berubah menjadi buruk rupa dengan satu mata. Sangat mirip setan Dajjal yang konon bermata satu dengan wajah menyeramkan dan rambut ikal gimbal.


Ojan benar-benar kesal ketika Samsiah menolaknya untuk melakukan hubungan intim saat itu juga.


Habis semua perabot rumah tangga yang menjadi penghias lemari kaca berwarna gold koleksi Samsiah dihancurkan Ojan.


Brueenggg


Gombrang


Gombrenggg!!!


Pranggg


Samsiah ketakutan dengan tubuh berdiri di pojokan kamar.


"Buka bajumu! Buka!!!" hardik Ojan pada Samsiah yang menahan tangis sesegukan.


"Buka!!! Mana dedikasimu sebagai seorang istri terhadap suami? Mana? Diajak mencari pahala kau malah menolak! Kenapa? Karena wajahku kini buruk rupa? Mirip setan Dajjal? Hah?!? Kau malah mempercantik diri! Buka bajumu! Kubilang buka ya buka! Atau harus kurobek pakaianmu yang tipis mengundang syahwat itu!?"


Samsiah menurut juga.


Pelan-pelan Ia menanggalkan satu persatu helai demi helai. Hingga tersisa daleman saja.


"Hm. Kau apakan dadamu? Operasi? Kenapa semakin besar dan kencang membuatku menangis tak lagi bisa melampiaskan hasrat ini!?!"


Ojan menarik tangan Samsiah.


Memeluk erat tubuh istrinya dan membuka paksa pengait penutup dada Samsiah.


"Mas... Abi Sayang! Abinya Umi tersayang! Hik hik hiks... Cinta Umi hanya untuk Abi seorang! Tetapi kita ini sudah tak lagi muda. Hasrat untuk melakukan kegiatan itu sudah tidak lagi seperti dulu. Itu lumrah, Sayangku!"


"Bagaimana bisa kau menahan keinginan untuk tidak meminta nafkah batinmu kepadaku? Bagaimana kau menyiasatinya? Sedangkan dulu kau sering ngambek marah-marah jika Aku keluar rumah untuk berkumpul dengan teman-teman berjudiku semalam suntuk. Kau bilang kau kedinginan! Kau kata, kau ingin selalu aku manja! Sekarang?! Kau bahkan tak pernah bilang kangen padaku! Kau tidak peduli lagi padaku! Apa kau punya selingkuhan???" teriak Ojan membuat mata Samsiah berkedip ketakutan.


Wajahnya pucat pasi seperti mayat.

__ADS_1


Khawatir kalau hubungan terlarang yang Ia jalani bersama berondong manisnya yang tak lain dan tak bukan adalah adik ipar menantunya itu sampai ketahuan sang suami.


Samsiah mulai mengambil langkah.


Ia menghujani ciu+an ke tubuh Ojan dengan nafsu membabi-buta.


Berusaha memancing hasrat bir+hi Sang Suami agar melupakan apa yang barusan diucapnya.


Ojan terpancing.


Namun sayangnya, dirinya bukan lagi Ojan yang dulu.


Yang mudah nafsuan dan langsung memboyong Samsiah ke atas ranjang.


Kini tubuhnya benar-benar ringkih dengan tampilan visual yang tidak enak dipandang mata. Lengkap sudah Tuhan memberinya hukuman padahal umurnya sepertinya masih akan panjang.


Ojan hanya mere?as-rem+s pay++++ dengan sangat kasar agar terlampiaskan hasr+t jiwanya yang membabi-buta.


Bibirnya juga dengan kekuatan seadanya menyusuri seluruh lekukan tubuh Samsiah yang semakin menggair++kan tetapi tak mampu Ojan tuntaskan seperti di masa jaya dulu.


Alhasil, gigitan giginya yang menempel di setiap jengkal bagian badan Sang istri yang menangis kesakitan.


Ojan melakukan penyiksaan fisik tanpa Ia sadari.


Begitulah jika seseorang tidak lagi mampu menyalurkan hasr++ biol++++nya dengan benar.


Penyiksaan menjadi jalan yang ditempuh untuk mendapatkan kepuasan.


Samsiah hanya bisa terlentang pasrah dengan air mata berurai menahan rasa sakit dan perih pada perangkat lunaknya.


Cukup lama Ia menangis dalam diam sementara Ojan tertidur pulas dengan tubuh telungkup di sampingnya.


Suaminya telah berubah menjadi monster. Ojan memang pantas jika Samsiah juluki monster karena kelakuan bejatnya yang kini semakin sempurna.


Benar-benar pemuja setan yang konsisten. Begitu Samsiah merutuk dalam hati.


Satu jam kemudian Ia bangun dan tertatih berjalan menuju kamar mandi.


Rasa sakit, ngilu dan perih membuat Samsiah kian hancur tatkala menatap tubuhnya di cermin kamar mandi.


Jejak-jejak tanpa yang Ojan tinggalkan membuat tubuh putih mulusnya laksana kuda Australia yang diserang nyamuk malaria. Merah-merah dimana-mana.


Samsiah menangis sesegukan.

__ADS_1


"Sayang! Samsiah!!! Ada apa? Kamu mau tambah lagi? Kamu masih belum merasakan kepuasan? Mari sayang! Ayolah! Kita lakukan sekali lagi!"


Terdengar suara panggilan Ojan dari atas ranjang tidur.


Samsiah menutup mulut. Ia menahan tangis hingga membuat sesak dadanya.


"Sayangku? Sam..., Sayang!"


"Aku sangat puas, Mas! Puaaass sekali!" jawab Samsiah dari dalam kamar mandi.


"Hehehe... syukurlah! Kalau begitu, Aku bisa tidur dengan nyenyak sekarang! Dan kamu tidak perlu sungkan untuk minta tambah lagi. Karena kita ini sudah menikah puluhan tahun. Bukan setahun dua tahun yang harus malu-malu minta jatah. Hehehe..."


Samsiah terdiam dengan air mata yang terus mengalir.


Tubuhnya rusak digambar gigitan Ojan yang tidak pakai perasaan.


Mandi adalah pilihan terbaik untuk menghilangkan rasa sakit hati serta badannya yang terasa ringsek.


Samsiah pelan-pelan mengambil baju-bajunya dari lemari.


Sesekali ia menoleh pada Ojan yang telah pulas, bahkan sampai terdengar dengkurannya.


Samsiah bertekad ingin kabur.


Ingin mencari kekasih hatinya yang biasa memanjakan dirinya dikala kesepian.


Tito.


Ia dan Tito padahal baru saja pulang pukul tujuh pagi.


Setelah semalaman menginap di motel daerah sekitaran Jogja dengan alasan hunting mencari pakaian untuk dijual di butik.


"Mbak!" Istri Giman yang bekerja pada keluarganya menyapa.


"Sstt! Kalau Ojan bangun dan cari Aku, bilang saja aku menengok Juriah!" tukas Samsiah membuat Tika hanya mengangguk saja.


Tika sedang membereskan barang-barang yang hancur berantakan di ruang tengah karena Ojan mengamuk sebelum melampiaskannya pada Samsiah.


Ia dan suaminya yang tak lain adalah sepupu Ojan telah menjadi saksi rumah tangga dan seluk-beluk pasangan suami istri itu.


Hanya bisa diam seribu bahasa selagi keluarganya butuh pekerjaan dan uang dari hasil membabu pada Ojan beserta keluarganya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2