Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 122 Tragisnya Hidup Ojan


__ADS_3

"Sakiiiit! Sakiiiit!!! Ya Allah ampuuun!!! Sudahi rasa sakit iniii!!!"


Soleh berteriak-teriak karena fungsi obat biusnya sudah hilang dan rasa sakit yang hebat menyerang sekujur kakinya yang sudah diamputasi dokter bedah demi untuk masa hidupnya kedepan.


Dokter bilang kaki Soleh harus segera diambil tindakan sebelum membusuk dan menyebar sampai ke organ tubuh yang paling vital yakni jantung.


Akhirnya Juriah menandatangani operasi besar sang Suami yang berakibat dipotongnya sebelah kaki Soleh hingga pangkal paha.


"Kenapa Aku harus diamputasi? Kenapa tidak kau tandatangani surat suntik mati!!!" maki Soleh pada Juriah saking kesalnya.


Tak tolih kalau ada Ojan juga diantara mereka.


"Lebih baik Aku mati daripada hidup seperti ini! Lebih baik aku masuk liang lahat daripada harus terus menjadi beban keluarga! Hik hik hiks..."


"Maas... hiks hiks, yang kuat, Mas! Tabahkan hatimu, Mas! Kuatkan jiwamu! Ada Aku, Abi, kita akan selalu bersama selamanya. Hik hik hiks..."


"Sudah, Juriah! Biarkan saja dia dalam keterpurukannya! Percuma kau ucapkan kalimat support saat ini! Hatinya sedang gelap gulita karena musibah yang harus diterimanya karena kejahatannya di masa lalu!" timpal Ojan membuat Soleh semakin marah.


"Mertua gila! Mertua pemuja setan! Kau inginkan nyawaku, kenapa tak kau ambil saja untuk makanan Gunderewo-mu! Kenapa aku dibuat seperti ini!?! Huaaa, bunuh saja Aku, Ojan! Bunuh Aku sekarang juga!"


"Kasihan! Kecelakaan membuat otakmu miring, Soleh! Maaf..., aku turut prihatin. Hhh..., Juriah, apa kau akan terus pertahankan lelaki yang tidak bisa apa-apa ini?"


"Abi! Abi jangan bilang seperti itu, Abi! Mas Soleh sedang dalam kondisi buruk. Aku menerima semuanya sebagai ujian seorang istri yang Allah berikan padaku. Semoga ujian ini segera berlalu, Mas Soleh sembuh dan sehat seperti sedia kala."


"Bagaimana bisa dia sembuh? Dia juga sudah kehilangan satu kaki selain kehilangan harga diri!"


Ojan berdiri dari duduknya, kemudian berjalan dengan langkah tertatih. Matanya terus mengeluarkan cairan dan kotoran sehingga terlihat sangat menjijikkan.


"Aku pulang saja! Disini bikin kepala dan otakku sakit!" ujar Ojan seraya berjalan keluar kamar.


Soleh terus meracau melihat tingkah abstrak mertuanya itu.


"Abimu yang buat Aku begini!"


"Sudah, Mas! Sudahlah. Jangan menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada diri kita. Mari kita introspeksi diri, Mas! Mungkin Allah memberi kita cobaan sebagai teguran. Sebagai pengingat kita untuk menyadari kalau kita sudah jauh melenceng!"


"Kau tidak tahu siapa Abimu, Juriah? Sama sekali tidak tahu? Atau kau tahu tapi pura-pura buta menutup mata?"


"Mas..."


"Abimu itu pemuja setan iblis! Abimu mempunyai kesepakatan dengan setan dan ikut pemujaan pesugihan!"


"Masya Allah, Mas! Istighfar. Astaghfirullahal'adziiim!"


"Aku ini sedang berkata yang sebenarnya!"


Brak!!!


"Hentikan! Sekali lagi kau jelek-jelekan Abiku, Aku akan pergi dari sini dan tidak akan kembali ke sini!" tukas Juriah dengan kesal.


Seketika Soleh tersadar.


Dirinya sangat butuh Juriah, bahkan kini sepertinya untuk selamanya.


Air matanya turun perlahan.


Bahunya berguncang-guncang seiring tangisannya kian membesar.

__ADS_1


"Hik hik hiks... Hik hik hiks, maaf, Sayang! Maaf... Aku minta maaf!"


Kini Juriah juga ikut menangis sambil memeluk tubuh Soleh yang basah dengan keringat dan air mata.


Soleh menangis menahan kesedihan dan kesakitan sekujur tubuh atas perbuatannya yang buruk selama ini.


Kedua pasutri itu mulai terbuka hati dan fikirannya.


Juriah masih berobat jalan. Kanker serviks atau kanker rahimnya masih stadium awal. Dokter menyarankan dirinya untuk rutin berobat agar sembuh total.


Melihat keadaan Soleh yang kini seperti itu, Juriah kian semangat untuk berobat.


Rasa cintanya pada Soleh, tulus ikhlas hingga ingin mengabdikan diri selamanya sepenuhnya pada Sang Suami. Juriah ingin segera sembuh agar dapat mengurus Soleh sepenuhnya.


Seminggu kemudian, Soleh pulang dari rumah sakit.


Mariana turut mendampingi putra sulung ditemani Jamal putra ketiganya.


Juriah selalu setia disamping Soleh.


Sementara Ojan tidak ikut karena kondisi kesehatannya kembali memburuk.


Rumah besarnya Ojan kini ditinggalkan semua pekerjanya.


Tak ada satu orang pun tahan dan kuat bekerja dengan Ojan meskipun diiming-imingi gaji yang besar per bulannya.


Rumah besar itu yang dahulu indah, megah dan mewah, kini hanyalah bangunan besar kokoh yang dingin dipandang dari luar.


Sementara di dalamnya semakin jauh mengenaskan.


Kusam, sepi dan gelap karena lorong-lorong ruangan lampunya padam tak bisa menyala karena korsleting listrik.


Sampah berserakan di lantai yang kotor. Tak pernah sekalipun Ojan bersihkan.


Pria tua itu bahkan tidur di atas ranjang mahalnya yang dipenuhi bungkus makanan yang tergeletak di atas sprei mewahnya yang sudah beberapa bulan tidak di ganti atau dicuci.


Sungguh hidup yang tidak sewajarnya dan tidak sepantasnya.


Harta yang banyak, uang yang berlimpah, tidak serta merta hidup Ojan bahagia.


Bahkan setiap hari setiap malam, Ojan selalu diganggu oleh makhluk-makhluk peliharaannya yang berteriak, memaki dan mendesak minta makanan.


Ojan terkadang keluar rumah, ke sekitar pasar dan jalan raya hanya untuk sekedar mencari tumbal darah untuk para peliharaannya yang kian beringas.


Setiap malam, makhluk-makhluk itu menjilati seluruh tubuh Ojan yang mengeluarkan aroma yang menggiurkan.


Bahkan mereka mencongkeli sedikit demi sedikit kulit wajah Ojan yang kian bopeng berdarah-darah karena merasa kurang sesajennya.


Semenjak Samsiah tiada, Ojan memang kesulitan melakukan persembahan sesajen seperti bekakak ayam cemani, bunga tujuh rupa, rujakan tujuh rupa, kemenyan apel, rokok lisong dan tetesan darah segar ayam hitam yang disembelih dan dibuat bekakak yang ditaruh dalam mangkuk.


Ojan terbiasa diurus Samsiah kala itu.


Sekarang, semuanya itu kurang Ia perhatikan sehingga para makhluk itu terus merongrongnya sampai detik ini.


Pukul dua belas malam, teriakan dan lolongan anjing yang menyeramkan membuat orang yang kebetulan mendengar, merinding bulu kuduk saking takutnya.


Padahal saat itu adalah malam penyiksaan yang didapat Ojan sepanjang hidupnya.

__ADS_1


Hingga akhirnya, pria tua ringkih dan menakutkan itu memilih mengatur tali tambang di atas kusen pintu kamarnya.


Demi untuk mengakhiri semua penderitaannya yang terus dihantui oleh para makhluk peliharaannya sendiri.


Hujan turun dengan derasnya.


Lidah Ojan menjulur keluar setelah batang lehernya terjerat tali tambang.


Setan dan Iblis bersorak-sorai kegirangan. Mereka berpesta pora menyantap sajian sesajen tubuh juragan mereka sendiri.


Miris.


Ojan mati dengan cara yang mengenaskan.


Sendirian, menyakitkan.


Tanpa iringan doa sholawat dan takbir apalagi kalimat tauhid selain cekikikan dan tawa menakutkan para makhluk pujaannya.


Naudzubillah tsumma naudzubillah.


...............


"Mas...! Hampir seminggu Aku tidak lihat Abi. Abi juga tidak pernah menelponku. Nomor kontaknya tidak aktif sejak lima hari yang lalu. Kita jenguk rumah Abi yok?" ajak Juriah pada Soleh yang kini jauh lebih pendiam dan pemurung.


Bengkel dan tokonya juga sangat sepi akhir-akhir ini.


Nyaris tidak ada pengunjung meskipun satu dua orang.


Satu persatu karyawannya memilih resign dan pindah ke bengkel lain.


Sungguh ujian hidup yang maha dahsyat.


Satu hal yang berubah dari Soleh.


Kini Ia jauh lebih penurut pada Juriah. Soleh benar-benar bergantung hidup pada istri mudanya yang kini bertubuh kurus kering tidak menggoda nafsu bir++inya lagi.


Dengan di antar sopir baru, pasangan suami istri itu pergi ke rumah besar Ojan.


Juriah terkejut bukan kepalang karena rumah orangtuanya terkunci dari dalam.


Berkali-kali Ia mengetuk pintu rumah, namun tiada respon Ojan dari dalam.


Mereka akhirnya meminta bantuan pada tetangga dan aparat keamanan setempat untuk membobol pintu rumah Ojan.


Setengah jam akhirnya pintu besar nan kokoh itu berhasil di buka.


Bau busuk menyeruak.


Juriah berlarian menuju kamar Ojan.


Betapa terkejutnya Ia melihat tubuh kering nyaris yang tersisa tinggal tulang belulang saja.


Ojan meninggal dunia seminggu yang lalu. Baru diketahui dan diketemukan hari ini.


Bahkan bangkainya saja sudah habis dimakan ribuan makhluk kecil yang sudah tergeletak mati di bawahnya.


Juriah memekik keras dan jatuh pingsan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2