
"Mak, maaf... Amelia kembali ke Jakarta. Tahlilan bapak tidak bisa Amel ikuti sampai tujuh hari. Ada kontrak kerja yang Amel sepakati dengan mas Adam. Beliau adalah pemilik perusahaan konveksi tempat Amel mengirimkan kateringnya."
"Iya, Amel. Tidak apa-apa. Pergilah, kami sangat mengerti keadaan kamu. Dengar, Nduk! Jangan terlalu lama bersedih. Apalagi meratapi nasib. Tidak baik. Dan kamu juga masih muda. Nikmatilah hidup kamu sesuai dengan jalan yang Allah berikan. Terima nasib dan bersyukur dengan keadaan apapun. InshaAllah nikmat mana lagi yang kamu dustai. Rezeki, jodoh, umur, sudah Tuhan atur."
"Iya, Bu!"
Amelia mencium pipi kiri dan kanan Emak. Lalu beralih ke Tia yang berdiri dibelakangnya.
"Aku titip Emak ya Ti!?"
"Jangan khawatir, Yu'! Emak juga Emakku kan! Tenanglah di Jakarta. Semoga Yu' selalu dilancarkan rezekinya oleh Allah Ta'ala."
"Aamiin..."
Amelia menoleh pada kedua adiknya yang masih libur sekolah sampai lusa.
"Ina, Gaga... jaga diri kalian baik-baik. Jangan lupa bantu Emak ya? Jangan banyak bikin susah Emak. Tapi Yu' yakin sekali, kalian adalah adik-adiknya Yu' yang terbaik. Yu' bangga dengan kalian!"
Inayah menangis memeluk tubuh Kakak pertamanya itu.
Ia memang paling disayang Amelia ketika masih kecil. Inayah masih memiliki memori ingatan yang kuat tentang masa kecilnya yang bahagia selalu dibawa-bawa Amelia kemana saja.
Bahkan masih ingat kala pertama kali Inayah diajak nonton bioskop oleh Sang Kakak ketika berumur lima tahun.
Berbeda dengan Tia, Inayah lebih sering berebut omongan. Secara umur mereka berjarak lima tahun sehingga lebih sering berebut pakaian yang dibelikan Amelia yang usianya jauh lebih matang.
Amelia melangkah meninggalkan rumah masa kecilnya yang penuh kenangan.
Kebahagiaan bersama kedua orang tua dan adik-adik membuat air matanya menetes saat kembali menoleh serta lambaikan tangan.
Jalanan mengarah ke ruas jalan tampak sepi.
Semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Amel berjalan pelan keluar gang hendak menunggu angkutan kota yang lewat.
Tin tiiinnnnnn
Suara klakson motor membuat Amel menoleh.
"Bang Soleh?"
Mantan suaminya tengah duduk dengan gagah di atas jok motor gedenya.
Amelia hanya melengos. Tak ingin merespon. Tapi justru Soleh yang meluncur mendekati tempat Amelia berdiri.
"Amel!"
Perempuan yang akan berumur 31 tahun bulan depan itu hanya menghela nafas, kesal.
__ADS_1
"Pulanglah! Istrimu pasti menunggumu, Bang!"
"Kamu lah istriku!"
Haish! Benar-benar pria yang tebal muka! Gerutu hati Amel mendongkol.
"Ayo, naik!"
"Tidak, terima kasih!"
"Naiklah. Aku juga akan pergi ke arah terminal. Mau ke toko onderdil pusat, ambil barang!"
Siapa yang tanya!
Amelia mundur beberapa langkah. Tapi tangan Soleh lebih cepat menarik tungkai lengannya.
"Ayolah!"
"Tidak."
"Apa kita harus bermusuhan setelah bercerai?"
Amelia tidak menjawab pertanyaan Soleh yang menurutnya adalah pancingan untuk terus mengobrol.
Untungnya ada angkot lewat dan Amel langsung naik tanpa basa-basi lagi.
"Amelia. Tidakkah kamu mengingat masa-masa kita bersama? Sepuluh tahun, bukan waktu yang mudah untuk melupakan semuanya. Bahkan lekuk tubuhmu, tanda dan tahi lalat yang ada di bagian pinggangmu. Masih kuingat dengan jelas letak posisinya."
Soleh memang mengekor dengan kendaraan roda duanya yang menurutnya gagah itu.
Ada lima orang penumpang yang sesekali melirik Soleh yang ada di luar angkot kemudian melirik Amelia secara bergantian.
"Mbak! itu mantannya ya?" goda sang supir yang sepertinya lebih muda dari Amel usianya.
"Abaikan saja!"
Amel bersyukur, ada penumpang lain yang simpati pada dirinya.
"Biasanya lelaki begitu kalo pingin balikan lagi tapi tidak di respon."
"Hooh tuh!"
"Mantan pacar? Mantan suami?"
"Mantan suami, Bu! Hehehe..." jawab Amel malu-malu.
"Hm. Dia pasti kepingin ngajak rujuk ya?"
"Dia sudah punya istri baru. Tapi masih berfikir ngajak balikan!"
__ADS_1
"Hahh? Dasar lelaki kardus! Harusnya dibakar itu hidup-hidup!"
Amelia tersipu karena respon dua Ibu yang duduk disampingnya.
"Tandanya masih cinta itu, Bu!" celetuk sopir yang tertawa terbahak-bahak mendengar percakapan mereka.
"Amelia...! Amel! Bisakah kau turun dan ikut Aku supaya Aku berhenti mempermalukanmu?"
"Hei pria kardus! Semoga kamu jatuh tersungkur mencium aspal panas! Beraninya bikin keonaran mempermalukan perempuan! Mau kulapor polisi!! Biar dipidana kena pasal pencemaran nama baik dan pembuat keonaran?! Hah?"
"Maaf, Bu! Ini bukan urusan Ibu. Ibu duduk manis saja. Anggap sedang menonton telenovela dan berharap ending kami bahagia. Hehehe..."
"Pria gemblung! Edan!!!"
Memerah wajah Soleh sebenarnya.
Ia sudah mempermalukan Amel dan juga dirinya sendiri.
Benar-benar pria gila, seperti yang ibu itu katakan.
Soleh gila karena mendamba Amelia.
Soleh ingin hidup bahagia bersama Amelia sampai akhir hayatnya.
Tin tin tiiinnnnnn...
Soleh terperanjat. Sebuah mobil sedan warna putih menyalip angkot dengan kecepatan tinggi hingga motor yang dikendarainya nyungsep di selokan.
Soleh ketinggalan angkot yang membawa Amelia.
"Sialan!!!" makinya kesal. Ban motor depannya kini terjelembab masuk got. Beruntung dirinya tidak ikutan terjun bebas ke atas air selokan yang bau pesing itu.
Sementara Sang supir angkot yang membawa Amelia dan beberapa penumpang lainnya berseru kegirangan.
"Alhamdulillah... Hahaha..., masuk Pak Eko!" ledeknya dengan suara keras disambut tawa ibu-ibu yang membela Amel sejak semula.
"Maaf ya, Bu, Mas! Saya jadi bikin ricuh suasana angkot!"
"Hahaha..., tenang aja Mbak! Dunia ini dipenuhi manusia beragam. Yang aneh-aneh seperti mantan suaminya Mbak itu. Kita enjoykan saja hehehe.."
Amelia tersenyum malu-malu.
Ini pertama kalinya dirinya jadi pusat perhatian semua orang di angkot.
Sungguh pengalaman hidup yang menyenangkan sekaligus memalukan.
Soleh benar-benar membuat Amel kian mati rasa dan hilang respek padanya.
Boro-boro ada keinginan rujuk. Untuk sekedar bertemu muka kembali saja Amel berharap Allah tidak lagi mempertemukan mereka.
__ADS_1
Fokusnya cuma satu. Membahagiakan Emaknya yang tinggal seorang saja. Dan juga adik-adiknya yang selalu mendukung dirinya yang terpuruk dari kegagalan pernikahan.
BERSAMBUNG