Istri Muda Untuk Suamiku

Istri Muda Untuk Suamiku
BAB 231 Menuju Episode Akhir


__ADS_3

Pagi yang cerah, di hati yang berbunga.


Inayah merasakan ketenangan meskipun kembali rempong dengan keberadaan Pupu, putranya Arthur Handoko.


Ia telah berjanji pada dirinya sendiri. Akan menjadi perempuan yang kuat dan tegar. Meskipun sampai saat ini Ia sendiri tidak tahu, apakah Arthur akan kembali ingat pada dirinya atau tidak.


Pupu dan bayi yang ada dalam kandungannya, adalah karunia terbaik Allah Ta'ala untuk kehidupannya.


Inayah kini hanya berusaha ikhlas menerima keadaan dirinya yang banyak orang mencibir tapi tak sedikit juga yang prihatin.


Ia sudah cukup banyak melewati hal-hal yang berat dalam hidup. Inayah yakin, ujian ini akan bisa ia lalui dengan hati yang berserah.


Sejak adanya Pupu, Inayah kembali mempekerjakan pak Soleh supir pribadi Arthur yang biasa antar jemput anggota keluarga kecilnya.


Sudah tiga bulan pak Soleh Inayah rumahkan. Mobil-mobil Arthur tersimpan rapi di garasi bawah tanah dan tak berani Inayah sentuh apalagi gunakan sehari-hari.


Inayah lebih nyaman menggunakan sepeda motor maticnya untuk bolak-balik pasar atau minimarket, belanja kebutuhan harian meskipun Amelia dan kakak-kakaknya yang lain sering memarahinya.


Frederica dan Joko yang menyuruh Inayah kembali gunakan sopir pribadi. Mereka mengatakan itu sebelum kembali pulang ke negara asalnya jam lima Subuh tadi.


Selain kandungannya yang makin membesar, ada Pupu juga yang butuh asuhan sekolah dan yang akan mengantar jemputnya walau kini tak lagi butuh pengasuh.


Mereka mengkhawatirkan keadaan Inayah juga.


Seperti pagi ini.


Inayah ke kampus bersama Pupu dengan diantar pak Soleh.


Sepanjang perjalanan Putra Arthur Pangestu itu mengoceh riang sekali. Membuat Inayah sampai terbahak-bahak mendengar celotehan khas bocil yang beranjak besar itu.


Pupu sangat dewasa menurut Inayah.


Sekali diberikan nasehat, bocah itu akan langsung konek dan mengerti maksud Inayah.


Di ruang dosen, Pupu bersikap sangat manis sehingga cukup menarik perhatian para tenaga pengajar yang kebetulan berada di dalam ruangan itu.


Pupu sopan sekali. Menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari orang dewasa yang terkadang membuat Inayah serta Pupu tersenyum-senyum.


Pupu juga Inayah tinggal sebentar di ruangan itu ketika harus pergi ke kantor Dekan untuk urusan pengajuan cuti kuliah yang sempat Inay tarik.


Lumayan agak lama karena harus menunggu pak Arifin sedang rapat di ruang senat mahasiswa.


Tapi akhirnya Inayah bisa bernafas lega dan kembali menjemput Pupu yang dititipnya di ruangan dosen.


"Sayang, maafin Bunda, ya? Agak lama soalnya harus menunggu pak Arifin rapat sebentar."


"Tidak apa-apa, Bunda. Pupu senang koq diajak keliling sama Om ganteng. Pupu juga dibelikan snack di kantin."


"Om... ganteng?"


"Om yang waktu itu pernah tolong Pupu, Bun. Yang baik dan ganteng itu."


Inayah mengingat-ingat siapa orang yang dimaksud Pupu.

__ADS_1


"Oh, om Rendy ya?"


Inayah tersenyum pada Pupu.


"Om itu suka sekali sama Bunda ya? Sepertinya sangat suka. Dia begitu baik sama Pupu."


"Uhukk uhuukkk..."


Diseberang sana Arthur tersedak air ludahnya sendiri mendengar ucapan anak kandungnya itu.


"Pupu?!?" pekiknya sambil menepuk dahi.


Arthur memang seperti seorang spy yang sedang mengintai target.


Wajahnya memerah, seperti ada gejolak emosi yang ingin meledak di dalam hati.


"Bunda juga suka om Rendy?" terdengar pertanyaan Pupu lagi.


Kali ini Inayah yang terbatuk-batuk. Lalu tertawa geli.


"Sayang, bagaimana mungkin. Bunda ini istrinya Papa. Tidak boleh suka pada orang lain selain Papa."


Semburat merah jambu meronai pipi Arthur yang pucat tirus. Arthur tersipu malu.


"Tapi..., Papa sepertinya tidak suka Bunda lagi."


Baik Inayah maupun Arthur sama-sama tercekat mendengar ucapan Pupu lagi.


"Hehehe... Pupu salah. Papa selalu sayang Bunda. Sama besar sayangnya seperti Papa sayang Pupu juga." Inayah mencoba menenangkan diri serta putra sambungnya itu dengan kata-kata bijaknya.


"Papa tidak mau temui Bunda. Papa hanya sayang Mama Bianca. Setiap hari selalu kunjungi makam Mama di sana. Pupu lihat semuanya."


Inayah mengelus lembut rambut Pupu. Berusaha tegar meskipun hatinya seketika hancur.


Dia tak berani berkata-kata lagi.


Takut kalau justru hatinya kian remuk karena Pupu akan semakin membuka semua rahasia kehidupan Arthur di Amerika sana.


Senyumnya mengembang tetapi tangis hatinya berderai.


"Pupu!"


Kedua ibu dan anak sambung itu menoleh berbarengan.


Rendy berdiri di belakang dengan dua tangan menenteng toetbag berwarna hijau muda. Sepertinya Ia habis belanja sesuatu di minimarket.


"Ren_dy?"


Jantung Arthur berdegup kencang.


Suara Inayah terdengar jelas dari load speaker yang menyambung dan ia pasangi penyadap di jam tangan Pupu.


Suara Inayah terdengar lembut sekali di pendengaran Arthur ketika menyebutkan nama pria yang tak dikenalnya.

__ADS_1


Tentu saja hatinya panas seketika.


"Hehehe..., syukurlah. Kukira kalian sudah pulang. Ini, untuk Pupu."


"Om ganteng baik sekali. Terima kasih!"


"Sama-sama, Anak Ganteng."


Arthur merasa muak mendengar jawaban pria yang dicurigai menyukai istrinya itu.


Istri? Inayah... apakah masih istriku? Dan kenapa hati ini rasanya sakit sekali padahal hanya mendengar saja?! Hhh... Suara hati Arthur.


"Om juga belum pulang?" tanya Pupu.


"Sebentar lagi. Masih ada kelas setengah jam lagi, Pu."


"Om rumahnya dimana?"


"Pasar Minggu. Dekat kebun binatang."


"Wah? Kebun binatang?"


"Pupu sudah pernah ke kebun binatang?"


"Belum! Boleh Pupu ikut ke rumah Om, lihat kebun binatang?"


"Pupu Sayang, om Rendy masih ada kelas. Nanti saja ya, kita akan ke kebun binatangnya kalau Papa pulang." Inayah mencoba membujuk Pupu.


"Papa tidak akan pulang, Bun! Papa juga tidak akan mau ajak kita ke kebun binatang!"


Inayah termenung menatap wajah Pupu yang terlihat agak kesal.


"Sayang..., tadi Bunda bilang apa sama Pupu? Kita hanya sebentar ke kampusnya Bunda. Setelah itu, kita akan main ke mall. Main di time zone aja ya?"


"Bunda sebentar lagi adik lahir. Tidak bisa ke kebun binatang bawa adik bayi. Nanti malah tidak ada kesempatan main ke kebun binatang. Hik hik hiks..."


Inayah menghela nafas panjang. Bingung melihat putranya bertingkah layaknya anak usia enam tahun.


Rendy yang sedari tadi tidak berani ikut campur perdebatan ibu dan anak itupun akhirnya mencoba membujuk Pupu.


"Oke, baiklah. Tapi... Pupu mau tunggu Om setengah jam lagi? Kita akan ke ragunan setelah urusan om selesai. Bagaimana?"


"Rendy?! Jangan! Biar saja kami, tidak apa-apa koq. Pupu hanya sedang merajuk."


"Apa yang Pupu bilang ada benarnya. Kalau kamu sudah lahiran pasti tidak bisa kemana-mana termasuk sowan ke ragunan. Jadi, anggap saja ini adalah jalan-jalan kamu yang terakhir sebelum lahiran. Sekarang baru jam sepuluh lebih. Hanya setengah jam kurang aku beres-beres dulu. Setelah itu kita bisa ke ragunan sama-sama. Bagaimana, Inayah?"


Inayah terdiam.


Matanya melirik Pupu yang kesenangan dan kembali menatap Rendy yang juga mengulum senyum.


Hanya Arthur Handoko yang berteriak kesal mendengar interaksi obrolan yang membuat jantungnya terpacu kian cepat.


"Shiiiiit!!!" makinya seorang diri.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2