
"Samsiah! Teganya kau menjemputku dari rumah Juriah putri kita! Itu pun cuma Giman yang memaksaku untuk pulang! Cih! Harusnya dirimu, bukan Giman!"
Ojan langsung menyemprot Samsiah dengan kata-kata sindiran yang langsung kena hati sang istri.
"Bi! Ketahuilah, kamu sudah terlalu lama tetirah di rumah putri kita. Kasihan Juriah, kamu ganggu terus menerus rumah tangganya. Tiap malam kamu ganggu juga tidurnya! Kapan anak kita punya keturunan kalau seperti itu!" jawab Samsiah dengan santai sembari membantu membukakan kemeja sang suami. Ojan hendak menggantinya dengan kaos oblong favoritnya jika di rumah.
"Halah! Aku malah berharap Juriah tidak punya anak dengan si benalu itu! Pria macam apa yang sudah tua tapi masih makan disuapi istri. Tidak punya kemampuan cari makan sendiri!"
"Tapi putri kita hidup bahagia bersama suaminya, Bi!"
"Hhh... Kamu kenapa tidak jemput Aku sendiri?" tanya Ojan sambil menangkap dagu lancip sang istri.
Satu mata Ojan menatap raut wajah Samsiah yang kian bersinar. Mereka bertatapan. Cukup lama tapi Samsiah segera palingkan muka.
Grep.
Tangan Ojan masih mampu gercep.
Ditariknya kembali dagu istrinya yang makin cantik itu.
"Kau pasti ngeri melihat wajahku kini! Iya kan?" tanyanya dengan suara bergetar. Ojan saat ini memakai penutup mata sehingga terlihat seperti bajak laut.
"Bukan ngeri, Mas!"
"Jujur saja. Aku mengenalmu bukan setahun dua tahun! Kamu illfeel lihat mataku bukan? Apa kamu tidak rindu padaku, Istriku tercinta?"
Ojan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Samsiah.
"Mas! Kamu baru saja pulang," bisik Samsiah di telinga Ojan.
"Kenapa? Apa karena wajahku kini tidak menarik lagi dan kamu jadi malas melayaniku?"
"Bukan begitu. Aku, sepertinya mau datang bulan!"
"Mau datang bulan? Berarti belum datang kan?"
Ojan merengkuh bahu Samsiah.
Bibirnya menggigit daun telinga istrinya yang memekik pelan tertahan.
"Aku rindu des+++nmu, Sayang!"
__ADS_1
"Mandilah dulu, Mas!"
"Aku sudah mandi sebelum pulang ke rumah ini. Cium saja. Masih bau sabun bukan?"
Samsiah memejamkan matanya. Ia ingin menolak tetapi tak berani berontak.
Jika Ia melakukannya, ego Ojan akan terluka dan pria yang sudah menikah dengannya selama 25 tahun itu pasti akan berubah seperti serigala yang kelaparan.
Mau tak mau Samsiah harus melayani sang suami.
Untuk mengurangi rasa takutnya melihat wajah Ojan yang kini memang menakutkan, Samsiah memikirkan wajah Tito.
Pria tampan adik ipar menantunya itu lebih membuat hasrat bercintanya langsung naik. Walaupun sebenarnya lebih pantas dianggap anak, tetapi Tito memiliki kepribadian yang baik dan hati yang lembut.
Awalnya Samsiah bercinta dengan Tito hanya sekedar melepaskan hasrat birah+nya yang sudah sangat tinggi.
Tetapi semakin kesini, hatinya justru semakin terpaut oleh kelembutan dan kepedulian pria itu kepadanya.
Tito memperlakukan Samsiah dengan sangat baik. Bahkan setelah mereka bercinta, Tito tidak sungkan mencium keningnya dan turun lebih dulu hanya untuk mengambilkan segelas air putih untuk Samsiah.
Tingkah Tito membuat Samsiah jatuh cinta dan semakin menyayanginya.
Tapi, semua hanyalah mimpi. Dan Samsiah tidak punya kekuatan sebesar itu untuk kabur dari pria yang menikahinya lewat perjodohan keluarga.
"Ah, ah..."
Samsiah tidak merasakan nikmat seperti saat Ia bercinta dengan Tito. Bahkan bibir alat vi++lnya sakit sekali karena Ojan menekannya terlalu keras dengan lutut sebab kaki Ojan agak susah ditekuk.
"Aduh..."
"Tahan sebentar ya? Sedikit lagi, Sayang! Ah... Aku akan berusaha membuatmu terpuaskan meskipun keadaanku kini seperti ini."
Ojan sendiri sebenarnya cukup tersiksa juga dengan tulang engselnya yang belum pulih total.
Sehingga juniornya dengan cepat melemah dan layu. Tetapi tentu saja Ojan tidak mau membuat dirinya seperti seorang pecundang yang gagal bertempur sampai akhir.
Sebelum dirinya kecelakaan, Samsiah akan selalu tersenyum puas dengan mengerlingkan satu matanya sembari mengacungkan jari jempol pada Ojan setiap selesai pertempuran mereka di atas ranjang.
Tapi kini...
Samsiah berusaha kalem dengan mengimbangi Sang Suami yang seperti bocah kecil yang berupa menggenjot sepeda ontel tinggi. Agak kerepotan karena tubuhnya belum kuat lagi.
__ADS_1
"Ah...! Sayangku..., bantu Aku. Tolong disep*ng sebentar biar,"
"Aduh, Mas... Perutku sakit! Maaf, Aku mau ke kamar mandi!"
Samsiah langsung melompat turun dari ranjang. Ia bergegas secepat kilat ke kamar mandi yang ada dalam kamar. Lalu merenung duduk di closed kamar mandi.
Tinggalkan Ojan sendirian yang sebenarnya juga menarik nafas lega.
Ia gagal membobol gawang Samsiah.
Ini pertama kalinya Ojan merasa sangat malu. Sungguh suatu hal yang menyebalkan.
"Sayang, maaf... Aku datang bulan!" Samsiah keluar dari kamar mandi dengan kabar yang menyedihkan tapi sekaligus menyenangkan bagi Ojan.
Juniornya juga sudah tertidur lagi dan sepertinya akan sulit dibangunkan.
Alasan yang dibuat Samsiah cukup membuatnya terhindar dari rasa malu.
"Ya sudah. Ayo kita tidur. Berarti harus menunggu semingguan lagi baru dapat jatah, ya?" gumamnya menggoda Samsiah untuk menghilangkan rasa kecewanya pada diri sendiri.
Ojan merasa malu dan sangat lemah.
Malam itu, Ia hanya tidur dengan tubuh memeluk Samsiah dari belakang saja.
Otaknya berfikir bagaimana caranya agar Sang junior gagah kembali staminanya seperti beberapa bulan lalu.
Mungkin harus beli pil penambah stamina ya? Pikirnya menerka-nerka obat kuat apa yang paling mujarab.
Samsiah sendiri senang, akhirnya Ia tidak mendapatkan lagi dorongan Ojan untuk melayaninya.
Sejak mengenal Tito, tentu saja gaya Ojan yang dulu mampu membuat Samsiah melayang tinggi di awan, kini justru terlupakan.
Bagaimana tidak. Tito bahkan separuh usianya dari Ojan.
Tubuh yang bagus, gagah, tegap dan tinggi serta usia muda juga stamina kuatnya dalam menaiki Samsiah, tidak bisa dibandingkan lagi dengan Ojan yang kini sudah bangkotan.
Samsiah lebih memilih bercinta dengan Tito dan mengeluarkan uang banyak untuk keperluan sang berondong daripada harus bercinta dengan Ojan yang matanya tinggal satu itu.
Ia tidur dengan kepala dipenuhi khayalan bercinta berbagai gaya dengan Tito. Membuat dirinya seperti sedang tenggelam dalam lautan alkohol tingkat tinggi yang memabukkan.
BERSAMBUNG
__ADS_1