
"Mama Fanny? Inayah? Apa... benar yang kalian obrolkan?"
Tia yang baru saja datang dan sempat mendengar sedikit cerita Fanny pada Inayah seketika shock.
"Mbak Tia!"
"Tia?!?"
"Enggak mungkin. Emak enggak akan seperti itu. Mama mungkin salah lihat. Kamu juga Inay. Ini pasti ada salah faham! Apalagi Arthur pernah datang melamar Inayah pada Emak tapi Mak tolak karena latar belakang hidupnya yang jauh berbeda dengan kami. Kamu juga ada di rumah waktu itu kan? Mbak tahu dari Gaga juga Mas Rama. Iya kan?"
"Kemungkinan,... Emak menolak lamaran untuk Aku karena,... Emak menyukai...Mas Arthur, Mbak."
Tia melotot, termangu dan membisu sesaat.
Kemudian Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanda Ia sangat tidak percaya dengan argumentasi Inayah.
"Gak mungkin, Inay! Emak bukan orang yang mudah jatuh cinta begitu saja. Kalau Mak mau menikah lagi, sudah sejak lama. Bahkan mungkin sudah menikah lagi dengan juragan tembakau di kampung kita setahun yang lalu. Ingat? Mak pernah ada yang lamar sehari setelah Bapak wafat, Inayah!"
"Arthur tidak bisa disepelekan sepak terjangnya dalam menaklukkan hati banyak wanita. Terutama wanita dewasa. Anak itu benar-benar Don Yuan yang sangat pintar urusan rayu merayu, Tia!"
Inayah menunduk.
Air matanya kembali menetes.
Dalam diam, Ia mengakui ucapan Fanny. Inayah bahkan pernah jatuh cinta pada Arthur yang begitu bersinar mempesona.
Nyaris dekat, namun justru terputus karena Arthur dengan sengaja memblok nomor pribadinya agar tidak ada lagi komunikasi yang terjalin antara mereka.
Tia menelan saliva.
Ia bingung.
Andaikan benar Emaknya tertarik pada Arthur, sungguh dunia ini diambang kehancuran. Dunia ini benar-benar akan kiamat segera. Dan Ibukota Jakarta benar-benar kejam melebihi kejamnya Ibu tiri.
Hhh...
Tia menelpon Mia. Ia sangat ingin mendapatkan penjelasan.
Ternyata nomor Mia sedang tidak aktif.
"Emak sepertinya sengaja mematikan data ponselnya."
Tia lemas. Lututnya gemetar. Ia baru saja pulang dari pasar. Belanja kebutuhan restoran Amelia yang kini jadi tanggung jawabnya. Sementara Arif masih di kantor, perusahaan Bimo, Papanya Lukman.
Fanny menghela nafas sembari mengusap lembut bahu Tia dan Inayah.
"Biar nanti Mama coba berbincang dengan Emak. Semoga ini tidak seperti yang kita lihat dari luar saja. Jujur, Mama juga tidak percaya kalau Emak bisa jatuh ke pelukan bocah tua nakal itu. Dan sepertinya itu sangat tidak mungkin. Namun mengingat si Arthur sendiri pernah beberapa kali punya hubungan gelap dengan wanita-wanita bersuami, Mama jadi sangsi."
"Hhh..., Tia masih tidak bisa mempercayai berita ini, Ma! Maaf..."
"Mama juga, Tia! Ya sudah, Mama pergi dulu. Kalian, kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi Mama. Jangan katakan apapun pada Amelia. Tolong jangan sampai Amel tahu berita ini! Amel sedang hamil delapan bulan. Takutnya, shock dan,"
"Takut shock dan apa, Ma?"
Sontak ketiga perempuan beda generasi itu menoleh ke arah suara yang bertanya.
__ADS_1
Lukman berdiri di belakang Fanny.
"Lukman?!?"
"Soal Emak yang sakit tumor otak stadium akhir?"
"A_apa???"
"Apa???"
"Hahh???"
Ketiganya terkejut setengah mati.
Tia bahkan langsung menutup mulutnya yang menganga lebar karena kaget dengar perkataan Lukman.
"Emak sakit apa???"
"Kalian...kaget? Jadi bukan berita itu, lantas berita apa?" Lukman balik bertanya.
"Emak sakit tumor otak stadium akhir? Mas Lukman tahu berita itu dari mana? Ini bohong kan? Ini,"
"Ini benar. Kita harus berkumpul untuk membicarakan keadaan Emak sekarang. Aku ingin Emak sehat. Tapi, dokter spesialis neurologi di rumah sakit tempat Emak lakukan general medikal check up mengatakan kalau untuk operasi sudah sangat terlambat. Kata dokter, kemungkinan Emak tidak akan bertahan sampai satu tahun. Dan jika operasi, kemo dan radioterapi, justru membuat keadaan Emak melemah. Khawatir juga optimisme hidupnya ambruk down semakin membuat kesehatan Emak menurun drastis."
Tia menangis pilu. Inayah meratap sedih. Fanny hancur berantakan perasaannya. Rasa bersalah menyeruak karena memiliki fikiran yang buruk pada Mia tanpa tahu ada apa dibalik semua kelakuan Mia yang bertolak belakang.
Semua terpuruk dalam kesedihan.
Malam kian beranjak, Mia dan Arthur masih berada di luar kota. Mengejar waktu untuk pulang menuju kota Jakarta.
"Tenang saja, Mak. Aku akan selalu jadi teman yang baik buat Emak. Hehehe..."
"Emak bukan teman yang baik. Emak justru terlihat memanfaatkan kamu yang sebenarnya sedang mendekati Emak karena sesuatu. Iya kan?!?"
"Hahaha... Hahaha, kenapa kita seperti punya kesamaan dalam berfikir, Mak? Hahaha... Ya Tuhan, sungguh hebatnya Tuhan Allah Azza Wajalla Yang Maha Besar. Bisa mempertemukan kita dalam satu kesempatan."
"Hehehe... itu yang Emak rasakan, Nak! Bahkan, Emak bisa melihat sinar laser yang keluar dari mata Inayah. Sinar laser kecemburuan yang membuat Mak cemas dan was-was Inayah akan menelan Emak bulat-bulat."
"Hahaha..., putri Mak yang satu itu memang sangat imut! Sangat sangat membuat Aku tergila-gila karena kepolosannya yang sengaja Ia tutupi lewat kecerdasan berfikirnya yang diatas rata-rata gadis seusianya. Emak,... ini pertama kalinya Aku jatuh cinta pada seorang gadis seperti seorang pria remaja yang baru mengenal cinta."
"Hehehe..., semoga kamu gak lagi lebay sama Mak, Mas! Hehehe..."
"Beneran!!"
Treeet treeet treeet
Treeet treeet treeet
"Mami menelpon!" seru Arthur senang sekali.
Arthur menepikan kendaraannya. Ia berhenti sejenak untuk mengangkat telepon perempuan yang melahirkannya.
"Hallo, Mami? Mami, ganti video call, ada yang ingin Arthur kenalkan!"
...[Hallo, Sayang! Apa kabar mu?]...
__ADS_1
"I am fine, Mami! How about you n Papi? Di Jakarta, Aku sulit sekali bertemu Papi. Papi sudah seperti kodok yang lompat sana lompat sini. O my Gosh! Really really make me crazy!"
...[Hahaha... Dasar kamu ini! Papi ada disini bersama Mami. Kami sekarang sedang ada di Selandia Baru. Honeymoon, hehehe... Oiya, jadi nanti siang kamu bertemu imam besar masjid Istiqlal? Kamu serius ingin memeluk Islam? Tidakkah kamu rindu ibadah Minggu ke gereja? Kita bertiga bersama-sama pergi ibadah di Katedral California? Arthur?]...
"Mami, listen to me. Setelah sekian lama aku tidak mau terikat agama manapun, akhirnya Aku mengambil keputusan. Wait, wait! Ada seseorang yang ingin aku kenalkan pada Mami!"
...[Who? Your girlfriend? OMG! Where is she? Kenalkan pada Mami sekarang, Arthur!]...
"No no, not now! Ini, calon mertuaku, Mami. Hehehe... Ini dia, Emak Mia namanya! Say hello, Mom!"
Mia dan Frederica, Maminya Arthur saling berpandangan dan melemparkan senyum satu sama lain.
"Senang berkenalan dengan Nyonya. Saya terkejut, ternyata bahasa Indonesia Nyonya sangat baik sekali." Mia agak grogi berbincang dengan wanita elegan yang ada dihadapannya meskipun lewat ponsel saja.
...[Hehehe... Saya guru bahasa Indonesia di San Fransisco, Ibu...]...
"Mia. Panggil saja saya Mia."
...[Boleh saya berkenalan dengan Putri cantik Ibu Mia yang berhasil membuat putra tunggal saya berubah menjadi lebih baik lagi?]...
"Ah hahaha, aduhh saya jadi malu. Kami sedang dalam perjalanan. Putri saya ada di rumah. Nanti saya akan berbagi cerita dengan Inayah. Hehehe..."
...[Inayah. Nama yang cantik. Pasti wajahnya juga sangat cantik, karena Ibunya juga teramat cantik. Hehehe... Senang berkenalan dengan Ibu Mia. Semoga putra saya tidak membuat kalian semua senewen dengan tingkah randomnya. Hehehe...]...
"Tidak, Nyonya. Mas Arthur justru sangat baik kepada kami. Nyonya adalah Ibu yang sempurna dan berhasil mendidik putranya menjadi orang hebat."
...[Ah, Ibu. Saya ingin sekali kita bisa bertemu dan mengobrol secara langsung. Saya, titip putra saya ya, Bu? ]...
"I_iya, Nyonya. Semoga Allah mengizinkan kita bertemu suatu hari nanti."
...[Amin. Hehehe...]...
"Mi, sudah dulu. Kami harus sampai Jakarta sebelum pukul dua belas malam. See you next time. Bye bye, Love you!"
Klik.
Arthur tersenyum dan mematikan sambungan video callnya dengan Frederica.
Mia menatap Arthur dengan wajah sumringah.
Senang hatinya, putrinya Inayah akan bahagia seperti kedua putrinya yang lain yang sudah menikah.
Hatinya lega. Jika suatu hari nanti malaikat Izrail datang menjemput, Ia sudah tenang. Tinggal Rama dan Gaga yang belum mencapai tujuan.
Namun karena Rama juga Gaga anak laki-laki, Mia tidak terlalu khawatir seperti rasa khawatirnya kepada Amelia, Tia dan Inayah.
Kini Ia bisa tersenyum lega.
"Kita jalan lagi, Mak?"
"Oke. Hehehe..."
Pukul sepuluh malam, mereka masih merambah jalanan menuju Ibukota dan rumah.
BERSAMBUNG
__ADS_1